Sunday, October 7, 2012

Kisah Ranto



16:40 Waktu Jam Dinding Kamar Ranto

            Ranto duduk di atas kasurnya. Di sebelahnya ada sebuah meja kecil. Di atas meja itu, sebuah pigura memamerkan kemesraannya dengan Ranti. Ranto tersenyum kecil memandang gambaran itu. Tak lama lagi, pigura itu mesti disimpan dalam kotak kenangan. Keputusannya sudah bulat—walaupun akan sangat menyakitkan, bagi Ranti, juga bagi dirinya sendiri.
            “Aku sayang sama kamu, Ranti.” Ranto mengucapkan kalimat itu dari lubuk hati terdalam. Wajah kekasihnya tampak sendu. Kalimat itu bukan pertama kalinya ia dengar. Kalimat itu berulang terus. Kalimat yang mencoba menyakinkan Ranti untuk mau melangkah bersama. Kalimat yang diharapkan mempercepat waktu yang tepat bagi Ranti.
            “Aku tahu.” Ranti memelas. “Tapi, aku belum berani... Aku tahu bagaimana mereka.” Ranti mulai berkata dengan terisak. Di taman itu, tempat mereka pertama bertemu, untuk ke sekian kalinya Ranto menegarkan Ranti.
            Ada penyesalan yang bermukim dalam hati Ranto. Seandainya ia tak kelewat nekat mengajak Ranti berkenalan, Ranti tak akan terperangkap dalam hubungan diam-diam ini. Hubungan yang bila dibiarkan berlama-lama tanpa sepengetahuan orangtua Ranti hanya makin menyakitkan keduanya. Kadang, terbersit dalam benak Ranto, mungkin Ranti tak serius menjalin hubungan dengannya. Ranti barangkali hanya cewek nekat dari kalangan jetset yang sedang bermain api. Tapi, cepat ia hapus pikiran itu. Ia melihat sendiri bagaimana tersiksanya Ranti ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk bertemu lagi dengan orangtua Ranti dan berterusterang. Bagi Ranto, sama sekali tak ada kebaikan  dalam hubungan tanpa restu orangtua.
            “Hai, sendirian?” sapanya. Perempuan berambut dikuncir kuda itu tampak curiga melihatnya. “Aku cuma mau numpang duduk di sebelah kamu. Capek habis lari. Bangku yang menyisakan tempat kosong sepertinya bangku ini saja.”
            Perempuan itu mengangguk. Tak ada ekspresi apa-apa. Dalam keadaan tanpa gambaran emosi itu, perempuan itu malah menarik perhatiannya. Perempuan yang kulitnya bersinar. Perempuan dengan ukiran wajah yang nyaris sempurna—lekuk bibir penuh, hidung lurus mancung, mata almond, alis mata tebal, pipi tirus. Perempuan yang memancing keberaniannya sebagai lelaki untuk berkenalan. Perempuan yang dengan hati-hati dalam menjawab setiap pertanyaannya. Perempuan yang di kemudian hari menjadi kekasihnya.
            “Ranti?”
            “Iya. Kenapa?”
            “Aku Ranto.” Ranto melihat sendiri perempuan itu tersenyum dan itu menggetarkan hatinya.
            “Jadi?”
            “Jadi pacarku mau?” Perempuan itu tertawa. Ranto memang nekat.
            “Kita kenalan berapa detik yang lalu, ya?”
            “Hmm... aku nggak hitung. Singkatnya, sih, sepersekian menit yang lalu. Jadi?”
            “Jadi, aku mau pulang,” kata Ranti menohok Ranto. Ah, pasti aku sudah jadi cowok menyebalkan di mata perempuan cantik ini, pikir Ranto.
            “Rumah kamu di mana? Aku bisa nganterin kalau kamu mau.” Ranto merasa percaya diri, dan rasa itu makin meningkat saat Ranti tersenyum padanya.
            “Nggak perlu dianter, kok. Rumahku deket sini,” jawab Ranti ramah. Ia bangkit berdiri, disusul cepat oleh Ranto.
            “Oh, rumahmu dekat sini. Aku cuma bawa motor, kok, kamu bisa sampai rumah lebih cepat.” Ranto berkata apa adanya. Bila Ranti memang anak Menteng, ia tentu tak ragu untuk segera menyudahi obrolan mereka seketika tahu Ranto pengguna sepeda motor. Dan itu cukup sebagai pertanda, apakah ia terus bergerilya menaklukkan hati sang perempuan ataukah berhenti saat itu juga.
