Sunday, September 2, 2012

Goodreads Talk

Blogpost kali ini hanya mengulang kembali kicauan saya di Twitter pada suatu malam yang telah larut. Tiba-tiba saya teringat pada suatu siang yang saya habiskan dengan menelesuri situs Goodreads.com--membaca review-review orang lain tentang buku yang belum saya baca; bahkan melirik langsung bukunya di toko buku pun belum. Jadilah, di malam sunyi--tepatnya tadi malam--saya berbicara tentang review-review di Goodreads. Kicauan dimulai dengan pertanyaan retoris, "Kalau baca review buku di Goodreads, kadang jadi bertanya-tanya: itu review atau nyinyir?" 

Ada dua "kasus" menarik yang saya temui pada suatu siang itu, sehingga dua kasus ini saya sorot dalam kicauan di Twitter. Kenapa pembuka topik itu saya mulai dengan pertanyaan "review atau nyinyir?" tak lain karena saya perhatikan review itu demikian jujurnya--hal yang jarang saya temukan kalau melihat review-review selewat di Twitter. Jadi, nyinyir = jujur? Hahaha.. Well, saya lanjutkan berkicau, "Tapi, ya, saya lebih percaya review-review buku di Goodreads daripada yg bertebaran di Twitter--yg cuma semacam 'endorsement' keterlaluan!" 

Kasus pertama memang berhubungan dengan Twitter. Seorang selebtwit mengeluarkan novel. Dan di Twitter, pujian bisa berlebihan. Tapi, di Goodreads, penilaian terjujur bisa kita temukan. Berhubung novel tersebut masih baru release, belum banyak yang memberi rating atau review di Goodreads. Saat saya memperhatikan review teman di Goodreads, ternyata rating yang diberikan tak sampai tiga. 


Kasus kedua adalah review novel debut. Ada tiga karakter di sini: penulis baru yang merelease novel debut (X), penulis lama yang mereview novel tersebut (Y), dan seorang pembaca yang cukup memperhatikan review-review buku dari X. Pembaca ini sebut saja Z. Sebagaimana yang saya tulis sebelumnya, bahwa review di Goodreads itu memang "nyinyir". Si Y awalnya antusias membaca novel X karena covernya yang menarik. Mereka berdua ini "satu atap" penerbitan, cuma Y "duluan lahir" daripada X. Y menulis reviewnya dengan sangat jujur--plus dan minus novel debut tersebut dijembreng panjang lebar. Bagi X tentu hal tersebut bagus untuk perkembangan kualitas tulisannya. Tapi, dilihat dari segi penjualan, tentu akan mempengaruhi X. Atau bisa saja, dengan review dari Y yang "tega" memberi rating 1 bintang untuk novel tersebut, malah jadi "reverse psychology" buat calon pembaca--jadi penasaran, kan?! Akhirnya, review dan rating yang diberi Y justru menjadi dongkrak penjualan buku si X. 

Kemudian, saya membaca review dari Z. Katanya, Z kecewa dengan karya X tersebut. Z merasa seharusnya X tidak mengulang "minus-minus" yang sama dengan buku-buku yang pernah direview sendiri oleh X. Seharusnya, X belajar dari reviewnya terhadap buku orang lain. Menurut Z, review minus dari X terhadap buku orang lain malah menjadi bumerang bagi X. Tapi, ya, review seperti ini juga bisa jadi pelajaran bagi X. Terkadang memang bumerang itu yang bisa "menghajar" diri sendiri. 

Review dan rating di Goodreads itu memang sangat bervariasi bahkan untuk satu buku saja. Suatu karya cipta itu penilaiannya, suka tidak suka, memang berhubungan dengan selera penikmatnya. Tapi, semua karya itu layak diapresiasi; sedikitnya bisa dengan memberi review di Goodreads. Review yang baik tentu akan menggambarkan plus dan minus karya tersebut--contohnya seperti yang dilakukan oleh Y terhadap X. Walaupun tidak objektif--karena lagi-lagi kembali ke selera--dengan penjabaran plus minus itu, sebuah karya tidak serta merta bisa dicap jelek. Alhasil, penilaian suatu karya itu menjadi apakah penikmatnya suka atau tidak suka. Karena itulah, arti dari tiap bintang itu bukan bagus atau jelek, tapi suka atau tidak suka. Bintang 1 (I don't like it!), bintang 2 (it was ok!), bintang 3 (I liked it), bintang 4 (really liked it!), dan bintang 5 (it was amazing!)--sesungguhnya hanya masalah selera/cita rasa/subjektivitas. Karena itu, Goodreads pun sebenarnya tak bisa dijadikan acuan atau referensi bagi diri pribadi untuk membeli dan membaca sebuah karya. Ya, terkadang, review dan rating tersebut juga bisa mempengaruhi pilihan kita untuk membeli atau tidak membeli, untuk membaca atau tidak membaca. Tapi, bagi saya pribadi, tetap saja saya lebih mengandalkan Goodreads daripada "endorsement" keterlaluan yang berseliweran di jagad raya Twitter. Hehehe...

Ayo, membaca!


4 comments:

  1. kl via twitter, si yg punya akun itu kdg cuman buat bikin nyolot doang

    ReplyDelete
    Replies
    1. padahal belum beli apalagi baca bukunya ya?! hehehe...

      Delete
  2. Kalo menurut gw, cara penilaian di goodreads kurang pas..
    harusnya it was ok itu no.3 (pertengahan)
    karena it was ok nya no. 2 jadi bikin penilaiannya cenderung rendah2

    gw sih kurang terpengaruh review buruk, karena ada alasan: tiap orang kan beda selera
    tapi kalo reviewnya pada bagus, pasti deh gw tertarik baca

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu rating pada umumnya begitu deh.. klo jelek ya sekalian gak dapat bintang. hehehe..

      Delete