Saturday, November 3, 2012

Ruang dan Waktu


Ruang keabadian pernah kuimpikan untuk bisa selalu bersamamu selamanya. Suatu ruang tanpa waktu yang harus bergulir mendekati kematian. Denganmu, aku ingin hidup seribu tahun, bahkan bila mungkin tak ada waktu yang terhitung selama aku mendekapmu, berada di sisimu, menikmati setiap cumbu, bergelayutan mesra dengan kasih sayang yang terus berpadu. Aku ingin ruang seperti itu. Tak perlu menghitung waktu. Karena waktu memang tak pernah ada di ruang keabadian yang kuimpikan.

***

“Kau boleh tertawakan aku sekarang, Jo!” Ben tak kuasa menahan amarah. Ia merenggut kerah kemeja Jo, rekan penelitiannya di Skywalk Research Center (SRC), Massachusetts. “Tapi, lihat saja! Aku akan mendapatkan hadiah Nobel untuk ciptaanku ini.” Ben menghela napas panjang. Lalu, ia mundur dari Jo beberapa langkah.

“Ben, it’s insanity! Sadar, Ben! Ambil waktu cutimu! Ada seseorang yang lebih membutuhkanmu di sana. Ben, tidakkah kamu merindukan Sandra?” Dengan suara pelan Jo menyebut nama Sandra, nama yang menyayat hati sahabatnya sendiri.

“Karena aku merindukan Sandra! Aku harus membuktikan postulat yang sudah kurancang berbulan-bulan, Jo! Dan sekarang saatnya!” Ben makin geram. “Karena aku rindu Sandra…” Ben tertunduk, berkata terbata. Ada air mata yang jatuh bagai tetesan dari langit kamar yang bocor di kala hujan. Bukan mata Ben yang bocor hingga ia mudah menangis, tapi hatinya yang teriris-iris menggenapkan luka. Luka akibat rasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa Sandra. Hati yang pedih mengenang Sandra yang enggan membuka mata hingga kini.


Jo berusaha memahami perasaan Ben. Sudah sangat lama ia mengenal sahabatnya itu. Mereka berdua adalah sepasang nerd yang kapan saja bisa jadi korban bullying ketika high school. Sepasang nerd yang kemudian menjelma mahasiswa keren di Massachusetts Institute of Technology. Sepasang pria rupawan dengan otak cemerlang di bidang fisika. Mereka memilih penjurusan yang sama, Mekanika Kuantum yang menjadi kegemaran mereka sejak mengenal Teori Relativitas Einstein yang muncul lebih dari dua abad yang lalu. Sampai akhirnya mereka bekerja di Skywalk, sebuah pusat penelitian pemerintah yang berupaya menghasilkan energi terbaharukan. Mereka ditempatkan di Lab Foton, merancang energi mega yang berasal dari materi nano.

“Ben, apa yang ingin kau ciptakan tak seharusnya kau lakukan di lab ini! Kau memang sejenius Einstein! Tapi, mesin waktu itu tak akan bisa kau ciptakan!” Jo tak kalah geram. Begitu sulit ia menjinakkan obsesi Ben. Saatnya ia menyerah. Ia pikir Ben telah hilang akal. Jo pun segera mengambil jaket yang tergantung di balik pintu. Knop pintu ia putar kasar, namun ia berdiri sebentar memandang Ben yang tak berkutik. “Bahkan mesin waktu yang akan kau ciptakan tak ada gunanya bagi Sandra!” Kata Jo sambil membanting pintu hingga tertutup lagi. Dan Ben seakan tak peduli.

***

Tiga bulan kemudian, Ben mengunjungi Sandra yang terbaring koma di kamarnya. Instalasi penyokong sisa-sisa kehidupan Sandra dipasang sesuai standar rumah sakit. Dua tahun Sandra melewati hari-harinya dalam kehampaan. Ia tak pernah sadar sejak kecelakaan mobil yang disetir Ben.

“Sandra, aku akan membawa kembali masa lalu. Masa sebelum aku perang urat di restoran favorit kita. Masa itu akan kubawa kembali dalam genggaman kita. Tak akan ada ribut-ribut di parkir mobil. Tak akan ada badai salju. Tak akan ada kecelakaan itu. Kita akan bersama lagi, Sandra. Untuk selamanya.” Tak terasa Ben menitikkan air mata. Tangan Sandra ia genggam kuat.

Ben tidak ingin membuang waktu lagi. Ia segera meninggalkan Sandra. Ia tak menyadari Sandra menggerakkan jemarinya pelan. Seakan memanggil Ben kembali ke sisinya. Ben memang tak pernah menyadari hal itu. Satu-satunya yang ada di pikirannya hanya mesin waktu yang telah ia ciptakan.

***

Ben telah memindahkan lab Mesin Waktu ke rumahnya di suburban. Mesin waktu itu tak bisa dibuat di lab tempatnya bekerja. Ia butuh ruang lebih besar. Ruang dengan langit-langit yang tinggi. Mesin waktunya berupa pesawat tempur US Army dengan ukuran lebih kecil. Pesawat tempur dengan kecepatan cahaya.
Semua persiapan telah matang. Ben tinggal masuk ke cockpit. Program starter telah dinyalakan. Ben memejamkan matanya. Erat.

