Sunday, January 15, 2012

9 Nyawa Puma

Puma, 

Kamu di mana? Masih hidup? Hmm, aku harap sih begitu.

Sudah lama ya kita tak bertemu?! Berapa bulan? Berapa tahun? Memang sudah tahunan, ya?! Kamu ingat kapan terakhir kita ketemu? Saat kamu melepaskan diri dari pelukanku, kan?! Uh, aku kesal! Tapi, aku tak bisa marah. Kamu memang tak bisa dipaksa. Kamu pasti mengelak diikat. Kamu lebih baik bebas dari pada harus terpenjara walau sementara. Dan hingga kini aku masih kesal, tahu! 

Puma, 

Bila kini kamu terlunta, maafkan aku, ya?! Memang ini salahku yang dahulu meninggalkanmu dan tak pernah kembali lagi menjemputmu. Tapi, kamu sendiri juga salah, sih?! Kenapa tidak mau kukerangkeng dalam kandang??? Kamu malah berteriak, mencakar, dan berlari terbirit. Aku mencarimu, tahu!

Puma, 

Mungkin seharusnya aku menunggumumu lebih lama. Bersabar menantimu tenang. Seharusnya memang tak perlu kandang. Toh, aku bisa memelukmu terus hingga tujuan kita. Iya, kita! Aku berencana membawamu pindah bersamaku ke rumah baru, tahu!

Puma, 


Jadi ini memang salahku. Jadiii... Maafkanlah aku, ya! Aku memang bukan sahabatmu yang sempurna. Aku telah meninggalkanmu di rumah lama. Oh, betapa indahnya kenangan kita di sana. Oh, aku rindu kamu, Puma!


Puma, 

Kamu datang dibawa oleh kakakku. Ia menemukanmu di belantara Sudirman Jakarta, terisak linglung tanpa saudara. Kamu kesepian sebatang kara. Kakakku mengantarmu ke pelukan kami, kamu menjadi bagian keluargaku. Aku sempat pikir kamu pasti jadi kucing jelek. Lihat saja, warna rambutmu yang hitam legam! Ih, rasa-rasanya aku jadi penyihir yang punya kucing hitam licik saat itu. Tapi, tidak... Sesungguhnya, kamu kucing hitam yang manis dan lucu. 

Puma, 

Saat aku sendiri, kamu datang mengeluskan tubuhmu di kakiku. Kamu tertidur di pangkuanku ketika aku asyik menonton TV. Bahkan, saat kita juga berfoto bersama. Ternyata kamu sama narsisnya denganku! Oh, ya, kamu ingatkan saat aku menangis tersedu-sedu di sudut kamar ketika aku patah hati?! Kamu menungguku di kamar itu, seakan mencoba menghilangkan duka laraku. Oh, Pumaaa... Kenapa kamu tak mau ikut denganku?!

Puma, 

Kini kita telah berpisah jarak. Aku tak tahu apakah 9 nyawa yang kamu punya masih mempertahankan kehidupanmu di dunia ini. Kamu telah terlantar. Tapi, aku yakin kamu telah dewasa, kamu telah bisa menemukan jalan untuk dirimu sendiri. Mungkin kamu tak akan pernah menemukan jalan ke tempatku. Tapi, kamu selalu ada di hatiku. 

Kecup sayang dan peluk hangat untuk dirimu, Puma...

Aku sayang kamu, kucing hitam manisku yang lucu...

Puma et moi :)



No comments:

Post a Comment