Tuesday, October 4, 2011

Review: 4 Fiksi Istimewa Majalah Femina

Edisi 1-7 Oktober 2011 merupakan edisi khusus HUT ke-39 majalah Femina. Salah satu rubrik yang saya incar dari majalah ini adalah cerpen. Kebetulan di edisi istimewanya, Femina menyajikan 4 cerpen sekaligus dari penulis yang barangkali juga istimewa. Nama-nama yang tak asing lagi di dunia literasi Indonesia menghiasi halaman rubrik cerpen Femina kali ini. Ada Sitok Srengenge, Erdian Aji, Fajar Nugroho, dan Salman Aristo. Mungkin karena itu rubrik cerpen di edisi HUT ini diberi nama "4 Fiksi Istimewa". Tapi, apa iya istimewa? Berikut ulasan sekadarnya dari saya sebagai pembaca awam. Sekadar ulasan dari pembaca yang tak istimewa. Hehehe...

Lagu Untuk Ibu, oleh Sitok Srengenge, adalah cerpen yang menyentuh. Dengan ide sederhana, kata-kata sederhana, plot cerita yang juga sederhana, penyair ternama ini membawa saya pada esensi sebuah cinta anak kepada ibunya. Mungkin sudah biasa kita disuguhi cerita tentang pengorbanan ibu pada anaknya. Mungkin karena itu juga penulis menggarap cerita sebaliknya. Bagaimana seorang anak bernama Siwi memikirkan hadiah terbaik apa yang bisa ia berikan pada saat ulang tahun ibunya, hadiah terbaik sebagai penghargaan dan cinta pada ibu. Dengan bahasa yang mudah dimengerti, cerita ini mengalir mulus sampai akhir cerita. Siwi menyanyikan sebuah lagu untuk ibunya. Ia tak memberi kado apa-apa di hari ulang tahun ibu seperti ayah yang memberi kado selembar kain, atau seperti teman ibu yang memberi parfum kesukaan. Namun, ibu tetap bahagia, malah menyanjung Siwi. Siwi lega, meski ia tahu, sehebat apa pun pemberian seorang anak kepada orangtuanya, belum seberapa dibanding pengorbanan setiap orangtua untuk anaknya.(1) Barangkali, cerita ini mudah bagi Sitok Srengenge untuk menuliskannya. Ia mengangkat tema sederhana yang mudah dimengerti oleh pembaca semua umur. Kesederhanaan yang istimewa, bukan?!


Kado Ulang Tahun, oleh Erdian Aji dan seorang partner @greenziezt, cerpen yang ditulis secara berbalasan. Entah bagaimana caranya? Apakah berbalasan per kalimat, per paragraf atau entahlah, tak dijelaskan. Setelah membaca cerpen ini, saya hanya bisa bilang; bagus di fiksi mini 140 karakter (@fiksimini) belum tentu bagus di cerita pendek. Seperti yang kita ketahui, Erdian Aji adalah mantan vokalis band ternama Indonesia. Lalu, ia mulai menggeluti dunia menulis setelah terjun langsung sebagai kontributor @fiksimini, wadah menulis cerita mini di social media Twitter. Sejak itulah, ia dikenal juga sebagai penulis cerita. Cerpen Kado Ulang Tahun dari Erdian Aji ini menurut saya, adalah cerpen yang tidak istimewa. Idenya memang sederhana, seperti yang diakui penulisnya, tapi ide ini sudah sangat lumrah, tentang pengorbanan pada orang terkasih. Barangkali, keistimewaan cerita ini terdapat pada pemilihan diksi yang kuat, 'aransemen' kalimat yang indah, dan letupan di akhir cerita. Terkesan "@fiksimini", ada ledakan dalam cerita yang memutarbalikkan dunia. Tapi, saya tak menyebut akhir cerpen ini sebagai ledakan, hanya letupan, karena akhir cerita ini sepertinya mudah ditebak dan hanya memutarbalikkan dunia si tokoh cerita; sedangkan pembaca tak ikut serta. Dan, yang perlu diingat bagi penulis fiksi manapun, detail dan kelogisan cerita itu sangat diperlukan. Fiksi memang mengembangkan imajinasi, tapi tak menjadikan ceritanya ngawur. Saya bukannya ingin menyebut cerita ini ngawur, tapi apa iya mendonorkan satu ginjal saja harus membikin mati si pendonor? Dan cobalah temui ketidaklogisan lain dalam fiksi ini. Maaf, tapi saya menilai biasa untuk cerita ini.

Cerita ketiga dan keempat merupakan cerita dari "orang film", penulis skenario Fajar Nugroho dan Salman Aristo. Fajar Nugroho dengan Tiang Listrik di Ujung Gang menceritakan tentang kesaksian "sesosok" tiang listrik yang menjadi saksi romansa si pembantu dan si supir, juga saksi keji si hansip menggerayangi si pembantu. Beberapa kali saya pernah membaca cerita dari teman-teman blogger yang menjadikan benda mati sebagai tokoh utama dengan sudut pandang pertama dalam ceritanya. Jadi, tidaklah terlalu istimewa fiksi si tiang listrik ini. Tapi, untungnya cerita ini enak dibaca, walau dari awal cerita mungkin mudah ditebak bahwa pencerita adalah si tiang listrik. Cerpen ini menyuguhkan adegan demi adegan yang menarik, yang membuat kita ingin terus menyimak sampai akhir. Tidak membosankan, mungkin itu penilaian yang tepat. Dan barangkali, tidak membosankan adalah suatu keistimewaan. 

Terakhir, Lagi, Jakarta Baru Tahun Ini, dari Salman Aristo juga menyuguhkan "adegan demi adegan" dalam ceritanya. Hmm, apa pengaruh dari seringnya menulis skenario film? Entahlah. Yang menarik dari cerpen ini adalah ketiadaan dialog. Pencerita dari sudut pandang orang ketiga; sudut pandang yang aman untuk penulis pemula. Tapi, tentu seorang Salman Aristo bukanlah penulis pemula. Mungkin memang gaya penulisannya begitu. Cerpennya tentang suatu waktu yang sama dialami oleh empat orang berbeda yang tak saling kenal namun saling bersilang. Momen menjelang tahun baru, diwarnai oleh peristiwa pilu dari keempat tokoh. Ada preman, banci, dan sepasang kekasih. Yang membunuh akhirnya mati, yang selingkuh pun akhirnya mati. Mungkin ini sebagian kecil dari gambaran betapa kejamnya ibukota. Istimewa? Ah, sudahlah... yang penting cerita ini bagus! Hehehe...

Demikianlah ulasan ya katakanlah ulasan ngawur dari saya. Mungkin ada hal yang tak pantas saya tuliskan di sini. Siapa sih gue? Menilai cerita dari penulis ternama?! Tapi, bahkan penilaian dari pembaca penting juga sebagai masukan. Bukankah begitu?! Hehehe... Untuk keempat cerita "istimewa" di majalah Femina edisi HUT ini, saya angkat topi. Tak mudah menuliskan cerita, cerita pendek sekalipun. Mereka berhasil menyajikan suatu cerita, dan pada akhirnya suatu pembelajaran. Jadi, keempat cerita itu sebenarnya memang istimewa, kan?!


*Catatan kaki:
(1) dikutip dari kalimat terakhir cerpen Lagu Untuk Ibu, penulis Sitok Srengenge 

1 comment:

  1. kunjungi dan jangan lupa follow blog-ku di www.spiritandkeepsmile.blogspot.com

    ReplyDelete