Pesawat Ben terbang secepat cahaya mengelilingi bumi hingga waktu dan ruang berdilatasi. Berlawanan dengan arah bumi mengelilingi matahari, pesawat mesin waktu itu pun tiba di waktu dan ruang yang diinginkan Ben.

Pesawat mendarat di landasan pacu belakang rumahnya. Rumah yang tak berubah sampai tahun 2220, masa depan yang ia tinggalkan. Sekarang dua tahun sebelum masa itu, tepat beberapa jam sebelum kecelakaan itu terjadi.

Ben segera melajukan mobilnya ke rumah Sandra. Ia harus bertemu Sandra sebelum Ben pembawa musibah datang menjemput Sandra. Ben harus lebih cepat.

***

“Ke mana kau membawaku, Ben? Bukankah kita sepakat akan makan malam di tempat biasa?”

“Tidak, Sandra. Tidak jadi. Aku akan membawamu menuju ke keabadian. Tenanglah!”

“Hahaha… Kau ngaco, Ben!” Sandra hanya tertawa lepas. Tak ada beban di pundaknya. Ia sudah senang bisa bertemu Ben, kekasih hatinya.

“Ini jalan ke rumahmu, kan?” tanya Sandra. Ben mengangguk.

Setiba di rumah Ben, Sandra terkejut melihat pesawat yang ditunjuk Ben.

“Itu pengantar kita menuju keabadiaan, Sandra.”

Sandra diam, tak mengerti.

“Sandra, kau mencintaiku?” tanya Ben sungguh-sungguh.

“Tentu saja, Ben.”

“Kau ingin bersamaku selamanya?”

“Ya, aku ingin selalu bersamamu. Aku mencintaimu, sayang!” Sandra pun menjawab dengan sungguh-sungguh.

“Jadi, ikuti saja aku, ya! Kamu tak perlu bertanya apa-apa lagi. Naiklah ke dalam pesawat.”

Ben melajukan pesawat mesin waktunya secepat perjalanan pertamanya. Ia telah memprogram waktu yang diinginkan, kembali ke masa depan. Masa depan sehari sebelum ia meninggalkan Sandra yang lelap tak berdaya di kamar rumahnya. Memang demikian rencana Ben, membawa Sandra yang baik-baik saja menuju masa depan tanpa beban.

Sandra tak begitu menyadari waktu yang telah ia lewati dalam perjalanannya bersama Ben. Ia hanya mengira Ben telah belajar mengemudi pesawat diam-diam dan memberi kejutan padanya dengan mengajaknya ke suatu tempat. Tanpa banyak tanya, ia nikmati  perjalanan waktu yang tak pernah ia sadari.

Akhirnya, Ben tiba di waktu yang ia inginkan. Setelah mendaratkan pesawatnya di landasan semula, Ben mengubah program mesin waktunya menjadi mesin keabadiaan. Masih di dalam pesawatnya, Ben menelan pil keabadian yang juga ia ciptakan sendiri. Sebuah pil yang sudah ia siapkan untuk membebaskannya dari gravitasi bumi. Ia minta Sandra menelannya juga. Mereka berdua segera keluar dari cockpit, lalu dengan bergandengan tangan mereka melayang ke langit luas. Di atas awan, Ben masih punya rencana lainnya, membangun istana kebahagiaan semunya.

***

“Jo, kira-kira Ben nyasar di mana ya?”

“Entahlah Sandra. Mungkin ia sudah ditelan waktu itu sendiri. Saking mencintaimu, ia telah hilang akal sehatnya. Berpuluh tahun berlalu, Ben belum kembali. Tak kuduga ia akhirnya mampu menciptakan pesawat mesin waktu itu. Hmm… entahlah, Sandra. Sungguh, aku tidak tahu.”

“Kau tau, Jo. Aku masih merasa ada Ben di sekitarku. Memang telah berpuluh tahun, tapi ia seperti hidup berdampingan di sisiku. Ah, entahlah, Jo. Aku pun tak tahu, sama sekali tidak tahu. Mungkin Ben sudah damai di tempatnya.”

“Hei, kau membuatku cemburu, Sandra-ku! Lalu untuk apa aku di sini bersamamu jika yang kau rasakan adalah kehadiran Ben. Sudahlah, sudah lewat berpuluh tahun.”

“Maafkan aku, Jo. Tiba-tiba aku hanya ingat saja pada Ben. Hmm, aku tak menyangka ia rela meninggalkanku di saat kritis. Jo, suamiku, terimakasih kau tetap mendampingiku hingga kini, hingga kakek nenek, hingga kita menjemput kedamaian dan kebahagiaan abadi kita di atas sana.”

Well, that’s because I love you, Sandra.”

Sepasang kakek nenek bercengkrama di teras rumahnya yang diakhiri dengan ciuman dan pelukan yang lama.

***

Tak perlu ruang keabadiaan, selama kau dan aku tumbuh tua bersama.


©Vira Cla, 24032011

4 comments: