Friday, August 10, 2012

State of Waiting

Menunggu perlu kesabaran. Kalau begitu saya akan sabar. 

Saya memang dalam fase menunggu di dunia kepenulisan. Saya penulis pemula, muda, junior, atau sebut apa saja namanya. Tak ada penerbit yang menunggu saya. Tapi saya yang menunggu mereka.

Bermula dari semacam "ajang pencarian bakat" Penerbit Bukune di akhir Mei lalu. Saya terpilih menjadi salah satu peserta workshop kepenulisan yang diadakan penerbit tersebut. Berkatnya, saya giat menyelesaikan sebuah naskah novel--dengan iming-iming jalan lebih mudah menembus meja redaksi. Dalam masa penulisan naskah itu, saya sempat mengirim SMS pada editor yang menjadi tutor saya saat workshop. Saya bertanya apakah kesempatan saya mengirim naskah padanya masih terbuka--berhubung saat itu hampir akhir Juni dan naskah saya belum selesai. Well, tidak ada balasan. Namun, saya tetap bersemangat menyelesaikan naskah karena saat itu pun ada peluang lain berupa lomba novel yang diadakan Penerbit Mizan. Di antara keraguan saat itu--100% berharap pada Bukune atau juga mencoba ajang lomba--akhirnya saya memutuskan untuk berharap pada semua kesempatan yang terbuka lebar.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Insecurity of young writer--saya rasa itulah yang sedang saya alami. Tidak adanya jaminan bahwa karya saya pasti diterima. Saya mencari setiap pintu peluang yang terbuka. Saya mencoba masuk melewati pintu itu. Kini saya sudah masuk dan sedang berada di ruang tunggu--menunggu eksekusi.


SMS dari editor Bukune tak berbalas, tapi saya tetap mengirim naskah yang telah selesai ke emailnya pada akhir Juli lalu dan hingga saat saya menulis blogpost ini saya belum mendapat balasan email--for God's sake setidaknya balaslah dengan konfirmasi naskah sudah diterima. Nevermind! Naskah yang sama, toh, juga saya kirim ke ajang lomba Mizan. Saya pikir setiap naskah akan menempuh jalan manapun yang memberinya kesempatan untuk dibaca. Naskah itu kini berada di tangan nasib. Saya sebagai penulisnya berada dalam fase menunggu keputusan nasib--saya percaya Tuhan di atas segalanya; Sang Penggerak.

Bila akhir Agustus ini saya belum mendapat balasan SMS ataupun email dari editor Bukune, saya akan mencoba menghubunginya kembali--sembari tetap menunggu pengumuman pemenang lomba Mizan pada 10 September nanti.

Dan... bagaimanapun saya harus bersyukur! State of waiting ini diwarnai juga oleh Plotpoint Book Project. Beberapa minggu yang lalu, Plotpoint mengundang alumni kelas cerpen Plotpoint untuk ikut serta Plotpoint Book Project. Saya kira ada belasan alumni yang diundang. Lewat seleksi pengiriman sebuah cerpen, akhirnya saya dan enam alumni lainnya dipilih ikut bagian proyek buku kumpulan cerpen. Merasa sangat beruntung, karena kami dijanjikan honor yang layak dan akan ada surat perjanjian penerbitan--saya merasa 'wow' seketika! Hahaha... Selain itu, proyek ini akan dikomandoi oleh Eka Kurniawan--guru kelas cerpen saya saat itu--dengan kata lain, dia yang akan menjadi editor. Saya memang beruntung! Hehehe... Semoga proyek ini berjalan lancar dan berlabuh di toko-toko buku! Saat ini, saya menunggu email selanjutnya dari Plotpoint mengenai timeline dan konsep proyek. Yup, menunggu!

Saya akan sabar...

Kamu?

No comments:

Post a Comment