Sunday, April 29, 2012

Satu Novel Saja

You write your first draft with your heart. You rewrite it with your head. The first key to writing is to write, not to think.

So, never think what you write! Demikian nasihat bijak dan keras dari William Forrester kepada Jamal Wallace dalam film Finding Forrester. Film lama dari tahun 2000 yang saya tonton ulang kemarin. Saya lupa-lupa ingat sebenarnya apakah saya pernah menonton film itu atau belum. Seharusnya sudah, karena copy film ini ada dalam hard-disk laptop saya. Tapi, entah kenapa saya bisa melupakan film yang inspiratif ini. Setidaknya saya sebagai aspiring writer merasa sangat tergugah oleh ceritanya.

Saya kira, William Forrester, tokoh utama dalam film ini yang berprofesi sebagai penulis yang menyepi, benar-benar diangkat dari kisah nyata. Karakter yang diperankan oleh Sean Connery ini merupakan seorang penulis yang pernah menghasilkan satu novel yang terkenal, menuai begitu banyak pujian dan kritikan. Lalu, ia memilih untuk tidak mempublikasikan satu novel pun. Ia "menghilang" begitu saja. Kemudian di usia senjanya,  ia bertemu dengan seorang remaja berusia 16 tahun dengan bakat menulis, bernama Jamal Wallace, yang mendapatkan beasiswa di sekolah prestisius di New York. Saya tak akan menjelaskan plot selanjutnya ataupun inti cerita film ini.

Thursday, April 26, 2012

Diskusi Buku Winter Dreams


Sebagaimana yang telah diingatkan oleh Maggie Tiojakin—penulis Winter Dreams—lewat akun twitternya, acara diskusi buku Winter Dreams dilangsungkan di @ReadingRoomJKT pada sore hari ini (26 April 2012). Saya pun tertarik lagi untuk datang menghadiri acara seputar Winter Dreams tersebut—setelah Winter Walk (15 April 2012)—karena buku itu memang menarik. 

Setiba di Reading Room—sebuah reading lounge yang berlokasi di Kemang Timur—saya langsung bertemu dengan Maggie dan temannya dari DailySilvia.com (salah satu tim sukses acara selain Gramedia). Belum banyak orang, rasa-rasanya saya yang pertama datang, saya pun disambut oleh Maggie dengan mengenalkan beberapa foto yang dijepret di Boston, yang menggambarkan beberapa tempat yang dikunjungi Nicky F Rompa (tokoh utama Winter Dreams). Saya pun asyik melihat-lihat foto serta koleksi buku yang dijual dan tidak dijual di Reading Room—sebatas pojok tempat acara diskusi berlangsung di lantai dua. Sususan buku yang acak membuat pengunjung menjadi seorang pemburu buku; memperhatikan dengan jeli dari sudut ke sudut nama-nama buku yang ada. Saya bertemu dengan novel To Have and Have Not karya Ernest Hemingway, mengambilnya dari rak buku, dan mulai membaca. Lalu, datanglah seorang penulis terkenal Andrea Hirata yang membuyarkan konsentrasi saya. Saya cuek saja, walau sempat kepikiran untuk menyapanya, tapi saya bahkan tidak membaca karyanya satu pun. Hehehe...

Monday, April 23, 2012

Hari Buku Dunia 2012

23 April adalah hari buku semesta, seluruh dunia merayakannya, memberi selamat dan sanjungan kepada para pahlawan buku; penulis, editor, penerbit, serta tentunya pembaca buku itu sendiri, bahkan teruntuk guru TK/SD yang telah mengajarkan membaca pada kita yang pernah menginjak masa kanak-kanak. Di sini, saya tak akan bercerita panjang lebar tentang sejarah Hari Buku Dunia (World Book Day). Sepintas saja--karena anda bisa googling sendiri--bahwa ditetapkannya tanggal 23 April sebagai Hari Buku Dunia karena merupakan tanggal bersejarah meninggalnya sastrawan dunia Shakespear dan beberapa penulis besar lainnya, serta hari kelahiran Vladimir Nobokov (Penulis Rusia dengan karya terkenal Lolita) dan juga beberapa penulis besar lainnya--saya hanya mencatat nama dua penulis itu karena memang paling mudah diingat. Hehehe...

Jadi, apa semestinya yang menjadi tujuan hari buku ini? Sebagai penghormatan kepada para penulis? Atau sebagai peringatan betapa pentingnya membaca buku? Apapun, mungkin maknanya akan berbeda bagi tiap orang yang merayakannya. Bagaimana dengan anda? Apakah anda sudah membaca setidaknya satu buku hari ini? Jika belum, ayo cepat ambil satu buku yang anda punya/pinjam, dan segera tamatkan malam ini juga! Hehehe... Yah, memang tak mesti begitu, sih! Saya sendiri menghabiskan waktu sore saya dengan menamatkan buku kumcer Homecoming karya Maggie Tiojakin. Saya memberi 4 dari 5 bintang untuk karya tersebut. Saya juga menuliskan sedikit reviewnya di akun Goodreads saya. Yah, lumayan saya bisa merayakannya dengan sebuah buku bagus.

