Friday, October 7, 2011

Sekolah Menulis? Kenapa tidak?!

No one should go into debt to study creative writing. It’s simply not worth it. This is not medical school. ~ Ann Patchett, the bestselling author of Bel Canto.
Yes, I won't go into debt to study creative writing. Karena, memang sekolah menulis kreatif itu tak semahal sekolah kedokteran. Makanya, ketika sebuah sekolah menulis menawarkan pelatihan menulis--bisa disebut kursus ataupun workshop--saya tertarik untuk bergabung. Buat apa? Memangnya belajar menulis harus sekolah juga? Kalau pertanyaannya demikian, buat apa ada fakultas sastra? Tapi, supaya pandai menulis intinya kan harus rajin membaca rajin pula menulis. Learning by doing kan bisa?! Iya, tak salah memang! Pekerjaan kreatif itu intinya harus mau terus berlatih. Sesuatu yang butuh ketrampilan yang penting rajin diasah kemampuannya, seperti kegiatan menulis kreatif ini. Lantas, kenapa saya mau mengeluarkan uang buat ikut kursus menulis? Jadi, begini...

Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya gemar menulis. Mungkin karena memang lagi hits blogging. Mungkin karena saya termasuk "generasi Y" yang suka eksis, terpancing untuk eksis dengan cara blogging. Tapi bukan ini alasan utama saya mulai terjun ke dunia blog. Dulu, saya sempat patah hati, obatnya ya... menulis. Writing is relieving, right?! Nah, kira-kira itulah momen mulainya saya bertualang di blog. Mulai dari multiply, kompasiana, blogspot, tumblr, wordpres, semuanya saya coba. Dari menulis curhat sampai menulis prosa atau cerita fiksi, walau sebenarnya dari SMP saya sudah senang menulis cerpen. Lalu, timbul niat untuk mendalami dunia penulisan, yang mana berawal dari kesempatan untuk mempublikasikan karya fiksi saya dalam bentuk buku, walau secara self-publishing. Since then, I claimed myself as a writer.


Sebagai penulis pemula, saya merasa harus banyak belajar lagi. Tak sekadar berlatih menulis, tapi saya harus menguasai ilmunya. Tiap hal pasti ada ilmunya, kan?! Karena itu, saya mulai mencari tempat di mana saya bisa menimba ilmu menulis ini. Biasanya saya ikut workshop menulis bila biayanya tak memberatkan kantong mahasiswa saya. Pernah, suatu kali saya ikut workshop menulis 2-3 jam bersama Farida Susanty di kampus UI Depok. Dengan waktu sesingkat itu, saya bisa dapat apa? Selain itu, saya juga bergabung dengan komunitas menulis, sebutlah namanya Jejakubikel. Di sana kita diberi tema berbeda setiap hari, dan kita dianjurkan untuk menulis cerita sesuai tema tersebut. Beberapa bulan saya mengikuti ini walau tak rutin. Hasilnya, saya memang mengeluarkan karya, tapi tidak ada pembahasan yang cukup untuk menilai kualitas karya tersebut. Kita hanya dipertemukan dengan sesama orang-orang yang suka menulis yang kadang mengomentari karya kita, kadang karya kita bisa saja tak dibaca. Sulit untuk mencari ilmu di sini, sekadar saling berbagi ya mungkin tempat ini cocok. 

Lalu, saya mengenal Plot Point di acara Festival Pembaca Indonesia 2010. Saya mulai mengikuti twitternya. Tiba masa Plot Point memberi kesempatan bagi publik untuk mengunjungi sekolahnya dengan syarat harus mendaftar dahulu karena kuota terbatas. Beruntung saya bisa terdaftar dan bisa mengetahui lebih lanjut apa itu Plot Point dan bagaimana mekanisme belajarnya; ada tatap muka di kelas, ada juga online di forum web, serta para pengajar yang kemampuannya sudah diakui. Ada Clara Ng, Ahmad Fuadi, Eka Kurniawan, Salman Aristo, dll. Setelah kunjungan itu sebenarnya saya ingin langsung mendaftar kelas online Novel Dasar. Tapi, banyak pertimbangan saya saat itu, antara lain masalah dana. Because I won't go into debt to study creative writing! Hehehe...

Alhamdulillah, akhirnya saya berkesempatan sekarang. Saya ambil kelas menulis yang biayanya masih bisa saya tanggung dengan menghemat uang jajan bulanan saya. Terus terang, saya enggan meminta uang kursus sama orangtua. Selain karena saya belum memenuhi kewajiban lulus kuliah, saya tahu biayanya lumayan berat buat orangtua saya. Untuk itu, saya mengikuti kelas yang paling murah dulu di Plot Point, yaitu kelas online menulis cerpen. Apalagi, pengajarnya Eka Kurniawan, seorang penulis yang cerdas. Makin kuat keinginan saya untuk belajar di sini.

Minggu ini, saya mulai masuk kelas, berkenalan dengan beberapa teman. Sejauh ini, saya menikmati kelas ini. Kami diberi modul, tugas, dan dibahas oleh guru dan sesama murid. Kami berinteraksi layaknya sekolah tatap muka. Lima minggu ke depan saya akan belajar bagaimana proses kreatif menulis cerpen, suatu proses kreatif yang sebenarnya sudah sering saya lakukan tapi dengan cara saya. Saya tahu, setiap orang punya proses kreatif tersendiri dalam menciptakan sebuah karya. Tapi, bagaimana kita diberi bimbingan yang benar dalam berproses itu yang mungkin tidak akan saya dapatkan bila saya tak ikut kelas menulis ini. Dan yang terpenting bagi saya, belajar di kelas seperti ini akan membuka cakrawala saya tentang dunia kepenulisan dari seorang pengajar yang mumpuni.

Yuk, sekolah! 

No comments:

Post a Comment