Wednesday, October 17, 2012

Pesawat Kertas

“Ayah, lihat pesawat kertasku!” seru Elang bangga sambil memamerkan hasil kerajinan yang baru ia buat dengan susah payah. Bocah hitam manis itu baru mempelajari cara membuat pesawat dari kertas lipat di Taman Kanak-kanak. Abdi, sang ayah yang baru pulang dari banting tulang seharian, menyambut pekikan anaknya dengan pelukan hangat. Ia melihat pesawat kertas itu dengan seksama, kemudian tak kalah bangga ia berseru, “Hebat!”

“Elang akan buat pesawat kertas yang banyak, Yah!” kata Elang dengan suara kecil tanpa dosa.

“Bagus, tapi buat apa bikinnya banyak?” tanya Abdi yang kini memangku Elang.

“Hmm...buat apa, ya?” Elang memainkan matanya, kadang mendelik, kadang menyipit, seakan ingin memberi tahu ia sedang berpikir.

“Elang berlatih bikin pesawat kertasnya aja dulu. Ya? Biar makin bagus,” kata Abdi, tak ingin Elang larut dalam pencarian jawaban.


Elang beranjak dari pangkuan ayahnya dan kembali ke pojok ruang bertikar tempat ia bermain tadi. Elang mengangkat pesawat kertasnya tinggi-tinggi sambil berlari. Elang menerbangkan pesawatnya.

Senyum yang terukir di wajah Abdi pelan-pelan sirna. Ia menyandarkan punggungnya di sofa yang per-pernya telah mencuat di beberapa tempat. Seharian berdiri di pabrik—menjadi buruh perakit sepatu—tak pelak membuat tubuhnya butuh istirahat. Namun, rasa letih itu bagai terangkat ketika mendengar dan menyaksikan keseruan Elang bermain dengan pesawatnya. Abdi bangkit dari tempat duduknya. Tangan kurusnya merangkul Elang.

“Sini, coba Ayah bikin satu pesawat yang paliiing bagus buat Elang!” kata Abdi antusias.

“Kertasnya nggak ada lagi, Yah,” kata Elang dengan raut sedih. Abdi tercekat. Buru-buru ia tersenyum dan tampak bahagia kembali.

“Besok sepulang kerja, Ayah bawakan kertas yang banyak buat Elang.” Abdi menyemangati. Dalam hati ia berjanji sungguh-sungguh. Ia tak akan melupakan janjinya.

Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan suka cita. Pesawat kertas diterbangkan oleh tangan mungil Elang. Dan tubuh Elang diterbangkan oleh tangan-tangan kurus ayahnya. Abdi berlari dan berputar dalam ruang tamu yang seadanya. Muka tirus berminyak dan berkeringat, serta otot-otot kakinya yang pegal, sama sekali tak digubris Abdi. Baginya, pekik tawa yang berderai dari mulut Elang adalah pelipur segala lara.

