Sunday, September 23, 2012

Seine


Daun-daun Maple kuning, merah, dan coklat berguguran menerjang bumi. Hembusan angin yang cukup kencang membuatku gigil. Aku bersedekap semakin erat. Jelang sore, langit kelabu yang memayungi sama sekali tak bersahabat bagi siapapun yang berjalan-jalan di taman Trocadero ini, apalagi bagi makhluk tropis sepertiku. Tapi pesona Eiffel di seberang sana tak mampu menyurutkan hasrat orang-orang supaya beranjak. Musim gugur menyajikan pesona melankoli yang dramatis dengan pemandangan nyonya besi yang menjulang angkuh, mencoba merengkuh awan. Barangkali itulah mengapa aku—dan mereka—masih bertahan dalam atmosfir yang begitu dingin. 

Aku bangkit dari tempat dudukku. Badan ini perlu digerakkan biar sedikit hangat. Aku berjalan ke arah selatan. Aku ingin memandang Sungai Seine lebih dekat lagi dari Pont d’Iena—jembatan yang menghubungkan Trocadero dan Menara Eiffel. Aku berjalan sendirian di negeri asing dan tiba-tiba air mataku mengalir pelan. Bertahun-tahun aku mengadu nasib di Paris dalam kesendirian. Di kota cahaya, usiaku telah meredupkan rasa. Di kota cinta, aku bahkan tak mampu menemukan cinta.

Di atas sungai yang membelah kota Paris, aku bersandar di pembatas Pont d’Iena. Mengamati riak-riak yang mengalir dari timur ke barat. Aku menghadap ke barat, berharap menyaksikan matahari tenggelam sore ini sama sia-sianya dengan harapan seorang pria menyapaku dan aku pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Langit mendung menyiratkan hujan akan menderas. Dan aku tak peduli, aku tetap saja berdiri di sini. Keraguanku pada cinta berujung pada keraguanku untuk pulang ke tanah kelahiran. Kulayangkan pandanganku ke menara itu. Hai, Eiffel, aku ingin jatuh cinta!

Tak kuhitung sudah berapa pria yang dikenalkan keluarga padaku. Lewat bit-bit di layar komputer, aku menatap seksama rupa mereka. Tak ada yang mampu menyentuh hatiku, bagaimanapun baik dan mapannya mereka. Sudah berkali-kali pula aku diingatkan tentang usiaku. Masih untung ada jejaka-jejaka yang sama tuanya denganku mau mencoba mengenalku, kata ibuku. Sebegitu rawankah perempuan menjelang usia kepala empat yang masih perawan? Mereka terus mendesakku, tapi mereka tak tahu betapa diriku juga terdesak untuk tidak bertahan lagi. 

Delapan meter kedalaman Seine akan mampu menjatuhkanku pada cinta. Tadinya kupikir ketinggian puncak Eiffel lebih memacu adrenalinku untuk jatuh. Kubayangkan diriku melayang-layang di udara sebelum menjejak tanah dalam keadaan remuk retak. Dan kubayangkan lagi seonggok mayat dengan darah berceceran, memar di kulit, tulang patah yang mencuat dari daging. Bukan kematian yang indah. Karena itu, aku menghentikan langkah di tengah jembatan ini. Seine, oh, Seine. Namamu berarti suci. Kau pasti bisa menerima cinta seorang gadis perawan. Dan, Eiffel itu... biarlah ia menjadi saksi cintaku. Ya, aku ingin jatuh cinta. Dan aku bersiap-siap untuk merasakannya. Jatuh cinta pada kematian. 

Hari makin gelap, masih jam empat sore tapi sudah seperti senja mendung di kampungku. Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Awalnya pelan, lalu deras. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Hanya aku yang tetap di tempat. Aku tak akan bergerak ke mana-mana lagi selain di sini. Aku akan menikmati hujan terakhir di kota Paris sambil memandangi riak-riak aliran Seine yang menjadi gaduh, penuh pusaran-pusaran kecil akibat tetesan hujan. Pusaran-pusaran yang mengisap keinginanku semakin besar. Aku memanjat tembok jembatan dan duduk di atasnya dengan mengulurkan kakiku. Dua atau tiga menit setelah aku menjatuhkan diri ke dalam sana, kematian akan segera menerima pinanganku. Aku tak bisa berenang. Kalaupun aku bisa berenang, aku akan pasrah saja tenggelam.

