Wednesday, October 10, 2012

Kisah Ranti



16:45 Waktu Arloji Ranti

            Di sebuah bangku di Taman Menteng, Ranti yang duduk dengan tenang melihat ke arah lapangan futsal. Ada beberapa balita duduk di kereta, didorong oleh pengasuh mereka. Di bawah rindang pohon yang menaunginya, Ranti masih harus mengipas dirinya dengan kipas lipat dari Jepang. Hawa Jakarta masih sangat panas sore hari itu. Ranti melirik jam tangannya. Lima belas menit lagi ia akan bertemu dengan Ranto. Itu juga kalau Ranto masih bisa menetapi janji. Ranto, Ranto, gumam Ranti sambil geleng kepala.
            “Lucu, ya, nama kita mirip!” ucap Ranto. “Kok bisa ya kebetulan gitu nama depan kita sama?”
“Nggak ada yang kebetulan. Mungkin ini yang disebut takdir. Kita ditakdirkan bertemu. Dan aku berharap semoga kita juga ditakdirkan berjodoh.” Ranti berkata malu—ada semu merah jambu di pipinya. Segera Ranto mengaminkan.
“Aku Ranto, kamu Ranti. Nanti anak kita diberi nama Ranran.” Ranto mengusulkan, matanya telah menerawang jauh. Ranti tersenyum manis, matanya mengerling.
            “Ranran? Berlari-lari?” gumam Ranti.
            “Hah? Gimana?” balas Ranto cepat—awan khayalan di atas kepalanya lenyap sekejap.
            “Iya, kalau namanya Ranran berarti anak kita nanti suka berlari-lari,” jelas Ranti.
            “Eh? Maksudnya?” Ranto menyengir.
            “Huh!” Ranti mendelik. “Lari bahasa inggrisnya apa?” tanya Ranti.
            “Run,” jawab Ranto tepat. “Oh... Jadi, Ranran itu maksudnya berlari-lari?!” Ranto lantas ketawa. “Kayak kamu gitu, ya? Suka berlari?!” goda Ranto, tak lupa jemarinya mengusap lembut pipi Ranti.
            Ranti mengerutkan bibirnya, “Sama seperti aku?”
            “Iya, kamu kan suka berlari. Apalagi berlari dari masalah.”
            Ranti mendengus, “Ih, ngejek!” Ranto makin keras ketawanya. Ranti pun memukul-mukul lengan Ranto. Tampang Ranti cemberut.
            “Nggak, sayang,” ucap Ranto menenangkan. Tawanya mereda. Tangan Ranti kini dalam genggamannya. “Aku bercanda,” sambung Ranto.
            “Aku bukannya lari dari masalah,” tukas Ranti. Ia tertunduk.
            “Iya, aku tahu. Kita cuma tunggu waktu yang tepat.”
            “Bukan kita. Cuma aku. Aku yang menunggu waktu yang tepat.”
            “Iya, dan aku menunggu kamu hingga waktu yang tepat itu. Jadi, kita sama-sama menunggu, sayang,” kata Ranto.
            “Kamu tetap bersabar, kan?” Ranti merajuk.
            “Iya, aku sabar, kok,” balas Ranto. “Kita jalani saja dulu, masalah nanti biar nanti kita pikirkan solusinya.”
            Ranti menghela napas lega. Ia sandarkan kepalanya miring ke bahu Ranto. Di sebuah bangku di Taman Menteng, mereka duduk berdampingan, menyaksikan detik-detik bola menuju gawang lawan.
            “Gooolll,” teriak Ranto. Anak-anak di lapangan futsal berlari-lari riang. Anak-anak  dari tim yang kebobolan tampak berdecak kesal.
            “Nggak mikir apa ini ada kuping sensitif dekat mulut kamu!” tegur Ranti. Ia mendongakkan kepalanya menatap Ranto setajam mata elang. Ranto menahan tawa.
            “Kadang kamu ngambekan, kadang juga galak, ya!”
            “Terus kenapa?” Mata Ranti melotot-lotot. Tawa Ranto pun lepas. “Apanya yang lucu? Nggak suka sama sifat aku yang begitu? Ya sudah!”
            “Waduh, cepat amat ganti channel-nya! Aku tadi belum puas, lho, lihatin acara galak kamu,” kata Ranto dengan mimik serius. Ranti memukul-mukul Ranto lagi.
            “Kamu kira aku TV?!” Ranti ngedumel. Lekas Ranto mendekap Ranti.
