Monday, January 9, 2012

Warna-warni Pelangi


Bidadari Pelangi



Merah, Kuning, dan Biru adalah tiga ciptaan Tuhan yang tinggal di suatu tempat yang tak berwarna. Merah, Kuning dan Biru serupa manusia tapi tampak transparan. Mereka tinggal bersama di rumah yang bening, sebening air yang mengalir di sungai belakang rumah. Mereka berpijak di atas tanah yang juga bening, sama beningnya dengan langit yang menaungi mereka. Ketika semua berwujud tanpa warna, mereka saling bertanya satu sama lain tentang dunia bening mereka.
“Menurutku, kita bertiga adalah warna. Tapi kenapa kita tak berwarna?” tanya Merah.
“Iya, kudengar dari dunia seberang, Kuning adalah nama warna. Kuning menjadi warna bintang di langit. Merah juga jadi warna api yang menghangati kita di musim dingin. Biru adalah warna laut tempat aliran sungai di belakang rumah kita berakhir.” Kuning tampak semangat bercerita pada Merah dan Biru. “Kita adalah warna, tapi kenapa kita tak pernah tahu seperti apa warna-warna itu, ya?” Kuning mulai bingung.
“Tenang, saudaraku. Keadaan kita sekarang hanya sementara waktu. Lihat saja nanti, kita pasti akan berubah sesuai warna kita masing-masing. Merah akan tampak merah, Kuning akan tampak kuning, dan aku, Biru akan tampak biru.” Demikian Biru yang kalem menjelaskan.
“Jadi, kita harus menunggu?” selidik Merah membara. “Ah, lama! Bisa jadi Tuhan menghendaki kita untuk berusaha mencari warna kita. Kita harus ke dunia seberang yang telah penuh warna!” lanjut Merah.
“Iya, Biru. Aku penasaran dengan rupa warna kita. Selama ini kita selalu bening,” sambung Kuning.
Biru mengangguk-angguk. Ia berusaha mengerti ketidaksabaran kedua saudaranya. “Baiklah, tapi ingat, perjalanan nanti akan panjang. Kita harus bersiap dengan segala rintangannya.” Biru memperingati. Biru seakan punya naluri yang kuat. Merah dan Kuning pun bersorak dengan rencana besar mereka, berpetualang ke dunia seberang.
Perjalanan mereka dimulai. Beberapa jarak yang ditempuh telah jauh meninggalkan rumah, tapi masih berada di dunia tanpa warna mereka. Biru mengeluh keletihan, ia ingin beristirahat sebentar. “Ah, Biru, kamu lemah sekali. Baru juga jalan sedikit sudah kecapaian!” Merah menggerutu. “Jalan sedikit??? Sudah berjam-jam kita berjalan tak henti, Merah!” bantah Biru. “Kamu aja yang lemah, baru segitu sudah mengeluh lelah.” Merah berkata sambil mendelikkan matanya. “Sudah, tidak usah istirahat! Aku mau kita tiba di dunia seberang secepat mungkin! Kalau perlu, kita berjalan terus tak usah berhenti.” Merah marah. Ia memang kurang bisa menahan emosi. “Aku tidak mau, Merah! Iya, aku lemah. Tapi, Kuning juga sudah terlihat keletihan. Kita harus istirahat dulu.” Biru tetap tak mengalah.
“Sudah, sudah...” sergah Kuning. Merah dan Biru berpaling muka. “Merah, ayo, kita istirahat sebentar. Kita sudah lama berjalan. Apa kamu tidak capai?”
“Tidak. Aku sama sekali tidak capai. Aku sangat bersemangat. Tidak seperti kalian! Kalian manja!” hardik Merah. Biru jadi sedih. Ia tak ingin membuat Merah marah. Melihat Merah yang tak bisa memahami dirinya, Biru jadi sendu. “Tuh lihat, sedikit saja sudah mewek. Tak usah pasang tampang sedih begitu, Biru.” Suara ketus Merah jelas tertuju pada Biru.
“Maaf,” kata Biru lembut.
“Merah, kamu apa-apaan, sih? Sabar sedikit, donk! Nanti juga kita sampai ke dunia seberang. Aku dan Biru cuma butuh istirahat sebentar,” kata Kuning tegas mencoba untuk tidak memihak dan bersikap adil.
“Argh, kalian mengacaukan rencanaku!” teriak Merah. Ia menggelegar berkata, “Kalau jadinya begini, aku mending pergi sendiri!” Merah mulai membara. Ia memanas. Melihat Merah seperti itu, Biru bertambah sedih. Gara-gara dirinya, Merah marah. Biru yang biasanya tenang tak bisa lagi menahan kesedihannya. Ia menangis. Air matanya mengalir sangat deras bagai hujan yang jatuh dari langit. Kuning pun jadi terlihat murung. Ia tidak suka Merah tak bisa bersabar. Merah memang tipe yang keras tak mau kalah bagai api yang terus menyulut. Bagaimanapun, Merah tetap saudaranya. Dan, Biru.. Ah, saudaranya yang berperawakan kalem, sangat kalem, tapi mudah sekali tersentuh perasaannya. Seperti saat ini, Biru terkesan cengeng karena mudah sekali menangis. Biru memang sudah tak tahan lagi menahan sesak di dadanya. Maka, Kuning biarkan Biru melepas sesak itu. Kuning mendampingi Biru, sedangkan Merah tampak gusar dengan berjalan mondar-mandir. Tak berapa lama kemudian, Biru sesenggukkan sambil menghapus sisa-sisa air matanya.
“Nah, kamu sudah mulai tenang, Biru. Tidak usah khawatirkan Merah. Energi semangat Merah memang luar biasa. Ia hanya emosi sesaat. Nanti juga ia baikan lagi. Kamu yang sabar, ya. Kamu adalah Biru saudaraku yang paling pengertian dan selalu menenangkan.” Kuning berkata sambil merangkul Biru. Kuning si bijaksana menjadi penengah di antara mereka. Emosinya tertata apik. Ia selalu bisa mengambil keputusan yang tepat, seakan ialah pemberi kehidupan bagai matahari yang menyinari bumi.
Akhinya, Biru mereda. Tapi, lihatlah, ke langit sana. Ada semburat-semburat yang begitu indah. Merah yang tadinya uring-uringan terdiam takjub. Biru juga tercengang melihat lengkungan yang sempurna dari langit turun ke bumi mereka. Kuning sumringah. Ia memeluk Biru erat. Mengagumi bersama. Ia pun mengajak Merah mendekat. “Bukankah itu warna-warna yang kita cari di dunia seberang?” ucap Kuning tanpa ragu. Pikirnya sudah jelas bahwa semburat-semburat lengkung itulah warna-warna yang ingin mereka lihat di dunia seberang. Mereka berpandangan. Terpana pada anugrah yang turun dari langit itu.
Lalu, seseorang yang seperti bidadari berseluncur di lengkungan itu. Jatuh tepat di depan Merah, Kuning dan Biru. “Selamat sore, anak-anak yang manis,” sapanya. “Selamat sore, wahai Bidadari yang tak bening. Bolehkan, kami memanggilmu bidadari?” balas Kuning dengan ketepatan pikirnya yang bagus. Merah dan Biru masih tercengang.
“Boleh saja. Hahaha.. Aku bidadari yang tak bening, ya? Iya, begitulah. Akhirnya, kalian menemukan warna-warna. Kesabaran kalian hidup dalam kebeningan, boleh kubilang itu kehampaan, teruji sudah. Lihatlah, semburat-semburat indah itu adalah warna-warna yang kalian cari. Semburat pertama itu warna dirimu, Merah.” Bidadari itu berkata sambil memandangi Merah yang tadi marah-marah. “Jangan sering marah, ya! Salurkan energi ekstramu untuk kebaikan, okay?” lanjut Bidadari. Merah tersipu malu, tapi ia senang dengan warnanya yang menyala itu.
