Saturday, December 8, 2012

Kursi Meja Pintu


Menanti Malam
Aku suka malam. Hanya malam yang mampu membebaskanku dari neraka siang hari. Oh, sungguh aku tak suka dengan siang. Aku tahu aku tak perlu berpanas-panasan di bawah terik garang mentari. Ruangan yang kutempati juga berpenyejuk ruangan. Tapi, bagiku, siang bukanlah waktu yang bisa kunikmati.
“Ingat, ya! Laporan itu harus beres sore ini!”
Aku mendengar suara lirih yang tergagap menjawab, “Ya, Bu!”
“Jangan iya-iya aja! Camkan kalau tidak selesai, kamu bisa dipecat! Mengerti!”
Pintu ruangan ditutup dengan pelan—ada ketakutan dari baliknya. Aku rasakan itu. Aku juga merasakan geraman puas di atasku. Oh, sangat menjijikkan!
Karena itu aku suka sekali dengan malam. Ketika aku tak perlu diduduki oleh wanita gemuk galak itu.


Ulah Presiden
Knop pintu diputar. Sebentar lagi ia masuk ke ruangan. Ia berbicara lewat ponselnya—entah dengan siapa. Mungkin kerabatnya. Kerabatnya memang sering menghubunginya untuk diberi proyek besar. Tak pernah ia menolak. Dan aku benci itu.
Sambungan telepon berakhir. Lelaki jelang usia senja itu duduk di kursi kebesarannya.
“Banyak sekali surat-surat yang harus aku paraf,” keluhnya. Kertas-kertas bertumpuk itu ia abaikan. Lalu, ia mengambil gitar dan memetik senarnya. Ia bernyanyi!
Aku tak ingin dengar suaranya! Tapi, aku tak punya telinga yang bisa kututup dengan tangan yang juga aku tak punya.
Akhirnya, ia berhenti. Kembali ke tumpukan kertas di atasku.
Sungguh, aku benci menjadi tempat transaksi KKN itu disahkan. Aku benci menjadi meja presiden.

Kutuk aku!
Aku mengutuk diriku!
Dulu, aku tinggal di istana. Aku senang bisa menyaksikan para anggota kerajaan melewatiku. Raja, ratu, pangeran, dan putri-putri kerajaan dengan pakaian-pakaian mereka yang mewah sangat menawan mata.
Aku tak ingat entah kesalahan apa yang pernah kulakukan.
Aku memang sudah tua. Aku dikeluarkan dari istana. Itu menyedihkan. Namun, lebih menyakitkan ketika tubuhku didaur ulang. Aku tak lagi seanggun dan semegah dulu.
Di sini, di tempat yang menjijikkan! Manusia-manusia itu kadang jauh lebih menjijikkan! Masih kuingat sepasang remaja memuaskan berahi masing-masing.
Seseorang mengetukku. Bodoh! Putar saja knopnya! Tak ada orang di dalam sini.
“Eh, kosong ternyata! Duh, udah nggak tahan!”
Seorang lelaki. Celananya melorot. Oh, tidak!
Kutuklah aku jadi lapuk!

©Vira Cla, 13112012

No comments:

Post a Comment