            “Puk, puk, puk!” ucap Ranto. Ranti mengulum senyum.
            Ranti mengulum senyum kembali, mengingat sebuah momen berdua dengan Ranto di taman yang sama dengan tempat ia saat ini. Di taman inilah mereka bertemu untuk pertama kali—ketika matahari masih beranjak naik pelan-pelan di ufuk timur. Rumah Ranti tak jauh dari taman itu. Setiap Minggu pagi, ia selalu menyempatkan diri jogging mengelilingi jalan sekitar rumah, lalu beristirahat sejenak di taman untuk kemudian lari lagi sampai pulang ke rumah. Ranti duduk bersandar di bangku taman. Ia baru saja berlari setengah jam. Kemudian lelaki berwajah persegi itu menghampirinya, mengajak berkenalan. Dan demikianlah hingga akhirnya mereka sering bertemu setiap Minggu pagi sembari tanpa disadari benih-benih rasa yang damai di hati bermekaran pada keduanya. “Rasa itu tak salah, tak akan pernah salah.” Ranti menggumam.
            Minggu sore ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir Ranti dengan Ranto kekasihnya. Ranti berharap Ranto tak melupakan janjinya untuk datang. Beberapa minggu terakhir, mereka memang jarang bertemu. Pernah dua tiga kali Ranti mengajak pergi ke suatu tempat, mereka mengatur janji temu, tapi mendadak Ranto mengabari tak bisa datang. Padahal Ranti sudah mendesak harus bertemu, ada hal yang ingin dibicarakan dengan serius dan mesti tatap muka. Dan demi pertemuan itu, Ranti telah menyiapkan diri agar tegar. Dan kali ini, Ranti yakin Ranto benar-benar akan menetapi janji. Ranti sengaja datang lebih awal daripada jadwal yang telah mereka sepakati. Lima belas menit lagi, bila Ranto bisa tepat waktu, mereka akan bertemu.
Tiga minggu telah berlalu sejak pertemuan terakhir sebelumnya. Saat itu bukan di taman ini. Mereka makan malam di dining court sebuah mall di bilangan Semanggi. Pertemuan ketiga pada malam hari, tentu saja ketika orangtua Ranti tidak berada di rumah. Anak gadis semata wayang pasti dilarang pergi kencan dengan  pemuda yang hanya bersepeda motor, apalagi pada malam hari.
“Sampai kapan kita begini terus?” tanya Ranto. Sendok di atas piringnya berdenting-denting ia mainkan.
“Begini apa?” Ranti balas bertanya. Ia menyesap jus jeruk.
“Pergi kencan tanpa izin orangtua kamu.”
“Kamu juga nggak izin sama orangtua kamu,” kata Ranti.
“Kok jadi nyama-nyamain?” Ranto sedang tak bercanda. “Aku kan nggak tinggal serumah sama orangtuaku.”
“Orangtuaku juga lagi nggak ada di rumah, sayang!” tukas Ranti mendayu.
“Iya, aku tahu. Kamu memang sengaja menunggu waktu orangtuamu lagi nggak ada di rumah.”
“Kenapa dibikin ribet, sih?” Ranti mulai kesal. “Itu urusanku sama orangtuaku.”
“Ya, jadi urusanku juga, donk, kamu sendiri sekarang jalannya sama aku. Kalau kamu ada apa-apa, yang disalahin aku. Aku nggak bisa begini. Aku mau bertanggungjawab, tapi bukan begini caranya, Ranti.” Ranto meletakkan sendoknya dengan kasar.
“Bisa santai aja nggak, sih?”
“Nggak bisa kalau begini terus!”
“Ya, lantas kamu maunya gimana?”
“Aku nggak mau menculik kamu lagi!” jawab Ranto tegas. Kedua tangannya diangkat dan jari-jari telunjuk dan jari-jari tengah berdiri membentuk tanda kutip.
“Aku nggak merasa diculik. Aku yang mau pergi sama kamu.”
“Iya, tanpa izin orangtua kamu.”
Seketika mereka terdiam. Ranti tahu Ranto lelaki jantan. Ranto menginginkan yang terbaik bagi Ranti. Ranti hanya tidak tahu bagaimana caranya menyakinkan orangtuanya untuk percaya pada Ranto. Ranto bukan seperti yang mereka pikirkan. Ranti tak habis pikir kenapa orangtuanya menganggap Ranto bukan yang terbaik bagi dirinya. Bukankah yang menjalani hubungan itu Ranti sendiri. Ranti bisa merasakan. Ranti bisa melihat. Ranti sadar dan yakin memang Ranto lelaki yang ia inginkan jadi kekasihnya. Hanya Ranto.
