Sunday, September 30, 2012

Tugas GWA Bikin Semaput!

Saya sedang ikut audisi pencarian bakat. Bukan Indonesian Idol! Saya bisa nyanyi, sih, tapi tidak terlalu bagus kalau untuk tampil di TV. Hehehe... Bakat yang akan saya tonjolkan adalah menulis. Jadi, saya ikut audisi pencarian penulis yang diadakan Penerbit Gradien. Awal pendaftarannya cukup mengirimkan alamat email. Ternyata setelah diumumkan waktu audisi segera dimulai, diketahui bahwa jumlah pendaftar mencapai 700-an orang.

Nama resmi audisi ini adalah Gradien Writer Audition, disingkat menjadi GWA. Masa audisi ini berlangsung selama 10 minggu. Audisi dimulai dari awal September, setiap hari Selasa para pendaftar menerima tugas lewat email. Setiap minggu Tim Gradien akan memberikan tugas-tugas menulis. Ada tenggat waktu pengumpulan tugas yaitu tiap jam 12 siang pada hari Minggu.

Minggu pertama, tugas masih enteng. Dikerjain semalam juga bisa. Tugasnya yakni menulis dua cerita dengan kriteria yang telah ditentukan. Saya bilang masih enteng karena hanya diminta menuliskan minimal 350 kata. Dengan mudah saya kerjakan, lalu saya pun lolos minggu pertama. Lanjut minggu kedua, saya menerima tugas lagi pada hari Selasa. Lagi, saya baru mengerjakannya di akhir pekan jelang tenggat waktu. Tugas kedua ini pun cukup mudah, dengan jumlah kata 450-500 kata untuk cerita pertama dan 450-600 kata untuk cerita kedua. Alhamdulillah, saya lolos lagi.

Tuesday, September 25, 2012

Masa Lalu


Aku mengirup aroma laut yang tajam. Aku benamkan kedua kakiku ke dalam pasir yang basah. Kubiarkan  ujung ombak menggulung kaki hingga pahaku. Aku menyauk setetes laut dengan tangan mungilku. Kupandang bentangan kaki langit nun jauh di sana. Aku memanjakan mataku dengan keindahan luasnya angkasa dan menjulangnya bukit-bukit dari pulau-pulau yang menghias samudera. Aku memejamkan mataku supaya kenikmatan itu merasuk abadi ke dalam jiwaku. 

Tidak. Aku tak seketika menjadi puitis di dalam ruang ini. Tapi, bayangan itu memang tak pernah hilang dari kepalaku. Apa-apa yang bagus dan kusuka memang bertahan lebih lama dalam memoriku. Sungguh kebiasan yang baik. 

Aku meniti pematang sawah dengan hati-hati biar tak terjerembab ke dalam beceknya tanah dan merusak batang padi yang baru ditanam oleh petani. Aku berjalan sambil membetangkan tangan lebar-lebar seakan aku terbang di khayangan. Lalu aku berlari seolah ingin mengejar angin. Dan tiba-tiba aku berhenti di satu titik, di mana aku melihat orang-orangan sawah. Ia begitu kuat menahan sengatan panas mentari di kala siang yang terik, tapi ia tetap tersenyum seakan tak ada duka yang patut dirutuki. Dan ia tetap tersenyum walau bagaimanapun petani menggerak-gerakkannya. 

Oh, masa itu, ketika aku pulang ke rumah nenek yang di depannya terbentang sawah yang luas. Di dalam ruang ini, masa yang tak terlupakan memang bisa menghibur diri. Aku tahu aku bukanlah orang-orangan sawah. Tapi, aku bisa memilih, untuk tetap tersenyum walau bagaimanapun nasib menjatuhkanku.

Sunday, September 23, 2012

Seine


Daun-daun Maple kuning, merah, dan coklat berguguran menerjang bumi. Hembusan angin yang cukup kencang membuatku gigil. Aku bersedekap semakin erat. Jelang sore, langit kelabu yang memayungi sama sekali tak bersahabat bagi siapapun yang berjalan-jalan di taman Trocadero ini, apalagi bagi makhluk tropis sepertiku. Tapi pesona Eiffel di seberang sana tak mampu menyurutkan hasrat orang-orang supaya beranjak. Musim gugur menyajikan pesona melankoli yang dramatis dengan pemandangan nyonya besi yang menjulang angkuh, mencoba merengkuh awan. Barangkali itulah mengapa aku—dan mereka—masih bertahan dalam atmosfir yang begitu dingin. 

Aku bangkit dari tempat dudukku. Badan ini perlu digerakkan biar sedikit hangat. Aku berjalan ke arah selatan. Aku ingin memandang Sungai Seine lebih dekat lagi dari Pont d’Iena—jembatan yang menghubungkan Trocadero dan Menara Eiffel. Aku berjalan sendirian di negeri asing dan tiba-tiba air mataku mengalir pelan. Bertahun-tahun aku mengadu nasib di Paris dalam kesendirian. Di kota cahaya, usiaku telah meredupkan rasa. Di kota cinta, aku bahkan tak mampu menemukan cinta.

