Wednesday, September 19, 2012

Lorong


“Dokter!” Aku melantangkan suaraku yang serak. “Suster!” Aku memanggil terus dan tiada sahutan. Lorong ini begitu sunyi seperti rumah sakit berhantu. Tapi, tidak mungkin, di depan sana aku masih melihat orang-orang lalu lalang—entah siapa. Kemana para petugas medis? Sambutlah aku yang sedang merana ini! Oh, Tuhan, dadaku begitu sesak. Namun, aku berjalan terus, bergegas menuju pintu itu. 

Aku tidak tahu apa yang tengah terjadi sebenarnya. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku berada di rumah sakit ini. Aku... Bukankah baru saja aku menghabiskan waktu santai bersama Soraya? Tadi sore? Kemarin sore? Kepalaku seakan tak berisi apa-apa. Ingatan akan masa yang telah berlalu menerawang tidak jelas. Sekelebat bayangan aku dan Soraya duduk-duduk di kafe langganan kami—mengiringi langkahku di lorong ini. Pintu itu. Seharusnya tidak begitu jauh. Aku bisa lihat jarak yang tak seberapa. Tapi mengapa aku seperti berlari di sebuah koridor panjang tanpa akhir? 

Persahabatan bagai kepompong...
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu...

Sayup-sayup senandung itu mengisi pikiranku. Lagu persahabatan yang kami nyanyikan bersama, kemarin di kafe langganan. Oh, tidak! Tidak mungkin! Kepompong? Aku baru saja membebaskan diriku dari kepompong. Aku di dalam kepompong? Tidak! Tidak! Enyahlah pikiran sialan! Mustahil aku bisa berada di dalam kepompong. Tapi, rasanya aku memang telah berada di ruang hampa yang membuat nafasku tercekat. Dan rasa lengket di sekujur tubuhku? 

Aku jatuh terjerembab. Nafasku tersengal. Aku mencoba bangkit tapi jatuh lagi. Knop pintu itu tampak sudah sangat dekat. Dan lagu itu lagi... Ia tak berhenti mengalun dalam kepalaku. Alunannya menggema. Nadanya tak lagi ceria. Seakan itu requiem yang mengiringi langkahku ke tanah abadi. 

Aku menjadi tidak yakin apakah pintu yang kutuju adalah ruang gawat darurat sebuah rumah sakit. Di pikiranku pun selalu teringat pada Soraya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku setelah pertemuan yang menyenangkan dengan Soraya? Soraya... bagaimana keadaannya? Kuharap dia baik-baik saja. Soraya... sahabat terbaikku. 

Pandanganku seakan berputar tak karuan. Kupu-kupu? Sebanyak ini? Kepakan halus mereka mendengung di telingaku. Aku duduk tersandar di dinding lorong ini. Aku pejamkan mata. Aku tutup telinga. Hatiku menjerit tolong. Kemana suaraku? 

Persahabatan bagai kepompong...
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu...

Ya, Tuhan, rumah sakit apa ini? Kemana petugas medis? Apa mereka begitu sibuk di dalam sana? Aku ingin berteriak kencang. Tapi suaraku menghilang. Apa karena kemarin aku begitu bersemangat bernyanyi bersama Soraya? Bernyanyi lagu tentang persahabatan. Oh, andai Soraya ada di sini... Soraya pasti akan membantuku. 

Persahaban bagai kepompong...
Hal yang tak mudah berubah jadi indah...

Aku harus kuat. Aku  pasti bisa melangkahkan kakiku lagi. Sedikit lagi. Aku pasti bisa, bertahan dalam kepompong yang membuat nafas tercekik saja aku bisa. Benarkah? Tidak! Tidak mungkin! Aku menggeleng kepala sejadi-jadinya. 

“Dokter! Suster!” Terima kasih, Tuhan. Suaraku kembali. Tapi mataku sudah mengabur. Bayangan orang-orang berpakaian putih mendekatiku. Mereka mengulurkan tangan. Aku tidak yakin siapa mereka—petugas medis atau mungkin... malaikat.

No comments:

Post a Comment