Saturday, November 30, 2013

Menjadi Orangtua dalam Film What Maisie Knew

Pernahkah kamu merasa bahwa orangtuamu mungkin hanya berpura-pura mencintaimu? Pernahkah kamu mendamba orangtua lain yang lebih baik daripada orangtua kandungmu yang kamu kenal selama ini? Well, Maisie might have been.

Maisie, gadis cilik berusia mungkin sekitar enam tahun, mulanya tinggal bersama kedua orangtuanya, dibantu dengan seorang pengasuh. Susanna dan Beale ternyata bukan pasangan yang harmonis. Mereka sibuk di pekerjaan masing-masing, Susanna sebagai musisi dan Beale sebagai pebisnis. Percekcokan orangtua Maisie tersebut berujung pada perceraian. Dan tanpa disangka, Beale kemudian menikah dengan daun muda Margo, sang pengasuh. Seperti tak mau kalah, Susanna pun menikah dengan pria lain, lebih tepatnya seorang berondong yang bekerja sebagai bartender, bernama Lincoln.

Sebagaimana anak yang orangtuanya bercerai, Maisie tinggal silih berganti antara rumah ayahnya dan ibunya. Maisie seakan begitu dewasa, bisa menerima apa yang dialaminya dan mungkin apa yang begitu sangat disadarinya. Maisie tampak tak begitu terkejut ketika Margo menjadi istri ayahnya. Toh, ia pun tak perlu marah. Mungkin karena ia tak begitu mengerti apa yang terjadi. Atau bisa jadi malah sangat mengerti, tapi toh ia menyayangi Margo, apa salahnya Margo menjadi istri ayahnya. Margo juga tak kalah sayang dan perhatian pada Maisie. Dan ketika di rumah ibunya, Maisie juga menerima kejutan bahwa suami yang dinikahi ibunya pernah ia lihat sebelumnya bercengkrama dengan sang ibu. Tetap saja, Maisie bisa menerimanya. Malah membuat Susanna jengkel karena Lincoln bisa mengambil hati putrinya. Memang Lincoln ini seorang pria yang cukup muda untuk jadi suami Susanna dan bisa pula menyayangi Maisie. Maisie malah mengaku, ketika ditanya oleh Margo, bahwa ia menyanyangi Lincoln.

Saturday, October 19, 2013

Pesan Ernest Hemingway lewat Film "Midnight in Paris"

Ernest Hemingway: "What are you writing?"
Gil Pender: "A novel."
Ernest Hemingway: "About what?"
Gil Pender: "It's about a man who works in a nostalgia shop."
Dialog di atas dipenggal dari film Midnight in Paris, yang rilis dua tahun lalu. Film yang pernah saya tonton ketika tayang di bioskop, dan sekarang saya tonton ulang. Gil Pender, protagonis dalam film ini adalah seorang penulis skenario di Hollywood, tapi juga sedang menggarap novel debutnya. Novel yang mengisahkan seorang pria yang bekerja di toko kenangan. Gil Pender telah bertunangan dengan Inez, seorang wanita cantik berkelas yang sama-sama dari Amerika. Mereka sedang berlibur ke Paris bersama orangtua Inez. Gil Pender sangat menyukai Paris, terlebih saat Paris diguyur hujan. Ia bahkan berkeinginan untuk pindah ke Paris. Tapi, tentu ditolak oleh Inez, karena Inez tak tertarik dengan hal-hal yang berbau kenangan atau nostalgia. Ya, begitulah kesan Paris.

Suatu malam, tepat tengah malam, dipinggir jalan kecil, Gil dalam kondisi yang kurang lebih mabuk--tampaknya ia masih cukup sadar dengan apa yang terjadi atau malah ia berhalusinasi--melihat sebuah mobil klasik berhenti. Orang-orang di dalam mobil itu mengajaknya naik. Gil menerima ajakan itu dan terjadilah pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang tak terduga. Gil yang berasal dari tahun 2010 bertemu dengan penulis-penulis klasik Amerika ternama--yang sedang asyik-asyiknya menikmati Paris. Gil dibawa ke tahun 1920, era yang sangat diangankannya.

Baiklah, cukup sampai di sana saja. Saya tidak akan mengulas film dengan lengkap. Saya hanya ingin mengutip pesan-pesan menarik dari pertemuan Gil dengan para maestro fiksi tersebut. Sebagai penulis fiksi, tentu saja saya lebih tertarik membahas perihal ini ketimbang aspek-aspek film lainnya. Hehehe...

Sunday, October 13, 2013

Dia(Mono)Log

pisau cukur merah jambu


Di kamarmu, kulihat ada pisau cukur berwarna merah jambu. Kamu bilang itu kepunyaanmu. Untuk mencukur rambut ketiak juga kemaluanmu tiap minggu. Apa perlunya kamu habiskan rambut di situ?

Kupilih pisau cukur berwarna merah jambu. Merah jambu itu warna kesukaanku. Kupakai tiap minggu untuk mencukur ketiak juga kemaluanku. Tentu saja aku ingin mereka bebas dari rambut. Lelakiku suka tubuhku yang mulus.

Aku lebih suka kamu apa adanya. Aku tak peduli dengan rambut-rambut halus di ketiakmu. Apalagi rambut kemaluan yang bahkan sama sekali tak mengganggu. Kamu tak perlu bercukur, perempuanku!

Ih, apa-apaan sih, kamu? Aku juga tak peduli apa yang kamu suka dari aku. Yang penting lelakiku tetap mau meniduriku tiap minggu.

***

2011

Sunday, October 6, 2013

Curiosity

Keingintahuanku belum akan membunuhku--setidaknya untuk perkara satu ini. Kau boleh saja diam, enggan menjawab pertanyaanku. Pertanyaan yang kadang kaunilai konyol. Tapi, percayalah, kebisuanmu hanya membuatku semakin ingin tahu.

