Wednesday, October 17, 2012

Pesawat Kertas

“Ayah, lihat pesawat kertasku!” seru Elang bangga sambil memamerkan hasil kerajinan yang baru ia buat dengan susah payah. Bocah hitam manis itu baru mempelajari cara membuat pesawat dari kertas lipat di Taman Kanak-kanak. Abdi, sang ayah yang baru pulang dari banting tulang seharian, menyambut pekikan anaknya dengan pelukan hangat. Ia melihat pesawat kertas itu dengan seksama, kemudian tak kalah bangga ia berseru, “Hebat!”

“Elang akan buat pesawat kertas yang banyak, Yah!” kata Elang dengan suara kecil tanpa dosa.

“Bagus, tapi buat apa bikinnya banyak?” tanya Abdi yang kini memangku Elang.

“Hmm...buat apa, ya?” Elang memainkan matanya, kadang mendelik, kadang menyipit, seakan ingin memberi tahu ia sedang berpikir.

“Elang berlatih bikin pesawat kertasnya aja dulu. Ya? Biar makin bagus,” kata Abdi, tak ingin Elang larut dalam pencarian jawaban.


Elang beranjak dari pangkuan ayahnya dan kembali ke pojok ruang bertikar tempat ia bermain tadi. Elang mengangkat pesawat kertasnya tinggi-tinggi sambil berlari. Elang menerbangkan pesawatnya.

Senyum yang terukir di wajah Abdi pelan-pelan sirna. Ia menyandarkan punggungnya di sofa yang per-pernya telah mencuat di beberapa tempat. Seharian berdiri di pabrik—menjadi buruh perakit sepatu—tak pelak membuat tubuhnya butuh istirahat. Namun, rasa letih itu bagai terangkat ketika mendengar dan menyaksikan keseruan Elang bermain dengan pesawatnya. Abdi bangkit dari tempat duduknya. Tangan kurusnya merangkul Elang.

“Sini, coba Ayah bikin satu pesawat yang paliiing bagus buat Elang!” kata Abdi antusias.

“Kertasnya nggak ada lagi, Yah,” kata Elang dengan raut sedih. Abdi tercekat. Buru-buru ia tersenyum dan tampak bahagia kembali.

“Besok sepulang kerja, Ayah bawakan kertas yang banyak buat Elang.” Abdi menyemangati. Dalam hati ia berjanji sungguh-sungguh. Ia tak akan melupakan janjinya.

Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan suka cita. Pesawat kertas diterbangkan oleh tangan mungil Elang. Dan tubuh Elang diterbangkan oleh tangan-tangan kurus ayahnya. Abdi berlari dan berputar dalam ruang tamu yang seadanya. Muka tirus berminyak dan berkeringat, serta otot-otot kakinya yang pegal, sama sekali tak digubris Abdi. Baginya, pekik tawa yang berderai dari mulut Elang adalah pelipur segala lara.

Demi kebahagiaan anak, apapun akan dilakukan ayah.
***


Abdi tersentak dari lamunannya. Suara Elang yang nyaring memanggilnya. Ia leyeh-leyeh di beranda rumah batako kecilnya. Rumah itu seragam bentuknya dengan rumah sebelahnya dan sebelahnya dan sebelahnya lagi serta rumah di seberangnya dan seberangnya dan seberangnya lagi. Rumah dengan sedikit halaman, ruang depan secukupnya bercampur sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, lalu satu kamar seadanya, dan satu kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur. Begitulah bentuk rumah-rumah di kompleks perumahan sangat sederhana sekali yang dibangun pemerintah daerah untuk warga kelas menengah ke bawah. Kompleks itu terletak tak jauh dari kawasan industri yang tak jauh dari ibukota. Kompleks yang tak jauh pula dari bising pesawat-pesawat hilir mudik di bandara. Barangkali seringnya pesawat mondar-mandir di atas atap rumahnya yang mencetuskan ide di benak anaknya bahwa kelak ia akan jadi penerbang pesawat-pesawat itu.