Demi kebahagiaan anak, apapun akan dilakukan ayah.
***

Sunday, October 14, 2012

Pengakuan



“Kak, we’ll miss you!”
“Jangan lupa sama kita-kita, ya, Kak!”
“Kak, aku sedih, beneran!”
“Sini, berpelukaaan!!!”
Ranto mendengar suara-suara nyaring itu dari kejauhan, dari balik tiang koridor. Ia sendiri telah cukup lama kehilangan suaranya sendiri. Barangkali bukan hilang, tapi disembunyikan—oleh dirinya sendiri. Dan kini ia ingin mencoba lagi, menyuarakan isi hatinya.
“Ranti,” sapanya. Ranti mendongak. Ia baru saja memisahkan diri dari sekumpulan gadis belia berseragam SMA di depan ruang latihan.
“Hai, kamu sudah datang. Kita ke kantin saja.” Ranti membalas, kaku.
“Kantin sekolah ini?”
“Iya, kenapa?”
“Kupikir kita perlu tempat yang sedikit lebih tenang.”
Ranti terus berjalan menyusuri koridor panjang dengan taman berbunga di kedua sisinya. “Jam segini kantin sudah sepi, kok. Kegiatan ekskul hari Sabtu ini sudah banyak yang selesai. Palingan sejam lagi kantin bakal ramai sama anak-anak jurnalistik. Tadi aku lihat mereka masih rapat.”
“Hmm.. Tadinya aku mau ngajak kamu makan di luar.”
“Nggak perlu, di sini aja. Aku nggak bisa lama, sopirku nungguin.”
“Oke.”
Ujung koridor yang mereka lalui berakhir di pintu masuk kantin. Ranto dan Ranti mengambil tempat di meja pojok sebelah jendela. Mereka duduk berhadapan.
“Kamu mau makan apa?” tanya Ranto.
“Aku nggak makan. Kamu aja yang pesan.”
“Kalau begitu aku juga nggak.” Ranto mengerutkan bibirnya. “Kamu tampak terburu-buru. Nggak begitu suka dengan pertemuan ini.”
“Sudahlah, nggak usah dibahas. Katanya kamu mau ngomong penting. Apa? Bukan tentang kenapa aku begini, kan?”
“Sedikitnya ada hubungannya dengan kamu yang begini.”
“Mood-ku nggak enak sekarang. Aku baru saja pamitan dengan adik-adikku. Aku nggak ingin nambah beban perasaan lagi. Bukan salah kamu. Tapi, aku sendiri yang nggak kuat.” Ranti menghela napas panjang. Matanya memandang jauh. “Ekskul paduan suara sekolah ini adalah jiwaku selama SMA. Tiga tahun aku berlatih di sini. Sampai akhirnya lulus, aku pun masih berjibaku ingin terus membesarkannya. Aku turut melatih adik-adik yang baru masuk ekskul ini. Apa saja event yang diikuti, aku juga ikut sibuk mempersiapkan mereka. Suka duka hampir lima tahun itu sungguh berharga buatku. Rasanya aku belum siap untuk berpisah dari mereka.”
“Ya, aku melihat merah di matamu. Sisa tangisan. Kamu sedih meninggalkan mereka. Meninggalkan duniamu. Kamu sebenarnya nggak mau. Tapi, terpaksa. Harus melakukannya demi...”
“Demi apa, Ranto?”
“Kamu sendiri tahu jawabannya.”
“Kamu sebenarnya mau ngomongin apa?”
“Tentang kita, Ranti.”
“Ada apa dengan kita?”
“Jangan pura-pura nggak ngerti. Kamu lari, Ranti.”
“Tanpa kamu ingatkan, aku tahu itu. Dari dulu kamu memang selalu anggap aku lari dari masalah. Terserah, Ranto. Aku nggak peduli.”
“Jadi, hubungan kita gimana?”
“Aku juga nggak tahu gimana.”
“Tiga minggu lalu, kamu mengajakku ketemu di taman. Katamu, ada hal penting yang kamu omongin. Tapi, kamu diam, nggak ngomong apa-apa.”
“Apa kamu nggak bisa menyadari arti bisuku itu?”
“Kamu menyambutku dengan tangisan. Kamu memelukku seakan tak ingin melepasnya lagi.”
“Aku kangen kamu.”
“Iya, aku tahu. Tapi bukan itu yang sebenarnya ingin kamu bilang ke aku.”
“Aku sudah bilang yang sebenarnya lewat SMS malam setelah pertemuan itu. Aku hanya nggak berani bilang langsung ke kamu.”
“Bukan itu tujuan sebenarnya kamu ingin bertemu denganku di taman. Ranti, aku bisa merasakannya. Merasakan kamu. Pesanmu yang mengabari kamu akan pindah kuliah ke Sydney itu hanya kedok.”
Ranti menggeleng. Ia menggigit bibirnya. “Jadi, apa yang kamu rasakan, To?”
“Kamu ingin menyudahi hubungan kita.” Jawaban Ranto seketika membuat mata Ranti berkaca-kaca.
“Aku memintamu datang ke taman memang untuk itu. Namun, saat itu lidahku kelu. Tapi, aku juga merasakan hal yang sama darimu. Kamu bersedia datang karena ingin menyudahi hubungan kita.”
“Ya, dan sama seperti kamu. Aku hanya diam membisu.” Ranto meraih tangan Ranti yang tergeletak di atas meja. Tangan mereka bergenggaman. “Ranti, cara kamu menemuiku waktu itu adalah pertanda. Dengan cara itu kamu telah memberi tahu aku, kamu ingin putus. Aku menunggumu mengucapkan kata itu. Tapi, lama kita duduk bersisian di bangku taman, kamu tetap diam. Aku tahu pasti berat buat kamu menyatakannya. Aku tahu, karena itu aku bersabar. Menunggu kamu. Padahal...”
“Padahal pada saat yang sama, kamu juga ingin bilang kalau kamu mau putus.”
“Dan, bagaimanapun aku menyiapkan diriku untuk keputusan itu, setelah bertemu kamu, aku nggak bisa.”
“Lalu, hari ini kamu ingin bertemu denganku di sini karena kamu sudah siap dan sudah bisa?” selidik Ranti. Ia menajamkan tatapannya.
“Nggak, Ranti. Aku justru ingin memperjelas hubungan kita. Sejak terakhir kita bertemu, kita nggak pernah membicarakan kelanjutan hubungan kita. Sore di taman itu hanya seperti temu kangen setelah tiga minggu tak bertemu. Temu kangen yang menyembunyikan niat yang sebenarnya. Tapi, entahlah... Barangkali, kita sebenarnya memang sudah sangat saling merindukan hingga lupa pada niat lain bahwa kita ingin saling menyudahi. Niat itu tiba-tiba terkubur begitu saja oleh ketidakmampuan kita untuk mengungkapkannya. Sebelum bertemu, aku merasa sudah sangat siap untuk menyampaikan keputusanku. Mungkin kamu juga, sudah siap mau putusin aku tapi tiba-tiba suara itu tak keluar.”
