Sunday, October 14, 2012

Pengakuan



“Kak, we’ll miss you!”
“Jangan lupa sama kita-kita, ya, Kak!”
“Kak, aku sedih, beneran!”
“Sini, berpelukaaan!!!”
Ranto mendengar suara-suara nyaring itu dari kejauhan, dari balik tiang koridor. Ia sendiri telah cukup lama kehilangan suaranya sendiri. Barangkali bukan hilang, tapi disembunyikan—oleh dirinya sendiri. Dan kini ia ingin mencoba lagi, menyuarakan isi hatinya.
“Ranti,” sapanya. Ranti mendongak. Ia baru saja memisahkan diri dari sekumpulan gadis belia berseragam SMA di depan ruang latihan.
“Hai, kamu sudah datang. Kita ke kantin saja.” Ranti membalas, kaku.
“Kantin sekolah ini?”
“Iya, kenapa?”
“Kupikir kita perlu tempat yang sedikit lebih tenang.”
Ranti terus berjalan menyusuri koridor panjang dengan taman berbunga di kedua sisinya. “Jam segini kantin sudah sepi, kok. Kegiatan ekskul hari Sabtu ini sudah banyak yang selesai. Palingan sejam lagi kantin bakal ramai sama anak-anak jurnalistik. Tadi aku lihat mereka masih rapat.”
“Hmm.. Tadinya aku mau ngajak kamu makan di luar.”
“Nggak perlu, di sini aja. Aku nggak bisa lama, sopirku nungguin.”
“Oke.”
Ujung koridor yang mereka lalui berakhir di pintu masuk kantin. Ranto dan Ranti mengambil tempat di meja pojok sebelah jendela. Mereka duduk berhadapan.
“Kamu mau makan apa?” tanya Ranto.
“Aku nggak makan. Kamu aja yang pesan.”
“Kalau begitu aku juga nggak.” Ranto mengerutkan bibirnya. “Kamu tampak terburu-buru. Nggak begitu suka dengan pertemuan ini.”
“Sudahlah, nggak usah dibahas. Katanya kamu mau ngomong penting. Apa? Bukan tentang kenapa aku begini, kan?”
“Sedikitnya ada hubungannya dengan kamu yang begini.”
“Mood-ku nggak enak sekarang. Aku baru saja pamitan dengan adik-adikku. Aku nggak ingin nambah beban perasaan lagi. Bukan salah kamu. Tapi, aku sendiri yang nggak kuat.” Ranti menghela napas panjang. Matanya memandang jauh. “Ekskul paduan suara sekolah ini adalah jiwaku selama SMA. Tiga tahun aku berlatih di sini. Sampai akhirnya lulus, aku pun masih berjibaku ingin terus membesarkannya. Aku turut melatih adik-adik yang baru masuk ekskul ini. Apa saja event yang diikuti, aku juga ikut sibuk mempersiapkan mereka. Suka duka hampir lima tahun itu sungguh berharga buatku. Rasanya aku belum siap untuk berpisah dari mereka.”
“Ya, aku melihat merah di matamu. Sisa tangisan. Kamu sedih meninggalkan mereka. Meninggalkan duniamu. Kamu sebenarnya nggak mau. Tapi, terpaksa. Harus melakukannya demi...”
“Demi apa, Ranto?”
“Kamu sendiri tahu jawabannya.”
“Kamu sebenarnya mau ngomongin apa?”
“Tentang kita, Ranti.”
“Ada apa dengan kita?”
“Jangan pura-pura nggak ngerti. Kamu lari, Ranti.”
“Tanpa kamu ingatkan, aku tahu itu. Dari dulu kamu memang selalu anggap aku lari dari masalah. Terserah, Ranto. Aku nggak peduli.”
“Jadi, hubungan kita gimana?”
“Aku juga nggak tahu gimana.”
“Tiga minggu lalu, kamu mengajakku ketemu di taman. Katamu, ada hal penting yang kamu omongin. Tapi, kamu diam, nggak ngomong apa-apa.”
“Apa kamu nggak bisa menyadari arti bisuku itu?”
