Monday, October 31, 2011

Siapa Jodohmu?


Siapa jodohmu? Apakah seseorang yang memenuhi semua kriteriamu? Seseorang yang sempurna di matamu, tanpa kau tahu apakah itu sebenarnya baik untukmu?
Siapa jodohmu? Apakah seseorang yang sama sekali berbeda dari dambaanmu? Seseorang yang kaulihat biasa bahkan kurang, tanpa kau tahu itu sama sekali tak buruk untukmu?

Sunday, October 30, 2011

Review: Nora Bagian 1 Tetralogi Dangdut

Sampul Depan
Kali ini saya mencoba mengupas novel dari Putu Wijaya. Terus terang, ini karya pertamanya yang saya baca. Walaupun sudah mendengar nama yang ternama ini sejak saya kecil, kira-kira SD, saya tak pernah bertemu langsung dengan karya Putu Wijaya di toko-toko buku yang saya kunjungi. Saya pun seperti tak tertarik untuk mencari karya-karya Putu Wijaya. Entah kenapa. Namun, jalan nasib akhirnya mempertemukan saya dengan Novel Nora di bazaar diskon Gramedia Matraman. Melihat cetakannya tahun 2007, wajar jika buku ini dijual murah, mungkin ingin segera menghabiskan stok lama. 

Di sampul depan, judul NORA terpampang cukup mencolok dengan warna merah huruf kapital semua di bagian atas setelah nama penulisnya. Lalu, di bagian bawah ada keterangan bahwa Nora ini merupakan bagian pertama dari Tetralogi Dangdut. Plus, wanti-wanti bacaan khusus dewasa.  Ada juga wajah perempuan yang sangat pribumi berbibir penuh sebagai latar sampul tersebut. Makin lengkaplah sampul itu terkesan "dangdut". Sampul yang lumayan menggoda iman untuk melirik isinya.

Di bab pertama, saya cukup terkejut karena belum apa-apa sudah menceritakan tentang Nora yang tak sengaja mengintip Mala sedang pipis berdiri dan jadi panas dingin melihat penis lelaki dewasa itu. Dari sinilah cerita bermula terus mengalir dan terus membuat saya penasaran.

Thursday, October 27, 2011

Review: 99 Cahaya di Langit Eropa

Buku Terbaik 2011
Buku "99 Cahaya di Langit Eropa", sebuah novel perjalanan menapak jejak Islam di bumi Eropa, menggambarkan sisi lain Eropa bagi saya, mungkin juga bagi pembaca lainnya. Tapi, bagi saya pribadi, buku ini sangat berkesan. Ditulis oleh anak Amien Rais, Hanum Salsabiela Rais, seorang lulusan dokter gigi UGM, buku ini tak hanya menceritakan cahaya Islam yang pernah menerangi bumi Eropa, tapi juga memberi secercah cahaya buat saya untuk mau mempelajari lagi agama yang saya peluk sejak lahir, Islam.

"99 Cahaya di Langit Eropa" bukan buku motivasi, tapi seperti novel pada umumnya, dengan bahasa ringan memaparkan kisah yang dialami penulisnya. Kisah tersebut berupa catatan perjalanan penulis di negara-negara Eropa. Ini pun bukan buku traveler biasa, ia tak menjelaskan situs-situs yang wajib dikunjungi, rekomendasi hotel dan tiket perjalanan, atau what do's and what don't's sebuah perjalanan. Di balik perjalanan fisiknya, ada perjalanan spiritual yang tak terelakkan bagi penulis, juga bagi saya sebagai pembaca. Saya seakan dibawa serta oleh Hanum ke tempat-tempat yang dijelajahinya.