***

16:50 Waktu Arloji Ranti

            Ranti merasa bimbang. “Apakah ini sungguh-sungguh keputusan terbaik yang kuambil?” tanya hati Ranti. Tiga minggu sejak pertemuan terakhir yang lalu, pada malam hari itu, telah mencetuskan sebuah pilihan bagi Ranti. Ranto telah mengungkapkan maunya. Ranti tahu Ranto bersikeras untuk itu. Makan malam yang jadi hambar diakhiri tanpa banyak bicara.
            Ranti tak menyangka orangtuanya telah ada di rumah. Seharusnya mereka baru kembali dari Sydney lusa nanti. Kejutan yang sama sekali tak menyenangkan. Ibu Ranti yang sangat keras terhadap Ranti langsung memberi teguran.
            “Ranti, I’ve told you! Jangan berhubungan lagi sama begundal itu!”Ibu Ranti menatap lekat-lekat mata anaknya.
            “Dia punya nama, Mom! His name’s Ranto! Dan Ranto bukan begundal!” balas Ranti dengan suara lantang.
            “Ranti, I’ve just come back from Sydney. I met Aldo. He missed you.” Ibu Ranti melunakkan suaranya, berharap Ranti mau mendengarnya—tetap menjadi anak mami yang penurut.
            “Biarin aja sama Aldo. Ranti nggak ada urusan sama dia.”
            Entah dengan sihir apa, seketika Ibu Ranti bisa membangun obrolan santai dengan anaknya yang kadang memang suka melawan. Ia membuang nama Ranto jauh-jauh malam itu. Ia ingin Ranti berfokus pada ceritanya mengenai Aldo. Sahabat masa kecil Ranti yang sejak sekolah menengah pindah ke Sydney. Mereka dahulu bertetangga. Dengan berjalannya waktu dan kesibukan masing-masing, hubungan mereka tak lagi seakrab biasanya. Ranti tahu Aldo masih di Sydney. Ranti kadang tahu apa yang terjadi dengan Aldo di negeri itu—lewat media maya. Mereka masih bertukar kabar walau tak begitu sering. Dan, ya sudah, demikian saja sampai ketika ibunya berkata Aldo merindukannya. “Yang benar saja!” batin Ranti. “Palingan itu taktik Mami aja,” pikirnya.
            Namun, tak lama, pada malam itu juga sesaat Ranti akan tidur, ponsel Ranti berbunyi singkat. Sebuah email masuk. Ranti segera membuka dan membacanya. Sebuah nama yang tak asing, sebuah nama yang baru saja dibicarakan. Aldo mengirimnya pesan lewat email.
            “Hai, Ranti. Apa kabar? Kok nggak ikut Mami Papi sih ke Sydney? Kan kita bisa sekalian temu kangen! Hehehe... Eh, bener, lho, gue kangen nih pengen jitakin lo! Hahaha... Ayo, kita main lagi! Ke Sydney, donk, Ranti! Lanjutin kuliah di sini aja! Oke?!”
            Ranti tertegun membaca isi email dari Aldo. Lantas ia tersenyum kecut.
            “Gue udah kuliah di sini, Do!” gumam Ranti. Lalu ia tertidur lelap—kelelahan.
            Ranti mengingat malam itu sejelas melihat pandangan di depan mata.  Sejak malam itu, Ranti memikirkan hubungannya dengan Ranto yang telah berjalan beberapa bulan. Bukan waktu yang singkat. Waktu yang cukup lama untuk menyemai benih-benih ketertarikan lalu memanen cinta. Bahkan ketika Ranto datang ke rumahnya untuk dikenalkan pada orangtua. Bahkan ketika pertemuan itu mengawali ketegasan orangtua Ranti untuk segera memutuskan hubungan. Bahkan walau saat itu Ranti hanya bilang bahwa mereka berteman saja—bukan sepasang merpati yang menjalin kasih.