Pesawat kertas tampaknya telah menjadi obsesi Elang sejak pertama kali ia bisa membuatnya. Seperti saat ini, sesaat ia bangun dari kenangan Elang menunjukkan pesawat kertas pertamanya, Elang kini juga menunjukkan pesawat kertas yang berwarna-warni menggantung di dahan-dahan pohon mangga. Elang telah duduk di kelas dua SD. Kegemarannya bermain pesawat kertas belum padam. Sempat terpikirkan oleh Abdi, mungkin ketika anaknya telah baligh, telah mengenal cewek, cinta monyet, dan kenakalan anak remaja lainnya, Elang dengan sendirinya akan malu dengan mainan kertasnya itu. Pohon mangga itu belum cukup tinggi, dahannya bisa dijangkau oleh Elang. Pada beberapa dahan, Elang menggantungkan pesawat-pesawat kertasnya dengan tali nilon. Tali itu bertahan lama, belum pernah diganti sejak setahun lalu saat Elang memulai kegemarannya menggantung pesawat di pohon mangga. Pesawat kertas itu yang terus diganti sebagaimana cuaca juga terus berganti.

“Yah, stok kertas sudah habis. Besok beliin lagi, ya, Yah?!” pinta Elang.  

Abdi mengangguk sambil tersenyum. Ia juga sudah tahu stok kertas telah habis. Minggu siang yang panas terik ini merupakan waktu yang menyenangkan bagi Elang bermain. Setelah menyantap makan siang yang disiapkan neneknya, Elang bergegas mencari kertas di rak lemari serbaguna di ruang depan. Abdi melihat bibir manyun Elang saat mengambil kertas itu. Tapi segera anak itu berlari ke halaman. Abdi tahu, ia harus beli kertas lagi.

Pesawat-pesawat kertas Elang telah menggantung dengan sempurna. Elang duduk bersila di bawah pohon sambil menatap ke karyanya itu. Angin sesekali menggerakkan pesawatnya. Elang mengajak ayahnya nimbrung di sebelahnya. Abdi tak menolak, walaupun sudah sering hingga ia cukup bosan dengan pesawat kertas yang menggantung di pohon mangga. Tapi, ia tak boleh menyurutkan angan Elang. Impian itu tetap harus menggantung tinggi. Toh cita-cita jadi pilot tidak dilarang untuk orang seperti mereka.

Rasa bosan itu terpendam. Inginnya hujan segera menghunjam.
***

Bila ia menyadari waktu tak akan terganti, Abdi tak akan sedikit pun menyimpan kejenuhan pada pesawat kertas. Ia tahu itu kegemaran Elang. Elang adalah satu-satunya yang menjadi puncak segala rasa. Bila Elang bahagia, mestilah ia bahagia. Bila Elang berduka, mestilah ia didera lara. Abdi ingin duduk berlama-lama di bawah pohon mangga bersama Elang. Di sana Elang bercerita tentang cita dan harapan. Dan Abdi tahu ia harus bisa membantu cita dan harapan itu terwujud.


Abdi ingin memandangi pesawat-pesawat kertas yang beraneka warna juga beraneka rupa itu lama-lama. Tangan Elang sangat terampil mencipta pesawat yang bermacam-macam. Lekuk-lekuk pesawat airbus hingga pesawat tempur diingatnya entah dari mana. Mungkin dari acara TV, mungkin dari buku-buku ala kadarnya di perpustakaan sekolah, mungkin dari imajinasinya sendiri yang masih murni. Abdi terkenang dan rasanya ia ingin segera tiba di rumah. Tapi, langkah-langkah kakinya teramat pelan.


“Yah, uang Ayah cukup kan buat beli kertas?”


Abdi terkejut mendengar pertanyaan Elang. Bocah itu belumlah menginjak usia delapan tahun. Ia baru naik ke kelas tiga. Semestinya ia tak perlu memikirkan uang. Semestinya ia hanya tahu sekolah dan mainan.