Perjalanan dimulai dari Wina, Austria, penulis yang sementara tinggal di sini mengikuti suami sekolah doktoral, meniatkan dirinya untuk menelusuri peradaban Islam di bumi Eropa. Niat ini bermula dari persahabatan dengan warga imigran Austria asal Turki bernama Fatma. Fatma seorang muslimah yang berupaya menjadi agen muslim yang baik di negara sekuler. Ia cukup berpengetahuan tentang sejarah peradaban Islam di Wina. Dengan Fatma-lah, penulis mengunjungi tempat-tempat historis yang bisa dikaitkan dengan peradaban Islam dahulu. Kahlenberg, sebuah bukit di Wina, pertama kali tempat yang mereka kunjungi berdua. Dari bukit ini, tampak sungai Danube yang membelah kota Wina, dan di tepi sungai Danube, ada Vienna Islamic Center, sebuah masjid dan pusat peribadatan muslim Wina. Sayangnya, janji untuk mengunjungi Vienna Islamic Center tak bisa dilaksanakan oleh Fatma untuk Hanum. Fatma keburu meninggalkan Austria tiba-tiba. Perjalanan selanjutnya dilalui Hanum bersama suaminya.

Wednesday, October 26, 2011

Selamat untuk Hidup yang belum Berakhir!


25 menit lagi, malam akan berganti menjadi dini hari. 
Selama menanti pergantian waktu itu, aku hanya akan di kamar ini. Dalam remang lampu tidur dan binar kotak ajaib depan kasur, aku termangu menatap jarum detik yang terus bergerak.
Bagaimana mungkin secepat ini? Padahal aku belum menjadi wujud dalam mimpi. 
Ah, ya! Waktu tak lagi berjalan. Ia tak pula berlari pelan. Waktu kini punya sayap, ia bisa terbang. Sedang aku, yang pernah lesat dengan kepak tiada henti, kini terperosok sudah. Mencoba bangkit. Jatuh bangun hingga ditinggal waktu yang tak mau menunggu. 

Friday, October 7, 2011

Sekolah Menulis? Kenapa tidak?!

No one should go into debt to study creative writing. It’s simply not worth it. This is not medical school. ~ Ann Patchett, the bestselling author of Bel Canto.
Yes, I won't go into debt to study creative writing. Karena, memang sekolah menulis kreatif itu tak semahal sekolah kedokteran. Makanya, ketika sebuah sekolah menulis menawarkan pelatihan menulis--bisa disebut kursus ataupun workshop--saya tertarik untuk bergabung. Buat apa? Memangnya belajar menulis harus sekolah juga? Kalau pertanyaannya demikian, buat apa ada fakultas sastra? Tapi, supaya pandai menulis intinya kan harus rajin membaca rajin pula menulis. Learning by doing kan bisa?! Iya, tak salah memang! Pekerjaan kreatif itu intinya harus mau terus berlatih. Sesuatu yang butuh ketrampilan yang penting rajin diasah kemampuannya, seperti kegiatan menulis kreatif ini. Lantas, kenapa saya mau mengeluarkan uang buat ikut kursus menulis? Jadi, begini...

Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya gemar menulis. Mungkin karena memang lagi hits blogging. Mungkin karena saya termasuk "generasi Y" yang suka eksis, terpancing untuk eksis dengan cara blogging. Tapi bukan ini alasan utama saya mulai terjun ke dunia blog. Dulu, saya sempat patah hati, obatnya ya... menulis. Writing is relieving, right?! Nah, kira-kira itulah momen mulainya saya bertualang di blog. Mulai dari multiply, kompasiana, blogspot, tumblr, wordpres, semuanya saya coba. Dari menulis curhat sampai menulis prosa atau cerita fiksi, walau sebenarnya dari SMP saya sudah senang menulis cerpen. Lalu, timbul niat untuk mendalami dunia penulisan, yang mana berawal dari kesempatan untuk mempublikasikan karya fiksi saya dalam bentuk buku, walau secara self-publishing. Since then, I claimed myself as a writer.