“Kamu menyambutku dengan tangisan. Kamu memelukku seakan tak ingin melepasnya lagi.”
“Aku kangen kamu.”
“Iya, aku tahu. Tapi bukan itu yang sebenarnya ingin kamu bilang ke aku.”
“Aku sudah bilang yang sebenarnya lewat SMS malam setelah pertemuan itu. Aku hanya nggak berani bilang langsung ke kamu.”
“Bukan itu tujuan sebenarnya kamu ingin bertemu denganku di taman. Ranti, aku bisa merasakannya. Merasakan kamu. Pesanmu yang mengabari kamu akan pindah kuliah ke Sydney itu hanya kedok.”
Ranti menggeleng. Ia menggigit bibirnya. “Jadi, apa yang kamu rasakan, To?”
“Kamu ingin menyudahi hubungan kita.” Jawaban Ranto seketika membuat mata Ranti berkaca-kaca.
“Aku memintamu datang ke taman memang untuk itu. Namun, saat itu lidahku kelu. Tapi, aku juga merasakan hal yang sama darimu. Kamu bersedia datang karena ingin menyudahi hubungan kita.”
“Ya, dan sama seperti kamu. Aku hanya diam membisu.” Ranto meraih tangan Ranti yang tergeletak di atas meja. Tangan mereka bergenggaman. “Ranti, cara kamu menemuiku waktu itu adalah pertanda. Dengan cara itu kamu telah memberi tahu aku, kamu ingin putus. Aku menunggumu mengucapkan kata itu. Tapi, lama kita duduk bersisian di bangku taman, kamu tetap diam. Aku tahu pasti berat buat kamu menyatakannya. Aku tahu, karena itu aku bersabar. Menunggu kamu. Padahal...”
“Padahal pada saat yang sama, kamu juga ingin bilang kalau kamu mau putus.”
“Dan, bagaimanapun aku menyiapkan diriku untuk keputusan itu, setelah bertemu kamu, aku nggak bisa.”
“Lalu, hari ini kamu ingin bertemu denganku di sini karena kamu sudah siap dan sudah bisa?” selidik Ranti. Ia menajamkan tatapannya.
“Nggak, Ranti. Aku justru ingin memperjelas hubungan kita. Sejak terakhir kita bertemu, kita nggak pernah membicarakan kelanjutan hubungan kita. Sore di taman itu hanya seperti temu kangen setelah tiga minggu tak bertemu. Temu kangen yang menyembunyikan niat yang sebenarnya. Tapi, entahlah... Barangkali, kita sebenarnya memang sudah sangat saling merindukan hingga lupa pada niat lain bahwa kita ingin saling menyudahi. Niat itu tiba-tiba terkubur begitu saja oleh ketidakmampuan kita untuk mengungkapkannya. Sebelum bertemu, aku merasa sudah sangat siap untuk menyampaikan keputusanku. Mungkin kamu juga, sudah siap mau putusin aku tapi tiba-tiba suara itu tak keluar.”
“Gara-gara cinta, Ranto,” sela Ranti pilu.
“Ya, gara-gara cinta juga aku ke sini menemui kamu.”
“Cinta itu ternyata butuh tiga minggu untuk menyakinkanmu supaya menemuiku.” Ranti tergelak kecut.
“Yah, nggak mudah buatku untuk segera mengajakmu bertemu lagi. Aku harus memikirkan bagaimana supaya orangtuamu nggak tahu kita bertemu.”
“Tidak perlu menyindirku, To!”
“Kamu yang duluan sinis, sayang!”
“Nggak usah panggil sayang!”
“Kenapa?”
“Menurutmu kenapa?!” Ranti nyaris saja berteriak.