Hujan deras telah membuatku basah kuyup. Air mata yang tadi mengalir telah terbias olehnya. Aku bisa merasakan bibirku yang tertarik lebar sambil bergetar. Aku kedinginan, tapi aku senang hujan memelukku erat. Kedinginan yang menjadi candu. Kedinginan yang semakin mendinginkan hatiku. Hati itu mungkin akan segera membeku. Dan hati yang beku memang layak untuk jatuh cinta pada kematian. Aku merapal doa—bukan buat diriku. Aku berdoa keluargaku akan tabah menerima pilihanku. 

“Pardon, mademoiselle! Qu’est-ce que vous faites ici?”

Aku terperanjat. Kutolehkan kepalaku ke belakang, berharap itu hanya ilusi. Rambutku yang kuyu menjatuhkan poniku hingga hampir menutup mata. Memang ada seseorang di sana. Pergilah orang asing, bukankah individualitas menjadi junjunganmu? Tak perlulah kau tahu urusanku di sini. 

“Adriana?” 

Kukibas poniku. Kusapu tetesan air di bulu mataku. Siapa lelaki itu? Kenapa ia menyebut namaku? 

“Vous ĂȘtes qui?”

Ia berjalan mendekat. Tidak! Jangan mendekat! Jangan ganggu prosesi sakralku ini! Aku mengangkat tanganku, menyuruhnya berhenti. Siapapun lelaki berambut hitam itu, ia tak bisa dan tak akan bisa menyurutkan anganku untuk jatuh cinta. Lelaki manapun tak akan menggoyahkan hatiku yang menginginkan kematian. 

“Adriana, ini aku! Apa yang akan kaulakukan? Berhenti, Dri!” 

Sayup kudengar kata-kata dalam bahasa yang tak asing di telingaku. Aku tak bisa lagi memastikan siapa lelaki itu. Tubuhku telah mencebur ke dalam kesucian sungai yang membelah kota cinta. Mataku telah menutup, menghayati detik-detik penjamuan kematian. Keinginanku tercapai.

Sesak yang mulanya kurasa perlahan lenyap, berganti dengan kelegaan. Dalam kematian ternyata nafas tak berhenti—malah lancar menghirup gas yang barangkali bukan lagi oksigen. Mungkin ada nama lain untuk gas yang beredar di surga. Surga? Benarkah ruang maha luas yang serba putih ini adalah surga? Mungkin ini hanya persinggahan sebelum diriku disambut Tuhan. Ruang kosong berwarna putih—di dalamnya hanya aku. 

Gempa? Goncangan hebat! Reruntuhan! Gelap! Seberkas cahaya membayang di depan kelopak mata yang pelan-pelan kubuka. Seberkas cahaya yang hanya dari lampu senter. Dan Tuhan tidaklah berbaju jas putih. Bidadari di sekitar Tuhan bukan pula berbaju putih dengan dandanan menor. Aku pun segera menyadari bahwa aku gagal jatuh cinta—bahkan pada kematian yang katanya abadi. 

Percakapan kecil di antara mereka kuacuhkan. Aku geram pada kenyataan aku berada di sini. Keinginanku untuk jatuh cinta pada kematian telah digagalkan—dengan sengaja—oleh entah siapa. Oh, aku ingat, lelaki itu! Pasti! 

“Adriana,” suara itu. Suara yang memanggilku jelang kejatuhanku pada cinta. “Kau akan baik-baik saja. Kumohon jangan ulangi lagi.”

Lelaki itu lancang sekali mengaturku. Mataku tetap terpejam. Aku tak sudi menggubrisnya. Aku akan memikirkan cara lain. Seharusnya memang dari puncak Eiffel. Aku menyeringai puas.

“Adriana, kematian telah menolakmu. Sebaiknya kau mempertimbangkan lagi keinginan untuk mencintainya.” 

Lelaki itu berkata gemetar. Kudengar pintu dibanting. Segera kubuka mata. Siapa lelaki itu? 

Bukan aku yang gagal jatuh cinta, tapi kematian yang menolakku. Oh, Eiffel, aku ingin jatuh cinta! Dan pada siapa lagi akan kulabuhkan cintaku? 

Batinku bergejolak. Air mataku mengalir lagi, kali ini bukan menuju Seine.


©Vira Cla, 23092012

2 comments:

  1. Haahahaha... mengingatkan kemampuan bahasa Perancis-ku yg mulai memudar :))

    ReplyDelete