Sunday, April 29, 2012

Satu Novel Saja

You write your first draft with your heart. You rewrite it with your head. The first key to writing is to write, not to think.

So, never think what you write! Demikian nasihat bijak dan keras dari William Forrester kepada Jamal Wallace dalam film Finding Forrester. Film lama dari tahun 2000 yang saya tonton ulang kemarin. Saya lupa-lupa ingat sebenarnya apakah saya pernah menonton film itu atau belum. Seharusnya sudah, karena copy film ini ada dalam hard-disk laptop saya. Tapi, entah kenapa saya bisa melupakan film yang inspiratif ini. Setidaknya saya sebagai aspiring writer merasa sangat tergugah oleh ceritanya.

Saya kira, William Forrester, tokoh utama dalam film ini yang berprofesi sebagai penulis yang menyepi, benar-benar diangkat dari kisah nyata. Karakter yang diperankan oleh Sean Connery ini merupakan seorang penulis yang pernah menghasilkan satu novel yang terkenal, menuai begitu banyak pujian dan kritikan. Lalu, ia memilih untuk tidak mempublikasikan satu novel pun. Ia "menghilang" begitu saja. Kemudian di usia senjanya,  ia bertemu dengan seorang remaja berusia 16 tahun dengan bakat menulis, bernama Jamal Wallace, yang mendapatkan beasiswa di sekolah prestisius di New York. Saya tak akan menjelaskan plot selanjutnya ataupun inti cerita film ini.


Hal yang menarik bagi saya adalah, setelah saya googling tentang Finding Forrester, saya baru tahu ternyata William Forrester adalah tokoh yang diadaptasi dari seorang penulis yang sebenarnya, JD Salinger. Ia wafat pada usia 91 tahun pada tahun 2010 lalu. Ia adalah penulis ternama yang menghasilkan satu novel saja dalam hidupnya. Sebagai penulis, ia juga punya karya lainnya berupa cerita pendek. Tapi, sebagai novelis JD Salinger hanya melahirkan The Catcher in The Rye pada tahun 1951. Rasa-rasanya saya pernah nonton film dengan judul tersebut. Well, anda bisa mencari tahu sendiri tentang novel itu, yang jelas, JD Salinger sebagai penulis berhasil menciptakan karya yang fenomenal di zamannya. Bahkan pada tahun 2005, majalah Time memasukkan karya tersebut ke dalam daftar 100 novel berbahasa Inggris terbaik.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa ia menciptakan satu novel itu saja? Kenapa akhirnya ia memilih mundur menjauh dari hiruk pikuk dunia literasi? Kalau dari film Finding Forrester, yang saya tangkap  adalah William Forrester merasa tidak perlunya euforia pasca buku itu terbit; ia semacam menghindari opini-opini yang meracau tentang karyanya, bahkan tentang dirinya. Apakah demikian juga yang terjadi dengan JD Salinger?

Bagaimana dengan Harper Lee? Ia juga melahirkan satu novel saja dalam hidupnya; To Kill a Mockingbird. Novel legendaris yang juga mendunia dan memenangkan penghargaan literasi entah apa. Tapi, setahu saya, seingat yang pernah saya baca entah di mana, Harper Lee memutuskan untuk menuliskan cukup satu novel itu, karena ia telah menuliskan semua hal yang ingin ia sampaikan kepada dunia, lalu apa lagi? Jadi, ya cukup satu novel baginya untuk ia publikasikan--kita tak pernah tahu kan berapa novel yang ia tulis sebenarnya?!

Menulis itu memang merupakan kegiatan paling pribadi yang dilakukan seseorang. Kita tak pernah tahu isi hati dan pikiran seseorang. Ia menjadi kegiatan yang sakral--bayangkan seorang penulis dalam pojok kesendiriannya menuangkan apa yang ia rasakan dan pikirkan ke halaman kosong. Jadi, kita tak pernah benar-benar tahu apa sesungguhnya motif seseorang untuk menulis. Harper Lee misalnya, menulis untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan pada dunia. Penulis lainnya, bisa saja menulis untuk cari uang, jadi ia terus berjuang untuk mencari ide dan menulis. Maka, kita pun tak pernah benar-benar tahu apa yang menyebabkan seseorang berhenti menulis.

Sebenarnya amat disayangkan bila talenta yang dimiliki mesti berhenti di satu karya. JD Salinger, Harper Lee; menciptakan karya yang sangat baik. Apakah ketakutan menciptakan karya yang lebih baik dari yang pertama itu bisa menjadi suatu alasan untuk tidak lagi berkarya? Tapi, buat apa juga seseorang menciptakan karya begitu banyak tapi hanya so-so? Lihatlah kedua penulis itu, menciptakan satu karya, tapi begitu mendunia dan menginspirasi berjuta umat. Saya belum pernah baca The Catcher in The Rye, tapi saya sudah membaca To Kill a Mockingbird. Saya menyukai karya itu, bahkan kutipan dari novel itu menginspirasi hidup saya--kau tak akan pernah memahami seseorang hingga kau hidup dengan caranya.

Sepertinya, satu karya yang brilian memang telah memuaskan semua orang--penulis juga pembacanya--jadi buat apa karya lainnya yang sekadar basa-basi sebagai pengingat kalau ia seorang penulis? Penulis tak mesti menulis sepanjang hidupnya. Saya setuju dengan Harper Lee, selama ia telah menyampaikan semuanya ke dalam satu karya, buat apa lagi menciptakan karya lain yang bisa jadi sekadar omong kosong belaka. Satu novel yang brilian, ya satu itu saja, sudah cukup.

Dan, ya, bagi saya, satu novel juga cukup, selama semua isi hati dan pikiran saya telah tertuang ke halaman-halaman kosong itu. Wish me luck!

2 comments: