Sunday, October 30, 2011

Review: Nora Bagian 1 Tetralogi Dangdut

Sampul Depan
Kali ini saya mencoba mengupas novel dari Putu Wijaya. Terus terang, ini karya pertamanya yang saya baca. Walaupun sudah mendengar nama yang ternama ini sejak saya kecil, kira-kira SD, saya tak pernah bertemu langsung dengan karya Putu Wijaya di toko-toko buku yang saya kunjungi. Saya pun seperti tak tertarik untuk mencari karya-karya Putu Wijaya. Entah kenapa. Namun, jalan nasib akhirnya mempertemukan saya dengan Novel Nora di bazaar diskon Gramedia Matraman. Melihat cetakannya tahun 2007, wajar jika buku ini dijual murah, mungkin ingin segera menghabiskan stok lama. 

Di sampul depan, judul NORA terpampang cukup mencolok dengan warna merah huruf kapital semua di bagian atas setelah nama penulisnya. Lalu, di bagian bawah ada keterangan bahwa Nora ini merupakan bagian pertama dari Tetralogi Dangdut. Plus, wanti-wanti bacaan khusus dewasa.  Ada juga wajah perempuan yang sangat pribumi berbibir penuh sebagai latar sampul tersebut. Makin lengkaplah sampul itu terkesan "dangdut". Sampul yang lumayan menggoda iman untuk melirik isinya.

Di bab pertama, saya cukup terkejut karena belum apa-apa sudah menceritakan tentang Nora yang tak sengaja mengintip Mala sedang pipis berdiri dan jadi panas dingin melihat penis lelaki dewasa itu. Dari sinilah cerita bermula terus mengalir dan terus membuat saya penasaran.

Nora merupakan sosok perempuan kampung yang hampir terlihat imbisil. Tiba-tiba merasa tak perawan lagi sejak melihat kemaluan Mala. Ia pun sering berteriak histeris kalau sudah merasa terganggu. Aneh dan tak tertebak. Sedang Mala adalah sosok pria mapan dan tenang yang ngontrak kamar di rumah tetangga Nora. Mala tak tahu apa-apa yang terjadi pada Nora dan keluarganya. Sampai suatu ketika orangtua Nora datang pada Mala untuk meminta Mala bertanggungjawab menikahi Nora yang sudah hamil duluan. Walau merasa dijebak dan diperas, Mala malah ikuti kemauan orangtua Nora. Ia menganggap pernikahannya dengan Nora sebagai eksperimen. Walau pada akhirnya terbersit rasa di hati Mala untuk Nora. Entah itu rasa kasihan atau rasa kasih. 

Konflik memuncak ketika Nora yang masih berstatus istri Mala dilamar oleh orang lain. Mala juga sering tak tahan dengan keadaan di rumah mertuanya itu sehingga sering menginap di kantornya yang merupakan perusahaan majalah terkenal. Di kantornya pun, Mala juga terbelit masalah yang melibatkan dua orang sahabatnya; Midori seorang artis sensual dan Adam yang entah apa. Sebuah proyek disodorkan pada Mala lewat Dori. Yaitu proyek menerbitkan buku ilmiah seorang profesor yang isinya sarat SARA dan diduga sebagai upaya makar menggoyangkan republik negara ini. Uang senilai 400 milyar tiba-tiba nomplok di rekening Mala tanpa izinnya dan tanpa ia setuju untuk melaksanakan proyek itu. 

Dari konflik yang terjadi tersebut, rangkaian peristiwa terjalin dengan apik, tak bertele-tele, sangat hidup, dan memancing rasa ingin tahu. Bahasanya yang ringan, cenderung kasar dan tidak basa-basi menjadikan novel ini mudah dimengerti walau topiknya cukup berat tentang konspirasi politik. Bahasanya seperti bahasa di novel-novel chicklit/metropop, tak banyak metafor atau lirik-lirik indah seperti novel sastra pada umumnya. Kecukupan dialog dalam novel ini yang barangkali menjadikan ceritanya terasa sangat hidup. Penulis tak sungkan memakai kata-kata jorok (yang menggugah birahi) dan carut dalam dialognya. Pantas saja dilabeli bacaan khusus dewasa. 

Tentang pemilihan judul 'Tetralogi Dangdut', saya sempat bingung dengan korelasi isinya setelah menamatkan cerita bagian pertamanya ini. Apanya yang dangdut selain desain sampulnya yang "dangdut" itu? Lalu, saya baca lagi bagian sinopsis di sampul belakang. Oh iya, cerita ini memang meliuk-liuk bagai goyang dangdut. Meliuk membelit para tokoh dengan segala peristiwa yang mereka alami, mulai dari kesialan, kekonyolan, sampai konspirasi yang tak jelas siapa yang memulainya.

Bagian pertama Tetralogi Dangdut ini menggantung sampai Nora mencari Mala dan Mala akhirnya ditangkap polisi. Ceritanya pasti berlanjut di bagian kedua, ketiga dan keempatnya. Semoga saja saya masih bisa menemukan ketiga buku kelanjutan tetralogi karya Putu Wijaya ini. Ternyata, setelah baca satu karyanya, memang tak salah lagi kalau Putu Wijaya ini sangat diakui kesusastraannya. Sepertinya, saya juga harus membaca karya novelnya yang lain. Semoga!

2 comments:

  1. Buku ketiganya emang belum terbitkah?
    atau sudah terbit??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, saya kurang tau. Baru punya dan baca yg bagian-1 :)

      Delete