Tuesday, November 20, 2012

Pesawat Ngebut

Jelang Idul Adha yang lalu (25 Oktober 2012), saya pulang ke Padang bersama Uni dan keluarganya (suami dan kedua bocah balitanya). Si Uni sudah memesan tiket jauh-jauh hari, sehingga kami bisa pulang dengan maskapai Garuda harga promo. Lumayan! Kalau bisa terbang dengan Garuda, pasti pilih Garuda daripada maskapai swasta lainnya. Di dalam pesawatnya nyaman, ada perangkat hiburan di tiap kursi, dan diberi makan. Hehehe... bagus buat perut saya!

Penerbangan berjalan lancar sejak lepas landas hingga sekitar satu jam kemudian. Sebelum masuk ke dalam pesawat, saya sempat melihat seorang nenek dengan kursi roda. Karena kondisi sakit demikian, jadi beliau didahulukan masuk beserta keluarga yang menemaninya. Nah, di tengah kenyamanan di dalam pesawat yang sedang melaju tenang, kondisi nenek tersebut drop. Bisik-bisik pun terdengar. Mereka yang penasaran pun mulai bangkit dari kursi dan melihat ke tempat duduk si nenek di baris tengah pesawat. Kebetulan, saya, duduk di baris kedua dari belakang dan dekat koridor.

Terdengarlah suara pilot (atau mungkin co-pilot) dari speaker, yang menyerukan apakah ada penumpang yang berprofesi dokter. Untunglah, ada seorang ibu muda yang akhirnya menunjukkan diri dan tampaknya si nenek yang ternyata mengalami sesak napas itu akhirnya diminta untuk dibaringkan di lantai koridor. Saya pun sempat melihat ibu dokter itu melakukan CPR. Para pramugari juga ikut membantu. Mereka mondar-mandir ke kabin belakang. (Ikut panik juga apa, ya?) Sayangnya, isi tabung oksigen habis dan perangkat P3K juga pasti tak bisa menyelamatkan.


Akhirnya, sang kapten pun berinisiatif mempercepat laju pesawat. Semua penumpang diperingatkan duduk kembali (bagi yang kepo) dan mengenakan seat-belt. Tapi, dasar orang Indonesia, ya, ada saja yang bandel masih saja berdiri. Padahal, saya sudah merasakan goncangan pesawat. Ternyata, kalau pesawat itu ngebut, bisa bikin saya mabok udara. Goncangan-goncangan yang tak biasa--pesawat yang langsung tabrak gerombolan awan itulah penyebabnya. Akhirnya, pesawat bisa mendarat 20 menit lebih awal daripada waktu normalnya. Dan, dasar orang Indonesia lagi, ya... masih ada saja yang kepo, malah ada yang tak tahu diri mau keluar duluan. Pesawat ngebut begitu kan supaya si nenek yang sedang kritis itu bisa mendapat perawatan secepatnya. Kapten pilot pun sampai berkata tegas (agak marah) pada penumpang yang mau keluar lewat pintu belakang. Padahal pintu belakang itu dibuka buat si nenek. Mobil ambulan sudah menunggunya di landasan.

Dengar obrolan beberapa penumpang, katanya si nenek itu sedang dirawat di Jakarta karena penyakit jantung dan diabetes. Tapi, beliau mendesak ingin pulang. Mungkin karena mau lebaran di Padang. Bagaimanapun, berlebaran bersama keluarga itu memang sangat berharga. Saya tidak tahu lagi kelanjutan kabar nenek tersebut. Setelah kami diperbolehkan turun, kami sepertinya sibuk dengan urusan masing-masing. Dan saya masih tak menyangka kalau pesawat bisa ngebut. Saya pikir, laju pesawat itu sudah maksimal. Buktinya, dengan pesawat perjalanan Jakarta-Padang bisa ditempuh kurang dari 2 jam. Coba saja lewat darat, bisa 2 hari 2 malam, lho... Hehehe... Jadi, kata bapakku, waktu tempuh perjalanan itu sudah diatur untuk mengirit ongkos juga. Seperti halnya mobil, pesawat kalau ngebut akan menghabiskan bahan bakar lebih banyak. Ternyata waktu terbang 1 jam 40 menit Jakarta-Padang yang selama ini saya lalui itu bisa diatur sesuai situasi dan kondisi.

Catatan buat penumpang pesawat yang mungkin akan mengalami hal yang sama dengan saya: Jangan terlalu kepo kalau tidak bisa bantu apa-apa! Tidak perlu melihat secara dekat dan akhirnya tidak memberi ruang yang leluasa buat korban. Padahal sudah jelas, kondisinya sesak napas. It means she needs more space, more oxygen. Dan catatan buat penumpang pesawat yang tak sabaran: berilah jalan buat yang sangat memerlukan dan sangat berkepentingan! Dan ingat, kalau tanda sabuk pengaman belum padam, jangan dilepas dulu dan handphone jangan dinyalakan dulu, deh, walau sudah mendarat. Lalu, ya, kalau pintunya saja belum dibuka, ngapain sih buru-buru ambil barang di bagasi kabin, trus berdiri di koridor lama-lama?! Ckckck... Heran, deh!

Ya sudah, demikian saja kisah saya di penerbangan kedua tahun ini bersama Garuda. Tahun ini, saya sudah tiga kali pulang pergi JKT-PDG-JKT. Enam kali penerbangan--dua bersama Garuda, selebihnya bersama Lion. Mana yang lebih bagus? Garuda, donk! Hahaha... Semoga, tahun-tahun berikutnya saya tetap bisa terbang bersama Garuda. Tidak hanya ke Padang, tapi juga ke kota-kota lain di seluruh Indonesia. *doanya orang senang jalan-jalan*

See you on next trip! ^_^

2 comments:

  1. Orang2 kepo itu harus mengenakan seat-belt khusus yang hanya bisa dibuka dari ruang kendali pilot. :))

    ReplyDelete