Thursday, January 26, 2012

Proses Kreatif Andante


Riset dari internet itu sebenarnya cukup memadai, tapi menjadi tidak menyenangkan jika koneksinya ngadat!!! Uh… Saya hanya ingin tahu, hari apa yang biasa digunakan untuk kegiatan ekskul di SMA, bagaimana kegiatan itu dilaksanakan, apakah kelas 3 atau XII tetap boleh ikut ekskul, dan bla bla bla. Semuanya pasti akan berbeda seperti apa yang pernah saya alami ketika saya SMA dulu.


Buat apa sih, ini? Penting amat kayaknya! Iya penting! Demi “The Story of Andante”! Sebutannya itu saja, dulu! Entah ceritanya akan menjadi apa. Tapi, beberapa bagian pernah saya posting di tumblr saya. Saya ingin melanjutkannya hingga kata tamat! Cerita ini telah menggantung sekian lama. Barangkali sejak tahun 2010 (seingat saya), sejak ide cerita Andante muncul di kepala saya, lalu saya menuliskannya tanpa tujuan yang jelas di Kompasiana, lalu berhenti karena mentok ide, lalu saya posting lagi di tumblr dalam edisi yang sudah saya revisi, dan tetap mentok kembali!


Andante ini sebenarnya saya karang berdasarkan cerpen yang pernah saya tulis waktu saya SMA kelas 3. Cerpen ini judulnya “Lola” dan pernah dinilai menarik oleh beberapa orang dewasa yang pernah membacanya (tak lain adalah kakak saya dan beberapa senior saya di kampus lama saya di Padang). Entah kenapa beberapa tahun setelah itu, saya mencetuskan untuk menulis ulang cerita itu. Mungkin karena saya tidak menemukan naskahnya lagi, hilang entah kemana. Padahal ceritanya cukup bagus, menurut orang yang pernah membacanya (saya tidak akan membocorkan ceritanya tentang apa). Saya bahkan tidak menyangka bisa menuliskan cerita seperti itu ketika SMA dulu. Khayalan terlalu tinggi! Uh..

Wednesday, January 25, 2012

Oklahoma

Dear readers,

I'm not a singer, but I do like singing. I like karaokeing. This is one of my favorite song, sung originally by Billy Gilman.

I don't expect your standing ovation. I just want to sing. And, here it is! Check it out! Oklahoma

Best regards,
Yours. :*

Hahahahaha...

Tuesday, January 24, 2012

Bookworm or Just Impulsive?



- 16 anthology books of short story & poem
- 19 Indonesian-translated novels
- 3 English novels
- 9 Indonesian novels
- 17 non-fiction books

Totally, there are 64 books which I haven’t finished to read! Some of them, I even never touched! I’m so impulsive but I’m slow to read. One year has 52 weeks, so at least I have to read 1 book a week if I want to clean up the unread booklist. And, of course, I must stop buying some books this year!

Well, I’ve just counted the number of books in my bookshelf, which I’ve bought since I lived in Jakarta in 2005. And I only read completely only 62 books. What? Even it’s not half of total books I have! Just nearly half?! I only seriously read 6 books a year?

Tuesday, January 17, 2012

Bagiku Kamu adalah Selebtwit

Teruntuk selebtwit yang kucintai... @nulisbuku

Sudah lebih satu tahun. Betapa kamu adalah pembuka pintu menuju dunia kepenulisanku. Aku sangat berterima kasih padamu, Nulisbuku.com. Tanpa kamu, entah jadi apa aku kini? Hanya berada di dalam tembok kokoh yang mengurungku dari hiruk-pikuk perbukuan Indonesia. Ah, betapa... aku bersyukur bisa berpartisipasi dalam acara pertamamu saat itu. Ide gila! 99 Writers in 9 Days? Tapi, siapa sangka... acara itu sukses! Malah lebih dari 99 penulis pemula maupun profesional yang melahirkan karya bukunya dengan kamu sebagai bidan. Dan aku bahagia bisa jadi bagian acara itu. Aku bahagia akhirnya punya karya buku dengan namaku sebagai pengarangnya. Terima kasih, Nulisbuku.

Monday, January 16, 2012

My Short Story Class Review


Here I copy my teacher’s review on how I had studied in writing short story for several weeks in PlotPoint School. My teacher is Eka Kurniawan, the Indonesian prominent writer. Now, let’s take a look and learn to be a better storyteller. 