“Aku belum sekalipun bilang putus. Kamu juga belum sekalipun bilang putus. De jure kita belum putus. De facto entahlah. Kamu terakhir SMS aku bilang kamu mau pindah ke Sydney. Sejak itu kamu nggak pernah menghubungiku lagi. Aku setelah menerima SMS itu juga nggak pernah menghubungimu lagi. Kalau menurutmu hubungan kita telah selesai saat itu, mungkin itu hanya keputusan sepihak dari kamu. Aku sendiri, walaupun nggak memberi kabar, terus mikirin kamu, mikirin hubungan kita. Menurutmu kenapa aku begitu? Aku nggak bisa, benar-benar nggak bisa buat putus. Aku masih sayang sama kamu. Aku mencintaimu, Ranti. Dan kepindahanmu ke Sydney itu memancing kegelisahanku. Aku harus menemui kamu lagi. Aku harus membicarakan tentang kita. Bagaimana dengan kita, Ranti?”
“Seharusnya dengan keputusanku pindah dari kota ini, jauh dari kamu, membuat hubungan kita semakin jelas. Kita nggak perlu berhubungan lagi!”
“Semudah itu?”
“Nggak mudah, Ranto! Nggak pernah mudah buatku!”
“Dan yang mudah itu adalah pacaran backstreet?”
“Berhentilah menyinggungku!”
“Ranti, jadi kamu sungguh-sungguh mau kita udahan?” Suara Ranto terdengar lirih.
Ranti terisak, “Aku nggak mau, tapi aku harus.”
“Kalau kamu memang mau kita putus, kamu nggak mesti pindah ke Sydney, kan? Gimana dengan kuliah kamu yang sudah setengah jalan? Kamu juga jadi mengorbankan dunia yang kamu cintai di sekolah ini. Kalau kamu ingin melupakan aku, aku bisa melakukannya untukmu. Aku nggak akan menghubungimu lagi. Aku akan menghilang dari kehidupan kamu.”
Ranti menggenggam kuat jemari Ranto. “Kamu tahu... aku nggak mau.”
“Aku juga nggak mau, sayang...”
“Malam setelah kita makan malam terakhir, Mami cerita tentang Aldo, sahabatku waktu kecil. Tetanggaku juga dulu sebelum dia pindah ke Sydney. Aku merasa Mami ingin menjodohkanku dengannya. Mengingat hubungan kita yang nggak bakal diterima Mami, kupikir Aldo bisa kujadikan alat. Alat buat ngelupain kamu.”
“Ranti.. Ranti.. kamu bahkan belum mencoba untuk memberi tahu ibumu tentang hubungan kita yang telah melangkah serius. Dan kamu telah mengira dengan pasti Mami nggak bakal terima hubungan kita. Kamu belum mencoba!”
“Aku tidak mencoba karena untuk berteman denganmu saja Mami sudah melarang! Bagaimana dengan pacaran? Menginjak keseriusan pula!”
Take me to your mother!”
“Buat apa?”
“Aku yang akan bilang ke Mami kamu. Aku akan cerita tentang hubungan kita! Aku akan nyatakan di depan Mami—aku mencintaimu. Aku nggak main-main sama kamu.”
“Sudah nggak perlu, To! Aku udah bilang ke Mami tentang keputusanku pindah ke Sydney. Mami membolehkan. Mami malah mendukungku.”
“Terang saja mendukung, biar kita berjauhan. Ya, benar, biar kamu ngelupain aku! Karena ada Aldo di sana!”
“Aku nggak mau Mami murka sama aku, Ranto!”
“Ibu macam apa yang nggak menggubris kebahagiaanmu, yang hanya memikirkan martabat keluarga yang jatuh karena pemuda miskin kayak aku!”
“Jangan mengatai ibuku, Ranto!”
Mereka terdiam. Mata yang saling menatap itu tak mampu menyembunyikan kasih.
“Maafkan aku, Ranti,” ucap Ranto, mencairkan beku. “Aku menemuimu ingin memperjelas hubungan kita. Bahwa aku serius sama kamu. Tak ada yang lebih kuinginkan selain bisa bersama kamu.”