Sore ini, di saat anjing Herder kesayanganmu mondar-mandir di halaman depan rumahmu, aku datang tanpa memberi kabar. Aku sengaja tak memberi tahumu. Lagipula, kau belum ada di rumah kan? Aku tahu jam kerjamu belum berakhir sedikitnya satu jam kemudian. Butuh satu jam pula bagimu untuk tiba di rumahmu. Aku punya waktu dua jam menunggumu. Tak apa-apa. Ibumu memberiku sajian teh dan camilan kue putu--sudah lama sekali aku tak mencobanya. Bosso, dengan gugukan ceria, juga menghiburku di teras ini. Dua jam itu tak lama. Nah, lihat, arlojiku sudah menunjukkan pukul enam. Sebentar lagi, kita bertatap muka.

Oh, tunggu! Ada yang harus kupersiapkan.

Tuesday, October 1, 2013

Your Happiness must Come First

Sebuah status seseorang di Facebook mengantarkan saya pada pencarian Google seorang Vishen Lakhiani. Ternyata ia adalah seorang computer engineer ternama keturunan India yang besar di Kuala Lumpur. Ia merintis perusahaan MindValley. Sebuah perkenalan yang cukup bagi saya untuk bisa berasumsi bahwa ia seorang lelaki yang cukup bijaksana. Wajar saja kalau ada orang yang mengutip pernyataannya dan menjadikan status di Facebook. Begini katanya, "Human heart is the most selfish organ in your body. Because the good blood that flows thru it, the most oxygenated blood, the heart takes for itself. It takes all the good blood, and then it lets the rest flow to the rest of your organ. Selfish, I know. But if the heart did not do that, the heart would die. And if the heart die, it takes all the other organ to live. And the key idea here is, you've gotta be selfish. You gotta make sure your own happiness comes first, and only then you can apply all these things to make your business, employees, coworkers happy. You gotta start with yourself." Kurang lebih, maksudnya, kita harus berbahagia terlebih dahulu sebelum kita bisa membahagiakan orang lain. Kurang lebih, saya setuju. Bagaimana tidak? Logikanya, menurut saya, bagaimana saya bisa membahagiakan orang lain kalau saya sendiri tidak berbahagia? Mustahil. Contohnya saja, seorang ibu yang hatinya rusuh akan terasa oleh si anak. Bagaimana pun si ibu terlihat membahagiakan si anak, si anak tak akan merasa bahagia, karena ia merasa ada sesuatu yang mengganjal perasaan si ibu. Ia merasa si ibu tidak berbahagia, lantas bagaimana bisa ia berbahagia walaupun ibunya terlihat ingin membahagiakan dirinya? Si anak ikut perasaan ibunya, tidak bahagia. Ibu yang berbahagia akan membentuk anak-anak yang berbahagia. Seingat saya, contoh tersebut pernah saya tonton di acara Oprah.

Sunday, September 29, 2013

Bercerita (Creative Writing) ala Maggie Tiojakin

Berikut ini adalah salinan live-tweets penulis Agustinus Wibowo (@avgustin88) dari kelas #NarasiGPU2 yang dimentori oleh penulis Maggie Tiojakin (@MaggieTiojakin). Saya sangat berterimakasih atas sharing live lewat Twitter ini. Jadi, mari kita belajar menulis cerita bersama.

Menulis adalah praktek yang ada ilmunya, ada elemen dan tekniknya. Menulis bukan sekadar bakat atau intuisi. Apakah menulis itu bisa diajarkan? Jawabannya bisa yes dan no. Bagian yang tidak bisa diajarkan dalam menulis adalah persepsi dan empati. Dalam tulisan apa pun kita tidak boleh judgemental. Dengan empati, tokoh yang jahat pun punya karakter yang baik dan manusiawi.

Apa itu cerita? Cerita bukan seni. Cerita bisa mengandung unsur seni, tapi cerita sendiri bukanlah seni. Cerita bukan berita. Berita bisa jadi cerita, tapi tidak semua berita adalah cerita. Cerita bukan hiburan. Cerita bisa menghibur, tapi tujuan cerita bukan menghibur. Cerita bukan perjalanan. Cerita bisa merupakan perjalanan, tapi cerita sendiri bukanlah perjalanan. Jadi, cerita adalah medium komunikasi. Tujuannya adalah untuk mengantarkan pesan.

Cerita itu penting. Kita tidak bisa membayangkan hidup tanpa cerita. Setiap hari kita hidup dalam cerita. Dua buku terpopuler di dunia, Al Quran dan Alkitab, isinya adalah cerita. Kita belajar fundamental hidup melalui cerita. Cerita adalah alat komunikasi penting, tapi sering kita remehkan. Kita tahu tentang dunia, sejarah peradaban, filosofi, Tuhan, semua melalui cerita. Cerita adalah hidup manusia.

Friday, September 27, 2013

Merasakan yang Kau Rasakan

Apa yang kau harapkan dengan berkata, "Lo nggak ngerasain apa yang gue rasain sih.", kepada temanmu?

Ada banyak kemungkinan harapan.

Pertama, kau berharap dikasihani. Tapi apa iya, itu yang benar-benar kau harapkan? Sebagai temanmu, aku tak akan mengasihani dirimu. Karena aku ingin kau menjadi kuat. Mengasihanimu hanya akan melemahkanmu. Apa kau merasa pantas dikasihani? Kalau kau masih bisa berdiri di atas kedua kakimu sendiri, kau tak layak dikasihani, seberat apapun kepedihan yang menderamu, sesusah apapun kehidupan yang kau keluhkan. Aku tahu, kau tak pantas dikasihani.