Kukembalikan Sisa Cintaku Padamu

Dear Cinta Pertama,

Kau datang tak kuduga, lalu pergi tiba-tiba. Kau datang membawa cinta, lalu pergi meninggalkan duka. Kau tidak peduli betapa singkatnya perjumpaan, yang kau ingin hanya perpisahan. Aku tak paham, membuatku tenggelam.

Kau tak pernah lagi menampakkan muka. Kau benar-benar tak mau tahu. Kau biarkan aku terengah-engah. Aku butuh segera diselamatkan. Oleh kau.. Kau yang tak lagi peduli.

Kenapa kau tak bertahan? Kenapa kau kira jodoh hanya di tangan Tuhan? Tak maukah kau usahakan? Apapun kata orangtuaku, tak bisakah hubungan kita tetap berjalan?

Ah.. Aku terlalu percaya bahwa cinta adalanya segalanya. Aku terlalu memujamu setinggi angkasa. Mungkin itu yang membuatmu merasa di awang-awang. Hingga lupa pada indahnya kenangan.

Sunday, January 15, 2012

9 Nyawa Puma

Puma, 

Kamu di mana? Masih hidup? Hmm, aku harap sih begitu.

Sudah lama ya kita tak bertemu?! Berapa bulan? Berapa tahun? Memang sudah tahunan, ya?! Kamu ingat kapan terakhir kita ketemu? Saat kamu melepaskan diri dari pelukanku, kan?! Uh, aku kesal! Tapi, aku tak bisa marah. Kamu memang tak bisa dipaksa. Kamu pasti mengelak diikat. Kamu lebih baik bebas dari pada harus terpenjara walau sementara. Dan hingga kini aku masih kesal, tahu! 

Puma, 

Bila kini kamu terlunta, maafkan aku, ya?! Memang ini salahku yang dahulu meninggalkanmu dan tak pernah kembali lagi menjemputmu. Tapi, kamu sendiri juga salah, sih?! Kenapa tidak mau kukerangkeng dalam kandang??? Kamu malah berteriak, mencakar, dan berlari terbirit. Aku mencarimu, tahu!

Puma, 

Mungkin seharusnya aku menunggumumu lebih lama. Bersabar menantimu tenang. Seharusnya memang tak perlu kandang. Toh, aku bisa memelukmu terus hingga tujuan kita. Iya, kita! Aku berencana membawamu pindah bersamaku ke rumah baru, tahu!

Puma, 


Jadi ini memang salahku. Jadiii... Maafkanlah aku, ya! Aku memang bukan sahabatmu yang sempurna. Aku telah meninggalkanmu di rumah lama. Oh, betapa indahnya kenangan kita di sana. Oh, aku rindu kamu, Puma!

It's about #30HariMenulisSuratCinta


Am I really tied to do this thing? #30HariMenulisSuratCinta means that I have to write a love letter every single day for 30 days along. It was begun yesterday and will be ended on February 14th, the special day according to some people. Yeah, Valentine’s Day. I guess that’s the purpose of this event brought by social media enthusiasts. Whatever, I think it’s a good chance to introduce my blog to social media junkies, right? Not sure, but nothing to lose. Even it may increase my writing skill if I write a letter every day. For 29 days ahead, I try to stimulate my heart to arise a special feeling to a few of people or some special things. Actually, I already have that special feeling, but probably I have to gain deeper feeling… that is love. Love actually, huh? Hehehe…
So, whom did my first love letter go to? Well, she’s Icha, my best friend since we were in the same class at first grade junior high. More than 10 years of friendship, and she’s getting married next month. I think it’s a good idea to show my gratitude and affection to her. We’ve been through many years with laughter, laughter, more laughters and a lil bit sadness. That’s why I chose her as first person to receive my first love letter.

Saturday, January 14, 2012

Menjelang Pernikahan

Dear My Bestgal Icha,

Cha, beberapa hari yang lalu, elo nelepon gue di tengah hari saat gue lagi santai di kamar. Ngeliat nama lo di layar hp gue, rasanya biasa saja, walau lo jarang-jarang nelepon gue. Iya, biasa saja! Sumpah! Hehehe... Ini kali kedua lo nelepon gue semenjak lo mengumumkan akan segera menikah ke gue via sms. Saat baca sms lo waktu itu, gue senang, tapi sedih juga, ternyata gue dilangkahin! Uh.. gue kan juga mau! Hehehe... Trus, gue minta lo nelepon gue segera, minta diceritakan kronologis rencana pernikahan lo itu. Namun, tak segera kau lakukan! Kau berdalih dengan segala macam alasan! Benci! Hihihi... Bagaimanapun, ternyata gue tetap setia menunggu telepon dari lo, Cha. Sampai akhirnya, entah berapa minggu kemudian...