            “Kamu niatnya beneran olahraga atau sekalian ngelaba, sih?” Ranti bersikap heran.
            “Heh?” Sayangnya, tingkat kecerdasan Ranto mendadak turun drastis. Ah, pasti ini gara-gara cewek cantik, selalu begitu. Ranto beralasan.
            “Kamu olahraga pakai motor?” tanya Ranti sambil terus berjalan ke luar dari taman.
            “Ya, aku olahraga di sini. Lari keliling taman. Aku bawa motornya dari kosan ke sini.” Ranto menjawab sambil terus jalan di sebelah Ranti. Ia tak mau kehilangan kesempatan.
            “Oh, kamu ngekos?” Tak diduga Ranto, Ranti malah jadi banyak bertanya tentang dirinya. Ranto bersyukur akan ketampanannya yang memang tak jarang dimanfaatkannya untuk mendekati perempuan yang menarik hati.
            “Iya, aku ngekos di kawasan Salemba. Tiap minggu, aku memang suka lari pagi. Kadang aku ke Monas, kadang aku ke Senayan. Kadang aku ke sini, dan ketemu kamu, deh,” jawab Ranto antusias.
            “Aku belum pernah lari di Monas.”
            “Minggu depan mau?” tanya Ranto spontan. Ranti mengerutkan dahi. Ranto tak peduli. Ranto tahu ia telah jatuh hati pada Ranti. Bukan cinta. Mungkin namanya adalah ketertarikan pada pandangan pertama. Ranto juga yakin kalau Ranti mengalami hal yang sama. Kalau tidak, perempuan itu bisa saja langsung pulang dan tak menggubris lagi omongan Ranto si lelaki asing yang tak tahu diri.
            “Nggak ah,” jawab Ranti cepat. “Nggak boleh menerima tawaran orang asing!”
            “Orang asing banyak disambut, lho, di negara kita.”
            “Heh?”
            “Iya, mereka berinvestasi di sini. Mereka diterima aja walaupun mereka orang asing.” Mendengar ucapan Ranto, Ranti menepuk jidat. Ranto ketawa garing.
            “Ya, lalu kamu mau investasi apa emangnya?”
            “Investasi benih cinta di hati kamu, boleh?”
            Ranto kelewat nekat. Rasanya ia ingin lenyap dalam sekejap, malu sendiri dengan kata-katanya. Ranto merasa siap menerima tamparan Ranti. Tapi, tak disangka, tawa Ranti malah meledak.
            “Kamu siap nggak untung rugi berinvestasi di hati aku?”
            “Siap, nona!” balas Ranto sigap. Bak anak buah, ia mengangkat tangan hormat sambil berdiri tegap. Ranti tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Jalan setapak di taman telah sampai di ujung. Ranto ingin sekali memastikan kapan kiranya ia bisa bertemu lagi dengan putri cantik nan anggun itu.
“Minggu depan kamu olahraga lagi di sini?” tanya Ranto tak sungkan. Ranti mengangguk. “Baiklah, aku harap kita bisa bertemu lagi minggu depan.” Harapan Ranto dibalas dengan senyuman Ranti. Ranti melambaikan sebelah tangan. Ia lalu berlari.
Kenangan itu tak akan terlupakan. Ranto kembali memandang lekat-lekat wajah Ranti di dalam pigura. Pertemuan yang tak terduga itu telah mengantarnya pada perkenalan yang tak direncanakan. Perkenalan yang spontan itu telah mengantarnya pada sebuah hubungan percintaan yang mendalam. Dan tak pernah dibayangkan Ranto, hubungan mereka terkendala kerikil tajam yang tak bisa ia enyahkan dengan tangannya sendiri. Bukan. Bukan tak bisa. Tapi ia tak diizinkan. Ranti terlalu banyak pertimbangan untuk memberi jalan bagi Ranto untuk menerabas rintangan itu.
Ranti, kamu akan bisa melewati masa setelah ini. Kamu bisa menjalani hubungan denganku tanpa izin orangtuamu. Kamu pasti juga bisa menjalani hidupmu seperti biasa kembali, tanpa aku. Itu lebih baik bagimu daripada kamu tersiksa memendam perasaan. Buang jauh rasa itu, sayang. Buang semua harapan yang kita rapalkan bersama. Kita memang ditakdirkan bertemu di suatu waktu. Tapi, Tuhan punya rencana lain. Mungkin bukan aku jodohmu saat ini, entah nanti.
Aku percaya, kamu akan baik-baik saja.
***