“Dan kamu tahu sendiri bagaimana keluargaku. Aku memutuskan hal ini dengan berat hati, To. Aku merasa ini keputusan terbaik yang kuambil. Dengan kita berpisah, kita akan memberi kesempatan diri masing-masing untuk menempuh jalan yang lain. Jalan yang mungkin di sana kita menemukan orang lain. Orang lain yang lebih baik. Kalaupun nggak ada, dan ujung-ujungnya kita bertemu lagi di jalan yang sama, setidaknya kita sudah mencoba. Dan kita pun membuktikan kalau takdir telah memutuskan. Nggak bakal ada lagi keraguan.”
“Dengan mengorbankan kebahagiaanmu saat ini?”
“Entahlah...”
“Maksudmu?”
“Aku bahkan nggak yakin apa aku bahagia dengan hubungan kita yang seperti ini.”
“Bukankah kamu mencintaiku?”
“Ya, aku mencintaimu.”
“Kamu mencintaiku tapi kamu tidak berbahagia?”
“Aku berbahagia hanya bila bersamamu. Kamu tahu ketidakbahagiaanku...”
“Karena ketidakberanianmu.”
“Ya, Ranto, aku memang pengecut!”
“Beri aku kesempatan, Ranti...”
“Kesempatan apa?”
“Kesempatan untuk bertemu orangtuamu. Biarkan aku menghadap mereka. Dengan hormat.”
“Mereka hanya akan memandangmu sebelah mata.”
“Walaupun aku datang dengan kedua orangtuaku?”
“Hah?”
“Aku akan melamarmu. Aku akan meminta orangtuamu supaya kita bertunangan.”
“Serius kamu?”
“Ya, aku serius!”
“Demi menghormati orangtuamu, Ranto, jangan pernah coba-coba nekat berurusan sama orangtuaku. Mereka nggak mungkin bisa mengabulkan permintaanmu. Pertama, mereka nggak respek sama kamu. Kedua, mereka pasti menganggapku gadis kecil mereka, belum saatnya untuk serius bertunangan.”
“Kamu belum tahu tapi sudah menyimpulkan.”
“Karena aku tahu bagaimana orangtuaku.”
“Tapi, kamu nggak tahu bagaimana orangtuaku. Kamu juga belum tahu aku.”
“Apa maksudmu?”
Ranto menghela napas panjang. Sejenak ia tak yakin. Sejenak kemudian ia yakin—membuka jati dirinya yang sebenarnya.
“Ranto, apa maksudmu aku belum tahu kamu?” Ranti mendesak.
“Aku sederajat denganmu,” jawab Ranto singkat. Ranti mengerutkan dahi. Ranto melepas jemari Ranti. Tangannya mengusap pipi kekasihnya. “Percayalah, Ranti, beri aku kesempatan untuk datang ke rumah menemui Mami, Papi, bahkan sampai pembantu-pembantumu. Aku akan mengaku pada mereka semua.”
“Tolong, aku nggak ngerti. Bisa kamu jelaskan?”
“Ranti, coba ingat, apa pernah kamu bertanya siapa keluargaku?”
“Keluargamu di Yogya.”
“Bukan di mana, tapi siapa.”
“Maksudmu?”
“Selama ini kita memang nggak banyak ngomong tentang keluarga kita masing-masing. Kita nggak memikirkan hal itu. Kita asyik dengan obrolan tentang kita dan apa-apa saja yang menyenangkan hati kita, sampai-sampai topik tentang orangtua terlupa begitu saja atau mungkin dilupakan dengan sengaja.”
To the point saja, Ranto, aku nggak bisa lama-lama di sini.”
“Daritadi aku udah to the point, sayang... Aku udah bilang, aku sederajat denganmu. Dengan pengakuan bahwa orangtuaku nggak lebih miskin dari orangtuamu, aku berharap orangtuamu akan menerima aku.”
“Tapi...”
“Tapi apa? Kamu nggak percaya? Karena aku cuma mengendarai motor bebek bukan mobil sport? Karena aku cuma ngekos bukan tinggal di apartemen?”
“Kamu nggak perlu bersandiwara demi restu ibuku.”
“Aku serius. Selama ini aku hanya tidak membuka semuanya. Aku hanya bercerita yang penting saja sama kamu.”