Kita lama bercerita, eh, maksudnya elo yang bercerita, tentang impian putri manapun di dunia ini. Lo bakal menikah dengan orang yang seringkali lo sebut dalam setiap curhat colongan lo ke gue. Berapa tahun, ya, Cha? Hmm, sepertinya sekitar dua tahun lo menyebut namanya di setiap sesi curhat kita tentang cinta. Gue masih inget gimana tampang manyun lo saat kesel sama dia. Kalian pernah berhubungan jarak jauh. Lo di Bandung, dan dia di Padang. Gue inget betul gimana lo nyuekin gue saat gue jalan-jalan ke Bandung dan nginep di kamar kost lo karena lo mendadak terima telepon dari si pacar. Tapi, tak lama... Setelah itu, lo ngajakin gue ngobrol lagi. Lagi, tentang dia. Berbagi perasaan cinta, sayang, dan kebanyakan kesal, membuat gue merasa berarti di mata lo. Gue sahabat lo, yang pantas menjadi tong sampah lo. Eh? Hahaha... Ya begitulah, gue juga buang sampah ke lo, kan?!

Imajinasi Sang Penulis

"Kenapa kamu tak menulis cerita lagi?"
"Tak ada ide. Saya tak tahu harus menulis cerita tentang apa."
"Ide ada di mana-mana. Kamu bisa pungut dari sekeliling kamarmu. Tidak bisakah kamu bercerita tentang laptop yang ada di depanmu?"
"Cerita tentang laptop? Hahaha... Apa menariknya?"
"Semua ide sama saja, yang menjadikannya menarik adalah kamu si pengeksekusi ide."
"Fiuh, entahlah.. Saya benar-benar tak tahu mau menulis apa. Otak saya seakan beku."
"Kamu bahkan belum mencoba!"
"Ya, dan saya masih tidak tahu bagaimana memulainya."
"Pungutlah satu kata yang terlintas di kepalamu!"
"Apa?"
"Terserahmu!"
"Terserah saya? Bagaimana kalau kata yang saya pilih kata yang tak berarti."
"Tugasmu memberi kata itu arti. Hey, bukannya kamu seorang penulis?"
"Hmm, iya, sih! Tapi, saya sedang tidak dalam keadaan ingin menulis. Karena saya tidak tahu harus menulis apa. Saya lagi buntu. Pikiran saya kosong."
"Kosong? Bukannya kamu sudah membaca seharian ini?"
"Iya, tapi bukan berarti saya harus menulis apa yang telah saya baca, kan? Itu sama saja dengan plagiat! Dan saya bukan penulis seperti itu!"
"Tentu saja saya tidak menyuruhmu menyalin apa yang telah kamu baca. Tidak bisakah kamu bercerita dengan kata-katamu sendiri tentang apa yang kamu dapat dari bacaanmu itu?"
"Saya tak tertarik menulis begituan. Saya ini penulis cerita fiksi. Saya mendapatkan ide cerita dari khayalan saya."
"Kalau begitu mengkhayal, donk! Apa kamu tak bisa mengkhayalkan apa pun? Bahkan dari apa yang kamu baca, tak bisa kamu khayalkan sesuatu yang beda dari itu? Bukankah itu gunanya kamu membaca?"

Wednesday, January 11, 2012

Perempuan Hampa: Sebuah Review Olenka The Darling - Anton Tchekhov


“She was always fond of someone and could not exist without loving.”

Sepenggal kalimat yang saya kutip dari cerpen berjudul The Darling karya Anton Tchekhov—sastrawan klasik Rusia—bercerita tentang seorang wanita bernama Olga Semyonovna atau Olenka yang penuh kasih. Mungkin karena itulah ia seringkali dipanggil Darling oleh kekasihnya, juga tetangganya. Berawal dari pertemuannya dengan seorang lelaki bernama Ivan Petrovitch alias Kukin yang merutuki cuaca mendung di pekarangan hunian mereka. Kukin seorang manejer teater terbuka, membuat pekerjaannya bergantung pada cuaca; kalau hujan tentu saja tak akan ada penonton dan pertunjukan. Olenka yang berhati lembut tetiba terenyuh melihat Kukin, benih-benih cinta bermunculan, akhirnya mereka jadi kekasih dan kemudian menikah.

