Wednesday, November 28, 2012

Kita Lihat Saja Nanti

"Gue kena batunya!"

Barangkali itu ungkapan yang tepat buat saya saat ini. Saat tahu ada Sayembara Menulis Novel Amore dari Gramedia, saya bersemangat mau ikutan. Berhubung, naskah lama saya yang gagal di lomba novel Qanita Mizan, bisa saya revisi sedikit dan kirim lagi ke Gramedia. Lalu, pikiran saya berubah, lantaran setelah melihat-lihat novel-novel di bawah bendera Amore. Kualitas bukunya kalah dari kualitas buku pada umumnya. Dari segi kertas, segi sampul, bahkan segi isi. Menurut saya, ya! Akhirnya, saya jadi merasa malas  ikutan sayembara dari Gramedia itu. Jadilah, saya berleha-leha merevisi naskah saya.

Nah, pada saat yang bersamaan, saya sedang mengikuti kelas jauh Gradien Writer Audition. Hasil akhir pembelajaran itu, saya mendapatkan kerangka novel yang lebih baik dari naskah pertama saya. Ceritanya memang berdasarkan naskah pertama. Iya, naskah yang gagal di Mizan itu. Iya, naskah yang mau saya revisi itu buat Gramedia. Kelas jauh Gradien kebetulan baru berakhir hari Minggu lalu. Dengan hasil akhir, saya mendapatkan kerangka novel yang lebih baik (menurut saya) dan tulisan bab pertama. Saya pikir hasil ini bila terus dilanjutkan menjadi naskah lengkap, akan menghasilkan naskah novel yang lebih baik daripada naskah pertama saya.

Tuesday, November 20, 2012

Pesawat Ngebut

Jelang Idul Adha yang lalu (25 Oktober 2012), saya pulang ke Padang bersama Uni dan keluarganya (suami dan kedua bocah balitanya). Si Uni sudah memesan tiket jauh-jauh hari, sehingga kami bisa pulang dengan maskapai Garuda harga promo. Lumayan! Kalau bisa terbang dengan Garuda, pasti pilih Garuda daripada maskapai swasta lainnya. Di dalam pesawatnya nyaman, ada perangkat hiburan di tiap kursi, dan diberi makan. Hehehe... bagus buat perut saya!

Penerbangan berjalan lancar sejak lepas landas hingga sekitar satu jam kemudian. Sebelum masuk ke dalam pesawat, saya sempat melihat seorang nenek dengan kursi roda. Karena kondisi sakit demikian, jadi beliau didahulukan masuk beserta keluarga yang menemaninya. Nah, di tengah kenyamanan di dalam pesawat yang sedang melaju tenang, kondisi nenek tersebut drop. Bisik-bisik pun terdengar. Mereka yang penasaran pun mulai bangkit dari kursi dan melihat ke tempat duduk si nenek di baris tengah pesawat. Kebetulan, saya, duduk di baris kedua dari belakang dan dekat koridor.

Terdengarlah suara pilot (atau mungkin co-pilot) dari speaker, yang menyerukan apakah ada penumpang yang berprofesi dokter. Untunglah, ada seorang ibu muda yang akhirnya menunjukkan diri dan tampaknya si nenek yang ternyata mengalami sesak napas itu akhirnya diminta untuk dibaringkan di lantai koridor. Saya pun sempat melihat ibu dokter itu melakukan CPR. Para pramugari juga ikut membantu. Mereka mondar-mandir ke kabin belakang. (Ikut panik juga apa, ya?) Sayangnya, isi tabung oksigen habis dan perangkat P3K juga pasti tak bisa menyelamatkan.

Thursday, November 15, 2012

Cangkir Piring Sendok


Simetris

Langkahku bergegas. Perban ini tak akan lama menahan serapan darah yang terus mengucur dari samping kepalaku. Toko swalayan itu semakin dekat!

Kemarin, tragedi itu terjadi. Jambret sialan! Anting berlian di cuping telingaku memancing keganasannya. Aku tentu saja melawan! Tak rela hadiah tak terlupakan dari kekasihku dicuri. Kakiku menendang! Tanganku memukul! Jambret keparat itu justru semakin beringas dengan mengeluarkan pisau lipatnya—yang matanya tak kalah berkilau dari antingku!

Telingaku putus! Satu antingku dibawa lari oleh jambret itu bersama telingaku. Tapi, sudahlah! Aku masih punya satu anting lagi.

