Thursday, November 15, 2012

Cangkir Piring Sendok


Simetris

Langkahku bergegas. Perban ini tak akan lama menahan serapan darah yang terus mengucur dari samping kepalaku. Toko swalayan itu semakin dekat!

Kemarin, tragedi itu terjadi. Jambret sialan! Anting berlian di cuping telingaku memancing keganasannya. Aku tentu saja melawan! Tak rela hadiah tak terlupakan dari kekasihku dicuri. Kakiku menendang! Tanganku memukul! Jambret keparat itu justru semakin beringas dengan mengeluarkan pisau lipatnya—yang matanya tak kalah berkilau dari antingku!

Telingaku putus! Satu antingku dibawa lari oleh jambret itu bersama telingaku. Tapi, sudahlah! Aku masih punya satu anting lagi.

Cangkir mungil itu cantik sekali. Kupasangkan pada bagian telingaku yang telah putus. Tapi demi kesimetrisan, aku memang terpaksa memangkas sebelahnya lagi.

Ah, itu dia cangkirnya!

***


Kosong

“Jadi, kau adalah pewaris rumah tua itu?”

Aku mengangguk. Ya, aku adalah pewaris rumah tua itu. Tua? Bukan! Antik, lebih tepatnya.

“Kau beruntung sekali!”

Aku hanya menyunggingkan senyum. Aku memang si miskin yang beruntung.

“Bagaimana bisa kau mendapatkan warisan sebanyak itu? Hmm, kau tentu mengerti maksudku....”

Mataku mendelik. Aku segera meninggalkannya. Mulutnya kebanyakan bacot.  Kudengar ucapan lirihnya entah pada siapa. Si pemalas yang beruntung! Lupakanlah! Itu hanya omongan orang-orang sirik.

Aku kembali ke dalam rumah. Furniturnya masih lengkap. Antik semua!

Oh, waktunya makan siang! Aku mengeluarkan piring antik dari lemari, meletakannya di atas meja makan. Piring itu cantik tapi.... kosong!

Ya ampun! Keasyikan tinggal di rumah baru ini, aku lupa mengemis!

***

Sendok Kopi

Kata ibu, aku harus mulai belajar memasak. Setiap sore, aku harus menemaninya memasak di dapur. Tak ada lagi waktu bermain di luar sana. Jengkel, tentu saja! Tapi, ibuku bilang, sebagai anak gadis aku harus bisa memasak. Ibu akan mengajari semuanya. Menanak nasi; menggoreng telur, tempe, tahu, ikan; menumis kangkung, tauge, bayam; dari yang sederhana dulu, kata ibu. Sekarang ibu mengajariku cara membuat kopi untuk ayah—pelajaran pertamaku. Tiap ayah pulang dari kantornya, secangkir kopi panas harus tersedia. Ayahku tak begitu suka kopi pahit, jadi ibu menyuruhku menambahkan gula.

“Berapa sendok, Bu?”

“Tiga.”

“Oh, ya, sendok makan atau sendok teh, ya, Bu?”

“Bapak itu minta kopi! Bukan minta teh, apalagi minta makan!”

***

©Vira Cla, 12112012 

No comments:

Post a Comment