Saturday, January 14, 2012

Imajinasi Sang Penulis

"Kenapa kamu tak menulis cerita lagi?"
"Tak ada ide. Saya tak tahu harus menulis cerita tentang apa."
"Ide ada di mana-mana. Kamu bisa pungut dari sekeliling kamarmu. Tidak bisakah kamu bercerita tentang laptop yang ada di depanmu?"
"Cerita tentang laptop? Hahaha... Apa menariknya?"
"Semua ide sama saja, yang menjadikannya menarik adalah kamu si pengeksekusi ide."
"Fiuh, entahlah.. Saya benar-benar tak tahu mau menulis apa. Otak saya seakan beku."
"Kamu bahkan belum mencoba!"
"Ya, dan saya masih tidak tahu bagaimana memulainya."
"Pungutlah satu kata yang terlintas di kepalamu!"
"Apa?"
"Terserahmu!"
"Terserah saya? Bagaimana kalau kata yang saya pilih kata yang tak berarti."
"Tugasmu memberi kata itu arti. Hey, bukannya kamu seorang penulis?"
"Hmm, iya, sih! Tapi, saya sedang tidak dalam keadaan ingin menulis. Karena saya tidak tahu harus menulis apa. Saya lagi buntu. Pikiran saya kosong."
"Kosong? Bukannya kamu sudah membaca seharian ini?"
"Iya, tapi bukan berarti saya harus menulis apa yang telah saya baca, kan? Itu sama saja dengan plagiat! Dan saya bukan penulis seperti itu!"
"Tentu saja saya tidak menyuruhmu menyalin apa yang telah kamu baca. Tidak bisakah kamu bercerita dengan kata-katamu sendiri tentang apa yang kamu dapat dari bacaanmu itu?"
"Saya tak tertarik menulis begituan. Saya ini penulis cerita fiksi. Saya mendapatkan ide cerita dari khayalan saya."
"Kalau begitu mengkhayal, donk! Apa kamu tak bisa mengkhayalkan apa pun? Bahkan dari apa yang kamu baca, tak bisa kamu khayalkan sesuatu yang beda dari itu? Bukankah itu gunanya kamu membaca?"
"Guna membaca itu..."
"Apa? Kenapa kamu terdiam?"
"Saya ingin tahu apa yang mereka tulis. Itu saja!"
"Iya, iya, tapi santai saja! Tak usahlah emosi begitu. Lalu, setelah kamu tahu apa yang mereka tulis, bukankah saatnya kamu melanjutkan pekerjaanmu?"
"Apa pekerjaanku?"
"Menulis! Kamu pikir apa lagi? Apakah pekerjaan seorang penulis itu bernyanyi?"
"Oh..."
"Kenapa kamu jadi tolol begitu, sih?!"
"Hey, hati-hati bicara! Saya tidak tolol!"
"Kalau begitu, menulislah!"
"Kamu pikir yang saya kerjakan ini apa? Mentransferkan isi pikiran kita ke dalam barisan kata-kata di layar putih ini dengan apa adanya, kamu pikir saya sedang tidak menulis, hah?"
"Kamu makin pemarah saja, sih?!"
"Biarin!"
"Tapi, kamu bilang kamu penulis fiksi, kenapa malah menulis beginian?"
"Kamu memaksaku menulis terus, sih! Argh...ini gara-gara sudah berhari-hari saya tak menghasilkan satu cerita pun!"
"Ya sudah, sabar saja! Kadang penulis tidak tiap hari bisa bercerita. Oh, ya, bukankah kamu tahu bahwa Plato mengatakan sastra itu tiruan realita? Mimesis!"
"Lalu?"
"Ya, kamu tulis saja cerita yang berangkat dari realita. Kamu bisa tulis cerita tentang kejadian menarik yang terjadi di sekitarmu. Atau kamu bisa menulis kejadian yang kamu sendiri alami. Lalu, kamu poles sedikit menjadi fiktif."
"Selama ini kamu pikir saya tak menulis seperti itu? Ternyata kamu juga bodoh, ya?! Hahaha..."
"Hah... kamu bilang kamu butuh berkhayal untuk menulis cerita. Jadi?"
"Semua cerita fiktif yang saya tulis berangkat dari realita. Tak ada yang benar-benar imajinatif. Bahkan untuk cerita surealis tentang peri dan goblin. Itu hanya pengembangan dari realita. Ada manusia baik, ada manusia jahat. Tugas saya berimajinasi dan menuliskannnya ke dalam bentuk cerita khayali."
"Kalau begitu, kenapa kamu tak berkhayal sekarang?"
"Menurutmu sekarang ini saya tak berkhayal? 
"Saya tak mengerti..."
"Menurutmu sekarang saya mengobrol dengan siapa? Menurutmu saya bicara dengan orang beneran? Sudah sana!"
"Hahaha... iya ya, sebenarnya dari pertama saya menyapamu, kamu sudah menulis. Tapi, masa sampai di sini saja? Kamu benar mau mengusirku? Oh, kamu sudah tahu topik cerita yang mau kamu tulis, ya? Wah, bagus!"
"Nggak juga, sih! Kamu hanya terlalu cerewet. Hmm..."
"Hmm..."
"Ah, kamu sudah tak berguna. Saya ingin istirahat. Selamat malam!"
"Hey, tunggu! Saya ikut tidur bersamamu, ya..."

Sang Penulis mematikan laptop. Ia ingin jadi penulis sehat, tidur cukup dan tepat pada waktunya. Saat penulis itu tidur, sosok imajinatif dalam kepalanya masih bermain-main, memberinya semacam mimpi. 

No comments:

Post a Comment