Tuesday, October 2, 2012

Penantian Lana


Sebuah kartu cantik dan beberapa spidol bermacam warna terletak di atas meja. Lana menyeruput kopi espresso-nya. Lana merapikan bandananya. Lana mengambil satu spidol. Lana duduk tegap dengan tangan berpangku di meja. Lana bernafas lega. Ia akhirnya tahu harus menulis apa. 
 
Aku akan mengajakmu kembali ke beberapa tahun sebelumnya. Masih di tempat yang sama dengan waktu yang berbeda. Lana dari dulu suka mengambil tempat di pojok dekat jendela. Karena kafe itu mempunyai dua sisi dinding yang berjendela, Lana memilih meja di pojok dekat jendela yang menghadap jalan raya. Ya, beberapa tahun silam, Lana duduk di tempat itu. Ya, saat ini pun, Lana duduk di tempat yang sama. Ups, jangan melenceng! Kita sedang membicarakan kejadian yang lampau. Ya, beberapa tahun yang lalu.

Lana itu gadis yang ceria. Mukanya imut dengan bibir mungil yang sering melengkung manis. Rambut lurus sebahunya selalu tersisir rapi. Kadang ia mengucir rambutnya, kadang ia menggerainya dan memasang bandana. Apapun yang ia perbuat pada rambutnya, Lana tetap semanis madu. Wajahnya semulus porselen. Dan bayangkanlah alis mata tebal dan panjang yang menaungi sorot matanya yang cemerlang. Namun, seceria apapun hati Lana, ia senang sekali bila di kafe itu duduk sendirian. Menikmati aroma kopi dan menyesap rasanya yang pahit itu perlu konsentrasi—sebagai ungkapan syukur atas kehidupan. Menurut Lana, hidup itu manis bila ditambah kopi. Bingung? Well, biarkan saja Lana bergelut dengan pikirannya yang ajaib itu.

Lana suka minum kopi di kafe itu karena banyak temannya yang tak suka atmosfernya. Barangkali mereka mengira tempat itu kurang berjiwa muda, terlalu ‘bapak-bapak’. Bagi Lana tak masalah. Kursinya nyaman, lalu lalang di jalan raya itu cukup menyenangkan, dan terpenting ia menikmati sajian kopi kafe itu. Dan tentu saja, Lana semakin asyik sendirian di kafe itu tanpa harus ngumpul dengan teman-temannya. Ya, kadang ia memang memerlukan ‘me-time’. Dan ‘me-time’ yang berkualitas itu hanya ia dapatkan di kafe itu—di Kafe Lana. Sungguh, bukan Lana pemilik kafe itu. Itu hanya sesuka Lana memberi nama kafe yang sesungguhnya telah mempunyai namanya sendiri.

Lana bisa menghabiskan waktu hingga dua jam di Kafe Lana—kita sebaiknya ikut Lana dalam penyebutan nama kafe itu. Ia sudah menentukan waktu yang tepat mengunjungi tempat favorit ‘me-time’-nya tersebut. Datang saat jarum jam menunjukkan angka empat dan harus beranjak dari tempat itu saat jarum jam telah menunjuk angka enam. Waktu itu hanya dipengaruhi oleh faktor intrinsik dari Lana sendiri. Ia menyukai sore dan ia mencintai senja. Saat-saat yang disuka yang dicinta tak semestinya dihabiskan bersama orang lain. Hmm, ya, mungkin demikian logika Lana.

Namun, Lana sedikit naif. Ia tak pikir ada kenalannya bisa dengan tak sengaja bertemu dengannya di Kafe Lana lalu tanpa basa-basi nimbrung di meja Lana. Kalau sudah begitu, Lana hanya gigit bibir, makan hati, dengan sesekali menyengir. Tapi, untunglah itu jarang terjadi. Jadi, Lana bertahan di kafe Lana manakala ia ingin ber-‘me-time’-ria. Dan, ya, Lana memang tak akan mengira ia bertemu seorang lelaki yang sungguh tampan.

