Monday, May 21, 2012

Pak Bakeri




Senandung Auld Lang Syne telah dinyanyikan seiring dengan teriakan hitung mundur. Kemeriahan malam ini belumlah usai. Bunyi terompet masih bersahutan, kembang api masih memijarkan warna-warni bermacam pola di langit malam. Gemerlap perayaan pergantian tahun sangat terasa di Taman Pusat Kota Javanesia, ditambah dengan hiburan dari artis-artis terkenal di panggung utama. Ribuan warga meramaikan pesta yang diselenggarakan oleh pemerintah tersebut. Mereka berkumpul di taman paling luas se-Javanesia itu, seakan tak ingin pesta berakhir cepat. Pesta memang belum berakhir dengan segera. Sirine yang dinanti-nanti akhirnya terdengar, pertanda pesta kedua akan dimulai sesaat lagi. Tak ada mata-mata yang mengantuk walau sudah dinihari. Mata-mata itu masih nyalang. Mereka begitu antusias.
Di depan gerbang utama Taman Pusat Kota, mobil polisi berhenti, disusul oleh mobil-mobil dinas, serta sebuah mobil tahanan. Para reporter televisi dan juru kameranya, serta wartawan dari berbagai media cetak mulai menyesak mencari spot terbaik. Warga bersorak gembira dan bertepuk tangan. Inilah prosesi yang mereka nantikan. Inilah pesta pergantian tahun paling istimewa. Para pejabat pun keluar dari mobil dinas mereka. Di antaranya berpakaian santai, sedangkan yang parlente memang agak sedikit berpakaian resmi. Mereka menuju panggung utama, menggantikan artis-artis yang telah selesai menghibur warga. Sekarang, para pejabat yang menghibur.
“Selamat dini hari, warga Javanesia!” salam dari seorang hakim agung dengan suara menggelegar. “Kita berkumpul di sini, tentunya telah kita ketahui bersama untuk apa. Tapi, bagi yang jarang nonton berita, memang perlu kita ingatkan lagi, ya?!” kelakar hakim tersebut. “Eksekusi seorang terdakwa akan berlangsung di taman yang kita cintai ini. Terdakwa diputuskan bersalah dan diberi hukuman yang sepatutnya.” Warga bertepuk tangan meriah.
“Pak Hakim, nggak usah lama-lama sambutannya!” bisik Pak Jaksa yang berdiri di sebelah Pak Hakim. Hakim itu hanya melirik ke sang jaksa.
“Seorang terdakwa akan turun dari mobil tahanan di depan gerbang sana,” lanjut sang hakim sambil menunjuk ke arah gerbang. “Marilah kita saksikan eksekusinya, sebagai pelajaran bagi kita semua, bahwa siapapun yang bersalah harus diadili dengan seadil-adilnya. Kami sebagai penegak hukum akan menyaksikan eksekusi sampai selesai supaya kami bisa menilai ketertiban eksekusi. Bapak Sipir, turunkan terdakwa dari mobil tahanan!” Pak Hakim menghela napas, ”Warga Javanesia, sambutlah terdakwa sesuai keinginan saudara-saudara.” Lagi, warga bertepuk tangan.
Lalu, seorang laki-laki dengan rambut putih keluar dari pintu mobil tahanan. Warga bersorak kencang, meneriakkan nama orang terkaya di Javanesia.
“Rasain lu, Bakeri!”
“Mampus!”
“Kasian deh lu!”
Bakeri, biasa dipanggil Pak Bakeri, adalah terdakwa yang dieksekusi setelah pesta pergantian tahun baru. Warga telah berpindah ke pinggir lapangan, sedangkan Pak Bakeri melewati lapangan itu menuju panggung utama di mana ia akan serah terima eksekusi dengan sang hakim.