Thursday, November 8, 2012

True Writing is Rewriting

I've found out some good articles on internet about rewriting--novel in particular. I already shared some good points in my timeline with hashtag #rewrite. And here they are:


  1. Read. Your Shit. Aloud!!!
  2. Shift perspective. From writer to reader.
  3. Don't know where to start? Calm down. You're not ready. Comeback another time.
  4. Be hungry to fuck up your own work in the name of good storytelling.
  5. This isn’t time for intuition. Have notes. Put a plan in place. Surgical strike. Never drown in darkness.
  6. Get someone to read your nonsense. Get notes. Attend to those notes. Third parties will see things you do not.
  7. Mark the revision, save a new file. If you have 152 files by the end of it, you’ll be happy if you need to go back.
  8. Writing is creative. Rewriting is clinical and strategic.
  9. Rewriting is hard. Creative comes from “create,” and often, revision is about destruction. In other words: harden the fuck up!! :))
  10. Clarity and confidence are king in writing, and the revision process is when you highlight this.
  11. Write with strength. Write to be understood. It doesn’t mean “no metaphors"--the metaphors whose beauty exists in their simplicity.
  12. "There is no such thing as good writing. There is only good rewriting." ~ Harry Shaw
  13. "Books are not written--they're rewritten." ~ Micheal Crichton.
  14. "Writing without revising is the literary equivalent of waltzing gaily out of the house in your underwear." ~ Patricia Fuller
  15. The revision process as something akin to a trip to the dentist, necessary but excruciating, and best done at light speed.
  16. Only the gifted whose first draft looks awesome without revision.
  17. Everything you write is fluid. It can be changed, shaped, and reshaped.
  18. The beautiful part of writing is that you don't have to get it right the first time, unlike, say, a brain surgeon. ~Richard Cormier
  19. For a few writers, objective reading and serious practice, over time, are enough to teach them what they need to know.
  20. Some writers do writing and rewriting at the same time. Not kinda "I write, leave, then comeback later to revise"--oh, well, c'est moi!
  21. You can either revise as you write or revise until you have the whole thing in rough form. Only you know what works best for you.
  22. So revise whenever you like--and take your time about it. Novel-writing is not something that should be hurried.
  23. "Those unwilling to revise and rewrite are skipping a major step toward becoming better writers." ~ Harry Shaw :')
  24. You need patience. You need an artist's eye. You need objectivity. True writing is rewriting.
  25. At last, rewriting takes time and it doesn't matter how or when you do it.


For above insights I thank to this article http://terribleminds.com/ramble/2011/06/27/25-things-you-should-know-about-revising-and-rewriting/ and http://fmwriters.com/Visionback/Issue9/true.htm

Saturday, November 3, 2012

Ruang dan Waktu


Ruang keabadian pernah kuimpikan untuk bisa selalu bersamamu selamanya. Suatu ruang tanpa waktu yang harus bergulir mendekati kematian. Denganmu, aku ingin hidup seribu tahun, bahkan bila mungkin tak ada waktu yang terhitung selama aku mendekapmu, berada di sisimu, menikmati setiap cumbu, bergelayutan mesra dengan kasih sayang yang terus berpadu. Aku ingin ruang seperti itu. Tak perlu menghitung waktu. Karena waktu memang tak pernah ada di ruang keabadian yang kuimpikan.

***

“Kau boleh tertawakan aku sekarang, Jo!” Ben tak kuasa menahan amarah. Ia merenggut kerah kemeja Jo, rekan penelitiannya di Skywalk Research Center (SRC), Massachusetts. “Tapi, lihat saja! Aku akan mendapatkan hadiah Nobel untuk ciptaanku ini.” Ben menghela napas panjang. Lalu, ia mundur dari Jo beberapa langkah.

“Ben, it’s insanity! Sadar, Ben! Ambil waktu cutimu! Ada seseorang yang lebih membutuhkanmu di sana. Ben, tidakkah kamu merindukan Sandra?” Dengan suara pelan Jo menyebut nama Sandra, nama yang menyayat hati sahabatnya sendiri.

“Karena aku merindukan Sandra! Aku harus membuktikan postulat yang sudah kurancang berbulan-bulan, Jo! Dan sekarang saatnya!” Ben makin geram. “Karena aku rindu Sandra…” Ben tertunduk, berkata terbata. Ada air mata yang jatuh bagai tetesan dari langit kamar yang bocor di kala hujan. Bukan mata Ben yang bocor hingga ia mudah menangis, tapi hatinya yang teriris-iris menggenapkan luka. Luka akibat rasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa Sandra. Hati yang pedih mengenang Sandra yang enggan membuka mata hingga kini.

Thursday, November 1, 2012

Ngapain sih ikut kompetisi menulis?

Kompetisi menulis tak akan pernah habis, baik menulis cerpen untuk disertakan dalam buku antologi maupun menulis novel yang pemenangnya berkesempatan menjadi a published writer. Mau semua diikutin? Boleh! Mampu? Nah, ini yang menjadi pertanyaan penting! Tapi, lebih penting lagi pertanyaan berikut; untuk apa? Kenapa?

Saya sudah me-list event kompetisi menulis untuk tahun ini. Hanya sedikit, nggak sampai hitungan 5 jari, kok! Itupun, saya tidak terlalu sebersemangat saat kompetisi menulis novel sebelumnya yang diadakan Mizan Qanita. Saat itu saya tidak lolos. Entahlah, apakah itu mempengaruhi mood saya untuk berkompetisi. Padahal, saya pernah merasa untuk bisa menjadi seorang published writer tanpa shortcut alias lewat pendekatan sana-sini dengan orang-orang penerbitan, ajang kompetisi ini yang bisa memberi kesempatan. Saya ingin, jika karya saya layak diterbitkan karena memang karya tersebut layak, bukan karena siapa saya. Lagipula, siapa saya, sih?! Hahaha...