            “Ranto, kamu bukan seorang pengecut. Akulah yang pengecut. Aku tak mampu—merasa tak mampu untuk memperjuangkan hubungan kita. Aku tahu kamu mencintaiku dengan tulus. Aku merasakannya. Tapi, aku tak mengerti dengan penilaian orangtuaku. Mereka hanya melihatmu sepintas lalu. Mereka bahkan tak ingin mengenalmu, tak bertanya banyak perihal dirimu dan keluargamu seperti halnya mereka selalu berinteraksi dengan teman-temanku lainnya. Apakah karena kamu datang dengan mengendarai sepeda motor itu? Kendaraan yang kamu rawat baik menjadi pengantarmu ke mana pun. Ke kantormu di jalan Sudirman. Bahkan hingga ke kota kelahiranmu, Yogyakarta. Ya, aku ingat kisahmu. Kamu touring bersama teman-teman sekampung halaman—touring mudik, merayakan lebaran bersama keluargamu di sana. Ketika mereka yang di dalam kendaraan roda empat mesti bersabar dalam kemacetan, kamu dan teman-temanmu sedikitnya bisa melaju lebih cepat. Oh, ya, dengan sepeda motor itu juga, kamu memboncengku. Aku tak takut, kataku padamu yang meledekku saat pertama itu—pertama naik motor. Aku juga tak malu. Berboncengan di belakangmu menghembuskan angin kebebasan. Aku merasa leluasa, lepas, bebas. Kuangkat kedua tanganku, merentang angin. Terasa dingin, segera aku memelukmu dari belakang. Ternyata sensasinya berbeda dengan pelukan yang saling berhadapan. Aku merasa aku memilikimu. Dari belakang telingamu, kubisikkan kata-kata yang mungkin tak akan kamu lupakan. Aku mencintaimu.”
            Ranti tak sanggup membendung deraian air matanya. Ekawicara yang ia lakukan telah melukai hatinya sendiri. Ranti menimbang-nimbang apakah ia mampu menghadapi Ranto nanti—tak lama lagi, tinggal hitungan menit. Ranti masih mencintai lelaki itu. Lelaki yang dipertemukan oleh Tuhan di taman ini.
            “Tuhan, jika kami memang berjodoh, aku yakin kami akan bersatu—bagaimanapun caranya.”
            Ranti bukannya tak ingin berusaha. Tapi, ia tahu orangtuanya sangat keras. Ranti tak akan bisa melunakkan hati orangtuanya—terutama Mami—untuk bisa menerima Ranto dan mau mengenalnya lebih dalam. Begitu banyak alasan yang diucapkan ibunya demi menentang hubungan mereka. Ranti tidak akan sanggup melawan lebih jauh. Ranti masih kuliah, masih bergantung penuh pada orangtuanya. Ranti juga tak ingin main belakang terus—seperti yang diinginkan Ranto. Lagipula, Ranti tak ingin mengecewakan Ranto. Ranto selalu meminta Ranti untuk berkata jujur saja pada orangtuanya bahwa mereka serius menjalin kasih. “Aku bukan sekadar teman kamu, Ranti!”
            Kalimat itu yang selalu disembunyikan Ranti dari orangtuanya. Kalimat itu pula yang dijanjikan Ranti untuk mengungkapkannya terang-terangan di depan orangtuanya. Janji yang entah kapan ia tepati. Pengakuan bahwa ia berpacaran dengan Ranto sama saja dengan mengundang ultimatum orangtuanya yang lebih keras lagi. Pengakuan itu bisa saja mengantarnya pergi jauh dari Ranto. Dan sebelum itu terjadi, Ranti mau tak mau, suka tak suka, harus memilih—mengakhiri dengan caranya sendiri atau diakhiri oleh tangan orangtuanya.
            “Ranto, tiga minggu ini aku menunggu dalam ragu. Keputusan yang kuambil justru membuatku ingin mati saja. Lantas aku berpikir lagi. Mungkin memang begini jalannya. Sementara kita tak bersama. Mungkin suatu saat nanti, kita akan dipertemukan lagi. Pikiran positif itu mengenyahkan ketakutanku—takut tak bisa hidup tanpamu. Aku mungkin akan menyakitimu, Ranto. Tapi, percayalah, dalam dadaku masih ada hati yang mencintaimu dengan sungguh. Aku akan bersabar, seperti dirimu yang pernah berjanji untuk bersabar menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan hubungan kita di depan orangtuaku. Waktu yang tepat untuk kita bisa pergi kencan tanpa aku takut ketahuan oleh orangtuaku. Waktu yang tepat untuk kamu mengaku pada orangtuaku bahwa kamu sungguh-sungguh mencintai anak gadis mereka. Waktu yang tepat itu kini makin menjauh, Ranto. Dan itu karena aku—keputusan yang akan kuutarakan padamu beberapa menit lagi.”
