Tuesday, September 11, 2012

Cinara Jatuh Cinta


Cinara, gadis imut mempesona, sedang jatuh cinta pada seorang pria. Pagi itu ia bangun lebih pagi daripada orang-orang serumah. Ia lekas menyambar handuk lalu berlari kecil ke kamar mandi. Sambil menyiduk air, ia menyanyikan lagu-lagu ceria tentang cinta. Sambil mengguyur tubuhnya, ia tetap bersenandung pelan dengan penghayatan jiwa. Sambil menyabuni tubuhnya yang mulus, suaranya kembali mengalunkan lirik-lirik mesra.

Selesai ia berbenah diri, ia langsung menyiapkan sarapan. Papa, mama, dan kakak tercengang dan tak terelak rasa kagum atas kecekatan Cinara. Aktivitas hari itu pun dimulai dengan semangat empat lima. Segera setelah sarapan, Cinara mengambil tas dan siap menuju sekolah. Cinara, gadis berseragam putih abu-abu, sedang jatuh cinta yang menggebu.

Tidak ada semu merah di pipi kala mereka bertemu. Tidak ada dan memang tidak perlu. Tawa mereka pecah membahana seruang kelas. Ah, ya, pria itu! Masih sama muda ternyata. Tapi, bagi Cinara, lelaki muda berseragam yang sama dengannya adalah sejatinya pria. Ada canda yang terlontar dari mulut pria yang dicinta. Terang saja mereka berdua tertawa—atas nama cinta.


Cinara berjanji cinta yang merajai hatinya kini tak akan membuat hidupnya nelangsa memikirkan rindu. Tiap rindu yang memburu akan dipacu menjadi bahan bakar kehidupannya. Berpisah sepulang sekolah tak meruntuhkan rasa bahagia yang melanda. Cinara yakin cinta tak akan mendatangkan lara. Hanya suka ria, canda tawa, rindu membara. Cinara, gadis manis yang cemerlang, tak pernah mengeluhkan cinta.

Sabtu malam menjelang, Cinara mematut diri di depan kaca. Rupanya hampir sempurna. Sang pria pasti akan tertawan. Ada senyum diam-diam, Cinara tertunduk menjauh dari pandangan papa, mama, dan kakak. Dalam hati Cinara berdoa, semoga mereka juga menyukai sang pria yang ia puja. Cinara, gadis baik-baik yang sedang jatuh cinta, inginkan izin keluarga.

Bel berbunyi tanda seseorang ingin bertamu. Aliran darah Cinara mendesir, detak jantungnya meletup-letup. Pujaan hati—pastilah ia di depan pintu. Cinara melesat ke ruang tamu. Ia sambut sang pria berkemeja rapi. Lagi, mereka tertawa. Senang riang. Entah sadar entah tidak, jemari mereka tertaut. Papa yang menyusul ke ruang tamu segera berdeham. Ada sapa meluncur dari mulut sang pria sambil ia melepas genggaman Cinara. Cinara mengenalkannya pada Papa—pada Mama dan kakak yang akhirnya juga menghampiri mereka. Senyum Cinara tak lekang walau mereka mendelik curiga.

Cinara, sedang jatuh cinta, dilarang bercinta. Tak boleh ada seorang pria dalam hati Cinara hingga ia lulus sekolah. Demikian ultimatum papa dan mama pada Cinara setelah sang pria pamit pulang. Cinara menjerit—batinnya. Apa salahnya jatuh cinta pada seorang pria kala diri masih belia? Bukankah cinta tak kenal usia? Cinara terpekur menatap rembulan. Kini, cinta benar-benar membuatnya jatuh.

©Vira Cla, 080912

No comments:

Post a Comment