Sunday, September 9, 2012

Senja di Pantai


Matahari menahan diri biar tak nyemplung ke dalam laut. Cahaya keemasannya membias ke mana-mana. Pada permukaan air bergelombang, pada keluasan angkasa, pada butir-butir pasir, pada lambaian nyiur, pada semua yang kaulihat, pada binar matamu—cahaya itu. Cahaya yang dilenakan desau angin semilir tepi laut. Pantai kita, surga yang selalu kautuju di kala senja. Senja yang menyemburatkan jingga yang kaudamba.

Kau tinggalkan jejak-jejak langkah kakimu di hamparan pasir putih—yang segera terhapus oleh jilatan ombak bergulung pelan. Kau biarkan uluran kainmu menyapu pasir—terpercik laut. Kau pejamkan mata—menyerap semua keindahan senja di pantai kita. Matahari bulat berwarna merah keemasan—bergelantung di atas horizon. Sejarak telunjuk di depan matamu, bara apinya akan padam ditelan lautan. Jarak yang kauhitung dalam detik-detik sendu. Dan mega-mega putih kekuningan berarak di naungan langit. Kau terduduk di sebuah batu besar. Kepalamu menengadah—senja begitu cerah. Mega-mega pun mulai menjauh dari haribaanmu.

Adakah kapal yang akan membawamu menuju senja? Kau selalu berharap senja tak akan pergi. Kau ingin punya sirip biar kau mampu berenang di lautan—mengejar senja. Tak pernah lenyap dari bayanganmu—kau mengapung di kilauan emas riak-riak laut. Namun, semakin dekat dengan senja, semakin cepat kau sadar matahari akan terbenam. Kau pun ingin hentikan putaran waktu. Kau tetap tertinggal—kapal-kapal tetap melaju, tanpamu. 

Air matamu barangkali sama asin dengan air laut. Cahaya keemasan juga membias di air mata itu. Entah kausadari entah tidak, air mata kelahiran senja selalu saja meluncur sesaat segaris mentari ditelan laut. Harapanmu pada senja kembali meluntur—sedikit demi sedikit. Namun, selarik senyum tetap bergelayut di paras manismu. Esok kau kembali menggantung harapan setinggi matahari senja. Senyum dan air mata menemanimu di akhir senja. Oh, demi senja, hentikanlah tangis laranya! 

Pelan-pelan matahari mengalah. Semburat jingga di langit mulai berubah keunguan. Kau kembali menyisiri pantai—di antara langkah-langkah orang yang turut menikmati senja. Dalam tiap hembusan angin yang membelai pipimu, kau berharap senja ini senja terakhir di pantai itu—pantai kita. Di pantai kita, kau rela bertemankan jingganya senja. Di pantai kita yang bukan milik kita—tempat di mana dulu kita berpisah dan merekat janji aku akan kembali. Pada senja kala di pantai kita—aku telah kembali padamu. Tak akan pernah kausadari, udara dingin di kala senja selalu memelukmu penuh rindu—itu aku. 

©Vira Cla, 080912


No comments:

Post a Comment