            Ranti melirik jam tangannya. Jarum panjang bertengger di angka sebelas.
***

16:55 Waktu Arloji Ranti
           
            “Semoga kamu datang tepat waktu, Ranto!” ucap Ranti lirih. Ranti tampak gelisah. Ia tak ingin menunggu lebih lama lagi. Menunggu membuatnya semakin tegang, tidak tenang. Sengaja Ranti datang lebih awal. Selain memang rumahnya tak jauh dari taman, Ranti sejujurnya telah sangat merindukan Ranto. Ia ingin segera memandang wajah kekasih yang ia kagumi. Profil tegas wajahnya semakin terlihat jantan dengan bekas cukuran di dagu yang kelabu. Bintik-bintik yang menggelikan ketika ia mencium Ranti. Kecupan Ranto pun Ranti rindukan—di dahinya, di pipinya, di bibirnya. Kecupan yang singkat. Kecupan yang ingin juga ia rasakan nanti. Tapi, Ranti tak tahu apakah akan ada kecupan perpisahan dari Ranto.
Ranti mengetuk-ngetukkan telunjuknya di sandaran tangan. Ketika menunggu, waktu terasa lama berlalu, padahal ia sudah sangat rindu. Rindu itu telah menjalar menancapkan cengkeraman akarnya ke dalam palung hati terdalam. Ia ingin Ranto segera datang. Tapi, percuma saja berharap Ranto datang lebih cepat. Untuk datang tepat waktu mungkin butuh usaha yang sungguh-sungguh dari Ranto. “Ranto, aku kangen kamu!” gumam Ranti.
Tiga minggu memang telah berlalu tanpa sekalipun pertemuan. Obrolan di telepon atau pesan singkat hanya berlangsung sesekali dan itu singkat saja. Tak ada pembicaraan mengenai hubungan mereka. Ranti juga tak ingin mengungkit perihal itu tanpa bicara langsung empat mata dengan Ranto. Baginya, pertemuan langsung itu penting, apalagi membicarakan keputusannya yang sepihak. Ranti ingin menatap mata Ranto. Ia ingin melihat langsung reaksi Ranto. Dan bagaimanapun reaksi Ranto nanti, Ranti sudah mewanti dirinya sendiri bahwa keputusannya tidak akan goyah.
            Di bangku yang tak jauh dari tempat Ranti, ia melihat sepasang sejoli yang mengobrol dengan suara sayup-sayup yang didengar Ranti. Di antara obrolan itu terselip tawa-tawa kecil. Ranti melihatnya dengan haru, seakan menyaksikan momen-momen yang dilaluinya bersama Ranto di taman ini di Minggu pagi. Terlintas di benak Ranti bahwa momen seperti itu mungkin tak akan terjadi lagi. Lekas Ranti menghapus tetesan air matanya yang baru turun. Ia tak ingin terlihat lemah, setidaknya di depan Ranto. Ia harus bisa menyakinkan Ranto, keputusannya sudah bulat.
            “Ranto, aku minta maaf. Bukan seperti ini yang aku mau, tapi inilah yang harus kulakukan. Aku telah memikirkannya matang. Tiga minggu kita tak bertemu. Aku tak tahu apakah ini disengaja, entah oleh kamu, entah oleh aku sendiri. Well, mungkin memang begitu baiknya. Jeda itu memberiku waktu cukup untuk memikirkan pilihan yang kuambil ini. Barangkali bukan waktu yang cukup untuk sebuah pilihan yang terbaik. Tapi, ya... Aku sudah memutuskan.”
            Ranti tampak tak peduli dengan lirikan orang-orang di taman padanya. Ia memang sedang berbicara. Sendirian. Apalagi yang mereka kira selain Ranti seorang gadis gila? Bagi Ranti, cinta memang telah membuatnya gila. Cinta yang tergila-gila pada Ranto. Kegilaan yang menghanyutkan. Senyum pertama Ranto yang begitu menggoda. Ajakan kenalan Ranto yang tak kuasa ia tolak. Pertemuan selanjutnya yang direncanakan. Jogging bareng yang mereka janjikan. Istirahat bersama di taman. Obrolan-obrolan konyol dan banyol ala Ranto. Botol minuman untuk berdua. Kencan pertama dengan berkendara sepeda motor. Ciuman pertama di depan gerbang rumah. Kencan diam-diam. Semuanya telah Ranti lakukan tanpa pernah sebelumnya ia bayangkan momen-momen itu bisa terjadi dalam dunianya yang mentereng. Dan semua itu karena rasa sukanya pada Ranto. Karena cinta. Cinta yang membuatnya nekat keluar dari zona nyamannya. Gila! Dan Ranti menyenangi menjadi gila. Namun, kini ia sedang mengusahakan penyembuhan kegilaannya itu.