Kedua, kau berharap aku merasakan apa yang kau rasakan. Aku akan memberitahumu rahasia kehidupan; tak ada seorang pun yang bisa memahami perasaan orang lain kalau tak benar-benar menyusup ke balik kulitnya. Aku tahu rahasia ini dari karya klasik "To Kill a Mockingbird", kalau kau perlu tahu. Kau tahu maksudnya? Sekalipun aku mencoba melepas kulitku, lalu memasangkan kulitmu di tubuhku, sama sekali tidak akan pas. Sekalipun aku mencoba merasakan apa yang kau rasakan, aku tak akan bisa merasakannya sama persis dengan apa yang kau rasakan. Kita punya kepribadian sendiri-sendiri. Sekalipun kita berdua dihadapi dengan masalah yang sama persis, kita akan menanggapinya dengan berbeda. Karena kita punya jalan pikir yang berbeda, hati yang tak sama. Sepintar-pintarnya aku berempati terhadap permasalahan/penderitaan/kesusahan orang lain, aku tak akan bisa merasakan hal yang sama persis dirasakan oleh orang itu. Kau harus tahu ini. Ya itulah kenapa aku merespon pernyataanmu dengan pernyataanku ini:

Friday, September 13, 2013

Sepatu Kesayangan

Kami membutuhkanmu...

My Favorite Writing Tips (1)

I found these several tips interest me. I collected them from few websites I'd visited. I think that there will be more tips from the masters of writing. So, here it is, part one!

What is a writing (writer) itself?
Writing is a struggle against silence. ~ Carlos Fuentes 
It's a luxury being a writer, because all you ever think about is life. ~ Amy Tan 
Writing is a lonely job. Having someone who believes in you makes a lot of difference. They don't have to make speeches. Just believing is usually enough. ~ Stephen King 
When I say work, I only mean writing. Everything else is just odd jobs. ~ Margaret Laurence 
Writers live twice. ~ Natalie Goldberg   

Wednesday, September 4, 2013

Meja Belajar

Saya tidak termasuk golongan anak yang sangat rajin belajar di rumah. Saya biasa belajar, tapi hanya saat mau ujian atau sejenisnya. Saya tidak menjadikan kegiatan belajar sebagai rutinitas harian yang terjadwal ketat, walaupun sebuah meja belajar yang nyaman selalu ada di kamar saya.

Kucingku Kibo suka duduk di atas meja belajar, mungkin mau belajar juga. 

Thursday, August 22, 2013

Hujan di Gurun Sahara

Sudah tujuh hari aku tak melihat kakak perempuanku. Ia sedang menjadi ratu selama itu. Ratu yang tubuhnya dibalut gaun dan separuh wajah ditutup cadar, lalu ditambah kain lebar yang menutupi seluruh tubuhnya sehingga tak seorang pun boleh melihatnya. Fatima dikelilingi dayang-dayang dadakan yang siap mengipasinya kapan saja ketika ia kepanasan. Dan segerah apapun, Fatima tak boleh melepas kain dan cadarnya. Begitulah tradisi pesta pernikahan suku kami yang berlangsung selama tujuh hari. Pesta pernikahan Fatima akan berakhir nanti malam. Ketika itulah aku akan bisa melihatnya lagi. Tetapi mungkin tidak secepat itu, karena Qasim, suami Fatima, pasti akan segera mengurungnya kembali di kamar. Kau tahu untuk apa.
Lupakan Fatima. Ia akhirnya berbahagia. Aku sedang berjalan di antara pepohonan kurma tak jauh dari rumah. Aku sedang membayangkan Alesha. Sedang apa gadis itu sore ini? Ia pasti cukup kelelahan membantu acara pesta keluargaku. Kebanyakan perempuan memasak di dapur besar di belakang rumah. Memasak untuk pasokan makan tujuh hari tujuh malam tentu saja melelahkan. Sore ini kegiatan memasak terakhir. Makanan pun melimpah di tengah-tengah para lelaki yang hadir. Aku sudah cukup bosan dengan acara minum-minum kopi, teh dan susu unta. Cukup bosan dengan bunyi-bunyian tamburin dan hentakan kaki-kaki yang menari. Aku telah jenuh riuh, makanya aku berjalan sendirian sembari menikmati semilir angin menjelang senja di Timia, sebuah desa di lembah Pegunungan Ayr yang kucinta ini. 
Perlahan matahari turun di balik bukit-bukit pasir di kejauhan. Matahari yang membara tampak bulat sempurna dengan warna jingga menyala. Negeriku selalu dilimpahi panasnya sang surya, walau di saat musim hujan sekalipun. Hujan terakhir tampaknya turun tak lama sebelum pernikahan Fatima dimulai. Pertengahan September lalu. Hujan yang dibawa oleh badai besar akhirnya jatuh ke bumi setelah sepuluh bulan kami menanti dalam musim kemarau berkepanjangan. Beruntung kami tinggal di oasis yang menyimpan cadangan air yang cukup banyak. Dikelilingi oleh gurun Sahara yang ganas, kami tidak mati kekeringan. Sumber air purba di sumur-sumur dan air hujan dari waduk bebatuan Pegunungan Ayr cukup untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan kebun kurma tumbuh subur lewat irigasi yang kami bangun sejak suku kami tidak lagi menjadi nomaden. Begitu cerita nenekku. 
Aku berasal dari suku Tuareg. Salah satu suku nomaden di Afrika. Kami tidak lagi tinggal berpindah-pindah untuk membuka lahan-lahan bertani yang baru. Kata nenekku, cerita yang ia dapat dari nenek nenek neneknya, padang pasir tak seluas sekarang. Dahulu kala, belantara Afrika penuh dengan hamparan savanah. Rerumputan di mana-mana. Air mengalir yang tak henti. Nenekku pasti tak diberi tahu bahwa itu berarti beribu tahun lalu. Savanah entah telah pindah ke mana. Setelah ikut ayahku dalam perjalanan panjang melewati Sahara untuk pertama kalinya, aku sadar aku telah berada begitu jauh dari savanah. Jadi, aku melupakan angan untuk berlarian di padang rumput, lalu tiba-tiba hujan turun dengan deras. Tidak akan ada hujan yang turun di gurun Sahara. Begitu panasnya bentangan gurun hingga mampu menguapkan tetesan hujan yang baru akan turun. Tak akan ada hujan di gurun Sahara.
***

Monday, July 1, 2013

Nama Pena bagi Pengarang

Sebuah ungkapan klasik dan klise dari seorang Shakespeare, "what's in a name?" atau "apalah arti sebuah nama?"