“Kalau ayah masih bisa beli kertas buat Elang, berarti uang ayah masih cukup.” Abdi mencoba tersenyum. Elang tertunduk. “Ada apa, Lang?” tanya Abdi khawatir. Elang menggeleng pelan.


“Ada buku-buku pelajaran wajib yang harus dibeli, Yah,” jawab Elang pelan dan merasa bersalah. Ia tak mengerti kenapa setiap tahun kenaikan kelas, ia diwajibkan membeli buku-buku. Kenapa tidak menggunakan buku-buku di perpustakaan saja, pikir Elang.


Abdi paham maksud pembicaraan sederhana Elang. Elang takut merepotkan ayahnya. Abdi tahu buku-buku itu harus dibeli, tapi stok kertas buat mainan juga sudah habis. Akhir-akhir ini, cuaca yang tak menentu sering mencurahkan hujan. Pesawat-pesawat kertas jadi makin sering diganti.


“Ya, nanti Ayah ke sekolah, antar uang buat beli buku-buku itu. Elang juga nanti Ayah belikan kertas mainan.” Abdi tersenyum kecut. Walaupun sekolah negeri katanya gratis, ada saja bayaran yang diwajibkan—seperti buku-buku itu.


Abdi harus pintar-pintar membagi upah kerjanya yang pas di bilangan upah minimal regional. Ia merasa ia lebih beruntung dari sejawatnya. Ia punya anak tak lebih dari satu. Di rumah itu yang harus ia tanggung hidupnya hanya ia, Elang, dan ibunya sendiri. Abdi merasa cukup hidupnya, kecuali di saat-saat harga kebutuhan pokok melonjak. Abdi mengakalinya dengan mengurangi kebutuhan lain—kecuali kertas lipat walaupun harganya tak begitu mahal.


Elang seperti menangkap gurat beban yang ditanggung ayahnya. Baru pertama kali itu, Elang meminta ayahnya untuk tidak lagi membelikan kertas lipat. Namun, Abdi tak ingin mengecewakan buah hatinya. Meski ia sendiri harus berpuasa sebulan penuh, ia tetap akan membelikan kertas buat Elang. Pesawat-pesawat kertas yang menggantung di pohon mangga itu harus tetap ada sebagaimana cita-cita Elang tetap harus menggantung setinggi langit.
***


Elang lama-kelamaan menyadari hobinya yang membutuhkan uang itu tak pantas buat anak seorang buruh pabrik. Ia mulai menyesali setiap kertas yang hancur oleh tetes-tetes hujan. Ia telah melarutkan uang yang semestinya bisa ditabung oleh ayahnya. Elang, bocah cerdik itu, mencari jalan keluar. Koran-koran dan majalah-majalah bekas yang ia temukan, ia bawa pulang.

“Yah, mulai saat ini, kita nggak perlu beli kertas lipat buat bikin pesawat!” ucap Elang penuh semangat sambil meletakkan barang bawaannya di atas meja.

“Dapat dari mana, Lang?” tanya Abdi. Lipatan dahinya terlihat jelas.

“Dari guru-guru di sekolah, Yah,” jawab Elang sumringah. Kemudian ia menjelaskan tentang koran dan majalah yang dibawa gurunya, yang di waktu senggang di baca di sekolah, yang kemudian hari koran-koran itu tetap menetap di sekolah tapi tak ada lagi yang membaca. Elang juga berinisiatif meminta pemungut barang bekas, tapi tentu saja Elang tak mendapat apa-apa. Barang bekas itu ada harga ekonominya.

“Tapi, mungkin hasil lipatannya nggak sebagus kertas yang biasa,” gumam Elang tanpa sadar kembali menyilet perasaan ayahnya. Abdi tercenung lama. Sungguh Elang tak bermaksud menyinggung ayahnya. Toh, Elang tetap riang dengan temuannya.

