Sunday, March 4, 2012

Anomali


“Kini kau tahu, apapun pilihanmu…” Suara lemah perempuan baya itu tercekat. Duduk di sebuah kursi roda tak hanya melumpuhkan raganya, seluruh dunia pun seakan ikut runtuh menimpanya, setelah semua sejarah ia ungkap jelas. “Alya…” gumamnya terbata.

Alya—gadis muda yang duduk di tepi ranjang—hendak menolehkan kepala, tapi pigura dalam cengkram tangannya seolah magnet yang terus menarik perhatiannya. “Benarkah?” batin Alya.

“Alya, aku masih menyimpan alamatnya. Mudah-mudahan ia masih tinggal di sana.” Perempuan baya itu mencoba tegar, pun dengan isakan pelan.

“Cukup, Ma. Tolong tinggalkan aku sendiri,” pinta Alya. Ada tetes air mata yang mengalir di kedua pipinya. Alya tak tahan untuk membendung derai kesedihan yang menggelayutinya kini.

Satu-satunya sosok ibu yang Alya kenal itu mundur dengan kursi rodanya. Dilema akhirnya terpecahkan, dengan janji yang kemudian dikhianati. Janji seorang sahabat.

***


“Rohana, bantu aku, kumohon.” Kata-kata berbaur tangisan.

“Alya, apa yang tak kulakukan untukmu. Bersabarlah, aku akan bicara dengan suamiku.”

“Hana…” Tangisan semakin menjadi, lalu ia menghambur memeluk Rohana.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Rohana mendatangi Alya. Ia datang untuk menjemput, sekaligus berpisah. Rohana tak akan bertemu lagi dengan Alya, setidaknya dalam waktu yang sangat lama.

Alya tak lagi menangis, matanya kering sudah. Ia merelakan buah hatinya.

“Siapa namanya?” tanya Rohana.

“Aku tak berhak. Kau saja yang berikan nama untuk gadis kecil ini.”

Perpisahan tak terelakan. Jarak kian menjauh. Pilu tak berujung bagi Alya.

***

“Stadium akhir.” Vonis dokter yang menyakitkan Rohana. Ia teringat akan Alya. Kapan saja ia bisa dipanggil oleh maut. Ia pun tak mau Alya hidup dalam dusta, dusta bahwa ia ibu kandungnya.

Tahun berganti tahun hingga sudah dua puluh tahun ia meninggalkan tanah airnya. James, suami Rohana, seorang ekspatriat memutuskan kembali ke negara asalnya. Boston, di sanalah awal mula kehidupan baru Rohana. Bersama James dan bayi yang tak pernah dikandungnya.

“Alya, aku bukan ibu kandungmu. Papa James bukan ayah kandungmu. Robert pun bukan adik kandungmu…”

Kalimat itu bagai petir yang menyambar sekujur tubuh, Alya menegang. Firasat apa yang ia lewatkan hingga ibu yang dikasihinya berkata demikian mengejutkan. Kepulangan dari rumah sakit dengan vonis dokter itukah yang membuat ibunya ngelindur. Kepala Alya penuh tanda tanya.

Dengan kursi rodanya, Rohana ke kamarnya dengan Alya mengikuti. Di sebuah laci tersembunyi, ia keluarkan semua bukti untuk Alya.

“Alya…”

“Ya, Ma..”

Rohana tersenyum getir, “Bukan. Aku tak memanggilmu, Alya. Aku menyebut nama seorang sahabat.”

Kebingungan kian melanda Alya.

“Alya, aku akan kisahkan sekarang.” Alya mendekat pada ibunya—sosok perempuan yang kini membantah sebagai ibu kandung. Alya duduk di tepi ranjang. James dan Robert sengaja tak ikut bergabung dengan mereka di kamar itu.

“Aku dan Alya telah bersahabat sejak SMA. Lalu berbeda tempat kuliah, tapi tak disangka kami bekerja di tempat yang sama, sebuah perusahaan asing. Tempat Papa James bekerja dulu.” Rohana kembali tersenyum mengingat kenangan manisnya. “Aku memang menikah duluan, sedangkan Alya tak jelas berhubungan dengan siapa saat itu. Ia memang sedikit tertutup, apalagi sesuatu yang tak ia yakini betul. Persis seperti dirimu, nak.”