Apa tak sebegitu berartikah sebuah nama? Terlebih sebuah nama pena. Nama yang dikarang oleh seorang pengarang, yang diatributkan untuk karya yang telah dicipta. Sekian ratus tahun, telah lahir begitu banyak pencipta karya. Pengarang-pengarang ternama yang tak lekang oleh waktu itu ternyata membutuhkan sebuah nama samaran. Dengan berbagai macam alasan. 

Pablo Neruda, seorang pujangga yang mendapat penghargaan Noble Prize, ternyata lahir dengan nama Neftali Ricardo Reyes Basoalto. Ia "memungut" nama pena Pablo Neruda dari seorang pujangga Chili bernama Jan Neruda. 

Mungkin tak banyak yang mengenal Charles Dodgson. Nama itu banyak tertera pada sampul buku-buku matematika. Ia memang seorang ahli matematika. Tapi, siapa yang menyangka, ia pun menulis buku fantasi. Pastilah banyak yang tahu dengan nama Lewis Carroll. Sang pencipta dunia fantasi ala Alice. Alice's Adventures in Wonderland menjadi karya klasik yang lahir dari seorang bernama asli Charles Lutwidge Dodgson. Ia "mengarang" nama penanya berdasarkan terjemahan latin dari nama aslinya yang kemudian "di-Anglikan-kan". Caralus Lodovicus menjadi Lewis Carroll. 

Friday, June 7, 2013

Mengasihi Mereka yang Mengemis atau Membantu Mereka yang Berusaha?

Mana yang akan kamu pilih: mengasihi mereka yang mengemis atau membantu mereka yang berusaha?
Jakarta. Sudah lebih dari tujuh tahun saya berpetualang di kota ini. Bermula dari menumpang di rumah Paman, mengontrak rumah petak tak jauh dari kampus, lalu pindah lagi ikut tinggal bersama kakak di rumah kontrakannya, dan lagi, pindah ke rumah lainnya. Telah empat kamar yang saya huni selama hidup saya di Jakarta. Dan selama itu, bila ke mana-mana yang jauh dari tempat tinggal, saya biasa menggunakan jasa angkutan umum. Mulai dari ojek, bajaj, mikrolet, metromini, kopaja, bus patas, bus TransJakarta, hingga taksi--sesekali. Banyak ragam kehidupan yang saya temui selama menempuh lika-liku jalanan ibukota. Pengamen, yang dulu di kota Padang--kampung halaman--jarang saya temui, begitu ragam keahlian dan performa. Ada yang bernyanyi dengan suara cempreng dan "alat musik" dari botol plastik. Ada pula yang sepenuh hati bersuara emas dan berperangkat alat musik, minimal gitar. Bagi saya, mereka layak diapresiasi dengan uang recehan di kantong pakaian kita. Kalau ada yang sangat menghibur, lembar dua ribu pun saya masukkan ke dalam kantong nafkah mereka. Toh, dengan begitu, saya anggap sebagai amal. Membantu mereka yang telah berusaha untuk--sedikitnya--menghibur. Bisa jadi memang bukan menghibur tujuan mereka mengamen, tapi benar-benar mencari sesuap nasi. Apapun, mereka layak dibantu. Walau hanya dengan sekoin lima ratus.

Tuesday, June 4, 2013

Cerita Kepenulisan Bersama Majalah Femina

Tanpa menghitung hari demi hari, waktu telah berlalu sebulan lebih sejak postingan terakhir. Ya, pada bulan Mei, tak sekalipun saya menulis di blog ini. Di blog saya yang lain, saya masih menulis, walau singkat saja. Hanya menuliskan hal-hal yang lebih personal dan, mungkin, sepele. Sedangkan di blogspot ini, saya lebih banyak pertimbangan. Apakah pantas atau tidak pantas? Apakah menarik atau tidak menarik? Selain juga pertimbangan, untuk menulis di Blogspot saya lebih nyaman langsung menuliskannya lewat laptop. Kalau di blog sebelah, saya bisa nyaman menulis via smartphone. Jadi, tiap ada kegelisahan--gaya penulis kan gitu! gelisah! hahaha--saya bisa dengan cepat mencurahkannya di blog sebelah. Makanya, nih, blogspot ini hampir saja seperti kuburan yang sesekali dikunjungi--membutuhkan perenungan yang lebih mendalam sebelum benar-benar dituliskan.

Bagaimana paragraf pertama saya itu? Terlalu membual? Hahaha... Memang bukan hal yang penting untuk dibahas sebenarnya. Terserah saya, toh, mau sering mau jarang update blog. Siapa juga yang peduli? Jika berangkat dari persoalan ini, tentu saya tak perlu menjelaskan panjang lebar seperti di atas, bukan? Hehehe... Begitulah, kadang seorang writer-wanna-be terlalu mendramatisir permasalahan. Atau, saya saja yang begitu? Hmm, baiklah, sampai paragraf kedua ini, saya masih terus saja membual. Jadi, saya ini mau bahas apa kali ini? Okay! Lanjut ke paragraf berikutnya....

Tarrraaaa....

Thursday, April 18, 2013

Menemukan Kembaran dalam Siwon Six

Tinggi. Atletis. Bermata sipit. Berbibir tipis. Berlesung pipit di kedua pipi bila tersenyum. Rambut hitamnya diatur dengan gel, kadang rapi, kadang acak. Namanya Siwon. Dia datang dari Korea Selatan. Sekilas senyumnya bisa memancing histeria jutaan remaja.

Jika seorang Siwon di dunia nyata memikat kita di bawah sorot lampu di atas panggung, bagaimana dengan enam Siwon di dalam buku ini? 
Ini kisah mereka. Nasib seorang bayang-bayang bintang besar, jiwa yang terjebak dalam tubuh yang salah, beban identitas yang tak diinginkan, obsesi akan kekayaan, kesalahpahaman fatal, dan rasa kehilangan yang menuntun seseorang melintasi batas negara berbekal bongkah-bongkah roti Gyeongju.