***
Suara-suara yang keluar dari TOA terus terdengar di depan gedung Bakeri Island sejak pagi. Gedung pencakar langit itu tetap pongah walau banyak orang yang mendemo di depannya. Untuk ke sekian kalinya warga mendatangi Bakeri Island. Mereka meminta pertanggungjawaban atas pencemaran limbah pabrik ke tanah warga.
Malik berjalan tergopoh menuju ruangan Pak Bakeri. Ia satu-satunya anak muda yang menjadi staf ahli hukum Pak Bakeri. Lulusan Harvard University itu juga merupakan kerabat dekat Pak Bakeri, hingga ia jadi tangan kanan Pak Bakeri di perusahaan. Malik pun jadi sangat disegani banyak orang, dari dewan direksi hingga karyawan. Malik buru-buru membuka pintu ruang kerja Pak Bakeri. Ia menghampiri Pak Bakeri yang duduk santai di sofanya.
“Pak, ada demo lagi,” ucap Malik. Pak Bakeri tampak tak senang dengan kedatangan Malik. “Pak, kita harus melakukan sesuatu. Limbah pabrik sudah mencemari tanah warga...” kata Malik berapi-api. Kacamatanya melorot.
“Kau ini bandel ya, Malik?! Tim ahli lingkungan kita bilang bahwa bencana warga itu bukan dari kita. Usir saja mereka! Kalau mereka tak mau, pakai kekerasan! Ingat! Saya tak mau dengar masalah ini lagi.”
Maaf, Pak. Tapi, polisi sudah menemukan bukti-bukti. Kita terancam!”
“Kau ini lulusan hukum, kau aturlah urusan sama polisi-polisi. Kasih duit!”
Malik tertawa miris mendengar ocehan Pak Bakeri. Namun, dengan segera ia terdiam, lalu bertanya datar, “Bapak hidup jaman kapan, sih?”
“Apa maksudmu?”
“Saya sudah ingatkan Bapak berkali-kali tentang masalah limbah ini. Masalah ini sudah sampai ke tangan LSM lingkungan. Pihak kepolisian sudah menyelidiki. Bapak mau menunggu dipanggil polisi dan diadili?”
“Ah, banyak oceh kau ini! Jangan sok tahu! Aku sudah berpengalaman. Kau ikuti saja perintahku kalau masih mau kerja di sini!”
Malik tercekat, tak ada lagi kata yang bisa ia sampaikan pada Pak Bakeri. Ia berdiri terpaku.
“Sudah! Keluar sana!” Tak senang dengan kekakuan Malik, Pak Bakeri mengusirnya keluar. Malik membalikkan badan, hampir saja tersungkur, sungguh mati ia merasakan pikirannya campur aduk.
***
Pak Bakeri menggelengkan kepalanya, seakan menolak semua kejadian buruk yang menimpanya itu. Tangannya pun ikut mengibas-ngibas di depan wajah keriputnya. Garis-garis usia itu terlihat jelas, tapi sosoknya masih tegap dan kuat. Namun, sosok tegap itu kini menunduk. Ia risih mendengar caci maki dari warga. Ia enggan wajahnya direkam oleh kamera-kamera. Ia benci lampu blitz. Tundukan yang bukan karena merasa bersalah. Tundukan yang untuk menutupi kegeramannya. Geram atas hukuman konsumsi publik senegeri. Geram karena yakin ia tak bersalah.
Keluhan warga memang ditangani serius oleh aparat penegak hukum. Pabrik terbesar di Javanesia, dengan karyawan ribuan orang, dan menghasilkan produk sandang terbaik ternyata mempunyai sistem sanitasi pabrik yang buruk. Sebuah pipa pembuangan limbah mengalami kebocoran, tapi tak segera diatasi. Hingga akhirnya limbah keluar dari pipa bocor dan mencemari tanah di sekitarnya. Limbah akhirnya mengotori tanah satu distrik di bagian utara Javanesia. Air tanahnya tak bisa diminum lagi, bahkan tanaman enggan tumbuh di tanah itu. Distrik utara Javanesia tak bisa lagi dihuni.