“Lang, kalau dibikin dari koran, pesawatnya cepat rusak. Sama aja kan jadi sering bikin lagi, mesti sering cari koran bekas lagi. Yang sabar ya, Lang. Kalau duit ayah lebih, Ayah belikan lagi kertas lipat.”

“Nggak usah, Yah! Ngapain kita mesti beli kertas tapi nantinya juga nggak bertahan lama. Nggak apa-apa, kok. Elang sekarang bikin pesawatnya pakai kertas-kertas bekas aja. Ada kertas majalah juga, malah bagus mengilap jadinya pesawat Elang nanti.” Elang menolak mentah-mentah. Ia sungguh-sungguh tak ingin meminta uang seenaknya untuk dibelikan barang yang tak awet. “Kalau duit ayah lebih bisa ditabung, Yah,” sambung Elang ceria. Abdi terpekur, betapa ia bersyukur memiliki anak seperti Elang.

Elang kelak pasti bisa mewujudkan impiannya. Elang dewasa bukanlah buruh pabrik seperti dirinya. Elang itu akan menjulang menggapai langit dengan pesawat yang dikendalikannya.

Abdi menghentikan langkahnya. Di jalan menuju rumah, Abdi tak mampu menahan rembesan air matanya. Kenangan-kenangan itu menusuk dirinya. Langkah-langkah kakinya tak bertambah cepat, malah semakin pelan. Ia terus menoleh ke belakang. Bila jalan menuju rumah berjumlah seribu langkah, maka seribu tolehan ke belakang pula yang ia lakukan.
***

“Kang, ia menendang!” ucap Laksmi berbisik. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap perut buncitnya. Abdi yang sudah berbaring cepat-cepat menghampiri Laksmi, dari belakang tubuh istrinya ia ikut mengusap perut buncit itu. Laksmi melepas ikatan rambutnya, lalu berbaring bersama suaminya.

“Anak kita kayaknya mau jadi pemain bola, ya?!” seloroh Abdi.

Menjelang tidur itu, mereka berbincang tentang buah hati yang tinggal menunggu hari untuk segera hadir di dunia. Bila lelaki, mereka sepakat menamainya Elang. Laksmi telah merunut bulan-bulan kehamilannya. Ia cukup yakin dengan tanda-tanda yang dialaminya mengisyaratkan bayinya lelaki. Sejak awal hamil, ia sering merasa mual dan muntahnya kelewat banyak. Perutnya yang membesar lebih condong ke bawah, tidak membulat, dan bila dilihat dari belakang ia tampak seperti tidak sedang hamil. Kata para tetua, ia hamil janin laki-laki. Laksmi percaya saja, Abdi pun ikut percaya. Nama lelaki pun mereka siapkan. Elang.

Laksmi yang mengusulkan. Elang itu bisa terbang. Laksmi ingin anaknya bisa terbang ke mana yang ia inginkan. Terbang menggapai cita-cita. Elang itu di jajaran paling tinggi di antara bangsa burung. Laksmi inginkan anaknya menjadi pemimpin, bukan lagi jadi kalangan bawah dan rakyat jelata seperti dirinya. Elang yang bermata dan berparuh tajam. Laksmi ingin otak anaknya pun terasah tajam, biar tak bodoh seperti dirinya.

Abdi mendengar dengan penuh perhatian pada Laksmi, istri yang sangat ia cintai sejak masih remaja itu. Laksmi yang sabar, penyayang, dan telaten belum pernah mengecewakan dirinya. Abdi membayangkan betapa Laksmi akan menjadi ibu yang baik bagi anaknya. Laksmi dengan mata yang sudah terpejam masih berbicara tentang Elang yang masih dalam kandungan. Tendangan-tendangan Elang berkurang. Abdi merasakannya.

