Sunday, December 30, 2012

#postcardfiction: Alara

31 Desember 2000

Lana menyambut hari ini dengan suka cita. Inilah hari yang dinanti semenjak pernikahannya dengan Bara. Buah cinta mereka telah menjelma janin perempuan.

Pembukaan entah ke berapa. Lana mengerang kesakitan. Namun, ada seulas senyum tipis yang tak mungkin menutup kebahagiannya.

Genggaman tangan Lana dan Bara terpaut erat. Lana tak menyadari cengkraman itu menyakitkan tangan Bara. Tapi, bagi Bara tak mengapa. Sakitnya terobati oleh suka cita menyambut kehidupan baru.

Perayaan kehidupan pun berlangsung, dibaluri kucuran darah, keringat, dan air mata.

***

Wednesday, December 19, 2012

#postcardfiction: Suka Cita dalam Ketiadaan

http://bit.ly/TYYHfp

“Aku tak percaya Sinterklas!”

But, you should, honey!”

“Tapi, Sinterklas tak pernah mengabulkan permohonanku, Mom!”

“Tak pernah? Masa?! Bukannya tahun lalu kamu mendapatkan kado istimewa?! A skateboard for a seven years boy?!” ucap perempuan baya itu mengingatkan anaknya. Suaranya tetap lembut. Ia tersenyum. Tapi, siapa yang menyangka, hatinya pilu serasa luka ditabur garam.

Adrian, bocah lelaki dengan mata cemerlang, duduk dengan kepala tertunduk di meja makan. Nath mengecup ubun-ubun Adrian. Ia tahu, permohonan Adrian yang tak terkabul itu persis sekali dengan apa yang diharapkannya. Ia hanya tak boleh mengecilkan hati Adrian. Natal tinggal beberapa hari lagi. Semua orang sedang bersuka cita. Tak terkecuali Adrian dan dirinya.

Monday, December 17, 2012

Review: La Lutte Continue

Perjuangan diteruskan!


Sejak awal, saya cukup yakin bahwa Pulang adalah novel bagus. Salah satu tandanya, saya ingin menamatkannya secepat mungkin. Dalam tiga hari, saya pun berdecak kagum atas kelihaian Leila S Chudori merangkai kata-kata indah, menyusun plot yang menarik, dan isi cerita yang berkesan. Pulang tak sekadar cerita fiksi, ada sejarah yang tidak fiksi melatarinya.

Buku sejarah yang saya baca mungkin hanya buku-buku sejarah dari sekolah, yang telah dibelokkan, diputarbalikkan, atau mungkin di-"fiksi"-kan. Membaca Pulang membuat saya sadar bahwa pengetahuan saya atas sejarah bangsa ini begitu buta. Apa yang saya tahu tentang Partai Komunis Indonesia adalah apa yang saya lihat dari film yang setiap tahun diputar sebelum 1998. Partai yang bengis, kejam, tak beradab. Tapi, saat itu saya masih kecil, belum SMP. Saya beruntung akhirnya saya tumbuh pada era reformasi. Beruntung atau sial? Sial karena saya dikibuli? Well, memang "untunglah", saya tidak lagi peduli apa itu PKI dan Gerakan 30 September 1965. Karena telah terlupa... *kenapa saya sering curcol tiap review novel???*

Sebelum membaca novel ini, saya sudah tahu garis besar ceritanya. Kebetulan saya dapat undangan menghadiri peluncuran novel ini. Di acara tersebut, beberapa aktor kenamaan menampilkan dramatic reading cuplikan isi novel. Saya makin yakin, novel ini memang bagus! Sialnya, saya jadi membayangkan karakter-karakter dalam novel ini sesuai dengan tokoh-tokoh yang tampil di acara tersebut. Cukup banyak karakter, terutama adalah Dimas Suryo, Lintang Utara, Segara Alam, Hananto Prawiro, Surti Andari.

Thursday, December 13, 2012

Tanggal Cantik untuk Pulang

Tanggal cantik 12.12.12 memang bukan tanggal terjadi kiamat yang diramalkan suku Maya. Pada tanggal ini telah diadakan sebuah peluncuran novel dari seorang penulis Indonesia. Novel Pulang yang ditulis oleh Leila S Chudori dilahirkan pada tanggal cantik 12.12.12, tepat dengan hari ulang tahun penulisnya sendiri yang ke-30 ditambah 20. Saya beruntung bisa hadir dalam acara peluncuran novel itu dan dengan suka cita saya menghabiskan malam di tanggal cantik!

Bermula dari keikutsertaan saya pada sebuah kuis di Twitter yang diadakan oleh @scriptozoid, tak lain adalah tim publisis novel Pulang. Pertanyaannya mudah saja, yakni menyebutkan tiga peristiwa yang melatarbelakangi cerita Pulang. Jujur saja, saya belum menyimak twit-twit @scriptozoid tentang #PulangLSC. Tapi, karena pengin saja hadir di acara peluncuran novel apapun itu, saya pun men-googling jawabannya. Berusaha sekilat mungkin, saya akhirnya bisa menjawab pertanyaan itu dengan mengirim tiga twit berisi jawaban. Lalu, saya tinggal tunggu pengumuman pada hari itu juga. Dan, ya, saya menang! Saya berhak mendapatkan undangan acara peluncuran dan satu eksemplar novel Pulang. Padahal, sebelum kuis itu diumumkan, penyelenggara tidak menyebut novel sebagai hadiahnya, lho. Hihihi... Lucky me! Ngarepnya sih diundang, aja... Eh, dapat novel juga! Walaupun saya sempat ngetwit @scriptozoid minta kalau pemenangnya juga ditambah hadiah novel. Hehehe...

Saya tahu Leila S Chudori dari karyanya sebelum Pulang, yaitu 9 dari Nadira. Katanya, karya 9 dari Nadira itu berupa kumpulan cerpen, tapi punya benang merah yang sama. Kalau menurut saya, ya... sama saja dengan satu novel, karena sembilan cerita itu saling berhubungan. Apapun lah ya... saya, sih, suka dengan karya Bu Leila tersebut. Makanya, ketika tahu beliau akan meluncurkan novel, saya jadi pengin datang ke acara beliau. Menurut undangan, acaranya dimulai jam tujuh malam. Saya sempat Maghrib berjamaah di Masjid Cut Meutia sebelum menginjakkan kaki di tempat acara, Goethe Institut Jakarta. Selesai shalat, saya pun keluar dari masjid dan berjalan kaki ke Goethe. Tiba di sana sekitar jam setengah tujuh.

Saturday, December 8, 2012

Kursi Meja Pintu


Menanti Malam
Aku suka malam. Hanya malam yang mampu membebaskanku dari neraka siang hari. Oh, sungguh aku tak suka dengan siang. Aku tahu aku tak perlu berpanas-panasan di bawah terik garang mentari. Ruangan yang kutempati juga berpenyejuk ruangan. Tapi, bagiku, siang bukanlah waktu yang bisa kunikmati.
“Ingat, ya! Laporan itu harus beres sore ini!”
Aku mendengar suara lirih yang tergagap menjawab, “Ya, Bu!”
“Jangan iya-iya aja! Camkan kalau tidak selesai, kamu bisa dipecat! Mengerti!”
Pintu ruangan ditutup dengan pelan—ada ketakutan dari baliknya. Aku rasakan itu. Aku juga merasakan geraman puas di atasku. Oh, sangat menjijikkan!
Karena itu aku suka sekali dengan malam. Ketika aku tak perlu diduduki oleh wanita gemuk galak itu.