“Her husband’s ideas were hers.”

Ya, hal tersebut berlaku juga untuk suami keduanya. Entah saking cintanya, Olenka seakan terseret arus pemikiran suaminya. Apa yang dikatakan oleh sang suami, Olenka menelan bulat-bulat ke dalam otaknya. Ia pun beropini yang sama dengan suaminya, selalu!

Monday, January 9, 2012

Warna-warni Pelangi


Bidadari Pelangi



Merah, Kuning, dan Biru adalah tiga ciptaan Tuhan yang tinggal di suatu tempat yang tak berwarna. Merah, Kuning dan Biru serupa manusia tapi tampak transparan. Mereka tinggal bersama di rumah yang bening, sebening air yang mengalir di sungai belakang rumah. Mereka berpijak di atas tanah yang juga bening, sama beningnya dengan langit yang menaungi mereka. Ketika semua berwujud tanpa warna, mereka saling bertanya satu sama lain tentang dunia bening mereka.
“Menurutku, kita bertiga adalah warna. Tapi kenapa kita tak berwarna?” tanya Merah.
“Iya, kudengar dari dunia seberang, Kuning adalah nama warna. Kuning menjadi warna bintang di langit. Merah juga jadi warna api yang menghangati kita di musim dingin. Biru adalah warna laut tempat aliran sungai di belakang rumah kita berakhir.” Kuning tampak semangat bercerita pada Merah dan Biru. “Kita adalah warna, tapi kenapa kita tak pernah tahu seperti apa warna-warna itu, ya?” Kuning mulai bingung.
“Tenang, saudaraku. Keadaan kita sekarang hanya sementara waktu. Lihat saja nanti, kita pasti akan berubah sesuai warna kita masing-masing. Merah akan tampak merah, Kuning akan tampak kuning, dan aku, Biru akan tampak biru.” Demikian Biru yang kalem menjelaskan.
“Jadi, kita harus menunggu?” selidik Merah membara. “Ah, lama! Bisa jadi Tuhan menghendaki kita untuk berusaha mencari warna kita. Kita harus ke dunia seberang yang telah penuh warna!” lanjut Merah.
“Iya, Biru. Aku penasaran dengan rupa warna kita. Selama ini kita selalu bening,” sambung Kuning.
Biru mengangguk-angguk. Ia berusaha mengerti ketidaksabaran kedua saudaranya. “Baiklah, tapi ingat, perjalanan nanti akan panjang. Kita harus bersiap dengan segala rintangannya.” Biru memperingati. Biru seakan punya naluri yang kuat. Merah dan Kuning pun bersorak dengan rencana besar mereka, berpetualang ke dunia seberang.
Perjalanan mereka dimulai. Beberapa jarak yang ditempuh telah jauh meninggalkan rumah, tapi masih berada di dunia tanpa warna mereka. Biru mengeluh keletihan, ia ingin beristirahat sebentar. “Ah, Biru, kamu lemah sekali. Baru juga jalan sedikit sudah kecapaian!” Merah menggerutu. “Jalan sedikit??? Sudah berjam-jam kita berjalan tak henti, Merah!” bantah Biru. “Kamu aja yang lemah, baru segitu sudah mengeluh lelah.” Merah berkata sambil mendelikkan matanya. “Sudah, tidak usah istirahat! Aku mau kita tiba di dunia seberang secepat mungkin! Kalau perlu, kita berjalan terus tak usah berhenti.” Merah marah. Ia memang kurang bisa menahan emosi. “Aku tidak mau, Merah! Iya, aku lemah. Tapi, Kuning juga sudah terlihat keletihan. Kita harus istirahat dulu.” Biru tetap tak mengalah.
“Sudah, sudah...” sergah Kuning. Merah dan Biru berpaling muka. “Merah, ayo, kita istirahat sebentar. Kita sudah lama berjalan. Apa kamu tidak capai?”