16:45 Waktu Jam Dinding Kamar Ranto
           
            Sejak pertemuan terakhirnya dengan Ranti tiga minggu yang lalu, Ranto telah mempertimbangkan keputusannya. Pertemuan yang seharusnya bisa menjadi makan malam yang romantis itu berakhir dengan diam seribua bahasa di antara mereka. Pertemuan yang untuk ke sekian kalinya membuat Ranto merasa telah melanggar norma yang diyakininya. Ia tak mau melakukan penculikan lagi. Ranto ingin menjaga Ranti, tapi Ranti seperti tak mau ambil pusing mengenai itu. Ranti hanya ingin hubungan mereka baik-baik saja meski tanpa izin orangtua. “Ya Tuhan, bagaimana bisa?!”
Pertemuan itu akhirnya membuat Ranto tak tahan untuk terus menjalin hubungan di belakang orangtua Ranti. “Backstreet? Hari gini?!” pikir Ranto. Kadang Ranto bertanya-tanya, apa hanya karena ia pernah datang ke rumah Ranti dengan menggunakan sepeda motor, lantas orangtua Ranti langsung antipati padanya. “Betapa piciknya!” rutuk Ranto. “Kenapa anak dan orangtua bisa begitu bertolak belakang?!”Ranto ngedumel sendiri. “Aku tuh sayang kamu, Ranti, tapi aku percaya orangtuamu lebih sayang sama kamu.” Ranto bicara pada wujud Ranti di pigura.
Tiga minggu bagi Ranto sudah cukup untuk kembali memberanikan diri. Ia yang telah memulai, ia pula yang akan mengakhiri. Tak peduli bila ia dicap jahat, tak punya hati, kejam, atau apapun oleh Ranti. Bagaimanapun penilaian Ranti tentangnya setelah keputusan ini, Ranto akan menerimanya dengan lapang dada. Ya, tiga minggu adalah waktu yang cukup untuk menyiapkan hati seluas-luasnya.
Tiga minggu Ranto bertahan untuk menolak ajakan pertemuan Ranti. Tak lama setelah makan malam berujung diam seribu bahasa itu, Ranti menghubunginya. Ia mengaku rindu, tapi juga ingin bertemu untuk bicarakan hal penting. Ranto menolak, karena seperti Ranti, ia ingin menunggu waktu yang tepat. Bila ia menerima ajakan pertemuan itu, Ranto khawatir ia menjadi takut untuk memutuskan. Bila mereka bertemu di saat Ranto belum bersiap melepaskan, Ranto seketika goyah melihat tatapan mata Ranti yang mempesonanya, yang tanpa disadari telah menyihir Ranto untuk terus ingin bersama Ranti. Karena itu, entah dua entah tiga kali ajakan dari Ranti selalu ditolaknya dengan halus—diakali dengan berbagai alasan.
Kini, Ranto merasa telah siap. Ia rela menyimpan rasa cinta itu dalam hatinya sendiri, tak perlu lagi melibatkan hati Ranti. Ranto sendiri menyadari sebagai lelaki, ia tak mudah untuk melupakan cinta yang dirasakannya. Cinta sejati bagi lelaki hanya terjadi satu kali. Cinta sejati yang sampai maut pun tak mungkin terkikis. Dan bagi Ranto, cinta sejatinya adalah Ranti. Entah dengan Ranti. Ranto tak peduli. Bila Ranti juga merasakan hal yang sama, maka biarlah untuk sementara mereka berpisah.
“Ranti, kamu percaya kan kalau jodoh itu di tangan Tuhan? Bila kita memang belum bisa memperjuangkan hubungan kita, biarlah Tuhan yang mengaturnya untuk kita kelak—bila kita memang ditakdirkan berjodoh.” Kata-kata Ranto terdengar lirih. “Ah, it sounds bullshit!” Ranto merutuk sendiri.
Que sera sera, deh, nanti!” gumam Ranto. “Yang penting, gue sudah memutuskan hal ini dengan pertimbangan yang matang. Gue yakin kalau inilah keputusan terbaik yang bisa dipilih, untuk saat ini. Gue tahu Ranti nggak bakal bisa terima. Ranti mungkin akan menuntut kesabaran yang pernah gue janjikan ke dia. Sorry, Ranti, aku nggak bisa menepati janji itu.”
“Ya Tuhan, aku pun rasanya tak kuat untuk mengakhiri ini!” pekik Ranto. Kepalanya mengangguk-angguk. Kepalan kedua tangannya memukul-mukul dahi Ranto.