“Pak Bakeri, silakan ambil seragam kebersihan, sapu, serokan, dan kantong sampah ini. Anda harus menyapu lapangan hijau di depan kita. Harus bersih! Tidak boleh bersisa satu sampah pun! Mengerti?” titah sang hakim. Pak Bakeri mengambil peralatan kebersihan itu sambil mengangguk pelan. Dalam hati, Pak Bakeri menyumpah serapah hakim itu. Ia pun teringat Malik, tangan kanannya yang percaya atas hukum yang adil di Javanesia. Jaman memang telah berubah. Tak ada lagi hukum yang bisa diperjualbelikan semenjak reformasi beberapa tahun yang lalu. Tapi, Pak Bakeri tetap menepis itu semua. Anak muda itu harus diajari bagaimana menjadi seorang konglomerat, batin Pak Bakeri.
Merasa tak bersalah, Pak Bakeri memang berlaku layaknya konglomerat jaman dulu yang tak peduli hukum. Tuntutan itu ia anggap angin lalu. Pak Bakeri menemui hakim di luar sidang. Ia mencoba menyuap, namun gagal. Pak Bakeri juga mencoba melobi keputusan hakim. Ia bersedia mengganti rugi tanah warga dua kali lipat, asalkan hukuman membersihkan kota ditiadakan. Tapi, jaman telah berubah, kini hukum ditegakkan seadil-adilnya.
“Oi, Bakeri! Cepat kau sapu lapangan itu!” teriak seorang warga. “Jangan melamun, Bakeri!” teriak seorang lainnya.
Pak Bakeri memperhatikan lapangan hijau. Ia merasa jijik. Sisa-sisa perayaan tahun baru berserakan; terompet-terompet penyok, kertas-kertas hias, plastik-plastik makanan dan kaleng-kaleng minuman, bahkan kulit-kulit pisang, rambutan, jeruk; hampir semua jenis sampah ada di sana. Pak Bakeri tak ingin bersentuhan dengan kotoran-kotoran manusia-manusia yang ia anggap gembel; tak tahu cara membuang sampah pada tempatnya. Pak Bakeri barangkali tak tahu, sampah-sampah memang sengaja diciptakan untuknya.
Teriakan-teriakan silih berganti menyerang Pak Bakeri yang masih diam bersama alat kebersihannya. “Pakai dulu seragam kebesaranmu, Bakeri!” seseorang berteriak, membuat ribuan orang yang menyaksikan tergelak. Seragam petugas kebersihan ia kenakan melapisi seragam tahanannya.
“Cepatlah, Bakeri!” teriakan itu membuat Pak Bakeri menggenggam kuat gagang sapu seakan ingin mematahkan sapu dan hidung orang yang meneriakinya itu. Tak pernah ia diperlakukan demikian. Ia bersumpah akan mempecundangi mereka semua yang menyaksikan eksekusi memalukan itu. Sesaat mengayunkan sapunya, tiba-tiba Pak Bakeri roboh ke tanah.
Terjadi kehebohan, para reporter makin cerewet di depan kamera, para pejabat di atas panggung mulai berbisik-bisik, warga memaki. Tim medis memindahkan Pak Bakeri ke mobil ambulans, mengantarnya ke rumah sakit terdekat.
“Ah, omong kosong itu!” cela seorang warga yang diliput oleh salah satu stasiun TV. “Bakeri itu orang licik! Saya ini bekas anak buahnya, tahu kecurangan-kecurangan yang pernah ia lakukan. Kekayaannya hasil mencuri!”
Pak Bakeri dirawat di rumah sakit kepolisian. Malik datang membesuk. Ia datang bersama seorang pria yang diaku sebagai kerabat. Penjaga yang selalu mengawasi di depan kamar menyilakan mereka masuk.
Tanpa bicara, Pak Bakeri dan pria yang sebaya dengannya langsung berganti pakaian. Pria itu lalu berbaring di atas ranjang. Pak Bakeri dengan jenggot dan kumis tebal palsu yang melekat, mematut dirinya di depan cermin. Tidak akan ketahuan, batinnya memastikan.
Kemudian, Malik membuka pintu kamar. Sembari memberi senyum pada penjaga, Malik berlalu bersama Pak Bakeri yang menyamar. Keadaan masih aman. Polisi yang berjaga di depan kamar itu tak curiga sama sekali. Mereka berjalan santai ke depan lobby rumah sakit. Sebuah limosin telah menunggu. Benar-benar pelarian yang mudah, begitu mudah. Di dalam limosin, Pak Bakeri senyum-senyum puas.