Jangan bayangkan lelaki tampan menurut seleramu! Bagi Lana, lelaki tampan itu bermuka oval, hidung dan bibir yang hampir sama mungil, mata sedikit sipit, dan... botak. Lelaki itu tiba-tiba muncul di depan Lana dan permisi menumpang di meja Lana karena tempat itu sudah penuh. Sedangkan, ia harus tetap berada di kafe itu karena butuh koneksi free wi-fi untuk laptopnya. Ia harus mengirim email segera, kilah lelaki itu. Bila ia tak termasuk kriteria tampan menurut Lana, ia mungkin tak diizinkan duduk bersama Lana. Oh, ya, Lana memang telah terkesima oleh ketampanan lelaki itu. Lana dengan senang hati menerima orang yang mengganggu ‘me-time’ berkualitasnya.

“Perkenalkan saya Rama,” ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya. Lana menyambutnya, cukup lama ia memegang tangan Rama. Sesuai dengan yang diangankannya--lelaki bertangan halus, jemari lentik, kuku bersih dan wangi. Lana semakin antusias dengan teman barunya.

“Aku Lana,” balas si gadis ceria. “Aku biasa ke kafe ini sore, hmm, sekitar jam empat sampai jam enam.” Lana menjelaskan. “Lewat jam enam, aku pasti sudah pergi dari sini,” tambahnya.

“Oh, baiklah,” respon Rama sekenanya. Ia sibuk berkutat dengan laptopnya. Tampak ia sungguh-sungguh sibuk dan tak ingin diganggu.

Lana mengerutkan bibir, kesal dengan perlakuan yang demikian. Ia mengambil novelnya lagi dan melanjutkan bacaannya. Oh, ia meminum seteguk kopi dulu—sambil mendelik pada Rama.

“Lana, terima kasih, ya, sudah memberi tumpangan di mejamu. Aku harus pergi sekarang.” Rama pamit undur diri. Ia menatap Lana iba. Sesungguhnya hati Rama tergetar untuk mengenal Lana lebih dekat. Ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan secarik kartu namanya. “Hubungi aku kalau kamu ke sini lagi lain kali. Mungkin aku bisa mampir lagi.” Kata-kata Rama itu bagai oase di belantara kegersangan hati Lana.

Lana tersenyum lebar sekali sore itu. Ia yakin laki-laki itu adalah kiriman spesial dari Tuhan untuknya. Oh, Lana bawa-bawa Tuhan. Kadang ia begitu. Ya, biarkan saja. Memang tak ada yang lepas dari urusan Tuhan, kan?


Ada lelaki yang tak ingkar janji. Salah satunya adalah Rama. Memang tak setiap sore Lana bertandang di kafe langganan. Baru setelah seminggu kemudian, Lana muncul lagi di Kafe Lana. Kali itu ia tak ingin sendirian. Ia ingin bertemu Rama yang sejak pertama bertemu hingga hari terus berganti selalu melewati pikirannya. Entah Rama hanya duduk manis, entah Rama berjalan sambil mengedipkan sebelah matanya, entah Rama jungkir balik mendekati dirinya. Bayangan-bayangan dalam kepala Lana mulai mengganggu. Maka Lana nekat menghubungi Rama dan mengajaknya bertemu di Kafe Lana. Rama berjanji datang. Dan Rama memang datang.

Mereka mengobrol ngalor-ngidul. Haha-hihi cekikikan karena lelucon Lana yang hanya kadang-kadang saja lucu. Mungkin bagi Rama banyolan Lana itu sungguh lucu. Seperti halnya Lana bertanya mengapa gajah itu besar sekali, dan ia lantas menjawab kalau kecil sekali berarti semut, bukan gajah. Dan untuk itupun, Rama rela tertawa bersama Lana. Lana senang sekali sore itu. Rama juga mengaku senang. Rama kembali berjanji akan menemui Lana lagi.