“Aku? Alya? Sahabatmu ibu kandungku?”

“Iya. Alya menyerahkan padaku untuk memberimu nama. Tanpa pernah ia ketahui, kuberi nama Alya, biar aku selalu ingat dengannya.”

Sejenak mereka terdiam, sibuk dengan pikiran yang mengusik.

“Alya tiba-tiba datang dengan sesenggukan ke rumahku. Ia hamil. Pria itu tak sudi bertanggungjawab. Setahuku, seorang ekspatriat juga. Entah untung atau tidak, kau tak pernah meragukan papa James adalah ayah kandungmu. Rupamu memang campuran bule.” Rohana mencoba mencairkan suasana. Ia tersenyum lagi.

“Alya sebenarnya sangat ingin merawatmu, tapi keluarganya tak mau menerimamu. Ia tak ingin anaknya   tumbuh tanpa ayah, dibesarkan dengan penolakan, hidup dalam keluarga anomali.”

Rohana melihat Alya menggeretakkan rahangnya.

“Alya, ibumu hanya ingin yang terbaik untukmu.”

“Ibuku?”

“Alya…”

Alya menggeleng, matanya berkaca-kaca. Kelopak itu berusaha kuat membendung aliran yang deras.

“Kau tetap anakku, Alya. Aku juga ingin yang terbaik untukmu. Aku tak mau kau terus hidup dalam kebohongan. Aku bisa mati kapan saja, dan aku tak mau saat itu terjadi aku masih menyimpan rahasia hidupmu.”

Alya menatap rupa perempuan muda dalam pigura yang diberikan Rohana.

***

Dua puluh empat jam berlalu sejak pengakuan Rohana. Dua puluh empat jam Alya merenung sendiri di kamarnya. Rohana mencemaskan keadaan Alya. Ia sangat menyayangi Alya seperti anak kandung sendiri. Ia pun sedih bila nanti Alya pergi meninggalkannya. Namun, itu sudah resikonya. Resiko yang ia sadari sedari awal menerima Alya.

“Don’t worry, dear!” James membelai lembut pipi Rohana. Di teras belakang rumah, mereka bercengkrama menghabiskan waktu sore. Semburat senja mulai tampak di langit.

“Papa James, Mama Hana…”

“Alya, come here, my little girl!” James menyambut Alya, ia memeluk erat Alya.

“Sudah, Pap! Biarkan aku memeluk mama!” Pinta Alya manja. Ia memang selalu dan tetap jadi gadis kecil Papa James.

“Mama..” gumam Alya sambil merangkul pundak Rohana. Raganya tampak lemas di atas kursi roda itu, sel-sel kanker menggerogotinya dengan ganas. “Mama, aku akan mengunjungi ibu kandungku.”

Rohana terkejut, walau sebenarnya ia telah mewanti-wanti dirinya kemungkinan itu akan terjadi.

“Mama, for all of my life, you’re always my mother.” Alya berlutut di hadapan Rohana. “Aku tak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada bersamamu.”

“Thank you, child!” Rohana terisak.

“No, mama. I thank to you.” Alya merasa tak sanggup berkata-kata lagi. “Ibu kandungku tak ingin aku hidup anomali. Aku akan menurutinya. Aku pun tak akan menjadikan keluarga ini anomali. Aku tak akan pergi. Aku akan menemanimu, Mama…hingga akhir hayatku.”

“Since we’re family, and family mustn’t be left. Always together, forever…” James menimpali.

***

Ibuku ternyata mendekam di rumah sakit jiwa, sudah bertahun-tahun, tak lama setelah menyerahkanku padamu, Mama. I know she had done wrong. She should have not left me. It would be anomaly, for her. She couldn’t recognize me. I’m deeply sorry for her.

Well, Mama, aku akan pulang dengan penerbangan esok pagi. I wanna see you soon, miss you so much, Mama, Papa, Robert! I won’t leave you. I won’t be anomaly.

Kiss ‘n hug!
-Alya-

Secarik surel dari Alya sedang dibaca Rohana bersama James. Di pembaringannya, Rohana berbahagia dengan kepulangan Alya. Alya pulang, ya, di sinilah rumahnya. Di pembaringannya pula, Rohana berharap masih ada waktu bagi Alya menemuinya, dalam keadaan bernyawa.

-the end-

No comments:

Post a Comment