“Malik, kau harus bisa seperti saya! Jangan terima begitu saja perlakuan orang lain yang tak kau sukai! Kau punya uang banyak. Kau harus bisa memanfaatkannya baik-baik, setidaknya untuk kepentingan pribadimu. Hahaha...” Malik hanya diam. “Nikmatilah cutimu nanti. Setelah itu, temui saya di Lionesia. Perusahaan kita atur dari negeri tetangga itu saja,” tambah Pak Bakeri.
Limosin bergerak menjauhi rumah sakit. Pak Bakeri mencabut rambut-rambut palsu di mukanya. Ia kembali klimis. Pak Bakeri merasakan kepuasan yang teramat sangat. Tiap sebentar, ia melihat arloji, menghitung waktu yang telah berlalu di tahun yang baru. Ia tak ingin awal tahun yang buruk. Ia tak akan bertekuk lutut pada siapapun, tahun ini, dan tahun-tahun berikutnya.
Landasan terbang jet pribadi adalah tujuan Pak Bakeri. Perjalanan ini telah diatur oleh Pak Bakeri, dibantu Malik. Hukuman membersihkan sampah itu menurunkan harga dirinya, sehingga Pak Bakeri tidak akan pernah mau menerima hukuman itu sekalipun ia mengaku bersalah. Namun, Pak Bakeri memang tak pernah mengakui kesalahannya. Semampunya, Pak Bakeri akan mengelak dari hukuman yang menurutnya paling bodoh sedunia itu.
Tak lama kemudian, limosin berhenti. Pak Bakeri siap-siap turun.
“Silakan, Bapak yang terhormat!” Malik membukakan pintu dan menyambut Pak Bakeri sambil membungkuk bagai pelayan terhadap rajanya. Pak Bakeri tertawa geli, ia pijakkan kakinya mantap ke atas bumi. Seketika ia berdiri tegak, jantungnya berdetak lebih kencang. Mata Pak Bakeri melotot. Kakinya gemetar. Pak Bakeri kembali tiba di Taman Pusat Kota.
Fajar menyingsing di ufuk timur. Warga dan para pejabat masih berkumpul di sana. Dan lapangan hijau yang luas itu masih dipenuhi sampah, seakan menunggu petugas kebersihan yang istimewa sekali dalam setahun. Pak Bakeri bersemu merah menatap Malik.
“Skenario Bapak telah dijalankan dengan baik. Skenario kami juga dijalankan dengan sangat baik. Selamat menjalankan hukuman, Pak. Seharusnya tak ada lagi konglomerat congkak seperti Bapak di negeri ini. Ingat, Pak! Jaman telah berubah!” jawab Malik dengan tenang. Setenang ketika ia memutuskan untuk memilih kata hatinya.
***

PS: Karya ini saya kirim ke beberapa media cetak beberapa bulan lalu, dan hanya harian minggu Kompas yang memberi konfirmasi ketidaklayakan cerpen ini tayang di harian tersebut. Setelah itu, saya mengirimkannya lagi ke redaksi Kompas.com, tapi sudah sebulan belum tayang juga, padahal cerpen yang saya kirim ke sana selalu tayang. Akhirnya, saya posting di blog ini saja. Hehehe... Apa kekurangan cerpen ini, ya? 

2 comments:

  1. wow, aku suka ini..sekilas baca tadi langsung kepikiran ini cerpen khas kompas..tema sosial, sindiran..metafora bukan pada kata-kata tapi adegan..mewakili kondisi kenyataan Indonesia..

    kalau menurutku..pengandaiannya dg nama "Bakeri" terlalu jelas dan tertuju..misal nama itu diganti dg nama yg jauh dr kata "Bakeri" mungkin malah efeknya beda karena bakal menyindir banyak pelaku ketidakadilan, bukan cuma satu orang yg bernama mirip "Bakeri".

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, Yuya.. betul juga saranmu. bisa jadi pertimbangan utk pemilihan nama nanti di cerita lainnya. :)

      Delete