Hari-hari berikutnya, hingga berminggu-minggu kemudian, lalu berbulan-bulan, Kafe Lana bukan lagi sekadar tempat ‘me-time’ yang berkualitas. Sejak kemunculan Rama, Kafe Lana juga menjadi tempat kencan yang istimewa.

Kita intip lagi, yuk, apa yang tengah dilakukan Lana saat ini. Tulisan apa yang Lana rangkai dalam kartu cantik itu? Kosong?! Lana tak jadi menuliskan sepatah kata apapun. Lana mendadak ‘speechless’. Lana kini membuka sebuah buku. Ia membacanya dengan serius. Lana lalu merasa lapar. Perutnya berorkestra. Ia memanggil pelayan dan memesan sepotong rainbow cake.

Kue pelangi. Menurut Lana, rasanya tak istimewa, tapi ia suka dengan warna-warninya. Seperti halnya kopi yang hitam pekat. Kopi itu adalah kehidupan. Kehidupan penuh dengan warna-warna. Dan ketika semua warna itu bercampur, hanya menghasilkan satu warna. Hitam! Jadi, kehidupan yang indah itu adalah kehidupan yang hitam. Ingat hitam, ingat kopi. Kopi itu kehidupan. Lagi, kuingatkan, tak usah bingung dengan logika Lana.

Lana menyantap habis kuenya. Ia memesan sepotong lagi. Langsung disantap hingga tandas tak bersisa. Perutnya yang lapar itu tak lain karena Lana tak sempat makan siang. Ia sibuk berputar dari toko ke toko mencari sesuatu yang istimewa. Dan tepat jam empat, ia mendapatkannya, kemudian bergegas ke Kafe Lana. Ya, mengambil tempat di pojok dekat jendela yang menghadap jalan raya.

Seharusnya ia tak meminum kopi sebelum mengisi lambungnya dengan sepotong dua potong kue. Perutnya jadi belingsatan. Lana mengepit perutnya. Sambil memandang ke luar menembus jendela, Lana meringis. Ia suka kopi, tapi tak suka sakit lambungnya kambuh karena kopi. Lana meminum air mineral dari botol minuman yang selalu siap sedia di dalam tasnya, berharap keroyokan di perutnya reda.

Jalan raya itu tak pernah lengang. Lana—masih meringis—memperhatikan lalu lalang kendaraan. Lana menyebutkan nama atau merek tiap kendaraan yang lewat. Mikrolet, bajaj, Avanza, Jazz, Innova, blablabla...blablabla... Selama beberapa menit, fokusnya tertuju pada kendaraan. Jelang bosan, rasa melilit di perut itu hilang. Entah kemana. Mungkin dibawa pergi oleh alam bawah sadar Lana. Lana bersorak. Cara ampuhnya menyembuhkan sakit adalah dengan sama sekali tak memikirkan rasa sakit itu. Barangkali begitu juga cara Lana menyembuhkan hati bila terluka.

Lana dirundung bosan. Ia salah pilih novel. Ceritanya begitu klise—sungguh buruk. Lana meletakkan novel itu hampir di tengah cerita. Ia membaca cerita itu dari awal dengan serius, berharap ia akan menemukan bagian menarik yang akan membuatnya lupa pada dunia. Lana ingin berteriak histeris seketika ia tahu novel itu tak memuaskan rasa penasarannya. Lana mengambil spidol berwarnanya. Ia menggoyang-goyangkan spidol itu seakan dari ekor spidol itu keluar huruf-huruf yang siap dirangkai.

Inspirasi itu bisa datang dari mana saja. Dari sebuah kejenuhan, Lana merasa mendapatkan ide untuk menuliskan sesuatu, entah apa. Lana pikir, dengan ia memegang spidol, setruman pada otaknya semakin kuat dan akan menghasilkan beberapa kata. Nyatanya? Lana kosong!