“Dan aku nggak ngerti kenapa kamu mesti menutup-nutupi. Jadi, selama ini kamu membiarkan aku percaya bahwa kamu pemuda biasa yang merantau ke ibukota?”
“Aku tetap pemuda biasa. Aku memang hanya seorang Ranto. Seorang karyawan. Seorang perantau.”
“Tapi...”
“Aku nggak menganggap perlu latar belakangku saat berkenalan denganmu. Aku hanya ingin dikenal seperti ini. Apa itu salah? Dan ketika perempuan yang kucintai tidak bisa menerima keadaanku yang begini, apa salah juga bila aku beri tahu jati diri keluargaku hanya supaya orangtuanya mau menerimaku?”
“Kamu sudah bohong, Ranto...”
“Bohong? Aku hanya tidak memberi tahu. Kamu juga nggak bertanya.”
“Kamu menutup-nutupi siapa diri kamu sesungguhnya!”
“Jadi, statusku anak siapa itu penting buatmu sekarang?” Suara Ranto kencang, memancing perhatian petugas-petugas kantin.
“Sudahlah...”
“Apa yang sudah?”
“Nggak ada lagi yang perlu diomongin! Kamu sudah membohongiku. Kamu tidak terus terang padaku. Hubungan macam apa yang bisa kuandalkan kalau berdasarkan semu?”
“Aku hanya tidak memberi tahu. Aku tidak bermaksud berbohong. Kalau menurutmu aku menutup-nutupi, karena aku memang ingin dikenal seperti ini adanya. Aku ingin dicintai karena diriku sendiri, bukan embel-embel di belakangnya. Ya, begitu, kalau kamu ingin tahu alasanku seperti ini!”
“Lantas kenapa sekarang?”
“Kamu masih bertanya kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena aku terdesak! Oleh orangtuamu yang mengagungkan bibit, bebet, bobot seseorang. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku harus memikirkan cara supaya kamu bertahan. Supaya kita tetap bersama. Nggak perlu kata putus. Nggak perlu menyudahi hubungan. Nggak perlu kamu ke Sydney. Nggak perlu kamu pamitan sama adik-adik paduan suaramu. Nggak perlu kita membahas tentang hubungan kita. Karena intinya, aku mencintaimu. Aku nggak mau kamu pergi. Aku nggak mau kamu meninggalkanku. Begitu pun aku. Aku nggak mau pergi dari kamu. Aku nggak mau meninggalkanmu. Kita saling mencintai. Sudah sepantasnya kita tetap bersama. Kita bertahan dalam hubungan ini. Kita perjuangkan, Ranti...”
“Kamu seakan sedang menghadapi musuh sehingga terdesak mengeluarkan amunisi terakhirmu. Aku bukan musuhmu. Orangtuaku juga bukan musuhmu.”
“Bukan itu maksudku.”
“Kalau kamu memang ingin dikenal seperti begitu kamu adanya, semestinya kamu bertahan dengan prinsipmu itu. Apa yang ditutup kenapa mesti dibuka lagi? Toh, kamu bisa mencari perempuan lain yang orangtuanya bisa menerima kamu begitu adanya.”
“Aku pun sebelumnya berharap demikian, tetap menutupi jati diriku sampai orangtuamu benar-benar menerimaku yang begini adanya. Demi itu, aku menyiapkan diri untuk mau putus dari kamu. Beberapa minggu aku memikirkan hal ini. Sampai tiga minggu yang lalu kita bertemu tapi aku bisanya membisu. Lalu berminggu-minggu lagi hingga kini, akhirnya, aku ingin tetap bersamamu.”
“Sampai-sampai melepas amunisi terakhir... Ternyata rasa takut kehilanganmu telah menggerogoti prinsip hidupmu sendiri. Entah itu bagus atau ya, entahlah... Aku nggak tahu. Aku nggak ngerti.”
“Aku tahu dan aku ngerti kalau cinta itu nggak bisa sekadar dirasain doank! Cinta mesti diperjuangkan. Bullshit dengan cinta tak saling memiliki!”
“Aku mencintaimu, Ranto. Dan aku nggak memilikimu. Kamu hanya milik kamu sendiri. Aku pun milik aku sendiri. Kamu nggak akan memiliki aku.”
