Thursday, April 26, 2012

Diskusi Buku Winter Dreams


Sebagaimana yang telah diingatkan oleh Maggie Tiojakin—penulis Winter Dreams—lewat akun twitternya, acara diskusi buku Winter Dreams dilangsungkan di @ReadingRoomJKT pada sore hari ini (26 April 2012). Saya pun tertarik lagi untuk datang menghadiri acara seputar Winter Dreams tersebut—setelah Winter Walk (15 April 2012)—karena buku itu memang menarik. 

Setiba di Reading Room—sebuah reading lounge yang berlokasi di Kemang Timur—saya langsung bertemu dengan Maggie dan temannya dari DailySilvia.com (salah satu tim sukses acara selain Gramedia). Belum banyak orang, rasa-rasanya saya yang pertama datang, saya pun disambut oleh Maggie dengan mengenalkan beberapa foto yang dijepret di Boston, yang menggambarkan beberapa tempat yang dikunjungi Nicky F Rompa (tokoh utama Winter Dreams). Saya pun asyik melihat-lihat foto serta koleksi buku yang dijual dan tidak dijual di Reading Room—sebatas pojok tempat acara diskusi berlangsung di lantai dua. Sususan buku yang acak membuat pengunjung menjadi seorang pemburu buku; memperhatikan dengan jeli dari sudut ke sudut nama-nama buku yang ada. Saya bertemu dengan novel To Have and Have Not karya Ernest Hemingway, mengambilnya dari rak buku, dan mulai membaca. Lalu, datanglah seorang penulis terkenal Andrea Hirata yang membuyarkan konsentrasi saya. Saya cuek saja, walau sempat kepikiran untuk menyapanya, tapi saya bahkan tidak membaca karyanya satu pun. Hehehe...


Spot diskusi mulai ramai, ibunda Maggie juga hadir di sana. Tak lama kemudian, diskusi dibuka oleh MC dari Dailysilvia.com dan Maggie pun mulai membahas novel yang ia tulis selama 7 tahun. Ya, 7 tahun dengan hasil lebih kurang 40 draft Winter Dreams. Tahun-tahun pertama ia masih bersemangat untuk menulis sebuah masterpiece. Namun, ia sempat berhenti dan menyudahi saja draft itu tanpa harapan untuk menyelesaikannya. Pada awal tahun 2011, Maggie memulai lagi karya itu tanpa harus menggadang-gadangkannya menjadi sebuah masterpiece. Ia menyelesaikan bab pertama. Lalu, ia pun membuat kerangka ceritanya (outline)—di sebuah kertas lusuh dan saya sempat membacanya di akhir diskusi—tapi ternyata outline itu tidak membantu sama sekali. Maggie, awalnya, telah menciptkan seorang tokoh, dan karakter itulah yang membawanya, membantunya merangkai cerita. Karakter Nicky yang membimbing Maggie untuk terus menulis hingga akhir cerita. Dan itu dilakukan selama tiga bulan yang penuh konsentrasi. Karena menurut Maggie, jika ia tidak terus menerus melanjutkan cerita tersebut, ia takut karakter itu akan meninggalkannya dan ia harus memulai dari awal lagi. 

Diskusi tentunya dilengkapi dengan tanya dari peserta dan jawab dari penyaji. Seorang bernama Ratih—yang baru kemudian di akhir acara saya sadari bahwa ia Ratih Kumala—bertanya dengan soal essay yang cukup panjang; singkatnya tentang plot cerita (ya, kalau tak salah begitu, hehehe.. Sorry, I can’t memorize the details). Lalu, ada pertanyaan tentang siapa sasaran pembaca; sikap Maggie tentang bukunya yang cukup berbeda dari buku-buku bestselling pada umumnya; buku-buku motivasi, kumpulan tweets, dsb; kenapa judulnya berbahasa inggris; kenapa “semusim ilusi”—my question—dan bagaimana dengan karakter-karakter lainnya yang begitu ragam budaya; apa yang dijelaskan dari sampul buku bergambar burung di atas gedung dengan latar senja; bagaimana final sentence yang begitu inspiratif—my question, again—serta sebagainya. Maggie dengan antusias menjawab disertai dengan bumbu humoris—Maggie ternyata kocak juga—dan jawabannya itu secara pribadi membantu saya dalam belajar menulis kreatif. 

Jawaban Maggie saya simpulkan dalam satu pragraf ini. Seperti yang disebutkan sebelumnya, Maggie menulis tanpa outline, karakter Nicky yang menuliskan ceritanya sendiri. Karakternya yang anti-hero membuat plot cerita seakan-akan datar, tanpa konflik yang dar-der-dor. Melalui ceritanya, pembaca disodorkan sebuah perjalanan seorang anak muda yang sedang mencari arti hidupnya. Di sinilah, kita sebagai pembaca dihadapkan dengan tokoh yang manusiawi—apalagi karakter usia 20-an yang sedang galau-galaunya—dan pada problem sehari-hari, serta bagaimana memutuskan melakukan hal yang baik di hari itu. Maggie sadar dengan karakter anti-hero yang tidak begitu banyak ditemukan dalam sastra Indonesia namun ia cukup mengantisipasi bahwa pembaca Indonesia sudah siap menerima cerita tersebut—salah satunya saya, hehehe... Dengan subjudul “Perjalanan Semusim Ilusi”, Maggie mengungkapkan bahwa ilusi yang dimaksud ibarat bayangan atau mimpi-mimpi yang ingin diraih. Kenapa ia menjadi ilusi, karena dari perjalanan seorang pemuda di usia 20-an itu dimulai dari membangun mimpi dirinya sendiri hingga akhirnya satu per satu seiring waktu mimpi itu gugur, sekadar ilusi. Tapi, Nicky tak mempunyai mimpi/bayangan yang jelas tentang dirinya nanti. Maggie pun menyatakan ilusi itu tidak hanya terkait dengan masa depan, tapi dengan ‘moment we live in now’ juga ilusi di masa lampau. Karena novel ini berkarakter anti-hero, menceritakan sebuah perjalanan yang disertai dengan “dinginnya” kehidupan, jadilah novel ini berjudul Winter Dreams-Perjalanan Semusim Ilusi (semoga kesimpulan saya cukup tepat, hehehe...) Sampul buku juga dijelaskan oleh Maggie bahwa gambar itu menjelaskan tentang burung yang bertengger di atas gedung dengan latar senja, yang berarti tentang kegalauan seseorang untuk "terbang" atau tinggal; tentang Nicky. 

Beberapa karakter dalam cerita memang berasal dari ragam budaya yang berbeda, dari Vietnam, Rusia, Amerika Selatan, Yahudi, India, dan tentunya Indonesia—Nicky F Rompa. Menurut pengalaman Maggie yang pernah tinggal di Boston, begitulah Amerika the melting pot, bagaimana mereka berbaur dan mencoba bertahan di tanah impian Amerika. Barangkali itu pula yang ingin dipaparkan oleh Maggie, tentang kehidupan imigran (legal atau ilegal) yang seperti Nicky; tak tahu tujuan pasti untuk masa depan, yang penting hidup untuk hari itu. Walau demikian, karakter Nicky tetap saja memberi kita pelajaran akan hidup; dan ya saya menemukannya di akhir cerita. “Now, follow your gut and try to keep up with the game”, kalimat yang inspiratif walau tidak diutarakan oleh Nicky sendiri. Tapi, Nicky tahu bahwa memang begitulah seharusnya, ikuti saja kata hati dan lakukan yang terbaik; karena tidak semua orang bercita-cita jadi presiden. Hehehe...

Di akhir sesi diskusi, Maggie membacakan bab tambahan dari Winter Dreams yang ia tulis seminggu sebelum acara Winter Walk. Saya bukan pendengar cerita yang baik, jadi saya tak bisa mengambil kesimpulan apa-apa dari bab tambahan tersebut. Lagian, akhir cerita Winter Dreams sudah sangat memuaskan bagi saya tanpa harus ada bab tambahan. Bab tambahan tersebut memang hanya dibacakan pada diskusi buku, tidak akan ditayangkan di web atau di mana pun. Demikianlah, acara diskusi buku Winter Dreams di @ReadingRoomJKT. Semoga kalian tertarik membaca bukunya. Dan terima kasih kepada Maggie yang telah mengadakan acara ini. 

No comments:

Post a Comment