Apa yang kosong seharusnya diisi, dan apabila ia penuh seharusnya dituang. Lana telah mencoba mengisi dari tadi, sejak ia mendadak tanpa kata dalam kepala sesaat ia ingin mencoretkan kata. Ia terkenang pertemuannya dengan Rama pertama kali di Kafe Lana. Pertemuan demi pertemuan terjadi. Lana yakin dengan mengenang ia bisa mendapatkan ilham. Alhasil otaknya terekstase oleh manisnya kenangan itu. Ia malah tak mampu berfokus untuk mengolah kata-kata yang baik untuk dituliskan. Lana kemudian membaca. Lama kemudian makan. Lana kemudian memperhatikan jalan raya. Dan dalam tiap tegukan kopi pahit, Lana masih merasa apa-apa yang telah dilakukannya selama duduk di kafe ini sama sekali tak mampu mencetuskan beberapa kata indah dari kepalanya.

“Mungkin tak perlu pakai kartu cantik ini,” gumam Lana. Lana menyerah. Ya, ia menyimpan kembali kartu cantik dan spidol-spidol warnanya.

Aku sudah jabarkan rupa Lana, kan? Kalau kau mengira dengan rupa demikian Lana jarang dilirik laki-laki, kau salah! Banyak yang melirik Lana bila ia duduk sendirian. Tapi, hanya segelintir yang benar-benar tergerak untuk terang-terangan menunjukkan kekagumannya. Mungkin rasa kagum itu disebabkan oleh ketidakpedulian Lana pada orang-orang di sekitarnya. Lana selalu tampak asyik menikmati kesendirian. Tentunya itu adalah saat-saat di mana Kafe Lana menjadi tempat ‘me-time’ berkualitas Lana, bukan saat-saat di mana Kafe Lana menjadi tempat kencan Lana yang istimewa—ya dengan Rama.

Lana bila disapa oleh laki-laki yang tidak menarik hatinya hanya akan tersenyum. Tiap perkataan laki-laki itu hanya dibalas dengan senyuman hingga laki-laki itu merasa gagal untuk mendekati dirinya. Bila laki-laki itu menarik hatinya, ia akan mengeluarkan sedikit kata. Namun, tak membiarkannya berlama-lama mengobrol tak jelas. Kafe Lana telah menjadi persinggahan Lana di sore hari selama bertahun-tahun. Dan di antara tahun-tahun itu, ternyata hanya Rama yang boleh bertahan bersamanya hingga jam enam. Beberapa kali hingga Rama tak pernah datang lagi ke Kafe Lana. Namun, Lana tetap setia pada Kafe Lana, meski bertahun-tahun telah berlalu tanpa kehadiran Rama di sisinya.

Lana sebelum bertemu Rama adalah sosok yang ceria. Selama pertemuan dengan Rama, keceriaan itu makin cerah. Setelah tak ada lagi Rama, Lana tetap menjadi sosok yang ceria, tapi lebih kalem. Sungguh aku tak tahu apa yang telah terjadi pada Rama. Aku hanya sanggup bercerita dari apa yang kulihat sebatas Kafe Lana dan menebak-nebak isi hati dan pikiran Lana. Ya, terkadang dari curi dengar omongan Lana pada pelayan yang mengantarkan pesanannya. Dan yang membuatku cukup heran, walaupun Rama tak pernah lagi datang ke Kafe Lana menemuinya, Lana makin hari makin tampak bahagia. Seperti saat ini.

Mari kubawa lagi ke beberapa tahun silam. Aku masih ingat hari terakhir mereka bertemu. Rama bercerita tentang pekerjaannya. Aku tak menaruh perhatian pada omongannya. Palingan itu hanya bualan lelaki untuk perempuan. Aku hanya berkonsentrasi pada Lana. Lana meneteskan air mata. Buru-buru kusimpulkan mereka menyudahi hubungan mereka. Toh memang pada hari-hari berikutnya, Lana tak pernah bertemu lagi dengan Rama.

