Sunday, May 27, 2012

Perjalanan Penulis Pemula

Beberapa hari yang lalu, saya mampir ke toko buku di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Blok M. Bukan tujuan utama saya ke sana, sekadar mengisi waktu menunggu jadwal film yang akan saya tonton. Langkah kaki membawa saya ke rak-rak novel dan buku-buku populer lainnya. Saya tertegun cukup lama tiap kali melihat nama penulis dalam sebuah buku adalah nama yang sehari-hari dekat dengan saya. Boleh dibilang teman sesama penulis pemula, dulunya. Ada beberapa nama yang seperti itu. Mereka telah mengepakkan sayap ke ranah penerbitan mainstream. Ada juga dengan buku indie yang optimis menitipkan bukunya di toko buku besar itu. Waktu berjalan terus dan semakin banyak terjadi perubahan. Hanya saya, yang masih seperti ini saja.

Buku indie pertama saya dulu telah saya tarik dari peredaran di dunia maya. Ya, Lajang Jalang. Karena alasan pribadi, saya tidak lagi membuka dan menerima pemesanan cetak di web Nulisbuku.com. Saya pun tidak ingin lagi mencetaknya dengan cara lain atau penerbitan lain; walaupun berupa e-book. Pokoknya, saya tutup perjalanan buku pertama saya tersebut. Setelah itu, saya memang tidak lagi menghasilkan karya sendiri. Saya hanya baru mampu menjadi kontributor cerpen untuk proyek-proyek buku kumpulan cerpen yang digarap teman-teman, itu pun masih jalur indie atau self-publishing. Satu setengah tahun telah berlalu sejak awal mula karir saya sebagai penulis--Lajang Jalang mengukuhkan saya sebagai penulis--dan belum satu pun karya lain yang berhasil saya lahirkan. 

Saya cukup tahu tingkat profesionalitas saya sebagai penulis. Saya tidak disiplin dengan waktu menulis, hanya menulis di kala ingin. Ide-ide selalu bermunculan, namun saya terlalu lambat untuk mengeksekusinya. Bahkan, proyek novel keroyokan bersama dua sahabat menulis saya, menemui kendala. Ada beberapa folder proyek novel di brangkas file laptop saya, tapi belum satu pun yang dengan bangga saya sebut 'selesai' atau 'tamat'. Mereka koma di tengah jalan, dihantam badai kemalasan maupun kejenuhan saya. Kalau begini terus, saya yakin karir menulis saya sudah pensiun dini.

Tidak fokus juga menyebabkan saya tidak bisa menyelesaikan proyek-proyek novel saya. Tahun lalu, saya sepertinya disibukkan dengan "belajar menulis". Sejak Oktober 2010 Lajang Jalang lahir, saya berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan menulis saya. Pada akhirnya, saya menjadi lebih banyak browsing, membaca, bahkan sampai mengikuti kelas menulis. Hampir semua kesempatan workshop saya ikuti. Saya tak ingin sekadar praktek tanpa ilmu cukup. Alhasil, saya tak banyak melahirkan karya. Ah, barangkali, ini cuma alasan lain, ya?! 

Saya tetap mencoba menembus mainstream kepenulisan. Salah satunya dengan mengirim cerpen saya ke koran. Hmm, selalu penolakan. Saya juga mencoba berkompetisi; ada yang menang ada yang kalah. Kompetisi terakhir yang saya ikuti adalah Nulis Bareng Bukune yang diadakan oleh penerbit Bukune (adiknya Gagas Media). Kompetisi itu hanya meminta peserta untuk mengirimkan outline novel drama yang dilengkapi dengan sinopsis, outline itu sendiri, gambaran karakter, dan minimal tiga halaman bab pembuka. Karena masih niat untuk ikut kelas-kelas menulis, saya pun mengikutinya dengan senang hati, apalagi bagi 20 finalis yang terpilih bisa berkesempatan menerbitkan novelnya di Bukune. Ketika saya terpilih menjadi salah satu finalis, jujur saja saya senang, saya mendapatkan kelas menulis, saya juga mendapatkan kesempatan. 

Kesempatan ini akan saya manfaatkan sebaik-baiknya. Proyek novel untuk Bukune ini harus saya usahakan selesai dan segera mengirimnya ke editor yang telah dipilihkan oleh Bukune untuk saya. Ya, ada editor yang mau membantu saya dan ke-19 peserta lainnya. Setidaknya, ini menjadi jalur cepat bagi penulis pemula seperti saya. Tidak semua orang mendapatkan ini, bukan?! Kini, tinggal usaha saya saja yang dimaksimalkan, apakah saya benar-benar mau menerbitkan sebuah novel? Kini, ada satu proyek yang semestinya saya fokuskan untuk dikerjakan. Tidak lagi celingak-celinguk mencari ajang lomba atau kelas menulis gratis lainnya. Apakah saya mampu? Ya, hanya ini pertanyaan yang menggerogoti pikiran saya. Dan semestinya saya menjawab, saya mampu!

2 comments: