Saturday, April 14, 2012

Coba-coba Genre Fantasi

Malam ini, saya ingin menulis sesuatu, sebuah cerpen bergenre fantasi. Entahlah saya tidak yakin saya bisa. Tapi, saya ingin mencoba. Saya hanya akan mengikuti alur cerita tanpa teknik yang saya pelajari di PlotPoint. Kalau kata Maggie Tiojakin, teknik "Bring it on!". Huft, saya jarang membaca cerita fantasi, jadi referensi saya tak banyak, ide pun enggan muncul dari dalam kepala. Saya pernah baca "The Hobbit"-nya JRR.Toelkin, Harry Potter 4 jilid pertama, lalu...? Ah, sepertinya tidak ada lagi. Walau begitu saya cukup tahu genre fantasi berarti bercerita tentang dunia lain yang bukan horor atau misteri. Mesti ada penyihir, peri, goblin, kurcaci, naga, kuda terbang, apapun yang di luar logika dan tentunya di luar dunia nyata. Jadi, apakah cerita yang akan saya tulis berikut? Mari sejenak saya fantasikan...

I have no idea! Aarrggghhh...


Pagi itu tampak berlangsung seperti biasa, seperti ibu yang sesekali meneriakkan nama Toby supaya ia segera bangun dan bersiap sarapan; seperti ayah yang bersiul-siul sambil membaca koran di meja makan; dan seperti aku yang tak terlalu menikmati sarapan pagi karena susu coklat yang disediakan ibu selalu membuat perutku mulas seketika. Kata ibu, itu suatu kebiasaan yang baik--menguras sampah di dalam perut dan membuangnya ke dalam jamban setiap pagi. Oh, really, mom?! Tapi aku sungguh tak tahan perutku diaduk-aduk seperti itu. Tepat ketika aku menghabiskan sarapan, rasa mulas itu langsung menderaku--yang tentunya membuatku meninggalkan meja makan dan berlari ke kamar mandi.  
"Eits...!" Toby menghadangku di depan pintu kamar mandi kami. "Aku duluan, Moby! Kalau kau tak mengizinkanku untuk mandi sekarang juga, kau yang akan menanggung sanksi keterlambatanku di sekolah!" katanya begitu angkuh. Dengan mata mendelik tajam padanya, aku segera beralih ke kamar mandi orangtuaku. Toby suka sekali bangun kesiangan dan tiba-tiba berlagak seperti bos besar di depanku. Aku tak mengerti kenapa ia selalu butuh waktu tidur lebih lama. Ia selalu tidur lebih awal dan bangun paling akhir dibanding semua penghuni rumah ini.  
Oh, sesungguhnya aku berterimakasih pada ibu karena susu coklat yang ia sajikan untukku. Perasaan setelah semua sampah dalam perutku dibersihkan sungguh melegakan. Badanku terasa lebih ringan hingga untuk melangkahkan kaki ke sekolah menjadi lebih menyenangkan.  
Burung hantu yang bertengger di jam dinding di ruang tengah mendorong tubuhnya ke luar jendela kecilnya beberapa kali. Keluargaku tak benar-benar memelihara burung hantu, itu hanya asesoris jam dinding tua kami. Usianya lebih tua daripada ayah dan ibu--barangkali juga lebih tua daripada kakek dan nenek dari pihak ibuku. Kami tak membawa jam dinding itu dari rumah kakek ke rumah kami, tapi kami yang memang menetap di rumah kakek--meninggal ketika aku dan Toby berumur dua tahun, menyusul nenek yang setahun lebih dulu di surga. Jadi, aku dan Toby hanya mengenal mereka dari orangtua kami. 
Tepat burung hantu berhenti keluar masuk jendela kecilnya, Toby....


Saya berhenti sampai di sini. Hehehe... We'll see the result later! ;)

PS: Saya tak tahu mesti bercerita apa lagi, mungkin karena saya menulis kata 'berhenti' di kalimat terakhir yang bisa saya tulis tersebut. Padahal fantasinya belum kelihatan! Aarrgghh...

4 comments:

  1. Ya udah iseng2 saya bantu ide :p

    Tepat burung hantu berhenti keluar masuk jendela kecilnya, Toby berkata
    "kok cuman enam kali suaranya? bukan tujuh kali?"

    Memang seharusnya burung hantu kecil itu bersuara tujuh kali, namun saat suara ketujuh yang terlambat itu akhirnya berbunyi tiba-tiba aku merasa rumahku meledak dan semua yang ada disekelilingku berubah menjadi serpihan partikel-partikel kecil.

    Kecuali diriku
    dan jam burung hantu itu.

    Aku terdiam, aku tak tahu apa yang terjadi barusan, darahku seolah membeku, aku..

    "AWAS!"
    "BRUK!"

    "Uhh", sakit ini menyadarkanku, kembali,tapi tidak ditempat seharusnya tadi pagi aku berada yaitu rumah , entah dimana ini aku tak tahu yang kulihat hanya warna hijau gelap dan pohon -pohon besar disekelilingku dan seorang..

    "kau tidak apa-apa"

    Seorang ksatria.

    "Maafkan aku, kuharap kau tidak apa-apa, naga yang kutunggangi tiba-tiba seperti tak terkendali dan aku berusaha untuk, hei kau yakin tidak apa-apa?.

    Naga? Ksatria?

    Kupikir kepalaku mulai aneh dan berat, si ksatria tampak cemas, aku melihat dia berbicara tapi aku tidak mendengar suaranya.

    Aku pingsan.

    *sori kalau agak berantakan ya, :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Nova Prambudi... Terima kasih masukan idenya. It sounds interesting. Saya akan coba lanjutkan ceritanya akhir pekan nanti. Sekali lagi, terima kasih ya.. :)

      Delete
  2. Seharusnya bunyinya tik tok..tik tok..sampe 6 kali..jangan kepleset yah nulisnya wekeke

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir dan memberi saran. :)

      Delete