Monday, December 17, 2012

Review: La Lutte Continue

Perjuangan diteruskan!


Sejak awal, saya cukup yakin bahwa Pulang adalah novel bagus. Salah satu tandanya, saya ingin menamatkannya secepat mungkin. Dalam tiga hari, saya pun berdecak kagum atas kelihaian Leila S Chudori merangkai kata-kata indah, menyusun plot yang menarik, dan isi cerita yang berkesan. Pulang tak sekadar cerita fiksi, ada sejarah yang tidak fiksi melatarinya.

Buku sejarah yang saya baca mungkin hanya buku-buku sejarah dari sekolah, yang telah dibelokkan, diputarbalikkan, atau mungkin di-"fiksi"-kan. Membaca Pulang membuat saya sadar bahwa pengetahuan saya atas sejarah bangsa ini begitu buta. Apa yang saya tahu tentang Partai Komunis Indonesia adalah apa yang saya lihat dari film yang setiap tahun diputar sebelum 1998. Partai yang bengis, kejam, tak beradab. Tapi, saat itu saya masih kecil, belum SMP. Saya beruntung akhirnya saya tumbuh pada era reformasi. Beruntung atau sial? Sial karena saya dikibuli? Well, memang "untunglah", saya tidak lagi peduli apa itu PKI dan Gerakan 30 September 1965. Karena telah terlupa... *kenapa saya sering curcol tiap review novel???*

Sebelum membaca novel ini, saya sudah tahu garis besar ceritanya. Kebetulan saya dapat undangan menghadiri peluncuran novel ini. Di acara tersebut, beberapa aktor kenamaan menampilkan dramatic reading cuplikan isi novel. Saya makin yakin, novel ini memang bagus! Sialnya, saya jadi membayangkan karakter-karakter dalam novel ini sesuai dengan tokoh-tokoh yang tampil di acara tersebut. Cukup banyak karakter, terutama adalah Dimas Suryo, Lintang Utara, Segara Alam, Hananto Prawiro, Surti Andari.

Ada tiga peristiwa sejarah yang melatarbelakangi cerita ini; pertama tentu peristiwa G30S 1965, kemudian revolusi mahasiswa Prancis 1968, dan terakhir reformasi di Indonesia Mei 1998. Novel ini dibuka dengan narasi yang dibawa oleh Hananto Prawiro, yang menurut saya adalah penyebab segala masalah dan konflik. Hananto menjadi buruan setelah orde baru berdiri. Sejak peristiwa G30S itu, Hananto bersembunyi hingga tahun 1968 ia ditemukan di sebuah sudut bilangan Sabang, Jakarta. Sedangkan keempat kawan karibnya, yang sebelum G30S, telah berada di Cile menghadiri konferensi jurnalis internasional. Sejak itulah, Dimas Suryo, Nugroho, Tjai, dan Risjaf berkelana ke Peking hingga akhirnya menetap di Paris. Karena tak diizinkan lagi pulang ke Indonesia. Mereka dicap PKI dan sebangsanya. Mereka pun hidup sebagai eksil politik pada era orde baru.

Tentu saja novel ini tak sekadar "laporan" sejarah. Ada romansa hubungan Dimas dengan perempuan-perempuannya. Setelah cintanya tak berlabuh pada Surti karena akhirnya Surti memilih Hananto, Dimas bertemu perempuan lainnya, Vivienne di Paris ketika revolusi mahasiswa Sorbonne terjadi. Mereka akhirnya menikah, dan lahirlah putri cantik jelita, Lintang Utara. Lintang Utara ini kemudian menginjakkan kakinya di Indonesia, pada saat situasi politik memanas di Indonesia. Reformasi 1998 akan sedang digemakan. Di Jakarta, Lintang bertemu dengan Segara Alam, putra bungsi Surti dan Hananto. Le coup de Foudre, cinta pada pandangan pertama yang pernah menimpa Vivienne terjadi pada Lintang. Di akhir cerita, Lintang diberikan pilihan, Nara di Paris, atau Alam, atau tidak memilih keduanya juga termasuk sebuah pilihan. Demikian pesan Dimas Suryo pada putrinya.

Ceritanya lengkap berisi drama keluarga, persahabatan dan cinta. Bagaimana para eksil politik bertahan di negeri orang lain padahal sudah sangat rindu pada tanah air. Bagaimana orang-orang yang tidak pernah diadili bersalah harus menanggung hukuman moril. Bagaimana seorang anak harus malu menjadi bagian dari keluarga yang dicap eks tapol. Bagaimana ketika sebenarnya seseorang berada di posisi netral malah ditunjuk sebagai buruan/tapol hanya karena mereka bersahabat dengan yang dipersalahkan. Terlalu banyak bagaimana yang bisa diulas dari novel ini.

Satu kelebihan, walaupun novelnya bercerita tentang PKI tapi tidak ada keberpihakan yang kentara pada pandangan politik apapun. Penulis tampaknya hanya menyuarakan sebuah nilai kemanusiaan. Lagipula, ini karya fiksi, bukan esai yang harus mempropagandakan politik atau apapun. Seperti yang tertulis di halaman 31:

"Karya yang terlalu mementingkan substansi dan tak peduli pada gaya dan eksekusi penulisan--kusarankan mereka jangan berlagak jadi novelis atau penyair."

Dan inilah novel sejati itu, gaya dan eksekusi penulisannya memuaskan pembaca--saya. Sudut pandang tiap bab bisa berganti-ganti tanpa terasa aneh. Mengalir begitu saja. Kadang oleh Dimas Suryo, Lintang Utara, Segara Alam, Hananto Prawiro. Ada kalanya sudut pandang pertama tidak lagi ditemukan di beberapa bab. Itupun tidak jadi masalah. Ketika diperlukan penceritaan berdasarkan sudut pandang tokoh lain, penulis menyiasatinya dengan konsep surat atau flash back. Rangkaian kata-kata dalam novel ini juga indah, tak jarang sangat mengaduk-aduk emosi pembaca (saya beberapa kali mewek). Kadang terdapat kutipan dari karya sastra yang terkenal. Salah satunya yang saya suka, di halaman 147:

"April is the cruelest month, breeding Lilacs out of the dead land, mixing memory and desire." ~ TS Eliot.

Atau, halaman 254 mengutip Le Petit Prince yang ditulis Antoine de Saint-Exupery:

"On ne voit bien qu'avec le coeur. L'essentiel est invisible pour les yeux." (Dengan menggunakan hati, kita bisa melihat dengan jernih. Sesuatu yang begitu penting justru tak terlihat kasat mata)

Karena sebagian cerita berlatarkan Paris, saya makin menyukai novel ini. Ada dialog yang menggunakan bahasa Prancis, tempat-tempat terkenal di Paris. Wah... jadi makin pengen ke Paris suatu saat nanti, terutama Shakespeare & Co. *curcol lagi?!*

Pada akhirnya, kutipan yang paling saya sukai adalah dari penulis novel ini sendiri, disampaikan lewat Lintang Utara yang memetik pesan ini dari ayahnya:

"Lebih mudah untuk tidak memilih, seolah tak ada konsekuensi. Tetapi seperti katamu, memilih adalah jalan hidup yang berani."

Dimas Suryo, yang semula tidak memilih, akhirnya membiarkan nasib yang membawanya "pulang". Lalu, bagaimana dengan perjalanan panjang bangsa ini? Yang sejarahnya dipertanyakan... Yang dibangun dengan tumpah darah perjuangan anak bangsa...

Seperti yang tertulis di sampul depan novel, La lutte continue... Perjuangan diteruskan!

2 comments: