Wednesday, January 11, 2012

Perempuan Hampa: Sebuah Review Olenka The Darling - Anton Tchekhov


“She was always fond of someone and could not exist without loving.”

Sepenggal kalimat yang saya kutip dari cerpen berjudul The Darling karya Anton Tchekhov—sastrawan klasik Rusia—bercerita tentang seorang wanita bernama Olga Semyonovna atau Olenka yang penuh kasih. Mungkin karena itulah ia seringkali dipanggil Darling oleh kekasihnya, juga tetangganya. Berawal dari pertemuannya dengan seorang lelaki bernama Ivan Petrovitch alias Kukin yang merutuki cuaca mendung di pekarangan hunian mereka. Kukin seorang manejer teater terbuka, membuat pekerjaannya bergantung pada cuaca; kalau hujan tentu saja tak akan ada penonton dan pertunjukan. Olenka yang berhati lembut tetiba terenyuh melihat Kukin, benih-benih cinta bermunculan, akhirnya mereka jadi kekasih dan kemudian menikah.

“Her husband’s ideas were hers.”

Ya, hal tersebut berlaku juga untuk suami keduanya. Entah saking cintanya, Olenka seakan terseret arus pemikiran suaminya. Apa yang dikatakan oleh sang suami, Olenka menelan bulat-bulat ke dalam otaknya. Ia pun beropini yang sama dengan suaminya, selalu!


Suami pertamanya, Kukin, seorang yang bergelut di ranah teater membuat Olenka berpikiran sama dengan Kukin bahwa banyak orang tak peduli dengan seni dan teater yang digemari khalayak hanya yang vulgar-vulgar, seakan Olenka tahu dan paham betul tentang teater dan manajemennya. Namun, pemikiran itu hanya bertahan selama Kukin masih hidup. Kukin mengalami sakit, lalu meninggal.

Tiga bulan setelah itu—tiga bulan masa berkabung—Olenka dihampiri oleh tetangganya, Andreitch Pustovalov, yang baru saja pulang dari gereja. Olenka saat itu masih sangat sedih ditinggal Kukin, tampangnya murung sekali. Lalu, Pustovalov mencoba menghiburnya yang menjadi awal hubungan mereka hingga berakhir dalam pernikahan. Sebagaimana yang telah dijelaskan, Olenka merasa harus mencintai seseorang dan ia memang orang yang mudah jatuh cinta.

Menikah dengan Pustovalov seorang pebisnis di bidang perkayuan, membuat Olenka tetiba mengerti segala macam perihal bisnis kayu. Apa yang ada di pikirannya meniru apa yang ada di pikiran suaminya. Apa yang dilakukannya mengikuti apa yang dilakukan suaminya, dari urusan terkecil seperti makanan, kegiatan sehari-hari, dan peribadatan. Olenka bahkan tidak lagi menonton teater karena Pustovalov memang tidak suka hiburan apapun. Mereka hanya peduli bisnis dan menghabiskan waktu luang di rumah dan pelayanan di gereja.

Bagaimanapun, pernikahan mereka yang damai selama 6 tahun harus berakhir dengan kematian Pustovalov karena sakit yang dideritanya. Olenka sendiri lagi. Tapi, Olenka memang tak akan berkabung lama-lama. Enam bulan kemudian, ia bertemu dengan seorang dokter hewan dan ia pun kembali jatuh cinta. Namun, hubungan itu tak sampai ke jenjang pernikahan. Si dokter hewan marah besar ketika Olenka berbicara tentang penyakit-penyakit hewan saat teman-teman si dokter berkumpul di rumahnya. “Jangan bicara tentang apa yang tak kau pahami!” Begitu kira-kira kata si dokter hewan. Lalu, tak lama kemudian si dokter hewan pergi, Olenka pun sendiri dan hampa.

Olenka tak punya opini tentang apapun. Bertahun-tahun Olenka tanpa pasangan, tanpa kebahagiaan, dan tanpa bisa menyampaikan gagasan tentang apapun yang ada di sekitarnya. What a pity woman!

Akhir dari cerpen The Darling ini masih agak panjang, Olenka masih dipertemukan dengan orang lain yang akhirnya membuat ia bersemangat lagi. Tapi, cukuplah sampai di sini saya me-review cerpen ini.

Sebenarnya sudah lama saya membaca cerpen ini, tapi saya buka kembali, saya baca lagi. Akhir-akhir ini saya diolok-olok oleh seorang teman perempuan hanya karena saya tak suka dengan beberapa hal. Beberapa hal yang ternyata berkaitan dengan kegiatan pacarnya, walau awalnya saya tak berniat menghubungkan apa yang tidak saya suka itu dengan pacarnya. Yang saya heran adalah, sindiran saya untuk pacarnya menjadikannya sewot dan misuh-misuh sampai-sampai saya dikatakan ini-itu. Seakan-akan apa yang dilakukan pacarnya adalah apa yang juga disenanginya. Oke. Anggaplah memang begitu. Dan mudah-mudahan memang begitu bila mereka ternyata tak ditakdirkan bersama lagi. Tidak, saya tak berharap mereka berpisah. Semoga mereka tetap langgeng.

Karena peristiwa itulah, saya teringat pada Olga Semyonovna alias Olenka alias The Darling yang hanya manut kata orang-orang yang dicintainya. Perempuan seakan-akan manusia yang tak berpendirian. Saya jelas menolak apa yang disampaikan oleh Tchekhov. Saya pikir perempuan ini hanya ada di cerita fiktif, tapi sastra itu memang tiruan realita—mimesis kalau kata Plato. Buktinya saya bertemu dengan perempuan seperti Olenka, yang membela habis-habisan gagasan orang yang dicintainya.

Dari Olenka sedikitnya saya belajar bagaimana menjadi perempuan. Perempuan boleh saja penuh kasih, lembut dan mudah dicintai, tapi ia tak boleh kosong! Maka itu, perempuan harus bisa berpendapat sendiri, menekuni kesenangan di hati tanpa pengaruh dari pacar atau suami. Kalau memang tidak suka apa yang dilakukan suami, katakan tidak suka. Tak ada perceraian yang terjadi hanya karena beda opini, kan? Toh, bukan sesuatu yang prinsipal. Misalnya saja, pacar saya suka baca manga Naruto, saya sendiri tidak suka baca komik, lalu apakah saya harus ikut-ikutan (terpaksa) baca Naruto? Tidak! Lalu, apakah saya diputuskan pacar karena itu? Tidak! Cinta itu bukan karena kesamaan kedua pihak. Cinta itu justru karena perbedaan kedua pihak yang ternyata malah jadi pengisi kekurangan masing-masing dan penambah khazanah wawasan kita. Terima kasih, Olenka, kau telah jadi contoh untuk perempuan pelajari. Semoga tak banyak perempuan sepertimu, Olenka The Darling…

No comments:

Post a Comment