Sunday, May 20, 2012

Long Weekend

"Long Weekend" di pertengahan Mei ini baru saja berakhir, yah, malam ini detik-detik terakhir menuju Senin. Hari libur nasional 'Kenaikan Isa Almasih' yang jatuh pada hari kamis menyebabkan beberapa instansi memutuskan untuk libur bersama pada hari Jumat; termasuk kampus saya. Rencana liburan ke luar Jakarta pun terbersit begitu cepat dalam benak saya. Mengingat penghematan pula, akhirnya saya hanya bisa membawa diri saya pergi ke kota Bandung. Dan di sanalah saya selama 4 hari 3 malam menghabiskan waktu akhir pekan nan panjang bersama sahabat saya, Anggun.

Keberangkatan saya ke Bandung kali ini agak berbeda dari keberangkatan yang sudah-sudah. Saya pertama kali berangkat dari rumah kawasan Jakarta Selatan. Pertama kali pula berangkat menggunakan bus umum, bukan jasa travel. Dengan begitu, pengeluaran saya menjadi lebih hemat dibandingkan dengan ketika saya masih tinggal di kawasan Jakarta Timur maupun Pusat. Dahulu, saya akan menghabiskan biaya lebih untuk jasa bajaj minimal 5000 rupiah. Lalu, jasa travel minimal 60.000 rupiah (bila saya tak malu-malu menunjukkan kartu mahasiswa). Sedangkan, dari rumah kawasan selatan, saya cukup mengeluarkan biaya 2000 rupiah ke terminal Lebak Bulus, lalu naik bus umum Primajasa AC Eksekutif tujuan terminal Leuwi Panjang, Bandung, dengan biaya 50.000 rupiah saja. Lebih hemat, bukan? Dari kecepatan dan kenyamanan tidak jauh berbeda, kecuali saat saya berangkat agak siang pada hari Kamis itu, kena macet di beberapa titik sehingga waktu perjalanan yang ditempuh sampai 4,5 jam. Mengantisipasi macet arus balik pada hari Minggu saya justru berangkat lebih siang tapi dengan waktu tempuh normal; 2,5 jam. Puncak macet pasti terjadi pada Minggu sore atau malam. Dengan perjalanan saya kali ini Jakarta-Bandung dan Bandung-Jakarta, saya belajar untuk makin berani mencoba sesuatu yang baru. Dengan kata lain, bila disodorkan suatu alternatif yang tidak biasa namun lebih baik, kenapa tak dicoba?!

Itu singkat cerita mengenai transportasi. Bagaimana dengan akomodasi? Saya beruntung punya teman baik bertempat tinggal di sana. Jadi, saya menumpang di sana selama 3 malam. Makan pun cukup. Anggun termasuk anak gadis yang rajin memasak untuk keluarga, jadi saya tidak kekurangan makan selama di Bandung. Hahaha... Benar-benar hemat liburan saya kali ini. 

Tapi, apa sih yang bisa saya dapat dari liburan ke Bandung? Saya memang tidak mengunjungi tempat-tempat wisata, FO yang berserak di setiap jalan, wisata kuliner, dan lain sebagainya. Di hari pertama saya tiba di Bandung, saat itu sudah sore, saya tinggal menunggu dijemput Anggun. Berhubung macet, Anggun memarkirkan VW-nya di Bandung Indah Plaza (BIP); jadi kami dari terminal Leuwi Panjang menumpang bus Damri menuju BIP. Dari BIP, setelah melaksanakan shalat, kami sempat mampir di kantor sekretariat komunitas mobil VW, di mana Anggun ingin bertanya-tanya tentang cara bergabung di komunitas itu. Menjelang maghrib urusan selesai, kami pun langsung menuju rumah. Di rumah, kami bercengkrama. Lain lagi dengan acara hari Jumat. Kami berencana jogging di Sabuga ITB langsung setelah mengantar adik Anggun ke sekolah. Namun, setelah menimbang tempat makan (karena perut saya keroncongan), akhirnya kami menuju kampus ITB--Anggun kuliah S2 di sini--tempat Anggun biasa memarkirkan mobilnya. Ternyata, lontong kari yang ditawarkan oleh Anggun yang biasa berjualan di depan kampus, belum ada. Akhirnya, kami memesan bubur kacang ijo yang juga nongkrong di sana. Selesai sarapan, kami bukannya jogging, tapi hanya berjalan santai mengelilingi kampus ITB dan tentu sambil foto-foto. Kampus ITB yang menurut saya tidak begitu luas, ternyata cukup menguras energi hingga perut saya terasa lapar lagi. Eng-ing-eng, kami pun cari makan lagi, kali ini di simpang Dago. Ondeh mande, yo lamak bana makanan urang Minang! Hahaha... Kami tiba di warung ketupat sayur Padang pinggir jalan. Lumayan nikmat! Bila tak tahu malu, ingin saja saya minta tambah! Hehehe... setelah mampir sebentar di pasar seberang jalan buat beli cabe keriting, kami pun kembali ke ITB. Ya, Anggun mengajak menggunakan angkot saja daripada pusing cari parkir di jalan yang cukup ramai itu. Acara pagi selesai, dan cukup itu saja untuk hari itu. Setiba di rumah, kami hanya tinggal di rumah. Anggun siang itu sempat masak dan saya tak begitu membantu. Hehehe.. Setelah makan siang, kebetulan ada teman Anggun lainnya yang datang berkunjung, kami  pun menghabiskan waktu dengan nonton TV dan bermain Monopoly. Banyak cerita, banyak tawa, itu saja cukup untuk dilakukan di hari libur, hari menenangkan diri. 

