Sunday, May 27, 2012

Perjalanan Penulis Pemula

Beberapa hari yang lalu, saya mampir ke toko buku di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Blok M. Bukan tujuan utama saya ke sana, sekadar mengisi waktu menunggu jadwal film yang akan saya tonton. Langkah kaki membawa saya ke rak-rak novel dan buku-buku populer lainnya. Saya tertegun cukup lama tiap kali melihat nama penulis dalam sebuah buku adalah nama yang sehari-hari dekat dengan saya. Boleh dibilang teman sesama penulis pemula, dulunya. Ada beberapa nama yang seperti itu. Mereka telah mengepakkan sayap ke ranah penerbitan mainstream. Ada juga dengan buku indie yang optimis menitipkan bukunya di toko buku besar itu. Waktu berjalan terus dan semakin banyak terjadi perubahan. Hanya saya, yang masih seperti ini saja.

Buku indie pertama saya dulu telah saya tarik dari peredaran di dunia maya. Ya, Lajang Jalang. Karena alasan pribadi, saya tidak lagi membuka dan menerima pemesanan cetak di web Nulisbuku.com. Saya pun tidak ingin lagi mencetaknya dengan cara lain atau penerbitan lain; walaupun berupa e-book. Pokoknya, saya tutup perjalanan buku pertama saya tersebut. Setelah itu, saya memang tidak lagi menghasilkan karya sendiri. Saya hanya baru mampu menjadi kontributor cerpen untuk proyek-proyek buku kumpulan cerpen yang digarap teman-teman, itu pun masih jalur indie atau self-publishing. Satu setengah tahun telah berlalu sejak awal mula karir saya sebagai penulis--Lajang Jalang mengukuhkan saya sebagai penulis--dan belum satu pun karya lain yang berhasil saya lahirkan. 

Monday, May 21, 2012

Pak Bakeri




Senandung Auld Lang Syne telah dinyanyikan seiring dengan teriakan hitung mundur. Kemeriahan malam ini belumlah usai. Bunyi terompet masih bersahutan, kembang api masih memijarkan warna-warni bermacam pola di langit malam. Gemerlap perayaan pergantian tahun sangat terasa di Taman Pusat Kota Javanesia, ditambah dengan hiburan dari artis-artis terkenal di panggung utama. Ribuan warga meramaikan pesta yang diselenggarakan oleh pemerintah tersebut. Mereka berkumpul di taman paling luas se-Javanesia itu, seakan tak ingin pesta berakhir cepat. Pesta memang belum berakhir dengan segera. Sirine yang dinanti-nanti akhirnya terdengar, pertanda pesta kedua akan dimulai sesaat lagi. Tak ada mata-mata yang mengantuk walau sudah dinihari. Mata-mata itu masih nyalang. Mereka begitu antusias.
Di depan gerbang utama Taman Pusat Kota, mobil polisi berhenti, disusul oleh mobil-mobil dinas, serta sebuah mobil tahanan. Para reporter televisi dan juru kameranya, serta wartawan dari berbagai media cetak mulai menyesak mencari spot terbaik. Warga bersorak gembira dan bertepuk tangan. Inilah prosesi yang mereka nantikan. Inilah pesta pergantian tahun paling istimewa. Para pejabat pun keluar dari mobil dinas mereka. Di antaranya berpakaian santai, sedangkan yang parlente memang agak sedikit berpakaian resmi. Mereka menuju panggung utama, menggantikan artis-artis yang telah selesai menghibur warga. Sekarang, para pejabat yang menghibur.
“Selamat dini hari, warga Javanesia!” salam dari seorang hakim agung dengan suara menggelegar. “Kita berkumpul di sini, tentunya telah kita ketahui bersama untuk apa. Tapi, bagi yang jarang nonton berita, memang perlu kita ingatkan lagi, ya?!” kelakar hakim tersebut. “Eksekusi seorang terdakwa akan berlangsung di taman yang kita cintai ini. Terdakwa diputuskan bersalah dan diberi hukuman yang sepatutnya.” Warga bertepuk tangan meriah.
“Pak Hakim, nggak usah lama-lama sambutannya!” bisik Pak Jaksa yang berdiri di sebelah Pak Hakim. Hakim itu hanya melirik ke sang jaksa.
“Seorang terdakwa akan turun dari mobil tahanan di depan gerbang sana,” lanjut sang hakim sambil menunjuk ke arah gerbang. “Marilah kita saksikan eksekusinya, sebagai pelajaran bagi kita semua, bahwa siapapun yang bersalah harus diadili dengan seadil-adilnya. Kami sebagai penegak hukum akan menyaksikan eksekusi sampai selesai supaya kami bisa menilai ketertiban eksekusi. Bapak Sipir, turunkan terdakwa dari mobil tahanan!” Pak Hakim menghela napas, ”Warga Javanesia, sambutlah terdakwa sesuai keinginan saudara-saudara.” Lagi, warga bertepuk tangan.
Lalu, seorang laki-laki dengan rambut putih keluar dari pintu mobil tahanan. Warga bersorak kencang, meneriakkan nama orang terkaya di Javanesia.
“Rasain lu, Bakeri!”
“Mampus!”
“Kasian deh lu!”
Bakeri, biasa dipanggil Pak Bakeri, adalah terdakwa yang dieksekusi setelah pesta pergantian tahun baru. Warga telah berpindah ke pinggir lapangan, sedangkan Pak Bakeri melewati lapangan itu menuju panggung utama di mana ia akan serah terima eksekusi dengan sang hakim.