Monday, April 16, 2012

Winter Walk

Winter Walk lewat tagar #WinterWalk di twitter merupakan sebuah ajakan dari penulis Winter Dreams--Maggie Tiojakin--untuk menyimak lebih lanjut babak kehidupan seorang imigran Amerika, Nicky F Rompa. Para pembaca diajak berkumpul di Bundaran HI pukul 6-8 pagi. Hello? Sepagi itu? Ya, sepagi itu! Dan saya benar-benar niat mau datang ke acara itu. Saya penikmat perjalanan Nicky, saya menyukai karya Maggie, jadi kenapa tidak?! Jadilah, saya memantapkan diri pagi buta menuju Bundaran HI. Beruntung tempat tinggal saya tidak begitu jauh dari sana, sekitar 10 menit dengan mencegat taksi setelah berjalan beberapa meter--saya kepikiran untuk jalan kaki dari rumah ke Bundaran HI--saya tiba di tempat. Begitu ramai di sana dengan orang-orang yang jogging dan bersepeda. Sayangnya, hari itu bukan Car Free Day, hingga masih dilewati mobil pribadi dan kendaraan umum--termasuk taksi yang saya tumpangi, eh jadi untung juga ya bukan Car Free Day, hehehe...

Saya mengelilingi Bundaran HI itu satu kali putaran untuk mencari sosok Maggie. Saya hanya mengandalkan tampakan Maggie yang saya lihat di blognya. Saya rasa itu sudah cukup untuk bisa mengenalinya langsung. Dan pastilah akan ada semacam poster yang menandakan tempat berlangsungnya acara. It was just casual meeting. Pasti akan kesulitan mencarinya dalam kerumunan orang-orang. Saya terus menyalangkan mata di sekeliling bundaran itu. Tidak ketemu, lalu saya duduk di pelataran kolam, masih celingak-celinguk mencari sekumpulan Winter Walk. Tak lama kemudian, saya berjalan lagi mengelilingi bundaran, dari tempat saya duduk--tepat menghadap Jalan Thmarin--sampai 3/4 putaran saya melihat ke seberang jalan, tepat di trotoar di depan Kempinski Hotel. Ada 5-6 orang berkaos putih dengan cap-cap bibir merekah di kaos itu. Saya terus nyalangkan mata saya pada sosok perempuan berambut pendek, berkaca mata, memakai jaket, dan bertubuh "subur", saya pun yakin dialah Maggie. Saya segera menyeberang, dan mulailah perkenalan.


Saya senang sekali dengan sosok Maggie yang supel dan ramah. Pertama kali, ia menyuguhkan beberapa postcard dari Nicky F Rompa. Saya disuruh memilih satu. Ada 20 postcard yang akan disusun membentuk sebuah bab lanjutan dari Winter Dreams. Saya pun memilih postcard bergambar patung Liberty--I wish someday I could visit New York. Puzzle postcard tersebut akan dibacakan bersama pada acara diskusi buku Winter Dreams tanggal 26 April nanti di @ReadingRoom Jakarta.

Saturday, April 14, 2012

Coba-coba Genre Fantasi

Malam ini, saya ingin menulis sesuatu, sebuah cerpen bergenre fantasi. Entahlah saya tidak yakin saya bisa. Tapi, saya ingin mencoba. Saya hanya akan mengikuti alur cerita tanpa teknik yang saya pelajari di PlotPoint. Kalau kata Maggie Tiojakin, teknik "Bring it on!". Huft, saya jarang membaca cerita fantasi, jadi referensi saya tak banyak, ide pun enggan muncul dari dalam kepala. Saya pernah baca "The Hobbit"-nya JRR.Toelkin, Harry Potter 4 jilid pertama, lalu...? Ah, sepertinya tidak ada lagi. Walau begitu saya cukup tahu genre fantasi berarti bercerita tentang dunia lain yang bukan horor atau misteri. Mesti ada penyihir, peri, goblin, kurcaci, naga, kuda terbang, apapun yang di luar logika dan tentunya di luar dunia nyata. Jadi, apakah cerita yang akan saya tulis berikut? Mari sejenak saya fantasikan...

I have no idea! Aarrggghhh...

Wednesday, April 4, 2012

Review: Winter Dreams - Maggie Tiojakin


cover

Awal saya tertarik membeli buku ini adalah karena nama penulisnya yang tak asing lagi bagi saya—Maggie Tiojakin—karena blog Fiksi Lotus-nya yang menyajikan cerpen klasik dunia. Saya follow akun twitternya, saya tahu bibliografinya, latar belakangnya, dan barulah ketika novel perdananya terbit (sebelumnya Maggie menulis kumcer saja) saya sangat antusias untuk membacanya.

Buku ini terasa mengalir ceritanya, tak ada metafor-metafor yang tak penting (yang menurut orang-orang begitulah sastra dengan metafor rumit berbelit), tak tampak konflik yang begitu mengguncang, semuanya tenang tapi menghanyutkan. Saya rasa ini karena kedalaman ceritanya atau karakter tokohnya sendiri yang memang tampak biasa tapi punya daya tarik yang memikat saya untuk terus menyimak perjalanan hidupnya.