“Tidak. Aku sama sekali tidak capai. Aku sangat bersemangat. Tidak seperti kalian! Kalian manja!” hardik Merah. Biru jadi sedih. Ia tak ingin membuat Merah marah. Melihat Merah yang tak bisa memahami dirinya, Biru jadi sendu. “Tuh lihat, sedikit saja sudah mewek. Tak usah pasang tampang sedih begitu, Biru.” Suara ketus Merah jelas tertuju pada Biru.
“Maaf,” kata Biru lembut.
“Merah, kamu apa-apaan, sih? Sabar sedikit, donk! Nanti juga kita sampai ke dunia seberang. Aku dan Biru cuma butuh istirahat sebentar,” kata Kuning tegas mencoba untuk tidak memihak dan bersikap adil.
“Argh, kalian mengacaukan rencanaku!” teriak Merah. Ia menggelegar berkata, “Kalau jadinya begini, aku mending pergi sendiri!” Merah mulai membara. Ia memanas. Melihat Merah seperti itu, Biru bertambah sedih. Gara-gara dirinya, Merah marah. Biru yang biasanya tenang tak bisa lagi menahan kesedihannya. Ia menangis. Air matanya mengalir sangat deras bagai hujan yang jatuh dari langit. Kuning pun jadi terlihat murung. Ia tidak suka Merah tak bisa bersabar. Merah memang tipe yang keras tak mau kalah bagai api yang terus menyulut. Bagaimanapun, Merah tetap saudaranya. Dan, Biru.. Ah, saudaranya yang berperawakan kalem, sangat kalem, tapi mudah sekali tersentuh perasaannya. Seperti saat ini, Biru terkesan cengeng karena mudah sekali menangis. Biru memang sudah tak tahan lagi menahan sesak di dadanya. Maka, Kuning biarkan Biru melepas sesak itu. Kuning mendampingi Biru, sedangkan Merah tampak gusar dengan berjalan mondar-mandir. Tak berapa lama kemudian, Biru sesenggukkan sambil menghapus sisa-sisa air matanya.
“Nah, kamu sudah mulai tenang, Biru. Tidak usah khawatirkan Merah. Energi semangat Merah memang luar biasa. Ia hanya emosi sesaat. Nanti juga ia baikan lagi. Kamu yang sabar, ya. Kamu adalah Biru saudaraku yang paling pengertian dan selalu menenangkan.” Kuning berkata sambil merangkul Biru. Kuning si bijaksana menjadi penengah di antara mereka. Emosinya tertata apik. Ia selalu bisa mengambil keputusan yang tepat, seakan ialah pemberi kehidupan bagai matahari yang menyinari bumi.
Akhinya, Biru mereda. Tapi, lihatlah, ke langit sana. Ada semburat-semburat yang begitu indah. Merah yang tadinya uring-uringan terdiam takjub. Biru juga tercengang melihat lengkungan yang sempurna dari langit turun ke bumi mereka. Kuning sumringah. Ia memeluk Biru erat. Mengagumi bersama. Ia pun mengajak Merah mendekat. “Bukankah itu warna-warna yang kita cari di dunia seberang?” ucap Kuning tanpa ragu. Pikirnya sudah jelas bahwa semburat-semburat lengkung itulah warna-warna yang ingin mereka lihat di dunia seberang. Mereka berpandangan. Terpana pada anugrah yang turun dari langit itu.
Lalu, seseorang yang seperti bidadari berseluncur di lengkungan itu. Jatuh tepat di depan Merah, Kuning dan Biru. “Selamat sore, anak-anak yang manis,” sapanya. “Selamat sore, wahai Bidadari yang tak bening. Bolehkan, kami memanggilmu bidadari?” balas Kuning dengan ketepatan pikirnya yang bagus. Merah dan Biru masih tercengang.
“Boleh saja. Hahaha.. Aku bidadari yang tak bening, ya? Iya, begitulah. Akhirnya, kalian menemukan warna-warna. Kesabaran kalian hidup dalam kebeningan, boleh kubilang itu kehampaan, teruji sudah. Lihatlah, semburat-semburat indah itu adalah warna-warna yang kalian cari. Semburat pertama itu warna dirimu, Merah.” Bidadari itu berkata sambil memandangi Merah yang tadi marah-marah. “Jangan sering marah, ya! Salurkan energi ekstramu untuk kebaikan, okay?” lanjut Bidadari. Merah tersipu malu, tapi ia senang dengan warnanya yang menyala itu.
