Monday, January 16, 2012

My Short Story Class Review


Here I copy my teacher’s review on how I had studied in writing short story for several weeks in PlotPoint School. My teacher is Eka Kurniawan, the Indonesian prominent writer. Now, let’s take a look and learn to be a better storyteller. 


Hi, Vira,maaf review untukmu mepet-mepet nih. tapi nggak apa-apa, kan? hehehe ...
terus-terang, sejak awal, progres menulis cerpenmu tertata dan sangat prospektif. bisa dibiliang, hasilnya kamu benar-benar sudah menulis sebuah cerpen, diawali sekadar sebaris ide. tapi tentu saja masih ada beberapa hal yang perlu diperbincangkan mengenai cerpenmu. tapi perbincangan ini lebih sekadar "mengasah" saja. jika umpamakan cerpenmu adalah sebilah pisau, cerpenmu sudah menjadi pisau. kita hanya perlu mengasahnya agar lebih tajam. nah, untuk urusan asah-mengasah ini memang sudah di luar kelas belajar ... yang kamu harus lakukan tak lain menulis dan terus menulis sebanyak mungkin.
baiklah ada 2 hal penting yang ingin saya obrolkan dengan studi kasus cerpenmu:
pertama, pada dasarnya cerpen kamu memasuki dunia penulisan yang lebih lanjut: genre. dalam hal ini, kamu mengambil genre satir. satir itu kurang lebih jenis cerita dimana kita memang bermaksud membuat leluson/olok-olok tentang seseorang atau masyarakat. biasanya, maksud olok-olok itu tidak untuk sekadar lucu-lucuan, tapi terutama untuk kritik sosial.
dalam hal ini, kisah tentang pengusaha tamak yang tak peduli pada lingkungan, sudah sangat berhasil kamu angkat. kamu menulis satir tentang tokoh pengusaha nyata (yang bahkan kamu plesetkan dalam namanya).
problem satir biasanya, karena mengacu kepada seseorang atau masyarakat tertentu, hanya dikenali oleh pembaca yang mengetahui orang tersebut atau lingkungan masyarakat tersebut. pembaca yang tak tahu apa-apa tentang orang/masyarakat yang dibikin satir, hanya akan menangkap cerita tanpa mengetahui referensi ke sumber nyata.
nah di sini lah tantangannya, bagaimana kita membuat kisah satir dengan referensi orang/masyarakat tertentu, tapi sekaligus referensi itu dibuat longgar sehingga tak tergantung kepada orang/masyarakat yang nyata tersebut.
contoh kisah satir (dalam bentuk fabel) paling terkenal barangkali novel "Animal Farm" karya George Orwell. Pada dasarnya itu kisah mengenai negara/masyarakat diktator yang mengacu ke Uni Sovyet setelah revolusi. Tapi di tangan Orwell, kisahnya menjadi cerita tentang binatang-binatang di peternakan yang memberontak (revolusi) kepada pemilik peternakan. di akhir cerita, toh akhirnya ternak-ternak itu tetap tertindas oleh pemimpin mereka (babi yang memimpin revolusi). Nah, orang yang tak tahu apa-apa tentang revolusi Sovyet, tentu tetap bisa membaca novel itu dan memperoleh maknanya, karena ikatan "animal farm" dan "sovyet" toh dibikin longgar.
di cerpenmu, pada dasarnya ikatan ini bisa dibilang longgar, kecuali tentu saja (hehe) mengacu ke nama tokohnya. tentu saja ini tak masalah, tapi efek yang diterima pembaca yang mengetahui kisah mengenai pengusaha tersebut dan yang tidak mengetahui, tentu saja menjadi berbeda. plus, meskipun sah, media biasanya agak menghindari kevulgaran semacam ini (mungkin mereka juga takut kalau2 ada masalah hukum).
kedua, ini masalah twist.
cerpenmu mengandung twist yang sebenarnya sangat menarik. aku pernah ngobrolin soal twist di twitter, tapi mari kita bahas kembali di sini.
salah satu metode membuat twist adalah dengan menciptakan dua alur yang berjalan paralel (tentu banyak metode lain). satu alur dibuat begitu jelas, sementara satu alur dibuat tersamar. metode ini penting untuk membuat pembaca merasa seolah-olah hanya ada satu alur saja dalam cerpen tersebut, hingga di bagian twist, alur yang tersamar muncul ke permukaan dan mengejutkan pembaca (tapi pembaca tak akan merasa ditipu karena pada dasarnya "clue" sudah ada tersamar sejak awal).
nah, cerpenmu pada dasarnya mempergunakan metode dua alur ini. alur pertama: kisah mengenai pengusaha yang jahat, merusak lingkungan, dihukum, dan hendak mengakali hukumannya. alur kedua: kisah mengenai Malik yang diam-diam ingin berlaku jujur dan menggagalkan rencana si pengusaha.
problem cerpenmu adalah, kedua alur tampak sama-sama jelas. kisah mengenai Malik, karakternya yang baik, sejak awal sudah nampak (aku sudah mengingatkan ini, tapi waktu itu belum kubilang mengenai twist). sehingga, ketika twist muncul, pembaca tak terlalu merasa surprise.
membuat satu alur tersamar di balik alur lain yang tampak jelas memang gampang-gampang susah. ini hanya bisa ditemukan dengan cara berlatih. beberapa penulis biasanya menyisipkan informasi soal alur samar dengan cara digabungkan dengan alur yang jelas, atau dibikin sepotong-sepotong seolah bukan hal penting. tapi kurang lebih, demikianlah.
seperti kata pepatah: practice makes perfect :-)

There’s a proverb written “Practice makes perfect”, but I say “Nobody’s perfect”. :))
After all, thank you very much to Pak Guru, already given me a wide scoop of how to write the (almost) perfect short story. Hopefully, I can be a professional storyteller like him. Wish to God for the best.  

2 comments:

  1. woaaaah (*.*) kritiknya bagus bangeeet! membangun bangeeet! jadi kepingin di-review sama beliau deh mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisaaa...ikut sekolah di Plot Point aja :)

      Delete