Sunday, May 20, 2012

Long Weekend

"Long Weekend" di pertengahan Mei ini baru saja berakhir, yah, malam ini detik-detik terakhir menuju Senin. Hari libur nasional 'Kenaikan Isa Almasih' yang jatuh pada hari kamis menyebabkan beberapa instansi memutuskan untuk libur bersama pada hari Jumat; termasuk kampus saya. Rencana liburan ke luar Jakarta pun terbersit begitu cepat dalam benak saya. Mengingat penghematan pula, akhirnya saya hanya bisa membawa diri saya pergi ke kota Bandung. Dan di sanalah saya selama 4 hari 3 malam menghabiskan waktu akhir pekan nan panjang bersama sahabat saya, Anggun.

Keberangkatan saya ke Bandung kali ini agak berbeda dari keberangkatan yang sudah-sudah. Saya pertama kali berangkat dari rumah kawasan Jakarta Selatan. Pertama kali pula berangkat menggunakan bus umum, bukan jasa travel. Dengan begitu, pengeluaran saya menjadi lebih hemat dibandingkan dengan ketika saya masih tinggal di kawasan Jakarta Timur maupun Pusat. Dahulu, saya akan menghabiskan biaya lebih untuk jasa bajaj minimal 5000 rupiah. Lalu, jasa travel minimal 60.000 rupiah (bila saya tak malu-malu menunjukkan kartu mahasiswa). Sedangkan, dari rumah kawasan selatan, saya cukup mengeluarkan biaya 2000 rupiah ke terminal Lebak Bulus, lalu naik bus umum Primajasa AC Eksekutif tujuan terminal Leuwi Panjang, Bandung, dengan biaya 50.000 rupiah saja. Lebih hemat, bukan? Dari kecepatan dan kenyamanan tidak jauh berbeda, kecuali saat saya berangkat agak siang pada hari Kamis itu, kena macet di beberapa titik sehingga waktu perjalanan yang ditempuh sampai 4,5 jam. Mengantisipasi macet arus balik pada hari Minggu saya justru berangkat lebih siang tapi dengan waktu tempuh normal; 2,5 jam. Puncak macet pasti terjadi pada Minggu sore atau malam. Dengan perjalanan saya kali ini Jakarta-Bandung dan Bandung-Jakarta, saya belajar untuk makin berani mencoba sesuatu yang baru. Dengan kata lain, bila disodorkan suatu alternatif yang tidak biasa namun lebih baik, kenapa tak dicoba?!