“Mana warnaku, Bidadari?” tanya Kuning. “Sabar, Kuning. Cobalah sesabar Biru. Kuberi tahu dulu warna semburat kedua, ia Jingga,” jawab Bidadari. “Ia perpaduan dirimu dengan Merah. Cobalah nanti kalian berkenalan.”
Biru memperlihatkan senyumnya pada Bidadari. Ia pun sebenarnya tak sabar ingin mengetahui yang mana warnanya. “Biru,” sapa Bidadari. “Ya, Bidadari,” balas Biru. Bidadari pun tersenyum senang betapa Biru itu sangat menenangkan. “Sebentar, ya, aku kasih tahu dulu warna saudaramu Kuning.” Biru mengangguk patuh. “Kuning, semburat ketiga itu warna dirimu. Menyala terang bagai mentari di dunia seberang. Warnamu sangat indah, Kuning.” Kuning hampir melongo melihat warna dirinya. Indah, batin Kuning.
“Lalu, ada warna Hijau. Ia perpaduan dirimu dengan saudaramu Biru, ia sangat tenang juga benderang. Nah, Biru, setelah Hijau adalah warnamu. Kamu sungguh warna yang mendamaikan.” Biru kembali menyunggingkan senyum lebar, lebih lebar dari sebelumnya. Ia sangat mensyukuri keindahan warnanya.
“Terimakasih, Bidadari,” ucap Biru. Merah dan Kuning ikut memberi ucapan itu. “Tapi, dua warna lainnya apa?” tanya Merah. “Iya, Bidadari, masih ada dua semburat lagi,” sahut Kuning.
“Dua saudara kalian yang lain. Nila dan Ungu. Mereka perpaduan dari kalian bertiga,” jawab Bidadari singkat. Merah, Kuning dan Biru kemudian berangkulan, mereka telah menemukan warna-warna. “Dan, kalian adalah sekumpulan warna pelangi,” tambah Bidadari.
“Pelangi?” ucap mereka bertiga serempak. “Iya, pelangi yang selalu datang setelah hujan badai. Pelangi yang datang bersama sinar benderang. Kalianlah warna-warna yang memberi keindahan pada dunia. Lihatlah di sekitar kalian, sekarang. Semuanya telah berwarna.” Mereka memperhatikan semua benda yang semula bening telah berwarna-warni.
“Lalu, warna apakah dirimu, Bidadari?” tanya Kuning penasaran. Bidadari tertawa pelan. Kuning memang pintar, batin Bidadari. “Aku berwarna putih, sayang,” jawabnya. Merah, Kuning dan Biru saling berpandangan. Sang Bidadari kemudian menapakkan tangannya ke dada Merah, Kuning dan Biru bergantian. “Putih berarti suci. Dan, seharusnya hati kalian berwarna putih. Jangan nodai dengan keburukan. Maka, ia senantiasa berwarna putih.”
“Wah,” decak kagum Biru. “Hati kita berwarna putih. Sangat bersih, Merah, Kuning.” Merah dan Kuning mengangguk. “Baiklah, tugasku sudah selesai. Aku harus kembali ke kahyangan. Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi, ketika sang pelangi datang. Okay?” Bidadari pun pamit pergi.
“Tunggu, Bidadari. Adakah warna lain yang belum kau ceritakan pada kami?” cegat Merah. “Hmm,” Bidadari bergumam.
“Tadi, aku datang terlalu awal, ya? Baik, aku beri tahu, jika tadi kalian saling memaksakan diri tanpa henti, kalian akan bertemu dengan sebuah warna yang pekat, sangaaat pekat. Ia bernama Hitam. Hati-hati yang kelam bisa menjadi warna Hitam, berhati-hatilah.” Bidadari mengedipkan sebelah matanya. Ia bersiap menaiki pelangi. Pelan perlahan semburat pelangi menghilang. Merah, Kuning, dan Biru sekarang bahagia telah menemukan warna-warna. Dunia mereka menjadi berwarna-warni. Mereka akan merindukan hadirnya pelangi.
***