“Elang tak ada yang jadi pemain bola, Laksmi,” gumam Abdi. Laksmi mengerutkan dahinya, memiringkan kepalanya menghadap Abdi. “Elang itu tak berlari. Ia terbang. Barangkali, anak kita kelak menjadi seorang penerbang,” tambah Abdi.

“Jadi pilot, kang?” tanya Laksmi memastikan ia tak salah mendengar, bahwa penerbang yang dimaksud suaminya adalah pilot pesawat terbang.

“Ya, bisa jadi,” jawab Abdi.

“Haduh, kang, aku nggak pernah memimpikan punya anak jadi pilot. Yang penting cita-citanya tinggi, tapi nggak kepikiran kalau itu pilot.”

Laksmi tersenyum tipis. Sebagai ibu, ia memang mengharapkan anak yang bercita-cita tinggi dan berhasil menggapainya. Tapi sebagai istri seorang buruh pabrik, ia harus realistis. Dan hal yang paling realistis yang bisa ia lakukan adalah melambungkan anaknya setinggi mungkin, meyakinkan Elang bahwa ia boleh mengimpikan apapun. Impian yang selalu dipeluk untuk menghangatkan kobaran semangat mewujudkannya.

Kata-kata Laksmi itu menyerap hingga ke sel-sel darah Abdi.
***

“Ayah, kalau ibu ada di sini, Elang bakal ngasih pesawat kertas berwarna pink ini buat ibu,” kata Elang suatu ketika.

“Pink? Kenapa warna pink?”

“Teman-teman perempuan Elang banyak yang suka dengan warna pink. Ibu kan juga perempuan, Yah, jadi ibu pasti juga suka warna pink.”

Abdi menghela napas panjang. Sepanjang umur Elang, tak sering ia bercerita tentang Laksmi. Elang juga tak menuntut, mungkin ia sendiri juga tak terpikirkan mengenai ibunya. Sosok ibu itu diganti oleh neneknya, ibu kandung Abdi. Elang akhirnya tak tahu banyak tentang Laksmi. Abdi ingin tertawa, tak mungkin pink itu jadi warna kesukaan Laksmi. Ia tahu pasti bahwa Laksmi menyukai biru. Ia suka menatap langit siang lama-lama. Ya, biru yang seperti itu.

Abdi memandangi langit. Andai saja pesawat-pesawat kertas bikinan Elang bisa terbang sendiri ke langit sana. Pasti Laksmi semakin menyukai langit biru itu, dihiasi pesawat-pesawat kertas yang berwarna-warni yang dibuat oleh putranya.


“Pesawat terbang, Yah!” teriak Elang bersemangat sambil menunjuk-nunjuk langit. Bukan pesawat kertasmu, Lang, batin Abdi.

“Yah, aku ingin jadi orang yang bisa menerbangkan pesawat itu,” ucap Elang malu-malu, seketika Abdi tersedak. “Apa namanya, Yah?” tanya Elang penasaran. Elang pernah mendengar tentang cita-cita, mungkin di TK dulu, mungkin awal-awal masuk sekolah, Elang tak ingat.

“Pilot,” jawab Abdi tersendat. Ia terkenang Laksmi.


Elang mengangguk dan berseru, “Aku ingin jadi pilot!”


Sepasang mata Abdi berkaca-kaca. Bagaimana mungkin obrolan menjelang tidur itu kembali mewujud. Dari sosok bocah polos, impian menjadi pilot itu mungkin tak sekadar sebuah wacana.


Abdi memeluk dan menggendong Elang. Berdua mereka lihat pesawat di langit yang makin menjauh dan mengecil. Di tangan Elang terapit sebuah pesawat kertas. Elang mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Abdi pun merentangkan tubuh Elang di atas kedua lengannya. Mereka bermain terbang-terbangan lagi. Setahun sudah mereka lalui hari-hari bersama pesawat kertas.