Nah, demikian isi blurb dari buku terbaru dari saya. Siwon Six merupakan omnibook yang diterbitkan oleh Plot Point (Mizan Group) baru-baru ini. Hmm, sedikit penjelasan bagi yang belum tahu, omnibook itu adalah buku kumpulan cerita yang terhubung oleh satu benang merah. Di buku Siwon Six ini benang merahnya adalah para kembaran Siwon. Lho, memangnya Siwon Super Junior itu punya kembaran? Bukan begitu. Ide awal buku ini berasal dari sebuah teori antah barantah. Katanya, setiap manusia di bumi ini punya enam kembarannya. Maksudnya Tuhan menciptakan tujuh manusia yang serupa. Percaya? Hehehe..

Thursday, February 28, 2013

Rectoverso dan Lovediction

Februari akan segera berakhir. Kemudian datang Maret. Pertanda saya harus segera berlari. March. Tak banyak hal yang bisa saya ceritakan kali ini. Mungkin karena tak banyak hal menarik yang terjadi selama Februari ini. Saya lebih sering menyepi. Menjauh dari hingar-bingar yang tak berarti. Ah, ya, memang masih banyak yang harus saya lakukan. Dan saya tak akan membaginya di sini.

Saya upload foto buku. Dua buku Rectoverso yang saya punya. Edisi pertama saya beli pada Februari 2010. Edisi terbaru saya dapat Februari ini sebagai hadiah dari Bentang Pustaka karena karya flash fiction saya menang dalam kuis bertajuk "Selamat Ulang Tahun, Dee!"

Rectoverso
Saya juga sudah nonton film omnibus Rectoverso. Sebagai penikmat film, saya sangat menikmatinya. Tidak ada kritik atau pujian overrated. Yang penting saya suka dan saya menikmatinya. Begitu saja komentar saya.

Thursday, February 7, 2013

Miskom

Malam ini saya belajar hal yang sangat penting perihal KOMUNIKASI. Saya sendiri bukan tipe orang yang banyak omong--kecuali lewat tulisan, mungkin. Saya tidak begitu sering berkomunikasi dengan orang lain. Saya jarang bertegur sapa dan mengajak ngobrol terlebih dahulu. Orang lain pun cenderung menilai saya cuek, lebih parah dicap sombong. Tapi kalau sudah mengenal saya lebih dekat, saya tidak begitu, kok! *pembelaan! Hehehe...* Kasus malam ini telah mengingatkan saya tentang betapa pentingnya komunikasi. Tentu saja supaya kita tidak salah paham dan tidak serta merta menilai.

Namun, terlalu inisiatif berkomunikasi pun tampaknya malah menyebabkan hubungan yang baik menjadi kurang baik. Hmm, saya rasa saya memang salah. Saya dengar tentang A dari B kalau A begini ke C. Bukannya saya konfimasi dulu ke A, saya malah langsung tanyakan ke C. Akhirnya, jadi salah paham. Apa yang disampaikan A ke B belum tentu akhirnya menjadi sama dengan apa yang disampaikan ke saya. Mungkin sama, tetapi bisa jadi saya menangkap maksudnya berbeda. Sama saja jadinya. Bukan salah paham, tapi gagal paham. *apa bedanya? Hehehe...*

Akhirnya, saya belajar untuk menghargai pentingnya komunikasi. Tangkap dulu maksud yang sebenar-benarnya. Dan jangan pernah menilai kalau memang tak pernah bertanya dan berbicara. Setelah kasus malam ini, saya akan lebih sering bertanya, mencoba untuk menyapa dan mengajak ngobrol. Semoga, ya!

Monday, February 4, 2013

Menulis: Aksi Keberanian atau Pelarian

"Writing is an act of courage. But it's worth taking the risk." ~ Paulo Coelho
Beberapa kali saya menemukan kutipan dari Paulo Coelho tersebut di status jejaring sosial. Ternyata, setelah ditelusuri, kutipan itu diambil dari catatan Paulo Coelho di blognya. Tentunya, catatan itu berkaitan dengan penulisan. Saya sendiri belum sempat membaca keseluruhannya. Hanya memindai dan menemukan sekalimat yang memancing saya untuk menulis postingan ini. 

Siapa Paulo Coelho? Kalau ada yang belum kenal, saya jamin dia orang yang sama sekali tak suka membaca. Paulo Coelho adalah penulis internasional. Dia terkenal lewat bukan buku perdananya berjudul The Alchemist. Ya, yang baca postingan saya ini, pasti sudah tahu dan mungkin pula sudah membaca The Alchemist. Setidaknya, sering bertemu tak sengaja dengan kutipan inspiratif dari buku itu entah di buku lainnya atau jejaring sosial, blog, dan segala macam media. 

Saya sedang tak membahas The Alchemist. Saya sedang tak ingin pula membahas Paulo Coelho walaupun dia termasuk salah satu penulis favorit saya. Saya telah membaca beberapa novelnya, ada yang saya suka ada juga yang menurut saya biasa saja tapi tetap saya baca. Ya sudah, mari kembali ke topik yang ingin saya bicarakan di postingan ini.

Monday, January 21, 2013

Flash Fiction untuk Dee

Senin sore, saya menerima kabar baik. Awalnya, saya terima BBM dari @zulazula yang ternyata mengucapkan selamat buat saya. Langsung saja saya cek Twitter @bentangpustaka yang mengadakan kuis Ulang Tahun Dee pada hari sebelumnya. Nah, iya! Ternyata memang ada ucapan selamat buat saya dari @bentangpustaka. Jadi, hari Minggu pagi, saya mengikuti ajakan @bentangpustaka yang mengadakan kuis menulis Flash Fiction dengan tema Selamat Ulang Tahun dalam rangka perayaan ulang tahun Dewi 'Dee' Lestari, yang notabene adalah salah satu penulis favorit saya. Ihiy! Langsung ide itu muncul dan segeralah saya menulis. Begitu kelar, langsung saya kirim pada pagi jelang siang itu juga. Walaupun hadiahnya satu buku RectoVerso yang tentunya saya telah punya (edisi TrueDee), saya tetap bersemangat ikut kuis itu. Lumayan, jadi latihan menulis. Dan ternyata menang! Hehehe...