“Tapi, kamu mau kita bersama, kan?”
“Ya, aku mau. Dan aku sudah tahu pilihan mana yang harus kuambil untuk bisa menyakinkan keputusanku.”
“Ranti...”
“Ranto, sebaiknya kita nggak melanjutkan hubungan ini.”
“Putus? Kamu ingin kita putus?”
Ranti mengangguk. “Aku salut dengan pilihanmu dikenal sebagai dirimu sendiri. Di saat orang-orang mengidamkan punya orangtua kaya, bisa dibelikan ini itu, bisa bermewah-mewah, kamu berbeda... memilih jalan yang kamu usahakan sendiri. Aku menghargai juga pilihanmu yang akhirnya membuka jati diri yang sebenarnya supaya orangtuaku menerimamu. Tapi...”
“Tapi, hal itu hanya membuatmu meragukanku.”
“Aku nggak tahu apakah ragu kosakata yang cocok dengan apa yang kupikirkan dan kurasakan sekarang.”
“Ranti, aku pikir dengan pengakuanku akan memudahkan perjalanan kita. Aku tadinya berharap dengan pengakuanku kamu nggak akan sedih lagi memikirkan ketidaksetujuan orangtuamu. Kamu akan girang karena akhirnya menemukan solusi untuk masalah kita. Aku nggak sangka kamu bakal merasa dibohongi. Aku minta maaf, Ranti...”
“Sudahlah...”
“Apa kamu yakin putus adalah solusi terbaik?”
“Well, mungkin bukan solusi. Tapi... Jalan keluar. Kamu benar, kamu telah menemukan solusi untuk masalah kita. Masalah kita memang cuma satu itu, ganjalan orangtuaku karena tidak menerima kamu dan motor bebekmu. Solusi yang terbaik memang satu itu, kamu mengakui siapa diri kamu. Tapi, bukan solusi seperti ini yang kuharapkan. Kalau kenyataan yang terjadi berbeda dari apa yang kuharapkan, sama saja dengan memunculkan masalah. Lagi.”
“Bukankah kita hidup memang untu terus memecahkan masalah? Lantas apa salahnya masalah muncul lagi? Lagi? Dan lagi?”
“Mungkin kamu nggak mengerti gimana perasaanku sekarang. Aku tahu kamu tidak berbohong, tapi dalam diriku aku merasa telah dibohongi.”
“Itu karena gambaran aku yang begini adanya telah melekat di memori kamu. Ketika gambaran itu tak sesuai dengan kenyataan, kamu merasa tertipu. Merasa dibohongi. Ini salahku. Untuk itu aku minta maaf, Ranti...”
“Baiklah, aku memaafkanmu.”
“Dan kita bisa melanjutkan hubungan kita?”
“Mungkin aku butuh waktu untuk menjawab itu. Tapi...”
“Tapi...?”
“Entahlah, tiba-tiba dorongan untuk putus itu meningkat. Mungkin...”
“Karena kamu telah memutuskan untuk pindah ke Sydney?”
“Mungkin.”
“Apa kamu nggak bisa membatalkan rencanamu itu?”
“Nggak bisa. Aku udah bikin surat undur diri dari kampus. Aku lagi menyiapkan berkas-berkas mendaftar kampus baru.”
“Bukankah itu hal sepele yang bisa diatur dengan cepat?”
“Bisa, sih...”
“Lantas?”
“Kamu serius nggak mau kita putus?”
“Serius, sayang!”
“Kalau aku tetap ke Sydney gimana?”
“Aku akan menyusulmu ke sana?”
“Bagaimana bisa? Kamu kan kerja di sini!”
“Aku resign. Lalu ambil kuliah S2 di sana.”
“Hmm... pacaran backstreet lagi di Sydney?”
“Nggaklah! Aku bakal bilang sama orangtuamu, minta izin memacari anak gadisnya yang manis.”
“Yakin?”
“Yakin! Apalagi ada siapa tadi? Hmm... Aldo! Kalau aku biarin kamu di sana sama Aldo, nanti kamu ngelupain aku.”
