Thursday, November 1, 2012

Ngapain sih ikut kompetisi menulis?

Kompetisi menulis tak akan pernah habis, baik menulis cerpen untuk disertakan dalam buku antologi maupun menulis novel yang pemenangnya berkesempatan menjadi a published writer. Mau semua diikutin? Boleh! Mampu? Nah, ini yang menjadi pertanyaan penting! Tapi, lebih penting lagi pertanyaan berikut; untuk apa? Kenapa?

Saya sudah me-list event kompetisi menulis untuk tahun ini. Hanya sedikit, nggak sampai hitungan 5 jari, kok! Itupun, saya tidak terlalu sebersemangat saat kompetisi menulis novel sebelumnya yang diadakan Mizan Qanita. Saat itu saya tidak lolos. Entahlah, apakah itu mempengaruhi mood saya untuk berkompetisi. Padahal, saya pernah merasa untuk bisa menjadi seorang published writer tanpa shortcut alias lewat pendekatan sana-sini dengan orang-orang penerbitan, ajang kompetisi ini yang bisa memberi kesempatan. Saya ingin, jika karya saya layak diterbitkan karena memang karya tersebut layak, bukan karena siapa saya. Lagipula, siapa saya, sih?! Hahaha...

Setelah 'kegagalan' di kompetisi menulis novel yang kali pertama saya ikuti itu, saya mendapat insight dari beberapa teman tentang "politik lomba". Ada kalanya sebuah kompetisi itu menjadi ajang untuk mengenalkan penulis baru yang memang sudah ditargetkan penerbit untuk dilejitkan. Saya pun mulai mencari tahu rumor itu. Terbersit dalam benak saya bahwa hal itu memang terjadi. Dari apa yang saya dapat dari pencaritahuan berkat Om Google, saya menemukan si anu yang menang ini ternyata blablabla. Cukuplah saya pendam sendiri hasil pencarian saya ini. Saya tidak mau dengan memaparkan terang-terangan di sini--bahkan di blog saya sendiri--akan membuat beberapa pihak tersinggung. Toh, apa yang saya olah dalam otak saya ini sekadar asumsi--asumsi berdasarkan penemuan yang nyata. 

Asumsi saya itu hanya berlaku pada sedikit orang, karena pemenang-pemenang unggulan lain ternyata tetap murni lolos berkat karya mereka. Saya tetap menghargai ajang kompetisi dari berbagai penerbit di tanah air ini. Tidak semua penerbit memberlakukan "politik lomba" yang saya diskusikan dengan teman-teman saya yang juga sedang berusaha mendobrak pintu penerbitan. Saya mulai meyakinkan kembali diri saya, bahwa menulislah dengan hati dan menulislah untuk kesenangan. Saya tak ingin terlalu memaksakan diri untuk menerbitkan karya. Jika karya saya hingga saat ini baru layak untuk terbit di blog sendiri dan media online, memang demikian jalurnya. Saya kembali mengingatkan diri bahwa begitu banyak orang lain di luar sana yang kualitasnya bisa di atas saya juga sangat ingin membukukan karya mereka. Saya tidak sendiri. 

Gramedia, Gradien, lalu Bentang Pustaka. Ketiga penerbit tersebut sama-sama sedang menyelenggarakan kompetisi menulis novel. Saya tidak harus mengikuti ketiganya. Saya barangkali hanya memilih salah satu. Karena hingga saat ini, naskah yang saya selesaikan baru satu. Menulis novel mungkin bisa mudah dan cepat. Tapi, saya inginkan karya terbaik yang tidak buru-buru diselesaikan seperti naskah sebelumnya yang saya ikutkan lomba Mizan itu. Kalau sempat selesai, alhamdulillaah. Kalaupun tidak sempat, tetap alhamdulillaah. Sebuah karya punya jalan sendiri yang akan menuntunnya ke pintu penerbitan yang tepat. 

Jadi, untuk apa saya mengikuti kompetisi menulis? Entahlah! Mungkin... iseng?!

2 comments:

  1. pilih salah satu aja Vira, tapi ikutan aja ^_^ *tetap semangat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seneng deh disemangatin mba Ria.. :)

      Delete