“Oi, Ran, ngapain lo di dalam kamar?! Lagi main sinetron?!” terdengar ejekan teman kosan Ranto. Ada tawa yang terdengar sayup. Ranto tak menggubris. Ia tak peduli mau dikata apa. Keputusan ini memang lebih menyakitkan daripada yang ia kira. Detik-detik terus bergulir mendekati waktu pertemuan yang disepakati bersama, tapi Ranto merasa makin butuh lebih banyak waktu untuk benar-benar mempersiapkan diri.
Keputusan itu memang telah bulat. Kalau Ranti memang butuh waktu yang tepat untuk mengakui hubungan mereka di depan orangtuanya, biarlah hubungan itu memang berjalan lagi di waktu yang tepat itu—waktu yang tepat menurut Ranti. Daripada berjalan dalam hubungan yang seperti itu, keputusan menyudahi hubungan adalah yang terbaik. “Ya, hubungan ini harus disudahi! Bakal menyakitkan, tapi harus dilakukan!”
Putus! Ranto sendiri merasa ngeri dengan kata satu itu. Ranti bukan pacar pertamanya. Di masa-masa sekolah dan kuliah, Ranto pernah menjalin hubungan dengan beberapa perempuan. Ketika hubungan itu sudah tak berjalan semestinya, ketika putus adalah jalan keluar, Ranto tak pernah memulai kata itu terlebih dahulu. Ia hanya tinggal menunggu sang perempuan yang memutuskan. Bagi Ranto, itu lebih baik—disakiti perempuan—daripada menyakiti hati perempuan. Putus itu menyakitkan walaupun keputusan itu yang diinginkan kedua belah pihak.
“Ranti, bukannya aku nggak cinta kamu, lalu mengambil keputusan sepihak ini. Justru aku sangat mencintaimu. Aku inginkan kamu berbahagia sepenuhnya. Tidak terlambat untuk itu, Ranti. Hubungan kita bisa dibilang masih berjalan singkat, belum cukup setahun. Dengan berjalannya waktu, kamu akan menyadari keputusan inilah yang terbaik. Jangan khawatir, Ranti. Kesedihanmu dan kesedihanku atas perpisahan ini akan disembuhkan oleh waktu.”
Ranto mengusap rupa Ranti di pigura. Waktu semakin sempit untuk bersiap diri. Ranto melihat jam dindingnya. Kali ini, ia ingin datang tepat waktu di taman itu. Taman yang menjadi saksi pertemuan-pertemuan mereka. Semakin cepat ia nyatakan keputusan itu, semakin baik. Dengan merentangkan waktu, Ranto sama saja membiarkan keraguan menyusup ke dalam hatinya. Keraguan yang berlandaskan cinta. Cinta memang gila. Semakin gila, cinta itu makin bergelora tak terpadamkan. Cinta yang gila itu mesti disingkirkan. Ranto hanya akan menjunjung cinta yang suci. Cinta yang memberi perlindungan, penjagaan, dan kebahagiaan. Cinta seperti itu hanya datang dari hati yang bersih. Ranto yakin dengan keputusannya ini, ia sedang membersihkan hatinya. Ia ingin, untuk Ranti, hanya memberikan cinta yang seperti itu.
Demi itu semua, Ranto harus menguatkan hatinya. Ia tak boleh larut dalam melankoli yang menghanyutkan. Putus memang kejadian yang biasa. Tapi, putus hubungan dengan perempuan yang telah menyematkan cinta sejati di hatinya, merupakan perkara yang tak biasa. Ia benar-benar harus mempersiapkan diri. Meneguhkan hati. Menyakinkan Ranti bahwa inilah keputusan terbaik bagi mereka berdua. Ranti harus bisa mempercayai keputusan Ranto. Ranto harus menyakinkan Ranti bahwa keputusannya bukan keputusan yang diputuskan dalam satu malam. Tiga minggu mungkin belum cukup bagi Ranto untuk mempersiapkan dirinya menghadapi hari ini. Tapi, tiap malam selama tiga minggu itu, sudah cukup bagi Ranto untuk memutuskan. Percintaan harus usai.
“Ranti, percayalah. Percintaan kita selesai sampai di sini. Tapi, benih cinta itu tidak pernah hilang dari dalam hatiku. Selamanya, cinta itu terus bertumbuh.” Ranto ketawa kecut. “Kalimat tadi biar gue simpan sendiri.”
***