Kita kembali ke masa kini. Handphone Lana berdering. Lana segera menjawab panggilan itu. Tampak raut cemas pada wajahnya. Oh, tidak, setelah sekian tahun, air mata Lana kembali menetes di kafe ini. Obrolan di telepon itu tak lama. Lana segera membereskan barang-barangnya yang masih tergeletak di atas meja. Ia mengemasi isi tasnya. Lana beranjak pergi.

“Lana, ada apa?”

Dahi Lana mengerenyit, “bagaimana kamu tahu namaku?”

“Hmm.. Di bill pesanan, selalu ada namamu.” Jawaban tergugu keluar dari mulutku. “Lagian kamu pelanggan kafe ini. Hampir tiap pelayan di sini pasti tahu siapa kamu.”

“Ya, tapi aku jarang melihatmu. Kupikir kamu pelayan baru di sini.”

Aku mengangguk saja. Benar kan apa yang kubilang? Lana asyik dengan kesendiriannya hingga tak peduli ada beberapa mata yang memperhatikannya. Lana tak menyangka aku telah bekerja di Kafe ini bertahun-tahun—di Kafe Lana.

“Kamu sepertinya buru-buru. Aku sudah selesai bekerja. Aku bisa mengantarmu.”

Lana menggeleng.

Aku tak menyerah. Barangkali inilah kesempatanku setelah menunggu sekian tahun. Coba hitung! Satu, dua, tiga, empat... Ya, lima tahun sejak awal aku bertemu Lana di kafe itu. Aku tak pernah tahu apakah Lana itu masih kuliah atau sudah bekerja. Sudah saatnya aku mengetahui tentang Lana di luar Kafe Lana.

Aku yakin Lana memang harus buru-buru pergi, karena itu aku menawarkan diri untuk mengantarnya dengan motor. Dengan motor pasti lebih cepat sampai, apalagi kalau jalanan macet. Lana awalnya memang menolak. Itu wajar. Siapalah aku yang tiba-tiba muncul bak pahlawan kesiangan?

Dalam setengah jam, aku tiba di rumah sakit yang dituju Lana. Lana bergegas, aku tetap menyusulnya ke mana ia pergi—entah ia sadar atau tidak. Ia akhirnya masuk ke ruangan itu. Aku tahu diri untuk tidak ikut masuk. Siapalah aku, bukan? Beberapa lama aku bertahan di rumah sakit itu, berharap Lana tak lupa padaku dan segera menemuiku. Tapi apa daya, berjam-jam aku di sana, Lana tetap berada di dalam ruangan itu. Barangkali bukan saat ini kesempatan buatku.

Aku berjalan ke parkiran motor. Aku mengingat-ingat setiap kunjungan Lana ke kafe. Aku dari balik meja bar menyajikan minuman-minuman, selalu menyempatkan untuk melirik Lana. Lana yang selalu duduk di pojok dekat jendela yang menghadap jalan raya. Lana menikmati kopinya. Lana membaca. Lana memperhatikan jalan raya. Aku pun teringat saat-saat yang mencerahkan Lana tapi suram bagiku. Saat-saat di mana Lana bertemu dengan Rama. Lana yang sumringah dan tertawa terbahak mengisi obrolan mereka. Lana tampak bahagia.