Inilah Flash Fiction kurang dari 200 kata yang menjadi pemenang dari 138 peserta lainnya:
Firasat

Degup jantung mereka menyuarakan kepanikan. Mereka kehilangan jejak. Baru saja mereka berada dalam satu ruangan dengan seorang target mereka malam itu.
“Dia ke mana?”
“Tadi dia di sini!”
“Iya, gue tadi juga lihat. Duh!”
“Gimana nih?”
“Dia mungkin langsung pulang.”
Mereka berlima, saling bergantian bicara.
“Telepon aja!”
“Jangan! Kita harus nggak peduli seharian ini sama dia!”
“Tapi satu jam lagi kita harus menemukannya!”
“Huh! Padahal acaranya sudah diatur di sini! Dia pakai kabur segala!”
“Firasat gue, dia memang pulang. Kita susul dia ke rumahnya.”
Mereka saling berpandangan. Ragu mengiringi usulan itu. Tapi, mereka setuju... mengikuti firasat.
“Dan, sebaiknya, kita merancang ulang strategi.”
Mereka mengangguk. Orang-orang di kafe yang telah hadir demi acara mereka juga harus diberitakan perihal pembatalan acara. Mereka, dalam satu mobil, langsung melaju ke Serpong. Berpacu dengan waktu. Mereka tak ingin terlambat.
***
Pintu depan digedor kencang oleh seorang perempuan cantik. Mukanya tegang. Tubuhnya bergetar.  Tak lama, pintu itu dibuka. Dia memang ada.
“Diva, ada apa?!”
“Dee, I have to tell you that..” suara Diva bergetar juga. “Angka usiamu bertambah satu!” teriaknya, lantas tertawa.
“SURPRISE!!!” satu per satu keempat temannya menampakkan diri.
“Ruben, Dhimas, Bodhi, Elektra!” pekik Dee.
Mereka berpelukan. Lilin yang menyala segera ditiup Dee.

Terima kasih @bentangpustaka. Lain kali, terbitkan novel saya, ya! Hahaha.. (kirim dulu naskahnya oi!)

Dan... sekali lagi... Selamat ulang tahun, Dee... Teruslah menginspirasi!

PS: Infonya dari sini http://pustakabentang.blogspot.com/2013/01/pemenang-flash-fiction-selamat-ulang.html

Saturday, January 19, 2013

Impian Awal Tahun

Tentang impian. Apa yang bisa saya ceritakan tentang impian? Intinya cuma satu. Masa depan cerah gemilang. Sudahlah, Sabtu sore begini, bicara perihal impian tampaknya agak berat. Saya sendiri merasa belum pantas berkhotbah dengan tema impian. Impian saya, mungkin tenggelam sudah. Ditenggelamkan banjir Jakarta? Sudah.. sudah.. biar saya skip dulu bicara tentang impian. Ini memang masih awal tahun, waktu yang tepat bicarakan impian. Tapi, saya ingin pendam impian sendirian. Kelak. Ya, kelak... impian akan menjelma nyata. Semesta akan berkonspirasi dalam mewujudkannya. Impian... Ya, kelak!

Jadi, saya mau bicara apa? Bicara? Kenapa tidak tulis? Bukankah ini saya sedang menulis? Biarkan saja. Biar tulisan saya ini seolah-olah mengajak pembacanya berdialog. Bukankah itu terasa lebih baik? Lebih nyaman? Ah, apa ini yang sedang saya omongkan?! Tulisan absurd yang seakan berdialog padahal hanya monolog sang penulis. Penulis? Apakah saya seorang penulis? Parameter apa yang dijadikan dalam mengukuhkan seseorang sebagai penulis? Apakah sekadar menulis sesuatu lalu dicap sebagai penulis? Apapun, saya menganggap diri sendiri adalah penulis. Penulis amatir, penulis kacangan, penulis pro sekalipun, itu terserah orang lain yang menilai.

Tentang menulis. Apa yang telah saya raih dalam kepenulisan? Tentu belum banyak. Hitunglah sejak Oktober 2010, yang mana menjadi titik awal kepenulisan saya. Titik ketika saya menerbitkan secara indie buku kumpulan cerpen saya. Sempat bombastis! Hahaha... anggaplah begitu! Sensasional? Hahaha... mungkin! Seorang perempuan muda berhijab mendadak rilis buku berjudul Lajang Jalang. Menurutmu? Sudah.. sudah.. itu masa lampau. Saat ini.. sebenarnya saya masih berprogress untuk menjadi penulis yang bukunya diterbitkan oleh penerbit major. Tunggu saja ya!

Wednesday, January 9, 2013

Perjalanan Setahun (6)

(...part 1...) (...part 2...) (...part 3...) (...part 4...) (...part 5...)

Menjelang maghrib, 31 Desember 2012, kami kembali ke Jogja. Tidak ada rasa kantuk selama perjalanan dari Gunung Kidul. Seharian bersenang-senang dari pagi hingga sore di tempat-tempat indah dan damai sungguh menjadi penutup tahun yang sempurna. Di tengah perjalanan pun, saya dikejutkan oleh pemandangan yang tak terduga. Kami melewati Bukit Bintang! Saya baru tahu namanya saat itu juga. Ketika sang koordinator berseru, Bukit Bintang!

Dari kawasan Bukit Bintang, kita bisa melihat hamparan kota Jogja lengkap dengan kerlap-kerlip penerangannya. Saya langsung teringat Dago Pakar di Bandung. Dari ketinggian, kita melihat pesona dataran yang lebih rendah. Saya pun teringat Limau Manih, Sitinjau Lauik, dan Indaruang di kota Padang. Mana yang lebih bagus? Kalau menurut saya, Bukit Bintang ini, jalanannya tidak terlalu rawan, di pinggiran jalan juga banyak warung makan tapi tidak sepanjang jalan. Jadi, Bukit Bintang lebih cocok dijadikan area peristirahatan sambil menikmati kota Jogja diselimuti malam dengan bintang-bintang di daratan.