“Mana warnaku, Bidadari?” tanya Kuning. “Sabar, Kuning. Cobalah sesabar Biru. Kuberi tahu dulu warna semburat kedua, ia Jingga,” jawab Bidadari. “Ia perpaduan dirimu dengan Merah. Cobalah nanti kalian berkenalan.”
Biru memperlihatkan senyumnya pada Bidadari. Ia pun sebenarnya tak sabar ingin mengetahui yang mana warnanya. “Biru,” sapa Bidadari. “Ya, Bidadari,” balas Biru. Bidadari pun tersenyum senang betapa Biru itu sangat menenangkan. “Sebentar, ya, aku kasih tahu dulu warna saudaramu Kuning.” Biru mengangguk patuh. “Kuning, semburat ketiga itu warna dirimu. Menyala terang bagai mentari di dunia seberang. Warnamu sangat indah, Kuning.” Kuning hampir melongo melihat warna dirinya. Indah, batin Kuning.
“Lalu, ada warna Hijau. Ia perpaduan dirimu dengan saudaramu Biru, ia sangat tenang juga benderang. Nah, Biru, setelah Hijau adalah warnamu. Kamu sungguh warna yang mendamaikan.” Biru kembali menyunggingkan senyum lebar, lebih lebar dari sebelumnya. Ia sangat mensyukuri keindahan warnanya.
“Terimakasih, Bidadari,” ucap Biru. Merah dan Kuning ikut memberi ucapan itu. “Tapi, dua warna lainnya apa?” tanya Merah. “Iya, Bidadari, masih ada dua semburat lagi,” sahut Kuning.
“Dua saudara kalian yang lain. Nila dan Ungu. Mereka perpaduan dari kalian bertiga,” jawab Bidadari singkat. Merah, Kuning dan Biru kemudian berangkulan, mereka telah menemukan warna-warna. “Dan, kalian adalah sekumpulan warna pelangi,” tambah Bidadari.
“Pelangi?” ucap mereka bertiga serempak. “Iya, pelangi yang selalu datang setelah hujan badai. Pelangi yang datang bersama sinar benderang. Kalianlah warna-warna yang memberi keindahan pada dunia. Lihatlah di sekitar kalian, sekarang. Semuanya telah berwarna.” Mereka memperhatikan semua benda yang semula bening telah berwarna-warni.
“Lalu, warna apakah dirimu, Bidadari?” tanya Kuning penasaran. Bidadari tertawa pelan. Kuning memang pintar, batin Bidadari. “Aku berwarna putih, sayang,” jawabnya. Merah, Kuning dan Biru saling berpandangan. Sang Bidadari kemudian menapakkan tangannya ke dada Merah, Kuning dan Biru bergantian. “Putih berarti suci. Dan, seharusnya hati kalian berwarna putih. Jangan nodai dengan keburukan. Maka, ia senantiasa berwarna putih.”
“Wah,” decak kagum Biru. “Hati kita berwarna putih. Sangat bersih, Merah, Kuning.” Merah dan Kuning mengangguk. “Baiklah, tugasku sudah selesai. Aku harus kembali ke kahyangan. Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi, ketika sang pelangi datang. Okay?” Bidadari pun pamit pergi.
“Tunggu, Bidadari. Adakah warna lain yang belum kau ceritakan pada kami?” cegat Merah. “Hmm,” Bidadari bergumam.
“Tadi, aku datang terlalu awal, ya? Baik, aku beri tahu, jika tadi kalian saling memaksakan diri tanpa henti, kalian akan bertemu dengan sebuah warna yang pekat, sangaaat pekat. Ia bernama Hitam. Hati-hati yang kelam bisa menjadi warna Hitam, berhati-hatilah.” Bidadari mengedipkan sebelah matanya. Ia bersiap menaiki pelangi. Pelan perlahan semburat pelangi menghilang. Merah, Kuning, dan Biru sekarang bahagia telah menemukan warna-warna. Dunia mereka menjadi berwarna-warni. Mereka akan merindukan hadirnya pelangi.
***

Jkt, 6 Januari 2010.


*Gambar dari Google

No comments:

Post a Comment