16:50 Waktu Jam Dinding Kamar Ranto

            Ranto meletakkan kembali pigura itu di tempatnya semula. Tak jauh dari pigura, kunci sepeda motor Ranto terletak di sana. Ranto segera mengambilnya. Jam dinding di kamar menunjukkan waktu sepuluh menit menjelang pukul lima tepat. Ia belum bergerak bangkit dari kasurnya. Keputusan yang katanya sudah bulat itu masih merasa janggal di hatinya. “Ah, tentu saja, itu karena cinta.” Ranto menghela napas panjang.
            “Kenapa, sih, lo nggak bilang aja sama cewek lo?”
            “Bilang apa?”
            “Ya, bilang tentang lo apa adanya.”
            “Gue bilang apa adanya ke Ranti.”
            “Apa? Buat apa sih pakai sembunyiin identitas lo?”
            “Ranti tahu, kok, siapa gue sekarang! Gue Ranto. Hijrah dari Yogya ke Jakarta. Bekerja sebagai karyawan di perusahaan telekomunikasi yang kantornya di Sudirman sono. Gue bilang gue anak kosan. Ngekos di bilangan Salemba. Dulunya, gue kuliah di UGM. Jurusan ilmu komputer. Gue kasih tau Ranti kapan tanggal lahir gue.”
            “Iya, tapi lo nggak pernah bilang siapa lo sebenarnya.”
            “Ya, itu gue yang sebenarnya.”
            “Bilang, donk, lo turunan ningrat keraton!”
            “Haduh, buat apa, sih? Penting gitu?”
            “Penting! Bilang juga orangtua lo nggak kalah kaya daripada orangtuanya Ranti.”
            “Ah, gue nggak mau dinilai dari itu!”
            “Setidaknya lo nggak bakal dilarang untuk bertemu Ranti oleh orangtuanya. Setidaknya lo bakal diberi kesempatan oleh orangtua Ranti untuk menjalin hubungan dengan anaknya. “
            “Dengar, ya! Gue nggak mau orang lain menilai gue dari hal-hal materialistik seperti itu. Cukup sudah pengalaman gue dengan orangtua-orangtua yang hanya menghormati latar belakang gue tanpa acuh dengan siapa diri gue. Gue ini hanya anak laki-laki biasa, man! Laki-laki biasa yang akan berjuang dengan tangan sendiri untuk menjadi laki-laki luar biasa tanpa embel-embel yang sudah melekat pada diri gue sejak lahir.”
            “Lo bisa saja berprinsip begitu. Tapi, lo harusnya realistis, donk! Hari gini mana ada orangtua macam orangtua Ranti yang tidak menilai bibit, bebet, bobot! Hari gini hal-hal itu masih dianggap penting.”
            “Ah, omong kosong! Tidak semua orang di dunia ini matre!”
            “Iya, gue tahu. Masalahnya orangtua pacar lo itu matre. Bagaimana mungkin orangtua Ranti mau melepas anaknya bergaul dnegan lo yang cuma bawa sepeda motor ke rumahnya. Sepeda motor biasa pula. Sepeda motor sejuta umat! Ya, dikira lo dari kalangan menengah yang nggak bakal bisa disandingkan dengan Ranti si anak tajir itu!”
            “Setidaknya Ranti tidak seperti orangtuanya. Ranti mencintai gue dengan tulus apa adanya gue.”
            “C’mon! Lo nggak harus mempertimbangkan kata putus dalam menyikapi hubungan lo dengan Ranti. Coba lo bayangkan bagaiman mulusnya hubungan kalian dengan restu orangtua Ranti. Bayangkan bagaimana bahagia kalian berdua menjalin kasih tanpa keraguan sedikit pun akan tentangan orangtua Ranti. Lo nggak mau hidup bahagia?”
            “Ah, tahu apa sih lo tentang bahagia?!”
            “Susah ya ngomong sama kepala batu kayak lo!”
            “Sudahlah... Kalau gue dan Ranti memang ditakdirkan berjodoh, nanti juga bakal ada jalan, kok. Mungkin saat ini kami hanya dipertemukan untuk kemudian akan saling mencari lagi. Entah dengan cara seperti apa. Tapi, gue yakin dengan pilihan hidup gue.”
            “Pilihan hidup yang aneh! Jelas-jelas bisa hidup enak, malah pilih melarat!”
            “Siapa bilang gue melarat?!”