“Gara-gara cinta, Ranto,” sela Ranti pilu.
“Ya, gara-gara cinta juga aku ke sini menemui kamu.”
“Cinta itu ternyata butuh tiga minggu untuk menyakinkanmu supaya menemuiku.” Ranti tergelak kecut.
“Yah, nggak mudah buatku untuk segera mengajakmu bertemu lagi. Aku harus memikirkan bagaimana supaya orangtuamu nggak tahu kita bertemu.”
“Tidak perlu menyindirku, To!”
“Kamu yang duluan sinis, sayang!”
“Nggak usah panggil sayang!”
“Kenapa?”
“Menurutmu kenapa?!” Ranti nyaris saja berteriak.
“Aku belum sekalipun bilang putus. Kamu juga belum sekalipun bilang putus. De jure kita belum putus. De facto entahlah. Kamu terakhir SMS aku bilang kamu mau pindah ke Sydney. Sejak itu kamu nggak pernah menghubungiku lagi. Aku setelah menerima SMS itu juga nggak pernah menghubungimu lagi. Kalau menurutmu hubungan kita telah selesai saat itu, mungkin itu hanya keputusan sepihak dari kamu. Aku sendiri, walaupun nggak memberi kabar, terus mikirin kamu, mikirin hubungan kita. Menurutmu kenapa aku begitu? Aku nggak bisa, benar-benar nggak bisa buat putus. Aku masih sayang sama kamu. Aku mencintaimu, Ranti. Dan kepindahanmu ke Sydney itu memancing kegelisahanku. Aku harus menemui kamu lagi. Aku harus membicarakan tentang kita. Bagaimana dengan kita, Ranti?”
“Seharusnya dengan keputusanku pindah dari kota ini, jauh dari kamu, membuat hubungan kita semakin jelas. Kita nggak perlu berhubungan lagi!”
“Semudah itu?”
“Nggak mudah, Ranto! Nggak pernah mudah buatku!”
“Dan yang mudah itu adalah pacaran backstreet?”
“Berhentilah menyinggungku!”
“Ranti, jadi kamu sungguh-sungguh mau kita udahan?” Suara Ranto terdengar lirih.
Ranti terisak, “Aku nggak mau, tapi aku harus.”
“Kalau kamu memang mau kita putus, kamu nggak mesti pindah ke Sydney, kan? Gimana dengan kuliah kamu yang sudah setengah jalan? Kamu juga jadi mengorbankan dunia yang kamu cintai di sekolah ini. Kalau kamu ingin melupakan aku, aku bisa melakukannya untukmu. Aku nggak akan menghubungimu lagi. Aku akan menghilang dari kehidupan kamu.”
Ranti menggenggam kuat jemari Ranto. “Kamu tahu... aku nggak mau.”
“Aku juga nggak mau, sayang...”
“Malam setelah kita makan malam terakhir, Mami cerita tentang Aldo, sahabatku waktu kecil. Tetanggaku juga dulu sebelum dia pindah ke Sydney. Aku merasa Mami ingin menjodohkanku dengannya. Mengingat hubungan kita yang nggak bakal diterima Mami, kupikir Aldo bisa kujadikan alat. Alat buat ngelupain kamu.”
“Ranti.. Ranti.. kamu bahkan belum mencoba untuk memberi tahu ibumu tentang hubungan kita yang telah melangkah serius. Dan kamu telah mengira dengan pasti Mami nggak bakal terima hubungan kita. Kamu belum mencoba!”
“Aku tidak mencoba karena untuk berteman denganmu saja Mami sudah melarang! Bagaimana dengan pacaran? Menginjak keseriusan pula!”
Take me to your mother!”
“Buat apa?”
“Aku yang akan bilang ke Mami kamu. Aku akan cerita tentang hubungan kita! Aku akan nyatakan di depan Mami—aku mencintaimu. Aku nggak main-main sama kamu.”
“Sudah nggak perlu, To! Aku udah bilang ke Mami tentang keputusanku pindah ke Sydney. Mami membolehkan. Mami malah mendukungku.”
“Terang saja mendukung, biar kita berjauhan. Ya, benar, biar kamu ngelupain aku! Karena ada Aldo di sana!”
“Aku nggak mau Mami murka sama aku, Ranto!”
“Ibu macam apa yang nggak menggubris kebahagiaanmu, yang hanya memikirkan martabat keluarga yang jatuh karena pemuda miskin kayak aku!”
“Jangan mengatai ibuku, Ranto!”
Mereka terdiam. Mata yang saling menatap itu tak mampu menyembunyikan kasih.
“Maafkan aku, Ranti,” ucap Ranto, mencairkan beku. “Aku menemuimu ingin memperjelas hubungan kita. Bahwa aku serius sama kamu. Tak ada yang lebih kuinginkan selain bisa bersama kamu.”
“Dan kamu tahu sendiri bagaimana keluargaku. Aku memutuskan hal ini dengan berat hati, To. Aku merasa ini keputusan terbaik yang kuambil. Dengan kita berpisah, kita akan memberi kesempatan diri masing-masing untuk menempuh jalan yang lain. Jalan yang mungkin di sana kita menemukan orang lain. Orang lain yang lebih baik. Kalaupun nggak ada, dan ujung-ujungnya kita bertemu lagi di jalan yang sama, setidaknya kita sudah mencoba. Dan kita pun membuktikan kalau takdir telah memutuskan. Nggak bakal ada lagi keraguan.”
“Dengan mengorbankan kebahagiaanmu saat ini?”
“Entahlah...”
“Maksudmu?”
“Aku bahkan nggak yakin apa aku bahagia dengan hubungan kita yang seperti ini.”
“Bukankah kamu mencintaiku?”
“Ya, aku mencintaimu.”
“Kamu mencintaiku tapi kamu tidak berbahagia?”
“Aku berbahagia hanya bila bersamamu. Kamu tahu ketidakbahagiaanku...”
“Karena ketidakberanianmu.”
“Ya, Ranto, aku memang pengecut!”
“Beri aku kesempatan, Ranti...”
“Kesempatan apa?”
“Kesempatan untuk bertemu orangtuamu. Biarkan aku menghadap mereka. Dengan hormat.”
“Mereka hanya akan memandangmu sebelah mata.”
“Walaupun aku datang dengan kedua orangtuaku?”
“Hah?”
“Aku akan melamarmu. Aku akan meminta orangtuamu supaya kita bertunangan.”
“Serius kamu?”
“Ya, aku serius!”
“Demi menghormati orangtuamu, Ranto, jangan pernah coba-coba nekat berurusan sama orangtuaku. Mereka nggak mungkin bisa mengabulkan permintaanmu. Pertama, mereka nggak respek sama kamu. Kedua, mereka pasti menganggapku gadis kecil mereka, belum saatnya untuk serius bertunangan.”
“Kamu belum tahu tapi sudah menyimpulkan.”
“Karena aku tahu bagaimana orangtuaku.”
“Tapi, kamu nggak tahu bagaimana orangtuaku. Kamu juga belum tahu aku.”
“Apa maksudmu?”
Ranto menghela napas panjang. Sejenak ia tak yakin. Sejenak kemudian ia yakin—membuka jati dirinya yang sebenarnya.
“Ranto, apa maksudmu aku belum tahu kamu?” Ranti mendesak.
“Aku sederajat denganmu,” jawab Ranto singkat. Ranti mengerutkan dahi. Ranto melepas jemari Ranti. Tangannya mengusap pipi kekasihnya. “Percayalah, Ranti, beri aku kesempatan untuk datang ke rumah menemui Mami, Papi, bahkan sampai pembantu-pembantumu. Aku akan mengaku pada mereka semua.”
“Tolong, aku nggak ngerti. Bisa kamu jelaskan?”
“Ranti, coba ingat, apa pernah kamu bertanya siapa keluargaku?”
“Keluargamu di Yogya.”
“Bukan di mana, tapi siapa.”
“Maksudmu?”
“Selama ini kita memang nggak banyak ngomong tentang keluarga kita masing-masing. Kita nggak memikirkan hal itu. Kita asyik dengan obrolan tentang kita dan apa-apa saja yang menyenangkan hati kita, sampai-sampai topik tentang orangtua terlupa begitu saja atau mungkin dilupakan dengan sengaja.”
To the point saja, Ranto, aku nggak bisa lama-lama di sini.”
“Daritadi aku udah to the point, sayang... Aku udah bilang, aku sederajat denganmu. Dengan pengakuan bahwa orangtuaku nggak lebih miskin dari orangtuamu, aku berharap orangtuamu akan menerima aku.”
“Tapi...”
“Tapi apa? Kamu nggak percaya? Karena aku cuma mengendarai motor bebek bukan mobil sport? Karena aku cuma ngekos bukan tinggal di apartemen?”
“Kamu nggak perlu bersandiwara demi restu ibuku.”
“Aku serius. Selama ini aku hanya tidak membuka semuanya. Aku hanya bercerita yang penting saja sama kamu.”
“Dan aku nggak ngerti kenapa kamu mesti menutup-nutupi. Jadi, selama ini kamu membiarkan aku percaya bahwa kamu pemuda biasa yang merantau ke ibukota?”
“Aku tetap pemuda biasa. Aku memang hanya seorang Ranto. Seorang karyawan. Seorang perantau.”
“Tapi...”
“Aku nggak menganggap perlu latar belakangku saat berkenalan denganmu. Aku hanya ingin dikenal seperti ini. Apa itu salah? Dan ketika perempuan yang kucintai tidak bisa menerima keadaanku yang begini, apa salah juga bila aku beri tahu jati diri keluargaku hanya supaya orangtuanya mau menerimaku?”
“Kamu sudah bohong, Ranto...”
“Bohong? Aku hanya tidak memberi tahu. Kamu juga nggak bertanya.”
“Kamu menutup-nutupi siapa diri kamu sesungguhnya!”
“Jadi, statusku anak siapa itu penting buatmu sekarang?” Suara Ranto kencang, memancing perhatian petugas-petugas kantin.
“Sudahlah...”
“Apa yang sudah?”
“Nggak ada lagi yang perlu diomongin! Kamu sudah membohongiku. Kamu tidak terus terang padaku. Hubungan macam apa yang bisa kuandalkan kalau berdasarkan semu?”
“Aku hanya tidak memberi tahu. Aku tidak bermaksud berbohong. Kalau menurutmu aku menutup-nutupi, karena aku memang ingin dikenal seperti ini adanya. Aku ingin dicintai karena diriku sendiri, bukan embel-embel di belakangnya. Ya, begitu, kalau kamu ingin tahu alasanku seperti ini!”
“Lantas kenapa sekarang?”
“Kamu masih bertanya kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena aku terdesak! Oleh orangtuamu yang mengagungkan bibit, bebet, bobot seseorang. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku harus memikirkan cara supaya kamu bertahan. Supaya kita tetap bersama. Nggak perlu kata putus. Nggak perlu menyudahi hubungan. Nggak perlu kamu ke Sydney. Nggak perlu kamu pamitan sama adik-adik paduan suaramu. Nggak perlu kita membahas tentang hubungan kita. Karena intinya, aku mencintaimu. Aku nggak mau kamu pergi. Aku nggak mau kamu meninggalkanku. Begitu pun aku. Aku nggak mau pergi dari kamu. Aku nggak mau meninggalkanmu. Kita saling mencintai. Sudah sepantasnya kita tetap bersama. Kita bertahan dalam hubungan ini. Kita perjuangkan, Ranti...”
“Kamu seakan sedang menghadapi musuh sehingga terdesak mengeluarkan amunisi terakhirmu. Aku bukan musuhmu. Orangtuaku juga bukan musuhmu.”
“Bukan itu maksudku.”
“Kalau kamu memang ingin dikenal seperti begitu kamu adanya, semestinya kamu bertahan dengan prinsipmu itu. Apa yang ditutup kenapa mesti dibuka lagi? Toh, kamu bisa mencari perempuan lain yang orangtuanya bisa menerima kamu begitu adanya.”
“Aku pun sebelumnya berharap demikian, tetap menutupi jati diriku sampai orangtuamu benar-benar menerimaku yang begini adanya. Demi itu, aku menyiapkan diri untuk mau putus dari kamu. Beberapa minggu aku memikirkan hal ini. Sampai tiga minggu yang lalu kita bertemu tapi aku bisanya membisu. Lalu berminggu-minggu lagi hingga kini, akhirnya, aku ingin tetap bersamamu.”
“Sampai-sampai melepas amunisi terakhir... Ternyata rasa takut kehilanganmu telah menggerogoti prinsip hidupmu sendiri. Entah itu bagus atau ya, entahlah... Aku nggak tahu. Aku nggak ngerti.”
“Aku tahu dan aku ngerti kalau cinta itu nggak bisa sekadar dirasain doank! Cinta mesti diperjuangkan. Bullshit dengan cinta tak saling memiliki!”
“Aku mencintaimu, Ranto. Dan aku nggak memilikimu. Kamu hanya milik kamu sendiri. Aku pun milik aku sendiri. Kamu nggak akan memiliki aku.”
“Tapi, kamu mau kita bersama, kan?”
“Ya, aku mau. Dan aku sudah tahu pilihan mana yang harus kuambil untuk bisa menyakinkan keputusanku.”
“Ranti...”
“Ranto, sebaiknya kita nggak melanjutkan hubungan ini.”
“Putus? Kamu ingin kita putus?”
Ranti mengangguk. “Aku salut dengan pilihanmu dikenal sebagai dirimu sendiri. Di saat orang-orang mengidamkan punya orangtua kaya, bisa dibelikan ini itu, bisa bermewah-mewah, kamu berbeda... memilih jalan yang kamu usahakan sendiri. Aku menghargai juga pilihanmu yang akhirnya membuka jati diri yang sebenarnya supaya orangtuaku menerimamu. Tapi...”
“Tapi, hal itu hanya membuatmu meragukanku.”
“Aku nggak tahu apakah ragu kosakata yang cocok dengan apa yang kupikirkan dan kurasakan sekarang.”
“Ranti, aku pikir dengan pengakuanku akan memudahkan perjalanan kita. Aku tadinya berharap dengan pengakuanku kamu nggak akan sedih lagi memikirkan ketidaksetujuan orangtuamu. Kamu akan girang karena akhirnya menemukan solusi untuk masalah kita. Aku nggak sangka kamu bakal merasa dibohongi. Aku minta maaf, Ranti...”
“Sudahlah...”
“Apa kamu yakin putus adalah solusi terbaik?”
“Well, mungkin bukan solusi. Tapi... Jalan keluar. Kamu benar, kamu telah menemukan solusi untuk masalah kita. Masalah kita memang cuma satu itu, ganjalan orangtuaku karena tidak menerima kamu dan motor bebekmu. Solusi yang terbaik memang satu itu, kamu mengakui siapa diri kamu. Tapi, bukan solusi seperti ini yang kuharapkan. Kalau kenyataan yang terjadi berbeda dari apa yang kuharapkan, sama saja dengan memunculkan masalah. Lagi.”
“Bukankah kita hidup memang untu terus memecahkan masalah? Lantas apa salahnya masalah muncul lagi? Lagi? Dan lagi?”
“Mungkin kamu nggak mengerti gimana perasaanku sekarang. Aku tahu kamu tidak berbohong, tapi dalam diriku aku merasa telah dibohongi.”
“Itu karena gambaran aku yang begini adanya telah melekat di memori kamu. Ketika gambaran itu tak sesuai dengan kenyataan, kamu merasa tertipu. Merasa dibohongi. Ini salahku. Untuk itu aku minta maaf, Ranti...”
“Baiklah, aku memaafkanmu.”
“Dan kita bisa melanjutkan hubungan kita?”
“Mungkin aku butuh waktu untuk menjawab itu. Tapi...”
“Tapi...?”
“Entahlah, tiba-tiba dorongan untuk putus itu meningkat. Mungkin...”
“Karena kamu telah memutuskan untuk pindah ke Sydney?”
“Mungkin.”
“Apa kamu nggak bisa membatalkan rencanamu itu?”
“Nggak bisa. Aku udah bikin surat undur diri dari kampus. Aku lagi menyiapkan berkas-berkas mendaftar kampus baru.”
“Bukankah itu hal sepele yang bisa diatur dengan cepat?”
“Bisa, sih...”
“Lantas?”
“Kamu serius nggak mau kita putus?”
“Serius, sayang!”
“Kalau aku tetap ke Sydney gimana?”
“Aku akan menyusulmu ke sana?”
“Bagaimana bisa? Kamu kan kerja di sini!”
“Aku resign. Lalu ambil kuliah S2 di sana.”
“Hmm... pacaran backstreet lagi di Sydney?”
“Nggaklah! Aku bakal bilang sama orangtuamu, minta izin memacari anak gadisnya yang manis.”
“Yakin?”
“Yakin! Apalagi ada siapa tadi? Hmm... Aldo! Kalau aku biarin kamu di sana sama Aldo, nanti kamu ngelupain aku.”
“Mungkin itu yang terbaik.”
“Kamu mau ngelupain aku?”
“Nggak mau, tapi bisa saja terjadi.”
“Oh, Ranti... Ayolah, jadi kamu maunya hubungan kita gimana?”
“Bukankah kita sudah omongin dari tadi? Dan aku sudah ngomong gimana-gimananya... Kamu masih belum mengerti gimana hubungan kita?”
“Kita belum sampai pada keputusan final. Daritadi kita bicara seakan-akan, berandai-andai... Ucapan apa yang bisa kupegang?”
“Ranto, aku harus pulang.”
“Tunggu. Kita belum selesai.”
“Kita sudah selesai.”
“Hubungan kita?”
“Iya, itu. Hubungan kita selesai.”
“Kamu serius?”
“Kamu nggak mendengar omonganku dari tadi ya?”
“Oh, please...”
“Ranto, kamu percaya kan jodoh itu di tangan Tuhan?! Jodoh itu sudah ada yang mengatur. Aku percaya bila kita memang ditakdirkan berjodoh, walaupun kita dipisahkan jarak berjuta kilometer, kita akan dipertemukan lagi. Entah di mana, tapi pasti bertemu kalau memang berjodoh. Aku mencintaimu, masih... Ya, walau sekarang agak sakit merasa dibohongi. Tapi aku memaklumi itu. Itu nggak jadi masalah berarti buatku. Toh, aku masih mencintaimu. Bila ingin menuruti nafsu, aku nggak bakal memilih putus. Apalagi tahu siapa keluargamu. Hanya saja, sebelum pertemuan ini, aku telah memikirkannya masak-masak. Sebesar apapun rasa cinta ini, ia harus diuji. Dan kupikir cara mengujinya yang paling tepat adalah dengan memberi jarak. Apakah dengan jarak cinta itu tetap menyala dibakar rindu atau malah padam diguyur lupa? Berikan cinta ini kesempatan untuk diuji, Ranto. Biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah. Bisa jadi untuk selamanya, tapi tak bisa dipungkiri bisa juga hanya sementara. Seperti yang kubilang tadi, dengan berpisah jalan, kita sedang memberi tempat pada takdir untuk memutuskan. Aku percaya... Jodoh nggak bakal kemana.”
Ranto tertunduk. Ia pasrah pada nasib. Ranti, dalam hatinya sendiri, menorehkan luka. Tak ada orang yang saling mencintai yang ingin berpisah.
“Ranto, aku pamit, ya.”
Ranto menegarkan dirinya. Sangkaannya akan Ranti yang perlu dukungan justru menjadi yang lebih kuat daripada dirinya. Ranto, di pertemuan ini, menatap Ranti lekat.
“Ya, Ranti... Cinta kita perlu diuji. Dan aku percaya cinta ini yang akan kekal dalam hatiku. Aku akan menunggumu. Selamat jalan, Ranti. Kuharap kamu berbahagia di sana.”
“Terima kasih, Ranto.” Ranti bangkit dari kursinya. Ranto mengikuti. Ranti mendekati Ranto, lalu mendekapnya. Pelukan perpisahan. “Terima kasih untuk segala-galanya. Selamat tinggal!”
Dekapan itu merenggang. Dan jarak pun mulai bekerja.


©Vira Cla, 14102012

Baca juga cerita sebelumnya: Kisah Ranto dan Kisah Ranti

Wednesday, October 10, 2012

Kisah Ranti



16:45 Waktu Arloji Ranti

            Di sebuah bangku di Taman Menteng, Ranti yang duduk dengan tenang melihat ke arah lapangan futsal. Ada beberapa balita duduk di kereta, didorong oleh pengasuh mereka. Di bawah rindang pohon yang menaunginya, Ranti masih harus mengipas dirinya dengan kipas lipat dari Jepang. Hawa Jakarta masih sangat panas sore hari itu. Ranti melirik jam tangannya. Lima belas menit lagi ia akan bertemu dengan Ranto. Itu juga kalau Ranto masih bisa menetapi janji. Ranto, Ranto, gumam Ranti sambil geleng kepala.
            “Lucu, ya, nama kita mirip!” ucap Ranto. “Kok bisa ya kebetulan gitu nama depan kita sama?”
“Nggak ada yang kebetulan. Mungkin ini yang disebut takdir. Kita ditakdirkan bertemu. Dan aku berharap semoga kita juga ditakdirkan berjodoh.” Ranti berkata malu—ada semu merah jambu di pipinya. Segera Ranto mengaminkan.
“Aku Ranto, kamu Ranti. Nanti anak kita diberi nama Ranran.” Ranto mengusulkan, matanya telah menerawang jauh. Ranti tersenyum manis, matanya mengerling.
            “Ranran? Berlari-lari?” gumam Ranti.
            “Hah? Gimana?” balas Ranto cepat—awan khayalan di atas kepalanya lenyap sekejap.
            “Iya, kalau namanya Ranran berarti anak kita nanti suka berlari-lari,” jelas Ranti.
            “Eh? Maksudnya?” Ranto menyengir.
            “Huh!” Ranti mendelik. “Lari bahasa inggrisnya apa?” tanya Ranti.
            “Run,” jawab Ranto tepat. “Oh... Jadi, Ranran itu maksudnya berlari-lari?!” Ranto lantas ketawa. “Kayak kamu gitu, ya? Suka berlari?!” goda Ranto, tak lupa jemarinya mengusap lembut pipi Ranti.
            Ranti mengerutkan bibirnya, “Sama seperti aku?”
            “Iya, kamu kan suka berlari. Apalagi berlari dari masalah.”
            Ranti mendengus, “Ih, ngejek!” Ranto makin keras ketawanya. Ranti pun memukul-mukul lengan Ranto. Tampang Ranti cemberut.
            “Nggak, sayang,” ucap Ranto menenangkan. Tawanya mereda. Tangan Ranti kini dalam genggamannya. “Aku bercanda,” sambung Ranto.
            “Aku bukannya lari dari masalah,” tukas Ranti. Ia tertunduk.
            “Iya, aku tahu. Kita cuma tunggu waktu yang tepat.”
            “Bukan kita. Cuma aku. Aku yang menunggu waktu yang tepat.”
            “Iya, dan aku menunggu kamu hingga waktu yang tepat itu. Jadi, kita sama-sama menunggu, sayang,” kata Ranto.
            “Kamu tetap bersabar, kan?” Ranti merajuk.
            “Iya, aku sabar, kok,” balas Ranto. “Kita jalani saja dulu, masalah nanti biar nanti kita pikirkan solusinya.”
            Ranti menghela napas lega. Ia sandarkan kepalanya miring ke bahu Ranto. Di sebuah bangku di Taman Menteng, mereka duduk berdampingan, menyaksikan detik-detik bola menuju gawang lawan.
            “Gooolll,” teriak Ranto. Anak-anak di lapangan futsal berlari-lari riang. Anak-anak  dari tim yang kebobolan tampak berdecak kesal.
            “Nggak mikir apa ini ada kuping sensitif dekat mulut kamu!” tegur Ranti. Ia mendongakkan kepalanya menatap Ranto setajam mata elang. Ranto menahan tawa.
            “Kadang kamu ngambekan, kadang juga galak, ya!”
            “Terus kenapa?” Mata Ranti melotot-lotot. Tawa Ranto pun lepas. “Apanya yang lucu? Nggak suka sama sifat aku yang begitu? Ya sudah!”
            “Waduh, cepat amat ganti channel-nya! Aku tadi belum puas, lho, lihatin acara galak kamu,” kata Ranto dengan mimik serius. Ranti memukul-mukul Ranto lagi.
            “Kamu kira aku TV?!” Ranti ngedumel. Lekas Ranto mendekap Ranti.
            “Puk, puk, puk!” ucap Ranto. Ranti mengulum senyum.
            Ranti mengulum senyum kembali, mengingat sebuah momen berdua dengan Ranto di taman yang sama dengan tempat ia saat ini. Di taman inilah mereka bertemu untuk pertama kali—ketika matahari masih beranjak naik pelan-pelan di ufuk timur. Rumah Ranti tak jauh dari taman itu. Setiap Minggu pagi, ia selalu menyempatkan diri jogging mengelilingi jalan sekitar rumah, lalu beristirahat sejenak di taman untuk kemudian lari lagi sampai pulang ke rumah. Ranti duduk bersandar di bangku taman. Ia baru saja berlari setengah jam. Kemudian lelaki berwajah persegi itu menghampirinya, mengajak berkenalan. Dan demikianlah hingga akhirnya mereka sering bertemu setiap Minggu pagi sembari tanpa disadari benih-benih rasa yang damai di hati bermekaran pada keduanya. “Rasa itu tak salah, tak akan pernah salah.” Ranti menggumam.
            Minggu sore ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir Ranti dengan Ranto kekasihnya. Ranti berharap Ranto tak melupakan janjinya untuk datang. Beberapa minggu terakhir, mereka memang jarang bertemu. Pernah dua tiga kali Ranti mengajak pergi ke suatu tempat, mereka mengatur janji temu, tapi mendadak Ranto mengabari tak bisa datang. Padahal Ranti sudah mendesak harus bertemu, ada hal yang ingin dibicarakan dengan serius dan mesti tatap muka. Dan demi pertemuan itu, Ranti telah menyiapkan diri agar tegar. Dan kali ini, Ranti yakin Ranto benar-benar akan menetapi janji. Ranti sengaja datang lebih awal daripada jadwal yang telah mereka sepakati. Lima belas menit lagi, bila Ranto bisa tepat waktu, mereka akan bertemu.
Tiga minggu telah berlalu sejak pertemuan terakhir sebelumnya. Saat itu bukan di taman ini. Mereka makan malam di dining court sebuah mall di bilangan Semanggi. Pertemuan ketiga pada malam hari, tentu saja ketika orangtua Ranti tidak berada di rumah. Anak gadis semata wayang pasti dilarang pergi kencan dengan  pemuda yang hanya bersepeda motor, apalagi pada malam hari.
“Sampai kapan kita begini terus?” tanya Ranto. Sendok di atas piringnya berdenting-denting ia mainkan.
“Begini apa?” Ranti balas bertanya. Ia menyesap jus jeruk.
“Pergi kencan tanpa izin orangtua kamu.”
“Kamu juga nggak izin sama orangtua kamu,” kata Ranti.
“Kok jadi nyama-nyamain?” Ranto sedang tak bercanda. “Aku kan nggak tinggal serumah sama orangtuaku.”
“Orangtuaku juga lagi nggak ada di rumah, sayang!” tukas Ranti mendayu.
“Iya, aku tahu. Kamu memang sengaja menunggu waktu orangtuamu lagi nggak ada di rumah.”
“Kenapa dibikin ribet, sih?” Ranti mulai kesal. “Itu urusanku sama orangtuaku.”
“Ya, jadi urusanku juga, donk, kamu sendiri sekarang jalannya sama aku. Kalau kamu ada apa-apa, yang disalahin aku. Aku nggak bisa begini. Aku mau bertanggungjawab, tapi bukan begini caranya, Ranti.” Ranto meletakkan sendoknya dengan kasar.
“Bisa santai aja nggak, sih?”
“Nggak bisa kalau begini terus!”
“Ya, lantas kamu maunya gimana?”
“Aku nggak mau menculik kamu lagi!” jawab Ranto tegas. Kedua tangannya diangkat dan jari-jari telunjuk dan jari-jari tengah berdiri membentuk tanda kutip.
“Aku nggak merasa diculik. Aku yang mau pergi sama kamu.”
“Iya, tanpa izin orangtua kamu.”
Seketika mereka terdiam. Ranti tahu Ranto lelaki jantan. Ranto menginginkan yang terbaik bagi Ranti. Ranti hanya tidak tahu bagaimana caranya menyakinkan orangtuanya untuk percaya pada Ranto. Ranto bukan seperti yang mereka pikirkan. Ranti tak habis pikir kenapa orangtuanya menganggap Ranto bukan yang terbaik bagi dirinya. Bukankah yang menjalani hubungan itu Ranti sendiri. Ranti bisa merasakan. Ranti bisa melihat. Ranti sadar dan yakin memang Ranto lelaki yang ia inginkan jadi kekasihnya. Hanya Ranto.
***

