Friday, November 18, 2011

Tugas Terakhir

Dua minggu terakhir belajar menulis cerpen online di Plotpoint bersama Eka Kurniawan, kami para murid sepertinya sama-sama diserang virus "sibuk" atau "sok-sibuk"? Hehehe... Tak seorang pun yang mengumpulkan tugas tepat waktu sesuai deadline. Semuanya molooorrr! Tugas dua minggu terakhir itu adalah tugas ke-4 dimana kami ditugaskan menulis draft cerpen yang dikembangkan dari tugas ke-3 ditambah dengan dua soal tambahan, lalu the very last adalah tugas ke-5 yakni editing. Deadline lewat dan hari pemberian modul mendekat, tetap saja tak satupun dari 7 murid yang mengumpulkan tugas. Saya sebenarnya sudah mewanti-wanti diri saya untuk mengerjakan tugas di kala senggang akhir pekan yang ternyata dipenuhi banyak godaan jalan-jalan. Akhirnya, tugas yang saya kerjakan hanya soal-soal mudah, sedangkan tugas utama menulis draft cerpen tak selesai. Hari ketika seharusnya modul selanjutnya diberikan ke kami pun terlewati tanpa seorang pun yang menerima modul. Sungguh gawat keterlambatan kali ini! Padahal kami selalu diingatkan oleh moderator dan guru untuk segera mengumpulkan tugas. Dengan tekad bulat, saya pun mulai menulis tugas malamnya hingga sampai jam 2 dini hari. Alhamdulillah, selesai! Saya jadi yang pertama mengumpulkan tugas ke-4 itu. Yeay! Saya pun menjadi murid pertama yang menerima modul ke-5. Ihiy!

Tuesday, November 8, 2011

Tanda Tanya


Kadang, aku hanya ingin pergi menjauh dari hiruk-pikuk dunia. Pergi ke dalam sunyi kesendirian. Tiada kebisingan yang menoreh jejas keangkuhan. Bahkan bisik-bisik pun menyembilu. Selalu ada unjuk ketinggian hati dari tiap suara yang kudengar. Suara-suara yang kuharap bisa masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Tapi, nyatanya selalu ada gaung yang tinggal dalam kepala. Menyeret rasa dan akalku untuk mencerna, beginikah dunia?

Monday, November 7, 2011

Email yang Dibalas

Buku "99 Cahaya di Langit Eropa" termasuk salah satu buku terbaik yang saya miliki. Isinya sangat menyentuh saya, terutama ketika membaca epilog, mata saya terus berair a.k.a menangis, baru berhenti ketika kakak saya tiba-tiba masuk ke kamar dan memanggil saya. Hehehe.. Karena itulah, selain menulis reviewnya di blog, saya juga mengirim sebuah email ke penulisnya Hanum Rais tak lama setelah menamatkan buku tersebut. Kebetulan di halaman akhir buku, dicantumkan alamat email kedua penulisnya. Saya mengirim email ke mbak Hanum saja, karena sesama perempuan supaya lebih nyaman, juga sesama kuliah kedokteran gigi walau beda almamater, walau saya belum lulus sedang Hanum sudah lulus. Email yang saya kirim berupa pujian saya tentang buku tersebut, kesan saya membacanya, hingga keingintahuan saya tentang gelar dokter gigi sang penulis. Hanum Rais memang lebih dikenal sebagai jurnalis TV dan penulis buku daripada sebagai dokter gigi. Ia adalah anak dari tokoh politik Amien Rais.

Saya cukup berharap email yang saya kirim itu dibalas oleh mbak Hanum. Beberapa hari saya masih menanti-nanti sampai akhirnya terlupakan. Sampai hari Sabtu yang lalu, kala sore, sebuah email masuk ke perangkat mobile saya. Segera saya cek, tertera nama pengirim dari "Hanum Rais", hati saya langsung berdesir. Ada rasa senang ketika itu. Saya langsung baca cepat saja isinya, benar itu balasan untuk email saya yang saya kirim sekitar 2 minggu sebelumnya. Karena ada urusan mendadak, saya tinggalkan sebentar email tersebut. Terus terang saya belum paham betul isi email dari mbak Hanum itu. Ada keinginan untuk membacanya lagi dengan benar-benar. Nah, berikut ini saya tampilkan screenshot email tersebut.

Wednesday, November 2, 2011

10 Cerita 111 Kata Kelahiran Juni 2011

Lebih Indah dari Senja


Ia berjalan anggun di atas panggung, tak jauh beda dengan caranya menyusuri pantai. Beberapa hari yang lalu, aku melihatnya takjub. Keindahannya mengalahkan pesona senja. Tak ada yang bisa mengalihkanku dari pijar matahari terbenam menjelang tenggelam. Namun, kala itu, momen favoritku terlewat sudah karena keindahan hawa yang tak bisa kulupakan hingga kini ia tampil bak ratu tercantik di dunia.
Lewat layar kaca, tanpa sengaja mengganti saluran televisi, aku bertemu ia lagi. Aduhai! Lenggok-lenggok yang tampak begitu alamiah. Begitu perempuan! Dan, hanya ia yang sangat hangat disambut sorak-sorai penonton yang menyaksikannya langsung.
“Cindy, 22 tahun!” teriak MC penuh semangat.
Akhirnya, kuikuti acara itu sampai selesai. Sesuai dengan keyakinanku, selempang Miss Ladyboy 2011 memang hanya untuknya.
@jejakubikel, 3 Juni 2011

Anakku Bukan Anakmu
“Ryan, aku tidak mencintaimu lagi,” kata Sandra.
It’s okay! Aku siap jadi single-father bagi Alya,” balas Ryan tanpa menoleh pada Sandra. “Kamu tak perlu jemput Alya, tak perlu ketemu anakku lagi!” lanjut Ryan.
“Alya juga anakku, Ryan!” protes Sandra. Mukanya memerah. Matanya berkaca-kaca.
“Tidak lagi! Meninggalkanku berarti kamu juga meninggalkan Alya. Kupikir cekcok kita selama ini hanya hal biasa. Ternyata…”
Sandra terisak. Ia tahu ia salah. Pertemuan tanpa sengaja di sekolah Alya setelah berhari-hari perang dingin di rumah telah membuat mereka bicara banyak . Sandra mengakui perselingkuhannya. Janin dalam rahimnya tak akan mempunyai ayah yang sama dengan Alya, anak tiri yang ia rawat sejak bayi, sejak kepergian istri pertama Ryan ke surga.
@jejakubikel, 5 Juni 2011