“Lang, kamu harus rajin sekolah. Harus tekun belajar. Biar kelak kamu bisa jadi orang pintar. Karena hanya orang pintar yang bisa jadi pilot.” Abdi berkata sambil terus berlari dan berputar. Sejenak ia berhenti, lalu mengangkat Elang tinggi-tinggi hingga kepalanya menengadah melihat wajah Elang yang menunduk. “Elang benar ingin jadi pilot?” tanya Abdi. Elang mengangguk pasti.


“Iya, Elang ingin jadi pilot!” teriak Elang. “Ayo, kita terbang lagi, Yah!” pinta Elang. Lagi, Abdi berlari dan berputar. Elang menerbangkan pesawat kertasnya.

***

Elang mulai mengenal pesawat mainan dengan remote control. Elang pulang sekolah melewati rumah-rumah yang lebih besar daripada rumah-rumah yang ada di kompleksnya. Di sana ada taman bermain seluas lapangan voli tempat anak-anak banyak bermain. Di sanalah Elang melihat seorang bocah memainkannya. Pesawat itu benar-benar bisa terbang dengan kendali di tangan pemiliknya. Elang ingin punya satu yang seperti itu. 


Sepulang ayahnya bekerja, Elang langsung menghambur pada ayahnya. Ia bercerita tentang bocah lelaki dan mainannya. Betapa ia ingin memiliki pesawat seperti itu, yang tak terbuat dari kertas, yang tak akan larut oleh hujan, yang tentu saja benar-benar bisa terbang.


Awalnya, Abdi menolak. Ia bilang itu mainan anak orang kaya. Harga mainan itu mahal. Elang tampak merengut. Ia tak mengerti dengan alasan-alasan yang dikemukan ayahnya—bahkan untuk alasan bahwa pesawat kertas pun bisa terbang. Elang memang berimajinasi pesawat kertas itu terbang. Tapi, ia telah melihat pesawat mainan yang terbang seperti pesawat terbang yang melintas di atap rumahnya.


“Kalau ayah belikan pesawat pakai remote itu, apa Elang tetap bikin pesawat kertas?” selidik Abdi. Sungguh, ia tak ingin menolak permintaan anaknya. Namun, ia tahu diri, tak semua permintaan bisa ia kabulkan.


Elang terdiam mendengar tanya ayahnya. Ia membayangkan pesawat-pesawat kertasnya yang menggantung di pohon mangga. Pesawat bikinannya memang tak bisa terbang seperti pesawat mainan dengan remote itu. Tapi, kadang pesawatnya pun terbang dihembus angin.


Elang berpaling dari ayahnya dan duduk bersandar di lantai. Di pojok dekat lemari, masih bertumpuk korang-koran dan majalah-majalah bekas. Ia menggerak-gerakkan kedua tangannya. Jari-jarinya yang lentik panjang dipandangi seksama. Barangkali, memang bukan saatnya bermain pesawat remote control.


“Yah, nanti saja belinya,” ucap Elang. Elang bertumbuh menjadi bocah yang makin bijak. “Elang masih menyukai pesawat kertas,” lanjutnya sumringah. Elang lalu berlari ke luar rumah.


Abdi mengusap dada lega. Elang memang tumbuh jadi anak yang diimpikan ibunya. 


Namun, hanya tumbuh bersama pesawat kertas. 

***

Abdi berjalan lamat-lamat. Setiap ia melangkah, setiap ia menoleh ke belakang, setiap itu pula kenangan-kenangan itu muncul ke permukaan. Seakan baru saja terjadi. Bahkan seakan kenangan itu sedang terjadi. Begitu jelas setiap cerita diungkapkan.

Delapan tahun yang lalu, ia berpisah dari Laksmi untuk selamanya. Masa itu merupakan masa paling berat baginya, tapi ia harus menjadi lebih kuat lagi demi Elang. Bayi yang masih merah itu harus hidup dan bertumbuh tanpa ibu kandungnya. Abdi bersumpah akan memberikan yang terbaik buat buah hatinya dan Laksmi. Abdi juga tak melupakan harapan-harapan Laksmi. Elang akan terbang menjulang.