            “Aku telah meminta Mami untuk memindahkan kuliahku ke University of New South Wales. Ya, aku tidak akan berada di Jakarta lagi untuk beberapa lama. Aku akan pindah ke Sydney. Mencoba menjalani hidup baru di sana. Tanpa kamu, Ranto.”
            Ranti terdiam. Sekelabat bayangan ibunya yang sumringah bahagia melintas di benaknya. Ranti tak percaya ibunya bisa berbahagia di atas lara yang dideranya.
            “Mami memang tak tahu keinginanku itu sebagai pelarian dari kamu, Ranto. Kurasa Mami memang tak perlu tahu alasan sebenarnya. Tapi, mungkin Mami sudah menduga. Ya, akhirnya aku lari, Ranto. Lari dari masalah. Kamu benar, Ranto, mengenai aku yang memang memilih untuk lari.” Ranti mengerutkan dahi. “Hmm, aku rasa aku tak perlu menyampaikan hal itu padanya.” Ranti mengangkat bahu.
            Ranti mulai tampak tenang. Detik-detik menjelang waktu pertemuan ia habiskan dengan  memperhatikan suasana di taman. Mungkin ini juga terakhir kalinya ia akan mengunjungi taman itu. Taman yang bukan lagi sekadar area terbuka umum. Taman yang telah menjelma tempat kenangan. Kenangan yang untuk berapa lama harus ia singkirkan jauh-jauh. Ranti hanya tak ingin menambah luka.
            “Ranto, kamu sakit hati? Jangan khawatir, Ranto. Time will heal. Aku pun sakit dengan keputusanku ini. Tapi, aku harap kamu mengerti,” batin Ranti dengan khidmat. Ia menunduk. Matanya terpejam. Ia membayangkan Ranto. Sekali lagi Ranti menyakinkan dirinya. Mau tak mau, suka tak suka, dan siap tak siap, Ranti harus melakukannya. Keputusannya tidak diputuskan dalam satu malam. Sekali lagi Ranti menenangkan dirinya. Inilah keputusan yang mungkin bukan yang terbaik buat dirinya atau Ranto, tapi keputusan inilah yang layak Ranti ambil. “Oh, Ranto...” ucap Ranti lirih. Matanya semakin ia pejamkan rapat. Berharap apa yang menimpanya hanya mimpi adalah percuma—bahkan untuk sedikit mengurangi ketegangan dan kesedihannya.
            Ranti membuka matanya. Ia bernapas panjang seakan melakukan yoga. Ia meneguhkan hatinya supaya kuat, supaya ia tak terlihat lemah di mata Ranto. Supaya Ranto tak ragu menerima keputusan itu. Supaya Ranto yakin ia akan baik-baik saja setelah perpisahan itu terucap. Supaya Ranto dengan tenang bisa melanjutkan hidup tanpa dirinya. “Ranto, maafkan aku...”
 Hampir lima belas menit berlalu. Ranti menatap lekat jam tangannya. Degup kencang di dadanya terasa hingga ke kepala. Perasaan yang mengisyaratkan Ranto pasti datang tepat waktu. Entah ia harus lega, entah ia mesti sengsara. Semakin dekat waktu pertemuan itu tiba, semakin dekat pula ucapan perpisahan itu dinyatakan. Jantung Ranti berdebar tak keruan.
Sepuluh. Sembilan. Delapan. Tujuh. Enam. Lima. Empat. Tiga. Dua. Satu. Hitung mundur yang diucapkan Ranti dalam hati. Ranti bangkit dari tempat duduknya. Sambil berdiri, ia melihat berkeliling sekitar taman, mencari sosok tinggi tegap milik Ranto. Dari balik rumah kaca, Ranto berjalan menuju tempat Ranti menanti. Jarak yang cukup jauh, namun mata mereka bersitatap—entah untuk berapa lama. Ranti tak sanggup lagi menahan sesak di dada. Ranti mencoba kuat, tapi lihatlah... Ranto sejengkal jarak dengannya. Dan mata tak mampu berdusta. Mata itu mengalirkan tanda rindu, serta perpisahan yang sendu.  
***

©Vira Cla, 07102012

No comments:

Post a Comment