Pemandangan itu kami nikmati selewat saja. Perjalanan tetap dilanjutkan. Sekitar jam sembilan, kami tiba di rumah. Beberapa ada yang berhambur ke kamar mandi satu-satunya itu. Saya menunggu giliran dan akhirnya bisa mandi juga. Menurut rencana perjalanan, malam tahun baru seharusnya kami mengadakan acara bersama-sama di pantai (entah pantai mana), dan kalaupun terkendala kami ke Malioboro. Berhubung, kebanyakan dari kami ingin bisa tiba di Jakarta keesokan harinya, kami tak terlalu memusingkan harus bermalam tahun baru. Jadi, bagi yang ingin bermalam tahun baruan bisa mengunjungi Malioboro.

Monday, January 7, 2013

Perjalanan Setahun (5)

(...part 1...) (...part 2...) (...part 3...) (...part 4...)

Hari terakhir di tahun 2012. Jogja cerah sekali alias garang, apalagi menuju Kabupaten Gunung Kidul. Jam enam pagi, kami semua telah bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan rumah. Ada sedikit perbedaan pendapat saat itu, apakah tas-tas tinggal di rumah atau langsung dibawa ke bus supaya bisa langsung pulang ke Jakarta. Atas saran si Bapak Tuan Rumah, tas-tas sebaiknya ditinggal dulu. Sepulang dari Gunung Kidul, bisa mampir dulu ke rumah untuk beres-beres. Saya sendiri tetap membawa tas ransel ke bus. Ya, siapa tahu butuh sesuatu yang tersimpan di dalam ransel.

Sayang sekali, saya bukan tipe pencatat perjalanan, sehingga saya sering kelupaan detail. Entah jam berapa bus kami tiba di Pantai Siung dan jalan apa saja yang kami lewati. Yang saya ingat adalah jalan dari kota Jogja ke Gunung Kidul itu melewati perbukitan yang berbelok-belok. Jalannya tidak lebar, hanya dua jalur untuk dua arah. Masuk ke Pantai Siung, kami melewati jalan yang lebih kecil. Dan... sinyal pun melemah hingga akhirnya tak ada sama sekali!!! Where were we?! Bukankah kami sejarak 2-3 jam dari kota Jogja?! Hehehe... Pantai itu memang berada di balik perbukitan, barangkali karena itu sinyal tak ada. Jadi, nggak bisa update status, deh! Hihihi...

Pantai Siung tidak terlalu panjang. Ada batu-batu karang dan pasirnya masih kasar. Di bagian tertentu pantai, pasirnya sudah halus, tidak ada kerang dan bebatuan. Tapi, pendek saja. Di sini, tampaknya ada sebuah penginapan sederhana. Fasilitas pantai lainnya, seperti toilet, cukup layak dan bayar 2000 rupiah kalau mandi. Pedagang makanan berderet di pinggir parkiran. Ada yang jual es kelapa, tentunya, dan goreng-gorengan, bakso tusuk, apapun yang "ringan-ringan". Pantai ini belum terlalu berkembang. Pengunjung juga tak terlalu ramai. Kami serombongan seakan-akan sedang bermain di pantai pribadi. Hehehe....

Saturday, January 5, 2013

Perjalanan Setahun (4)

(...part 1...) (...part 2...) (...part 3...)

Kami meninggalkan Dieng pada siang hari, 30 Desember 2012. Tujuan kami selanjutnya adalah kota budaya, Jogjakarta. Perjalanan menempuh waktu lebih lama daripada seharusnya. Menurut pengguna gadget sejati yang mengandalkan GPS (coba tebak siapa?!), sopir bus mengambil jalan yang lebih panjang. Entahlah... toh yang saya ingat, perjalanan menuju Jogja itu melewati Magelang. Berhubung waktu terbatas, Candi Borobudur yang masuk dalam itinerary batal dikunjungi. Tarian hujan menyambut kami setiba di Jogja sehabis maghrib. Bus berhenti di SPBU tak jauh dari penginapan. Kami turun dan mengambil barang, lalu berjalan kaki sambil dipercik hujan. Tak sabar ingin mandi segera!

Sayang sekali, penginapan kali ini tidak sebaik penginapan di Dieng. Sangat ala kadarnya. Penginapan kami itu merupakan rumah pemiliknya, jadi kami berbaur tinggal bersama tuan rumah. Rumahnya sangat sederhana, terdiri dari tiga kamar dan satu kamar mandi. Sebenarnya, satu kamar diasingkan hanya untuk tuan rumah dan dua orang backpacker lain sebelum kami. Kebetulan dalam rombongan kami ada seorang ibu, yakni ibunya Anggun, kamar tersebut pun dibuka juga untuk sang tetua rombongan kami. Sedangkan, kami yang kini berjumlah 29 orang, belum lagi tas-tas ransel, harus berbagi tempat di antara ruang depan (buat cowok-cowok), satu kamar depan yang cukup layak, dan satu kamar belakang yang menurut saya tidak layak ditempati oleh cewek-cewek. Hmm, sorry to say this, lampu penerangan saja tidak ada. Saya pun terpikir, apakah menjadi seorang backpacker, menyusahkan diri dan badan itu jadi bagian petualangan? Mungkin. Toh, dengan budget seminimal mungkin, backpacker harus dapat bertahan hidup dalam perjalanannya.

Tak lama setelah menempatkan tas-tas, banyak di antara kami yang ke luar dari rumah. Barangkali mau ambil napas! Hahaha... Saking sumpeknya kali ya?! Hehehe.... Saya tetap tinggal di rumah (lebih pantas disebut rumah daripada penginapan) bersama segelintir orang. Kalau tak salah, yang habis mandi langsung tinggal di kamar hanya beberapa--Sara, Erni, Aryani...dan entah siapa lagi. Saya bersama Anggun dan ibunya pun merasa sedikit tidak betah, walaupun si Mama sudah dapat kamar yang cukup layak barengan dengan tuan rumah. Akhirnya, kami bertiga ingin menyusul yang lain. Ke luar rumah sesegera mungkin! Hahaha....