Aku tahu tadi di kafe Lana sedikit tak tenang. Ia berkali-kali ingin menuliskan sesuatu di sebuah kartu cantik. Tapi, tidak berhasil. Namun, gurat bahagia itu terlukis di wajah manisnya. Jauh lebih bahagia daripada hari-hari pertemuan dengan Rama. Banyak hal yang telah kujelaskan padamu mengenai Lana. Bahkan hingga isi hati dan pikirannya. Kau boleh percaya boleh tidak. Tapi, kau perlu tahu, penjelasan itu berdasarkan pengamatanku bertahun-tahun. Ya, aku hanya menebak dan mengira. Dan yang sesungguhnya tahu siapa dan bagaimana Lana tentu saja adalah Lana sendiri. Kita memang hanya berasumsi tentang orang lain, bukan? Bahkan walaupun kita mengenal orang tersebut dan orang tersebut mengenal kita. Ah, sudahlah... Aku tak tahu apa yang terjadi pada Lana sekarang. Aku tak diberi kesempatan untuk mengamatinya. Mungkin aku hanya perlu berada di kafe—tempat yang pasti Lana hadir di suatu sore. Aku tak tahu kapan sore itu akan datang lagi.

Kita akan maju ke beberapa hari ke depan. Masa di mana Lana kembali ke kafe. Ia mengambil tempat duduk yang sama. Sebenarnya aku bukan pelayan. Aku adalah barista di kafe itu. Tapi rasanya aku ingin jadi pelayan yang segera menemui Lana dan menanyakan pesanannya. Aku sudah tahu. Kopi espresso seperti biasa. Dan beberapa camilan lain—itupun kadang-kadang.

Wajah Lana kembali ceria. Ia mengucir rambutnya seperti ekor kuda. Setelannya bernuansa pink. Tasnya pun berwarna pink. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Kartu cantik yang lalu. Spidol bermacam warna. Ia jauh lebih bersemangat. Sejenak ia memandangi jalan raya. Lalu lalang kendaraan tak pernah usai. Manusia terus bergerak dan berpindah. Lana mengangkat alis matanya. Ia tahu ia telah menemukan kata-kata.

Jemari Lana berdansa dengan spidol itu. Lantai dansanya adalah kartu cantik. Tak lama, Lana selesai menulis. Lalu ia mengeluarkan sebuah kotak bingkisan kecil dari dalam tasnya. Ia menata kotak dan kartu itu di atas mejanya. Lana kini tersenyum puas. Ia melirik jam tangannya. Aku melirik jam tanganku. Jam empat lewat beberapa menit. Aku tak tahu apa yang dilakukan Lana. Tiba-tiba saja aku malas menebak-nebak. Tiba-tiba saja aku ingin mengambil lagi kesempatan itu.

Kualihkan pekerjaanku pada asistenku. Aku keluar dari bilik pengintaianku. Berjalan pelan ke meja pojok dekat jendela yang menghadap jalan raya. Aku menyapanya.

“Hai, Lana.”

Lana sedikit terperanjat. Mungkin ia sedang mencoba-coba mengingat diriku. Lana kemudian tersenyum.

“Hai,” balasnya. “Dan aku belum sempat menanyakan namamu waktu itu.”

“Nggak apa-apa. Boleh aku duduk di sini?” Aku menunjuk kursi kosong di depan Lana.

“Tentu saja, jika tidak dilarang manejermu.” Aku tahu Lana sedang mencoba membuat lelucon.

“Tidak, aku mengenal baik manejer itu. Jika ia marah, aku akan balas memarahinya.” Aku pun mencoba membuat lelucon. Rasanya aku dan Lana sama-sama punya selera humor yang garing.

“Oh, ya, siapa namamu?” tanya Lana. “Maaf, aku tak sempat bilang terima kasih waktu itu.”

“Bisma.”

Kami bersalaman. Tangan Lana begitu halus. Pantas saja ia nyaman dengan lelaki bernama Rama itu. Aku perhatikan tangannya juga halus.

Beberapa saat aku dan Lana membisu. Akulah yang meminta izin duduk bersamanya, harusnya aku yang memulai obrolan.

“Apa aku mengganggumu?”

“Untuk saat ini tidak. Tenang saja, bila aku sudah merasa terganggu, aku akan memanggil manejermu dan memintanya untuk menyeretmu kembali bekerja.” Lana menunjukkan gigi-giginya yang putih.

“Kamu tak bosan berada di kafe ini?”