Duka atas kepergian Laksmi yang tak terduga saat melahirkan harus dibarengi dengan suka cita menyambut Elang. Bukanlah Elang yang merenggut nyawa Laksmi. Elang adalah hadiah terindah dari Laksmi untuk dirinya. Abdi tahu di titik nadir kehidupannya itu sesungguhnya baru dimulai kehidupan yang baru.

Kini, Abdi kembali meratap. Langkahnya terhenti, lagi, berulang kali. Sungguh ia tak sanggup untuk melangkah lagi, mencoba ke sekian kali. Ia ingin tinggal saja. Biarkan mereka melenggang meninggalkan dirinya. Bahkan ibunya akan ia biarkan pergi tanpa dirinya. Kenangan-kenangan yang berkelebat dalam kepalanya selalu muncul setiap ia melangkahkan kaki. Sungguh berat perjalanan yang ditempuh Abdi menuju rumah. Ia tak sanggup meninggalkan Elang sendirian. Ia terjatuh bertekuk lutuh. Air matanya belum berhenti mengalir. Duka yang ini masih terasa sangat segar.

Elang masih menyukai pesawat kertas. Kalimat itu terngiang di telinga Abdi. Menggema, membangunkan dirinya. Abdi tahu apa yang harus segera ia lakukan. Ia hanya perlu kembali pulang ke rumah. Stok koran-koran dan majalah-majalah bekas masih cukup banyak disimpan oleh Elang. Ia hanya harus membawa pesawat kertas yang banyak. Tapi saat ini, sepuluh atau dua puluh pesawat kertas akan cukup buat Elang.

Abdi tiba di rumah. Masih banyak orang berada di rumahnya. Abdi tak peduli. Abdi langsung mencari tumpukan kertas bekas simpanan Elang. Abdi bertanya pada ibunya karena tak menemukan kertas bekas itu. Ternyata, ibu menyimpannya di bawah kasur. Di dalam kamar, tanpa orang-orang bisa melihat Abdi melipat-lipat kertas menjadi pesawat kertas. Tak lama, Abdi pergi lagi dengan membawa sekantong plastik pesawat kertas. Tak lupa ia membawa tali nilon.

Elang masih menyukai pesawat kertas. Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Elang untuk ayahnya sebelum sepeda motor melaju cepat di depan rumahnya. Elang tersungkur di jalanan. Pesawat kertas yang menggantung di pohon mangga menjadi saksi bisu. Dulu Elang bertemankan pohon mangga untuk menerbangkan pesawat-pesawat kertasnya. Kini Elang punya pohon kamboja.

“Pesawat kertas, terbanglah bersama Elang!” ucap Abdi begitu tulus dan dalam.

Laksmi, kau telah memberiku kesempatan bersamanya selama delapan tahun. Waktu yang singkat, Laksmi. Tapi, mungkin itulah waktu yang cukup bagi Elang untuk bersamaku. Dan aku tahu, kau memang teramat merindukannya. Kurelakan Elang bersamamu Laksmi. Oh ya, semoga kau tak akan jenuh dengan pesawat kertas.

Abdi kembali menuju rumahnya. Ia tetap berjalan lamat-lamat, tapi kali ini tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
***

©Vira Cla, 30092012

3 comments:

  1. Innalillahi.

    kisah Elang membuat Abdi lantas jadi tokoh utama yang paling dilematis. Cerpen yang mengharu biru, Mbak Vira.

    saya suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mas Fandy, sudah berkenan membaca dan mengomentari. Ditunggu kritik-kritiknya, ya.. boleh buat cerpen lainnya. Hehehe..

      Delete
  2. wah oke gan terimakasih untuk info cara membuat kapal dari kertasnya saya bisa membuat permainan untuk anak didik saya terimakasih sudah mau berbagi informasi

    ReplyDelete