Perjalanan Setahun (3)

(...part 1...)

(...part 2...)

Waktu kami terbatas, masih ada beberapa objek wisata yang perlu kami kunjungi. Setelah dari Puncak Sikunir, walau saat itu masih pagi sekali, mobil pick-up mengantar kami ke Kawah Sikidang. Perjalanannya sekitar 15-20 menit. Tiba di sana, kami bebas sarapan di warung yang dilokalisir dalam satu area. Berhubung di Puncak Sikunir, saya sudah makan Pop Mie, di warung saya cuma nyemil gorengan. Ohya, perlu juga saya catat, saya pun buang hajat di toilet umum pagi itu. Hehehe...

Karena rombongan kami terbagi dua, saya dan teman-teman rombongan pertama menunggu rombongan kedua yang sedang akan dijemput oleh mobil pick-up yang sama. Dalam penantian itu, kami sarapan dan bebas mau ngapain saja. Beberapa ada yang sudah foto-foto duluan. Sebenarnya, kami tak harus menunggu rombongan berikutnya. Toh, memang saat itu sepertinya kami lebih senang leyeh-leyeh di warung atau di mana saja tempat yang memungkinkan.

Di Kawah Sikidang, banyak penjual masker menjajakan dagangannya. Memang, area tersebut berbau pekat belerang. Saya sendiri tidak beli masker. Saya mengandalkan pashmina untuk menutup hidung bila bau belerang itu menguar kuat. Kadang-kadang saja bau itu muncul tergantung angin yang menerbangkannya. Kawah Sikidang sangat bagus dijadikan latar belakang foto. Apalagi cuaca sangat cerah pagi itu. Kawah Sikidang ini ternyata artinya melompat-lompat. Kawah ini masih aktif dan biasa ditemukan kawah mini yang mendidih di tempat-tempat yang tak terduga. Jadi, mesti lihat-lihat ke bawah kalau jalan menuju kawah yang besar. Dan sepertinya, di bawah tanah yang kami pijak itu bisa saja ambruk membentuk kawah baru. Saya jadi ngeri sendiri dan memutuskan untuk segera pergi saja dari area sekitar kawah.

Friday, January 4, 2013

Perjalanan Setahun (2)

(....part 1....)

Kami telah tiba di penginapan Bouginville, Dieng, pada waktu maghrib. Kami semua membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam yang telah disediakan tuan rumah. Setelah itu, kami pun berkumpul di ruang tengah lantai dua. Koordinator, bernama Bima, membahas hal-hal penting yang perlu kami ketahui untuk persiapan perjalanan esok hari serta mereview hal-hal yang telah terjadi selama perjalanan keberangkatan dari Jakarta. Di saat itulah, kami juga saling mengenalkan diri lebih dekat. Diiringi dengan canda tawa tentunya. Saya sendiri lebih condong menjadi "penonton", mengingat umur juga, banyak teman backpacking saya yang ternyata lebih muda dari saya.

Ngalor-ngidul malam itu tak boleh diteruskan. Kami harus beristirahat. Dini hari jam tiga, 30 Desember 2012, kami harus bangun dan bersiap menempuh perjalanan singkat ke Puncak Sikunir. Di sana kami akan melihat matahari terbit. Inilah yang saya tunggu-tunggu. Saya selalu terpesona melihat matahari terbit yang menjadi bagian scene di film-film. Saya memang jarang keluar rumah menengok matahari terbit kala subuh. Lagipula saya tinggal di kota. Oh, well, bilang saja kalau saya malas bangun subuh. Hehehe... Saya masih ingat salah satu scene di film Benjamin Button, di saat Ben menemani ayah kandung yang telah mencampakkannya untuk melihat matahari terbit di tepian danau. It was so mesmerizing! Matahari terbit menyiratkan saya akan sebuah harapan baru. So, I was so excited to see the sunrise live! 

Dinihari itu, rombongan terbagi dua. Lima belas pertama, saya di antaranya, diberangkatkan lebih dulu dengan mobil bak terbuka. Ya, kami semua duduk di sana ibarat sekumpulan sapi yang diantar ke pasar. Hahaha... Perjalanan dari penginapan ke desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di pulau Jawa itu memakan waktu sekitar 20-30 menit. Selanjutnya, kami berjalan kaki dari tempat perhentian menuju Puncak Sikunir. Ada sebuah telaga sebelum kami memulai pendakian. Masih gelap dan kami membutuhkan senter untuk penerangan.

Thursday, January 3, 2013

Perjalanan Setahun (1)

Akhir tahun 2012 saya lalui dalam perjalanan bersama beberapa backpacker muda. Saya dan mereka tergabung dalam sebuah forum backpacker. Setelah perencanaan beberapa minggu oleh sang koordinator, perjalanan pun dimulai pada Jumat malam, 28 Desember 2012. Kami semua berjumlah 28 orang, sebagian besar adalah perempuan--para perempuan perkasa yang menyandang tas ransel. Salah satu titik di kawasan Semanggi menjadi meeting point keberangkatan kami. Jam sembilan malam, bus yang kami tumpangi melaju meninggalkan Jakarta.

Tujuan pertama kami adalah Dieng, Jawa Tengah. Saya menikmati perjalanan darat ini karena bisa melalui beberapa daerah yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya. Walaupun diselingi dengan tidur, cukup banyak daerah yang saya lewati ketika saya terjaga. Menjelang subuh, sekitar jam tiga, bus berhenti di sebuah SPBU. Daerah Cirebon, tercium dari aroma laut yang menguar dan rasa asin air yang mengucur dari pipa tempat wudhu. Cukup lama kami beristirahat di sana--sopir bus ambil jatah tidur. Hampir jam lima, perjalanan dilanjutkan untuk kembali beristirahat pada jam sembilan di Rumah Makan Kalisalak--sekalian brunch--di Bumi Ayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

RM Kalisalak