Sunday, December 30, 2012

#postcardfiction: Alara

31 Desember 2000

Lana menyambut hari ini dengan suka cita. Inilah hari yang dinanti semenjak pernikahannya dengan Bara. Buah cinta mereka telah menjelma janin perempuan.

Pembukaan entah ke berapa. Lana mengerang kesakitan. Namun, ada seulas senyum tipis yang tak mungkin menutup kebahagiannya.

Genggaman tangan Lana dan Bara terpaut erat. Lana tak menyadari cengkraman itu menyakitkan tangan Bara. Tapi, bagi Bara tak mengapa. Sakitnya terobati oleh suka cita menyambut kehidupan baru.

Perayaan kehidupan pun berlangsung, dibaluri kucuran darah, keringat, dan air mata.

***

31 Desember 2012

Alara memejamkan matanya dengan syahdu. Sepersekian menit penghayatan, pengharapan, dan rasa syukur. Matanya lalu membuka. Di depannya, api di sebatang lilin kecil menyala tenang. Kue tart itu mungil saja. Alara tersenyum dan segera meniup.

"Selamat ulang tahun, sayang," ucap Bara, ayah Alara. Ia menopang kue tart. Dengan sebelah tangan, ia merangkul pundak Alara.

"Terima kasih, Ayah," balas Alara. "Terima kasih, Ibu." 

Bara tersenyum tipis.

"Terima kasih untuk penjagaan yang tak henti selama 12 tahun hidupku," sambung Alara.

Bara mengangguk setuju. "Apa harapanmu tahun ini, sayang?"

Alara, anak perempuan beranjak gadis belia, tercenung tak lama. "Tak ada harapan muluk-muluk, Ayah. Hidupku bahagia, bagaimanapun rupanya. Ada ayah, ada ibu, yang selalu menjaga."

Bara mengerjap-ngerjap, kesulitan menahan air mata.

"Aku masih ingat cerita ayah perihal namaku." Alara tersenyum. Ia kemudian berjongkok. "Selalu ada lara dalam kehidupan, tapi hanya sikap kita yang mampu mengubah lara menjadi Alara. Tak perlu berduka berlama-lama."

'Alara', tanpa lara, harapan Bara yang tak akan ia lupa. Begitulah Bara merayakan kehidupan yang dianugerahkan padanya. Lara memang tak perlu berlama-lama. Setelah lara, ada bahagia. Bara memeluk Alara yang tak pernah sungkan merayakan ulang tahunnya di pemakaman. Alara bersyukur ia dijaga oleh ibunya tak luput sedetik pun.

Lana, malaikat penjaga Alara, selalu ada. Hidup Alara bahagia, bagaimanapun rupanya.

***

4 comments: