Friday, September 21, 2012

Tamu


Suara bel itu berisik sekali, seperti kokok ayam dengan leher terjepit. Aku masih berbaring di kasurku setengah mengantuk. Setengah jam lalu, jam weker juga telah berteriak membangunkanku—jadi setengah sadar dengan mata terpejam. Kini, bunyi bel itu tak henti-hentinya memekik. Pergilah, tamu tak tahu diri! Sepagi ini sudah bertandang ke rumah orang! Argh... Nasib tinggal sendiri tanpa sesiapa—bahkan pembantu. 

Dengan langkah gontai, kubuka pintu depan. Aku tak peduli dengan balutan piyama kusut yang kukenakan. Aku tak peduli dengan rambut yang berantakan dan muka yang sama kusutnya dengan piyamaku. Aku bahkan tak peduli seandainya mulutku bau. Yang penting, urusan tamu sialan pagi ini cepat dienyahkan. Aku tak peduli hingga kulihat siapa yang memencet bel terus-menerus sampai kubukakan pintu. 

Tiba-tiba, aku peduli...

“Selamat pagi, Dona!” sapanya. 

Aku terperangah. Mulutku seakan ada yang mengganjalnya. Bagaimana mungkin? Daniel mengenalku? Dia tahu namaku? Tidak mungkin! Ini pasti mimpi. Aku masih tidur. Tubuhku pasti masih di atas kasur. Aku mencubit kulit lenganku. Uh, sakit! 


“Dona, kamu baik-baik saja?” Senyum yang ia tampilkan tadi berubah menjadi kuatir. Tapi, binar matanya tetap menyala. Tatapan yang sering kuimpikan—Daniel hanya hadir dalam mimpiku. Daniel tidak mungkin memanggil namaku. “Saya ingin sarapan denganmu pagi ini,” sambungnya diiringi senyum yang terlalu mekar. Lidahku masih kelu. Bahkan untuk bicara terbata-bata aku tak mampu. 

Aku menutup pintu—tepatnya membanting. Deru nafasku memburu. Detak jantungku memacu. Aku memicingkan mata dan menggeleng kepala. Oh, aku harus menenangkan diriku! Kuhela nafas panjang, lalu kuhembus perlahan. Lagi. Lagi. Dan... segera kubuka pintu itu. 

“Hah? Kemana dia?” gumamku heran. Aku memperhatikan ke segala penjuru. Tiada sesiapa. Mendadak aku jadi murung. Aku rasa Daniel memang hanya ada dalam mimpiku, dan bagian terbaiknya ia menjelma jadi ilusi di pagi hari yang aneh ini. 

“Hei, Don, kenapa kamu lemes gitu?” Itu suara Daniel. 

“Ya, ampun, dia masih di sini?” Pertanyaan yang kuajukan untuk diriku sendiri. 

“Tentu saja! Saya dari halaman samping, rasanya tidak enak menunggu tuan rumah yang membanting pintu sekenanya.” Daniel merangkul bahuku. “Ayo, kamu mau kan menemaniku sarapan?”

“A.. aku belum... mandi,” jawabku asal. “Kamu Daniel, kan?” 

Hidung lelaki tampan itu mendengus, “Iya, kamu bau jigong!” Lalu, ia tertawa. Aku mengerutkan bibir. “Bercanda, sayang!” Giliran mataku yang memelotot. Sayang?

“Kamu siapa, sih?” tanyaku mulai galak. Aku mengendus sesuatu yang tidak beres.  

“Daniel. Bukannya kamu sudah tahu?!” jawab Daniel enteng. “Ayo, sarapan!” Ia langsung mendorongku masuk ke dalam rumah. Aku segera mengerem kakiku. 

“Apa, sih?! Pemaksaan, deh!” Aku mulai kesal. Sesungguhnya, aku masih tak percaya lelaki ini adalah Daniel—yang kupuja. Aku hanya penggemar rahasianya. Ia tidak mungkin mengenalku. Ia adalah bintang di jagad manajemen perusahaanku. Aku cuma karyawan biasa. Kami tak pernah bertegur sapa. Karena satu sama lain kami memang tidak ada kepentingan apapun. Bagaimana mungkin? Oh Tuhan, terima kasih atas kesadaran penuh yang telah Kau berikan ini. 

“Oke! Ini bukan pemaksaan! Ini perintah dari atasanmu. Ayo, sarapan!” 

“Atasanku?” Dahiku mengernyit. 

“Oops!” Daniel terhenyak sendiri. Tidak lama karena senyumnya kembali ia tujukan padaku. Oh, hatiku meleleh, tapi aku masih memasang tampang galak. “Kamu mandi dulu saja, ya! Saya akan menyiapkan sarapan di dapur, itu juga kalau kamu berkenan. Kalau tidak, kita bisa sarapan di luar. Pokoknya, pagi ini kamu harus sarapan bersama saya!” Daniel berkata tegas.

Pada akhirnya, aku pasrah. Barangkali ini keajaiban bintang jatuh yang kulihat tadi malam. Seseorang yang lama kuperhatikan, tiba-tiba muncul di depan pintu rumahku mengajak sarapan—dengan mengaku sebagai atasan. Lagian, matahari terus menyingsing, aku memang harus bersiap-siap berangkat ke kantor. Apapun alasannya, kubiarkan Daniel mengendalikan pagiku. 


©Vira Cla, 150912

No comments:

Post a Comment