Sakit memang tidak bisa diduga kapan datangnya. Saat asik-asiknya libur, kok malah sakit?! Bukan saya, tapi adik Anggun yang masih SMP yang kena sakit, tanda-tandanya seperti campak, sudah tampak pada Jumat siang. Rencana hari Sabtu pun sedikit berubah. Sebelum mengantarkan adik Anggun ke tempat les (long weekend ini memang tidak berlaku buat semua orang, hehehe..), kami membawanya ke RS Santo Borromeus di Jalan Dago, untuk pemeriksaan. Ini berarti kedua kalinya saya memasuki RS Kristen--yang pertama sudah lama saat saya masih tinggal di Padang--dan rasanya saya sedikit tidak nyaman dengan beberapa patung dan lukisan. Walaupun begitu, saya bersikap biasa saja, saya mentolerir keadaan, karena saya memang berada di tempat yang memang didominasi oleh atribut kekristenan, atribut yang bukan saya yakini. Dengan demikian, tidak ada gejolak apa-apa di antara saya dengan lingkungan saya. Toleransi, dari dulu memang begitu, lalu kenapa kini jadi banyak rusuh yang diduga disebabkan oleh tidak adanya toleransi?   Sebenarnya tak perlu saya bahas di sini, toh, saya sedang menceritakan pengalaman long weekend di Bandung, bukan?! Hehehe...

Setelah mengantar adik Anggun ke tempat les di Jalan Riau dan memarkir mobil di sana, saya dan Anggun menuju FO yang berada di seberang tempat les. Di sana, kami bukan shopping ataupun window-shopping, tapi kami mencari spot yang bagus untuk foto-foto. Narsis-narsisan sambil menunggu seorang teman yang kami ajak bergabung. Tak lama, ia datang, kami pun cari tempat nongkrong di sekitar sana. Sambil jalan, sambil cerita bahwa ia sebentar lagi akan menikah. Makin bertambahlah daftar teman saya yang menikah tahun ini. Saya kapan, ya?! Hehehe... Lalu, kami tiba di sebuah kafe 24 jam, memesan camilan dan minuman, dan bercengkrama lagi. Sebenarnya tak ada yang menarik dari liburan saya kali ini. Saya hanya menemui teman dekat, mengunjungi tempat yang biasa, menghabiskan waktu bersama, dan saling bertukar kabar, suatu hal yang bisa saya lakukan tanpa menunggu libur akhir pekan nan panjang. Tapi, apapun, kebersamaan dengan teman lama yang statusnya adalah sahabat, jauh lebih berarti daripada saya menghabiskan waktu di suatu tempat yang 'wah' tapi sendirian. 

Kebersamaan kami bertiga hanya berlangsung sebentar. Kami berpisah karena urusan masing-masing yang mesti didahului. Saya dan Anggun sudah saatnya menjemput sang adik pulang les dan mengantarnya kembali ke rumah. Seharusnya, setelah istirahat-sholat-makan siang, kami mengunjungi Batu Jajar tempat berlangsungnya acara komunitas mobil VW. Anggun dan ayahnya adalah penggemar VW, jadi sangat ingin menghadiri acara itu. Sayangnya, ada beberapa halangan yang membatalkan acara tersebut, antara lain; Anggun mesti masak karena sudah tidak ada lauk untuk hari itu. Ya, kesenangan tak mesti dituruti karena ada kebutuhan yang mesti dilakukan. Walaupun begitu, saya tetap asyik-asyik saja tinggal di rumah, apalagi sambil memastikan pakaian dalam saya kering dijemur matahari yang sering redup kala itu. Hihihi... Malam minggu tanpa pacar, kami pergi ke sebuah warung kopi milik seorang teman yang memang baru dibuka hari itu. Namanya Todays Koffie, mengambil tempat di jalan Dago 'hampir atas'. Hehehe... Tak disangka, saya dan Anggun berbarengan masuk angin setelah itu. Rasa-rasa ingin kentut dan sendawa. Hahaha... Saya mengoleskan minyak kayu putih yang sedia di dalam tas saya. Anggun menertawakan saya seperti nenek-nenek, padahal ia sendiri masuk angin juga. Entah pengaruh angin, entah pengaruh kopi, saya yakin, tubuh saya memang tak semuda dulu ketika angin sekencang apapun kopi sebanyak apapun tak berpengaruh pada tubuh saya. Huft... saya beranjak tua... Hehehe...

Setiba di rumah, saya beres-beres sebelum tidur, sedangkan Anggun ngulet-ngulet dulu di kasur (perutnya sudah diolesi balsem). Tidak seperti dua malam sebelumnya yang mana kami langsung tertidur pulas setelah seharian beraktifitas (jam 9 saja sudah tidur), malam terakhir saya tidur bareng Anggun dihabiskan dengan bercerita cukup banyak, bahkan hampir tengah malam. Ya, memang begitu seharusnya! Nginap di rumah teman jadi sia-sia kalau tak ada Pillow's Talk! Hehehe..

Minggu, akhirnya terbit! Hari terakhir ini sepertinya seirng dicaci maki karena mengakhiri jatah libur akhir pekan. Minggu pagi jugalah saya bersiap-siap meninggalkan Bandung, mampir Dago beli Maicih, lalu ke terminal, lalu naik bus Primajasa lagi. Akhirnya, saya kembali ke Jakarta yang menyebalkan! 

No comments:

Post a Comment