Sunday, October 7, 2012

Kisah Ranto



16:40 Waktu Jam Dinding Kamar Ranto

            Ranto duduk di atas kasurnya. Di sebelahnya ada sebuah meja kecil. Di atas meja itu, sebuah pigura memamerkan kemesraannya dengan Ranti. Ranto tersenyum kecil memandang gambaran itu. Tak lama lagi, pigura itu mesti disimpan dalam kotak kenangan. Keputusannya sudah bulat—walaupun akan sangat menyakitkan, bagi Ranti, juga bagi dirinya sendiri.
            “Aku sayang sama kamu, Ranti.” Ranto mengucapkan kalimat itu dari lubuk hati terdalam. Wajah kekasihnya tampak sendu. Kalimat itu bukan pertama kalinya ia dengar. Kalimat itu berulang terus. Kalimat yang mencoba menyakinkan Ranti untuk mau melangkah bersama. Kalimat yang diharapkan mempercepat waktu yang tepat bagi Ranti.
            “Aku tahu.” Ranti memelas. “Tapi, aku belum berani... Aku tahu bagaimana mereka.” Ranti mulai berkata dengan terisak. Di taman itu, tempat mereka pertama bertemu, untuk ke sekian kalinya Ranto menegarkan Ranti.
            Ada penyesalan yang bermukim dalam hati Ranto. Seandainya ia tak kelewat nekat mengajak Ranti berkenalan, Ranti tak akan terperangkap dalam hubungan diam-diam ini. Hubungan yang bila dibiarkan berlama-lama tanpa sepengetahuan orangtua Ranti hanya makin menyakitkan keduanya. Kadang, terbersit dalam benak Ranto, mungkin Ranti tak serius menjalin hubungan dengannya. Ranti barangkali hanya cewek nekat dari kalangan jetset yang sedang bermain api. Tapi, cepat ia hapus pikiran itu. Ia melihat sendiri bagaimana tersiksanya Ranti ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk bertemu lagi dengan orangtua Ranti dan berterusterang. Bagi Ranto, sama sekali tak ada kebaikan  dalam hubungan tanpa restu orangtua.
            “Hai, sendirian?” sapanya. Perempuan berambut dikuncir kuda itu tampak curiga melihatnya. “Aku cuma mau numpang duduk di sebelah kamu. Capek habis lari. Bangku yang menyisakan tempat kosong sepertinya bangku ini saja.”
            Perempuan itu mengangguk. Tak ada ekspresi apa-apa. Dalam keadaan tanpa gambaran emosi itu, perempuan itu malah menarik perhatiannya. Perempuan yang kulitnya bersinar. Perempuan dengan ukiran wajah yang nyaris sempurna—lekuk bibir penuh, hidung lurus mancung, mata almond, alis mata tebal, pipi tirus. Perempuan yang memancing keberaniannya sebagai lelaki untuk berkenalan. Perempuan yang dengan hati-hati dalam menjawab setiap pertanyaannya. Perempuan yang di kemudian hari menjadi kekasihnya.
            “Ranti?”
            “Iya. Kenapa?”
            “Aku Ranto.” Ranto melihat sendiri perempuan itu tersenyum dan itu menggetarkan hatinya.
            “Jadi?”
            “Jadi pacarku mau?” Perempuan itu tertawa. Ranto memang nekat.
            “Kita kenalan berapa detik yang lalu, ya?”
            “Hmm... aku nggak hitung. Singkatnya, sih, sepersekian menit yang lalu. Jadi?”
            “Jadi, aku mau pulang,” kata Ranti menohok Ranto. Ah, pasti aku sudah jadi cowok menyebalkan di mata perempuan cantik ini, pikir Ranto.
            “Rumah kamu di mana? Aku bisa nganterin kalau kamu mau.” Ranto merasa percaya diri, dan rasa itu makin meningkat saat Ranti tersenyum padanya.
            “Nggak perlu dianter, kok. Rumahku deket sini,” jawab Ranti ramah. Ia bangkit berdiri, disusul cepat oleh Ranto.
            “Oh, rumahmu dekat sini. Aku cuma bawa motor, kok, kamu bisa sampai rumah lebih cepat.” Ranto berkata apa adanya. Bila Ranti memang anak Menteng, ia tentu tak ragu untuk segera menyudahi obrolan mereka seketika tahu Ranto pengguna sepeda motor. Dan itu cukup sebagai pertanda, apakah ia terus bergerilya menaklukkan hati sang perempuan ataukah berhenti saat itu juga.
            “Kamu niatnya beneran olahraga atau sekalian ngelaba, sih?” Ranti bersikap heran.
            “Heh?” Sayangnya, tingkat kecerdasan Ranto mendadak turun drastis. Ah, pasti ini gara-gara cewek cantik, selalu begitu. Ranto beralasan.
            “Kamu olahraga pakai motor?” tanya Ranti sambil terus berjalan ke luar dari taman.
            “Ya, aku olahraga di sini. Lari keliling taman. Aku bawa motornya dari kosan ke sini.” Ranto menjawab sambil terus jalan di sebelah Ranti. Ia tak mau kehilangan kesempatan.
            “Oh, kamu ngekos?” Tak diduga Ranto, Ranti malah jadi banyak bertanya tentang dirinya. Ranto bersyukur akan ketampanannya yang memang tak jarang dimanfaatkannya untuk mendekati perempuan yang menarik hati.
            “Iya, aku ngekos di kawasan Salemba. Tiap minggu, aku memang suka lari pagi. Kadang aku ke Monas, kadang aku ke Senayan. Kadang aku ke sini, dan ketemu kamu, deh,” jawab Ranto antusias.
            “Aku belum pernah lari di Monas.”
            “Minggu depan mau?” tanya Ranto spontan. Ranti mengerutkan dahi. Ranto tak peduli. Ranto tahu ia telah jatuh hati pada Ranti. Bukan cinta. Mungkin namanya adalah ketertarikan pada pandangan pertama. Ranto juga yakin kalau Ranti mengalami hal yang sama. Kalau tidak, perempuan itu bisa saja langsung pulang dan tak menggubris lagi omongan Ranto si lelaki asing yang tak tahu diri.
            “Nggak ah,” jawab Ranti cepat. “Nggak boleh menerima tawaran orang asing!”
            “Orang asing banyak disambut, lho, di negara kita.”
            “Heh?”
            “Iya, mereka berinvestasi di sini. Mereka diterima aja walaupun mereka orang asing.” Mendengar ucapan Ranto, Ranti menepuk jidat. Ranto ketawa garing.
            “Ya, lalu kamu mau investasi apa emangnya?”
            “Investasi benih cinta di hati kamu, boleh?”
            Ranto kelewat nekat. Rasanya ia ingin lenyap dalam sekejap, malu sendiri dengan kata-katanya. Ranto merasa siap menerima tamparan Ranti. Tapi, tak disangka, tawa Ranti malah meledak.
            “Kamu siap nggak untung rugi berinvestasi di hati aku?”
            “Siap, nona!” balas Ranto sigap. Bak anak buah, ia mengangkat tangan hormat sambil berdiri tegap. Ranti tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Jalan setapak di taman telah sampai di ujung. Ranto ingin sekali memastikan kapan kiranya ia bisa bertemu lagi dengan putri cantik nan anggun itu.
“Minggu depan kamu olahraga lagi di sini?” tanya Ranto tak sungkan. Ranti mengangguk. “Baiklah, aku harap kita bisa bertemu lagi minggu depan.” Harapan Ranto dibalas dengan senyuman Ranti. Ranti melambaikan sebelah tangan. Ia lalu berlari.
Kenangan itu tak akan terlupakan. Ranto kembali memandang lekat-lekat wajah Ranti di dalam pigura. Pertemuan yang tak terduga itu telah mengantarnya pada perkenalan yang tak direncanakan. Perkenalan yang spontan itu telah mengantarnya pada sebuah hubungan percintaan yang mendalam. Dan tak pernah dibayangkan Ranto, hubungan mereka terkendala kerikil tajam yang tak bisa ia enyahkan dengan tangannya sendiri. Bukan. Bukan tak bisa. Tapi ia tak diizinkan. Ranti terlalu banyak pertimbangan untuk memberi jalan bagi Ranto untuk menerabas rintangan itu.
Ranti, kamu akan bisa melewati masa setelah ini. Kamu bisa menjalani hubungan denganku tanpa izin orangtuamu. Kamu pasti juga bisa menjalani hidupmu seperti biasa kembali, tanpa aku. Itu lebih baik bagimu daripada kamu tersiksa memendam perasaan. Buang jauh rasa itu, sayang. Buang semua harapan yang kita rapalkan bersama. Kita memang ditakdirkan bertemu di suatu waktu. Tapi, Tuhan punya rencana lain. Mungkin bukan aku jodohmu saat ini, entah nanti.
Aku percaya, kamu akan baik-baik saja.
***

Tuesday, October 2, 2012

Penantian Lana


Sebuah kartu cantik dan beberapa spidol bermacam warna terletak di atas meja. Lana menyeruput kopi espresso-nya. Lana merapikan bandananya. Lana mengambil satu spidol. Lana duduk tegap dengan tangan berpangku di meja. Lana bernafas lega. Ia akhirnya tahu harus menulis apa. 
 