“Hmm, kenapa kamu menanyakan itu? Kamu ingin mengusir pelangganmu ini, ya?” Lana berkelakar lagi. Aku tertawa kecil.

“Tidak, tentu saja aku tak akan mengusir gadis manis dari kafe ini. Aku hanya ingin tahu, waktu lima tahun itu tidak lama, dan rasanya kafe-kafe yang lebih bagus dari ini makin bertebaran di mana-mana.”

“Lima tahun lalu, aku masih enam belas tahun. Aku sedang mencari jati diriku. Dan dalam pencarian itu aku butuh ketenangan. Di kafe ini, aku menemukannya.”

“Wow, penikmat kopi di usia belia!”

“Kuharap kopi tak membuatku mati muda!” Lana berkata dengan nada khawatir yang memancing tawaku.

“Dan dalam pencarian jati diri itu, kamu selalu tampak ceria. Amazing!

“Sudahlah, cerita diriku tak menarik.”

“Aku ingin tahu tentang Rama. Kenapa ia tak pernah datang lagi?”

Aku benar-benar nekat untuk menanyakan hal itu. Tapi aku sungguh-sungguh ingin tahu. Lana mengerutkan dahi dan bibir mungilnya. Barangkali ia kaget ada pelayan di kafe yang tahu tentang lak-laki yang pernah duduk bersama dengannya dalam beberapa masa.

“Bagaimana kamu tahu namanya Rama?”

“Aku mendengarmu memanggilnya Rama. Suaramu nyaring, Lana, sungguh!”

Lana pun kembali memasang tampang cerianya. Kali ini ia tampak jauh lebih bahagia daripada yang pernah kulihat. Aku bisa lihat bunga-bunga bermekaran di sekitar Lana—dalam imajinasiku.

“Empat tahun lalu, aku bertemu Rama di sini. Tak disengaja. Aku menyukainya. Dalam beberapa bulan, kami pun jadi sering bertemu di sini. Kafe ini jadi tempat kencan. Tapi... ya, tidak lama.” Lana sedikit merungut. Tapi segera ia kembali ceria.

“Kenapa?”

“Kamu kok pengen tahu aja, sih?” goda Lana. Tentu saja aku ingin tahu. Rasa suka Lana pada Rama mungkin hanya bisa dikalahkan oleh rasa sukaku padanya.

“Maaf, kalau selama kamu di sini, aku suka memperhatikanmu.” Aku berkata apa adanya. “Aku menyukaimu, Lana.”

“Ups, kamu terlambat! Kamu harusnya beraksi seperti Rama.” Lana tersenyum, manis sekali. Aku mengerti maksudnya. Mungkin sebaiknya aku kembali ke balik bar. Aku bangkit berdiri.

“Kamu mau balik kerja?” tanya Lana. Aku mengangguk.

“Aku boleh tanya satu hal lagi?” pintaku. Lana mengangguk. “Bingkisan dan kartu itu untuk apa? Sepertinya sudah kamu siapkan jauh hari.”

Lana menatap bingkisan dan kartu yang diikat tali pita di bingkisan itu. “Untuk Rama, hari ini ia ulangtahun.”

“Rama? Ia akan datang lagi ke kafe ini?”

“Ya.”

“Oh.. Ee, tapi siapa yang kamu temui mendadak di rumah sakit itu?”

“Ah, kamu masih pingin tahu aja, sih!” Lana memberiku senyuman manisnya. “Ayahku kena serangan jantung. Tapi, sudah baikan. Ayahku jadi ingin aku cepat-cepat menikah.”

“Oh.. Ya, dan aku tahu siapa lelaki yang kamu inginkan jadi pengantinmu nanti.”

Lana tertunduk malu. Untuk penantian bertahun-tahun, rasanya keinginan Lana itu wajar. Oh, ya, sudahlah...

*** 

©Vira Cla, 30092012

No comments:

Post a Comment