Jkt, 6 Januari 2010.


*Gambar dari Google

Sunday, January 8, 2012

Happiness on Writing Project

The first weekend of this year was so exciting. On Friday night, my partners in crime of writing projects--Zula and Tenni--and I had conference chat via Yahoo!Messenger. We talked about the projects which had been suspended for almost one year. We denied to cancel the project. Even vigorously we wanted to start over the concept. So, we agreed to meet up on the next day that is on Saturday. 

Should I tell you readers what exactly the project we run? Well, only a piece of cake! Hehehe.. We collaborated in writing a novel. We called the project as "Novel 3 Kepala". I won't talk much about this project until the concept get set. I just want to share the generals.

The time of meeting was scheduled at 11 a.m on Food Court of The Plaza Semanggi. But, we realized that we're not kind of punctual person. For the unimportant reason, we caught up the place around 1 p.m. Tenni came first, then I, then Zula. We had lunch and chit chat before discussing the project. Apparently we missed the togetherness for we didn't see each other for quite long time.

Saturday, January 7, 2012

Hemingway: On Writing


Ernest Hemingway adalah seorang sastrawan legendaris yang pernah memenangkan Hadiah Nobel Sastra dengan karyanya The Oldman and the Sea. Sebagai seorang penulis, Hemingway terkenal dengan teknik bercerita yang efektif serta permainan karakter yang menarik. Di bawah ini ada beberapa “cuplikan” tips dan nasihat yang diambil dari buku Hemingway: On Writing. Selamat menikmati!

Typewriting

______________________

“Semua buku berkualitas itu memiliki sifat yang sama: setelah Anda selesai membacanya, maka Anda akan merasa seolah semua yang terjadi di dalam buku itu telah terjadi pada Anda; dan semua pengalaman yang tertera di dalamnya menjadi pengalaman Anda juga—termasuk yang baik dan buruk; kegirangan, penyesalan dan kesedihan; serta orang-orang, tempat dan cuaca disana.”
________________

“Tulisan yang berkualitas akan selalu membuat Anda bertanya-tanya tentang proses kreatifnya. Tak peduli seberapa sering Anda membaca tulisan itu, Anda takkan pernah menemukan jawabannya. Hal itu dikarenakan semua tulisan yang berkualitas selalu mengandung misteri; dan misteri itu takkan pernah bisa dipecahkan. Misteri itu akan terus berlanjut. Setiap kali Anda membaca tulisan itu, Anda akan selalu melihat atau mempelajari hal-hal baru yang tidak Anda temui sebelumnya.”
______________

“Berkah paling penting bagi seorang penulis adalah indera pencium kebohongan, kemunafikan serta kepura-puraan. Ini adalah radar bagi si penulis; dan semua penulis-penulis hebat dunia memilikinya.”
______________

“Bagian terbaik dari sebuah buku biasanya berasal dari sesuatu yang tak sengaja didengar oleh si penulis atau kehancuran dari seluruh hidup si penulis—dan keduanya sama-sama efektif.”
_______________

“Hal tersulit yang harus dilakukan oleh seorang penulis adalah menuliskan prosa tentang manusia dengan sejujur-jujurnya. Pertama, kalian harus tahu subyek yang hendak diceritakan; lalu kalian harus tahu caranya menulis. Dua-duanya butuh latihan seumur hidup.”
____________________

“Semua penulis amatir selalu jatuh cinta pada kisah-kisah epik.”


Sumber: Fiksi Lotus
2011 © Fiksi Lotus dan Ernest Hemingway. 

Wednesday, January 4, 2012

1 Bulan 1000 Pageviews

Apa tujuanmu blogging? Saya pastinya ingin eksis! Penting? Penting tidak penting, sih! Bagi saya, tentunya blogging membuat saya setidaknya eksis di dunia maya. Karena, di dunia nyata, eksistensi saya dipertanyakan! Hahaha... Serius? Wahndayaaa.. Alias Wah, ndak tau ya..

Tapi, bila dalam satu bulan pageviews blog saya mencapai hampir 1000 kunjungan, bukankah suatu pencapaian eksistensi yang lumayan? Hmm, blog ini sedikitnya dipertimbangkan untuk layak dikunjungi dan dibaca isinya. Yes! That's exactly what I want! 

Awal-awalnya, saya jarang post new entry di blog ini. Sudah jarang, share link post ke berbagai media social yang saya miliki pun tidak begitu berpengaruh meningkatkan pageviews. Alhasil, kunjungannya stagnan di posisi itu tiap ada postingan baru. Lantas, kok bisa ya dalam sebulan ini pageviews blog saya hampir 1000? Sedangkan, setahun sebelumnya total pageviews cuma 3000. Berarti 25% total pageviews dari sejak posting pertama sampai yang terakhir ini berasal dari kunjungan-kunjungan pada bulan Desember!

Kisah Klasik's Pageviews