“Mungkin itu yang terbaik.”
“Kamu mau ngelupain aku?”
“Nggak mau, tapi bisa saja terjadi.”
“Oh, Ranti... Ayolah, jadi kamu maunya hubungan kita gimana?”
“Bukankah kita sudah omongin dari tadi? Dan aku sudah ngomong gimana-gimananya... Kamu masih belum mengerti gimana hubungan kita?”
“Kita belum sampai pada keputusan final. Daritadi kita bicara seakan-akan, berandai-andai... Ucapan apa yang bisa kupegang?”
“Ranto, aku harus pulang.”
“Tunggu. Kita belum selesai.”
“Kita sudah selesai.”
“Hubungan kita?”
“Iya, itu. Hubungan kita selesai.”
“Kamu serius?”
“Kamu nggak mendengar omonganku dari tadi ya?”
“Oh, please...”
“Ranto, kamu percaya kan jodoh itu di tangan Tuhan?! Jodoh itu sudah ada yang mengatur. Aku percaya bila kita memang ditakdirkan berjodoh, walaupun kita dipisahkan jarak berjuta kilometer, kita akan dipertemukan lagi. Entah di mana, tapi pasti bertemu kalau memang berjodoh. Aku mencintaimu, masih... Ya, walau sekarang agak sakit merasa dibohongi. Tapi aku memaklumi itu. Itu nggak jadi masalah berarti buatku. Toh, aku masih mencintaimu. Bila ingin menuruti nafsu, aku nggak bakal memilih putus. Apalagi tahu siapa keluargamu. Hanya saja, sebelum pertemuan ini, aku telah memikirkannya masak-masak. Sebesar apapun rasa cinta ini, ia harus diuji. Dan kupikir cara mengujinya yang paling tepat adalah dengan memberi jarak. Apakah dengan jarak cinta itu tetap menyala dibakar rindu atau malah padam diguyur lupa? Berikan cinta ini kesempatan untuk diuji, Ranto. Biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah. Bisa jadi untuk selamanya, tapi tak bisa dipungkiri bisa juga hanya sementara. Seperti yang kubilang tadi, dengan berpisah jalan, kita sedang memberi tempat pada takdir untuk memutuskan. Aku percaya... Jodoh nggak bakal kemana.”
Ranto tertunduk. Ia pasrah pada nasib. Ranti, dalam hatinya sendiri, menorehkan luka. Tak ada orang yang saling mencintai yang ingin berpisah.
“Ranto, aku pamit, ya.”
Ranto menegarkan dirinya. Sangkaannya akan Ranti yang perlu dukungan justru menjadi yang lebih kuat daripada dirinya. Ranto, di pertemuan ini, menatap Ranti lekat.
“Ya, Ranti... Cinta kita perlu diuji. Dan aku percaya cinta ini yang akan kekal dalam hatiku. Aku akan menunggumu. Selamat jalan, Ranti. Kuharap kamu berbahagia di sana.”
“Terima kasih, Ranto.” Ranti bangkit dari kursinya. Ranto mengikuti. Ranti mendekati Ranto, lalu mendekapnya. Pelukan perpisahan. “Terima kasih untuk segala-galanya. Selamat tinggal!”
Dekapan itu merenggang. Dan jarak pun mulai bekerja.


©Vira Cla, 14102012

Baca juga cerita sebelumnya: Kisah Ranto dan Kisah Ranti

4 comments:

  1. baguuus.. tp spasinya ditambah doong :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya sudah mampir.. Hehe, udah aku edit tuh spasinya. :p

      Delete
  2. mba Viiir, baguuus.... ini yg dikirimkan kmrn yah? pasti lolos ke tahap berikutnya kan :)

    Gudlak untuk tugas barunya ya^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, mba Orin.. iya, ini yg pertama kali dikirim, yg kedua aku revisi bagian awal. Alhamdulillah, masih lanjut nih.. Kamu jg, kan?! Yuk.. Gudlak juga ya ;)

      Delete