Aku akan mengajakmu kembali ke beberapa tahun sebelumnya. Masih di tempat yang sama dengan waktu yang berbeda. Lana dari dulu suka mengambil tempat di pojok dekat jendela. Karena kafe itu mempunyai dua sisi dinding yang berjendela, Lana memilih meja di pojok dekat jendela yang menghadap jalan raya. Ya, beberapa tahun silam, Lana duduk di tempat itu. Ya, saat ini pun, Lana duduk di tempat yang sama. Ups, jangan melenceng! Kita sedang membicarakan kejadian yang lampau. Ya, beberapa tahun yang lalu.

Lana itu gadis yang ceria. Mukanya imut dengan bibir mungil yang sering melengkung manis. Rambut lurus sebahunya selalu tersisir rapi. Kadang ia mengucir rambutnya, kadang ia menggerainya dan memasang bandana. Apapun yang ia perbuat pada rambutnya, Lana tetap semanis madu. Wajahnya semulus porselen. Dan bayangkanlah alis mata tebal dan panjang yang menaungi sorot matanya yang cemerlang. Namun, seceria apapun hati Lana, ia senang sekali bila di kafe itu duduk sendirian. Menikmati aroma kopi dan menyesap rasanya yang pahit itu perlu konsentrasi—sebagai ungkapan syukur atas kehidupan. Menurut Lana, hidup itu manis bila ditambah kopi. Bingung? Well, biarkan saja Lana bergelut dengan pikirannya yang ajaib itu.

Lana suka minum kopi di kafe itu karena banyak temannya yang tak suka atmosfernya. Barangkali mereka mengira tempat itu kurang berjiwa muda, terlalu ‘bapak-bapak’. Bagi Lana tak masalah. Kursinya nyaman, lalu lalang di jalan raya itu cukup menyenangkan, dan terpenting ia menikmati sajian kopi kafe itu. Dan tentu saja, Lana semakin asyik sendirian di kafe itu tanpa harus ngumpul dengan teman-temannya. Ya, kadang ia memang memerlukan ‘me-time’. Dan ‘me-time’ yang berkualitas itu hanya ia dapatkan di kafe itu—di Kafe Lana. Sungguh, bukan Lana pemilik kafe itu. Itu hanya sesuka Lana memberi nama kafe yang sesungguhnya telah mempunyai namanya sendiri.

Lana bisa menghabiskan waktu hingga dua jam di Kafe Lana—kita sebaiknya ikut Lana dalam penyebutan nama kafe itu. Ia sudah menentukan waktu yang tepat mengunjungi tempat favorit ‘me-time’-nya tersebut. Datang saat jarum jam menunjukkan angka empat dan harus beranjak dari tempat itu saat jarum jam telah menunjuk angka enam. Waktu itu hanya dipengaruhi oleh faktor intrinsik dari Lana sendiri. Ia menyukai sore dan ia mencintai senja. Saat-saat yang disuka yang dicinta tak semestinya dihabiskan bersama orang lain. Hmm, ya, mungkin demikian logika Lana.

Namun, Lana sedikit naif. Ia tak pikir ada kenalannya bisa dengan tak sengaja bertemu dengannya di Kafe Lana lalu tanpa basa-basi nimbrung di meja Lana. Kalau sudah begitu, Lana hanya gigit bibir, makan hati, dengan sesekali menyengir. Tapi, untunglah itu jarang terjadi. Jadi, Lana bertahan di kafe Lana manakala ia ingin ber-‘me-time’-ria. Dan, ya, Lana memang tak akan mengira ia bertemu seorang lelaki yang sungguh tampan.

Jangan bayangkan lelaki tampan menurut seleramu! Bagi Lana, lelaki tampan itu bermuka oval, hidung dan bibir yang hampir sama mungil, mata sedikit sipit, dan... botak. Lelaki itu tiba-tiba muncul di depan Lana dan permisi menumpang di meja Lana karena tempat itu sudah penuh. Sedangkan, ia harus tetap berada di kafe itu karena butuh koneksi free wi-fi untuk laptopnya. Ia harus mengirim email segera, kilah lelaki itu. Bila ia tak termasuk kriteria tampan menurut Lana, ia mungkin tak diizinkan duduk bersama Lana. Oh, ya, Lana memang telah terkesima oleh ketampanan lelaki itu. Lana dengan senang hati menerima orang yang mengganggu ‘me-time’ berkualitasnya.

“Perkenalkan saya Rama,” ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya. Lana menyambutnya, cukup lama ia memegang tangan Rama. Sesuai dengan yang diangankannya--lelaki bertangan halus, jemari lentik, kuku bersih dan wangi. Lana semakin antusias dengan teman barunya.

“Aku Lana,” balas si gadis ceria. “Aku biasa ke kafe ini sore, hmm, sekitar jam empat sampai jam enam.” Lana menjelaskan. “Lewat jam enam, aku pasti sudah pergi dari sini,” tambahnya.

“Oh, baiklah,” respon Rama sekenanya. Ia sibuk berkutat dengan laptopnya. Tampak ia sungguh-sungguh sibuk dan tak ingin diganggu.

Lana mengerutkan bibir, kesal dengan perlakuan yang demikian. Ia mengambil novelnya lagi dan melanjutkan bacaannya. Oh, ia meminum seteguk kopi dulu—sambil mendelik pada Rama.

“Lana, terima kasih, ya, sudah memberi tumpangan di mejamu. Aku harus pergi sekarang.” Rama pamit undur diri. Ia menatap Lana iba. Sesungguhnya hati Rama tergetar untuk mengenal Lana lebih dekat. Ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan secarik kartu namanya. “Hubungi aku kalau kamu ke sini lagi lain kali. Mungkin aku bisa mampir lagi.” Kata-kata Rama itu bagai oase di belantara kegersangan hati Lana.

Lana tersenyum lebar sekali sore itu. Ia yakin laki-laki itu adalah kiriman spesial dari Tuhan untuknya. Oh, Lana bawa-bawa Tuhan. Kadang ia begitu. Ya, biarkan saja. Memang tak ada yang lepas dari urusan Tuhan, kan?