Di atas sungai yang membelah kota Paris, aku bersandar di pembatas Pont d’Iena. Mengamati riak-riak yang mengalir dari timur ke barat. Aku menghadap ke barat, berharap menyaksikan matahari tenggelam sore ini sama sia-sianya dengan harapan seorang pria menyapaku dan aku pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Langit mendung menyiratkan hujan akan menderas. Dan aku tak peduli, aku tetap saja berdiri di sini. Keraguanku pada cinta berujung pada keraguanku untuk pulang ke tanah kelahiran. Kulayangkan pandanganku ke menara itu. Hai, Eiffel, aku ingin jatuh cinta!

Friday, September 21, 2012

Tamu


Suara bel itu berisik sekali, seperti kokok ayam dengan leher terjepit. Aku masih berbaring di kasurku setengah mengantuk. Setengah jam lalu, jam weker juga telah berteriak membangunkanku—jadi setengah sadar dengan mata terpejam. Kini, bunyi bel itu tak henti-hentinya memekik. Pergilah, tamu tak tahu diri! Sepagi ini sudah bertandang ke rumah orang! Argh... Nasib tinggal sendiri tanpa sesiapa—bahkan pembantu. 

Dengan langkah gontai, kubuka pintu depan. Aku tak peduli dengan balutan piyama kusut yang kukenakan. Aku tak peduli dengan rambut yang berantakan dan muka yang sama kusutnya dengan piyamaku. Aku bahkan tak peduli seandainya mulutku bau. Yang penting, urusan tamu sialan pagi ini cepat dienyahkan. Aku tak peduli hingga kulihat siapa yang memencet bel terus-menerus sampai kubukakan pintu. 

Tiba-tiba, aku peduli...

“Selamat pagi, Dona!” sapanya. 

Aku terperangah. Mulutku seakan ada yang mengganjalnya. Bagaimana mungkin? Daniel mengenalku? Dia tahu namaku? Tidak mungkin! Ini pasti mimpi. Aku masih tidur. Tubuhku pasti masih di atas kasur. Aku mencubit kulit lenganku. Uh, sakit! 

Wednesday, September 19, 2012

Lorong


“Dokter!” Aku melantangkan suaraku yang serak. “Suster!” Aku memanggil terus dan tiada sahutan. Lorong ini begitu sunyi seperti rumah sakit berhantu. Tapi, tidak mungkin, di depan sana aku masih melihat orang-orang lalu lalang—entah siapa. Kemana para petugas medis? Sambutlah aku yang sedang merana ini! Oh, Tuhan, dadaku begitu sesak. Namun, aku berjalan terus, bergegas menuju pintu itu. 

Aku tidak tahu apa yang tengah terjadi sebenarnya. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku berada di rumah sakit ini. Aku... Bukankah baru saja aku menghabiskan waktu santai bersama Soraya? Tadi sore? Kemarin sore? Kepalaku seakan tak berisi apa-apa. Ingatan akan masa yang telah berlalu menerawang tidak jelas. Sekelebat bayangan aku dan Soraya duduk-duduk di kafe langganan kami—mengiringi langkahku di lorong ini. Pintu itu. Seharusnya tidak begitu jauh. Aku bisa lihat jarak yang tak seberapa. Tapi mengapa aku seperti berlari di sebuah koridor panjang tanpa akhir? 

Persahabatan bagai kepompong...
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu...

Tuesday, September 11, 2012

Cinara Jatuh Cinta


Cinara, gadis imut mempesona, sedang jatuh cinta pada seorang pria. Pagi itu ia bangun lebih pagi daripada orang-orang serumah. Ia lekas menyambar handuk lalu berlari kecil ke kamar mandi. Sambil menyiduk air, ia menyanyikan lagu-lagu ceria tentang cinta. Sambil mengguyur tubuhnya, ia tetap bersenandung pelan dengan penghayatan jiwa. Sambil menyabuni tubuhnya yang mulus, suaranya kembali mengalunkan lirik-lirik mesra.

Selesai ia berbenah diri, ia langsung menyiapkan sarapan. Papa, mama, dan kakak tercengang dan tak terelak rasa kagum atas kecekatan Cinara. Aktivitas hari itu pun dimulai dengan semangat empat lima. Segera setelah sarapan, Cinara mengambil tas dan siap menuju sekolah. Cinara, gadis berseragam putih abu-abu, sedang jatuh cinta yang menggebu.

Tidak ada semu merah di pipi kala mereka bertemu. Tidak ada dan memang tidak perlu. Tawa mereka pecah membahana seruang kelas. Ah, ya, pria itu! Masih sama muda ternyata. Tapi, bagi Cinara, lelaki muda berseragam yang sama dengannya adalah sejatinya pria. Ada canda yang terlontar dari mulut pria yang dicinta. Terang saja mereka berdua tertawa—atas nama cinta.

Sunday, September 9, 2012

Senja di Pantai


Matahari menahan diri biar tak nyemplung ke dalam laut. Cahaya keemasannya membias ke mana-mana. Pada permukaan air bergelombang, pada keluasan angkasa, pada butir-butir pasir, pada lambaian nyiur, pada semua yang kaulihat, pada binar matamu—cahaya itu. Cahaya yang dilenakan desau angin semilir tepi laut. Pantai kita, surga yang selalu kautuju di kala senja. Senja yang menyemburatkan jingga yang kaudamba.

Kau tinggalkan jejak-jejak langkah kakimu di hamparan pasir putih—yang segera terhapus oleh jilatan ombak bergulung pelan. Kau biarkan uluran kainmu menyapu pasir—terpercik laut. Kau pejamkan mata—menyerap semua keindahan senja di pantai kita. Matahari bulat berwarna merah keemasan—bergelantung di atas horizon. Sejarak telunjuk di depan matamu, bara apinya akan padam ditelan lautan. Jarak yang kauhitung dalam detik-detik sendu. Dan mega-mega putih kekuningan berarak di naungan langit. Kau terduduk di sebuah batu besar. Kepalamu menengadah—senja begitu cerah. Mega-mega pun mulai menjauh dari haribaanmu.

Friday, September 7, 2012

Sayembara Menulis Caturwulan Terakhir 2012

Kali ini saya berbaik hati untuk berbagi info sayembara menulis di caturwulan terakhir tahun 2012. Info-info ini tentunya saya dapat dari sumbernya langsung--si pelaksana sayembara. Anyway, kata 'sayembara' ini klasik, ya! Hehehe...

Here they are! Berdasarkan urutan tenggat waktu terdekat:

1. Kisah Cinta Pertama oleh Penerbit Bukune (Deadline 20 September 2012)

  • Tema cerita adalah kisah cinta pertama. Kisah ini berupa pengalaman nyata kamu dalam merasakan cinta yang kali pertama hadir di hatimu.
  • Lomba ini terbuka untuk siapa saja, tanpa batasan usia.
  • Cerita berupa kisah nyata yang dialami penulis, ditulis dalam bahasa Indonesia, dan orisinal (bukan saduran, bukan terjemahan, bukan jiplakan).
  • Panjang cerita 5—8 halaman kertas A4, Font Times New Roman 12, spasi 1.
  • Sayembara dibuka hingga Kamis, 20 September 2012, pukul 23.59 WIB.
  • Kirimkan print out cerita, biodata lengkap, dan riwayat kepenulisan (jika ada) ke: Redaksi Bukune, Jl. H. Montong No. 57, Ciganjur-Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12630. Telp: 7888 3030. Tuliskan di sudut kanan atas amplop: Ini Cinta Pertama atau berupa file Microsoft Word (cerita, biodata lengkap, dan riwayat kepenulisan—jika ada) melalui e-mail nulisbarengbukune@gmail.com dengan subject: : Ini Cinta Pertama [judul cerita], misalnya Ini Cinta Pertama [Kisah Kau dan Aku]
  • Seleksi & Hadiah Sayembara:
    • Semua tulisan yang masuk akan diseleksi oleh Redaksi Bukune dan akan dipilih 10 cerita terbaik.
    • 10 cerita terpilih akan dibukukan oleh Penerbit Bukune bersama kisah-kisah cinta pertama para penulis Bukune.  
    • Pemenang sayembara mendapatkan hadiah @Rp500.000 + buku bukti terbit.
2. Dongeng Patah Hati oleh Gagas Media (Deadline 1 Oktober 2012)

Sunday, September 2, 2012

Goodreads Talk

Blogpost kali ini hanya mengulang kembali kicauan saya di Twitter pada suatu malam yang telah larut. Tiba-tiba saya teringat pada suatu siang yang saya habiskan dengan menelesuri situs Goodreads.com--membaca review-review orang lain tentang buku yang belum saya baca; bahkan melirik langsung bukunya di toko buku pun belum. Jadilah, di malam sunyi--tepatnya tadi malam--saya berbicara tentang review-review di Goodreads. Kicauan dimulai dengan pertanyaan retoris, "Kalau baca review buku di Goodreads, kadang jadi bertanya-tanya: itu review atau nyinyir?" 

Ada dua "kasus" menarik yang saya temui pada suatu siang itu, sehingga dua kasus ini saya sorot dalam kicauan di Twitter. Kenapa pembuka topik itu saya mulai dengan pertanyaan "review atau nyinyir?" tak lain karena saya perhatikan review itu demikian jujurnya--hal yang jarang saya temukan kalau melihat review-review selewat di Twitter. Jadi, nyinyir = jujur? Hahaha.. Well, saya lanjutkan berkicau, "Tapi, ya, saya lebih percaya review-review buku di Goodreads daripada yg bertebaran di Twitter--yg cuma semacam 'endorsement' keterlaluan!" 

Kasus pertama memang berhubungan dengan Twitter. Seorang selebtwit mengeluarkan novel. Dan di Twitter, pujian bisa berlebihan. Tapi, di Goodreads, penilaian terjujur bisa kita temukan. Berhubung novel tersebut masih baru release, belum banyak yang memberi rating atau review di Goodreads. Saat saya memperhatikan review teman di Goodreads, ternyata rating yang diberikan tak sampai tiga.