            “Itu melarat namanya kalau dengan status lo yang sebenarnya lo bisa mengambil hati orangtua Ranti, tapi lo malah nggak mengambil jalan itu.”
            “Jalan itu suram menurut gue.”
            “Halah, mulai berfilsafat lagi lo?! Terlalu banyak mikir juga nggak bagus buat kesehatan mental lo. Tanya sama hati lo, lo sungguh-sungguh mencintai Ranti atau tidak. Gue rasa kalau lo memang mencintai Ranti, lo bakal mengusahakan dan memperjuangkan hubungan kalian. Eh, lo malah milih putus.”
            “Masalahnya, Ranti nggak mengizinkan gue untuk berjuang! Gue malah sampai berpikiran buruk kalau Ranti nggak benar-benar mencintai dan menginginkan gue.”
            “Mungkin Ranti memang belum berani. Tapi, kenapa lo nggak nekat aja datangin orangtua Ranti. Seperti dulu lo nekat mengajak Ranti berkenalan. Seperti lo nekat mengajaknya jadian.”
            “Nggak penting dibahas! Keputusan gue bulat!”
            “Yakin? Apa sih yang lo dapat dengan menyembunyikan latar belakang keluarga lo?”
            “Yakin lo pengen tahu?”
            “Apa emang?”
            “Gue bisa mendapatkan cinta yang tak beralasan.”
            “Heh?”
            “Lo mana tahu apa arti cinta? Nafsu melulu yang diturutin! Dengan keadaan yang gue kondisikan seperti sekarang ini, gue menemukan cinta sejati itu, man! Cinta yang tak memerlukan “karena”... Cinta yang tumbuh hanya dengan merasakan. Apa lagi yang sempurna selain itu?”
            “Ya, berarti lo udah mendapatkannya, kan? Ya sudah, apa salahnya lo bawa orangtua lo dari Yogya lalu langsung melamar Ranti?”
            “Gue pun juga ingin cinta yang sejati dari orangtua Ranti. Ini hal yang prinsip buat gue. Lo nggak bakal mengerti. Hidup lo nafsu belaka.”
            “Huh! Mentang-mentang lo ya! Ya sudah, kalau memang itu yang menguatkan pendirian lo. Good luck, deh!”
            Lima menit telah berlalu dengan monolog terdalam yang berlangsung dalam diri Ranto. Pertempuran batin antara si hati hitam dan si hati putih. Ranto harus berjiwa besar. Keputusan itulah yang terbaik. Ia harus berpegang teguh pada prinsip hidupnya, walaupun harus mengorbankan perasaan cintanya. Sekali lagi Ranto menyakinkan dirinya tentang jodoh di tangan Tuhan. Bila ditakdirkan berjodoh, ia dan Ranti akan bertemu lagi di masa yang akan datang dengan cara yang tak terduga.
            “Ranti, dengan cara inilah kita berpisah. Aku berharap perpisahan ini hanya sementara. Tapi, aku pun tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Peluang untuk kita bersama lagi mungkin tidak lagi penuh seratus persen. Bisa jadi kamu bertemu dengan pria lain yang lebih kamu cintai. Bisa jadi kamu memang berjodoh dengannya. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa dengan perpisahan, aku telah membuka peluang untuk itu. Tidak apa-apa, Ranti, selama kamu bisa berbahagia dengan lelaki lain, aku tak berkuasa melarang. Kita berpisah jalan mulai saat ini. Bisa jadi kita bertemu lagi di persimpangan yang baru di masa depan. Kita tak pernah tahu. Kita hanya bisa berharap kita melalui jalan yang terbaik dari begitu banyak jalan yang terentang. Dan percayalah, Ranti, perpisahan ini juga jalan terbaik bagi kita. Percayalah, dari lubuk hati terdalam, aku tak ingin kamu menderita. Perpisahan ini hanya akan membuat kita sedih sesaat. Itu wajar. Toh, di tiap hela napas, kita selalu memanjatkan harapan yang terbaik. Kita pasti bisa melalui ini.”
            “Ah, sudahlah! Pokoknya bagaimanapun kata-kata yang keluar dari mulut gue, keputusan itu harus dinyatakan! Putus! Titik!”
            Ranto meraih kunci motornya. Lekas, ia meninggalkan kamar.
***


©Vira Cla, 07102012

PS: Nantikan sambungannya dengan "Kisah Ranti"

No comments:

Post a Comment