Thursday, October 6, 2011

Mimpi Bertemu Westlife

Idola Saya Jaman ABG


Westlife adalah satu-satunya boysband yang menguras perhatian, waktu, tenaga dan uang saya ketika masa ABG dulu. Saat itu saya masih kelas 2 SMP. Saya begitu tergila-gila pada Westlife, khususnya Shane Filan, entah itu karena lagu-lagunya yang memang enak didengar, tampang keren mereka--Shane yang paling cakep tentunya--atau entahlah, saya terpesona hingga berangan-angan bisa bertemu langsung dengan mereka. Bahkan, saking ngefansnya, saya kadang berfantasi macam-macam dengan mereka, apakah itu fantasi saya pacaran sama Shane, fantasi saya berteman baik dengan mereka berlima. Haduh.. Malahan, saya sering terharu kalau melihat mereka tampil di TV, bisa bikin mata saya berkaca-kaca. Untungnya sih nggak sampai nangis. Malu juga, biar masih ABG labil ini. Hehehe...

Lalu, waktu terus bergulir. Saya semakin dewasa, dan semakin mengerti tentang bagaimana harus bersikap terhadap idola. Tak baik bila terlalu memuja, bukan?! Apalagi cuma sama boysband! Nah, album terakhir mereka yang saya beli kalau tak salah Coast to Coast, atau apa ya? Pokoknya setelah Bryan keluar dari Westlife saya tidak lagi jadi fans setia. Saya bahkan tak ambil pusing lagi sama apa-apa yang terjadi dengan Westlife, tidak peduli dengan album terbaru mereka, berita terhangat, pastinya juga tidak lagi mengumpulkan segala macam artikel tentang Westlife yang beredar di media massa. Westlife juga pamornya mulai berkurang, tak sehits jaman saya SMP. Tapi, Westlife tetap eksis hingga kini. Buktinya mereka masih mengeluarkan album baru, dan masih menggelar konser dunia. Dan, mereka, tanggal 5 Oktober 2011 kemarin, mampir ke Jakarta.

Tuesday, October 4, 2011

Review: 4 Fiksi Istimewa Majalah Femina

Edisi 1-7 Oktober 2011 merupakan edisi khusus HUT ke-39 majalah Femina. Salah satu rubrik yang saya incar dari majalah ini adalah cerpen. Kebetulan di edisi istimewanya, Femina menyajikan 4 cerpen sekaligus dari penulis yang barangkali juga istimewa. Nama-nama yang tak asing lagi di dunia literasi Indonesia menghiasi halaman rubrik cerpen Femina kali ini. Ada Sitok Srengenge, Erdian Aji, Fajar Nugroho, dan Salman Aristo. Mungkin karena itu rubrik cerpen di edisi HUT ini diberi nama "4 Fiksi Istimewa". Tapi, apa iya istimewa? Berikut ulasan sekadarnya dari saya sebagai pembaca awam. Sekadar ulasan dari pembaca yang tak istimewa. Hehehe...

Lagu Untuk Ibu, oleh Sitok Srengenge, adalah cerpen yang menyentuh. Dengan ide sederhana, kata-kata sederhana, plot cerita yang juga sederhana, penyair ternama ini membawa saya pada esensi sebuah cinta anak kepada ibunya. Mungkin sudah biasa kita disuguhi cerita tentang pengorbanan ibu pada anaknya. Mungkin karena itu juga penulis menggarap cerita sebaliknya. Bagaimana seorang anak bernama Siwi memikirkan hadiah terbaik apa yang bisa ia berikan pada saat ulang tahun ibunya, hadiah terbaik sebagai penghargaan dan cinta pada ibu. Dengan bahasa yang mudah dimengerti, cerita ini mengalir mulus sampai akhir cerita. Siwi menyanyikan sebuah lagu untuk ibunya. Ia tak memberi kado apa-apa di hari ulang tahun ibu seperti ayah yang memberi kado selembar kain, atau seperti teman ibu yang memberi parfum kesukaan. Namun, ibu tetap bahagia, malah menyanjung Siwi. Siwi lega, meski ia tahu, sehebat apa pun pemberian seorang anak kepada orangtuanya, belum seberapa dibanding pengorbanan setiap orangtua untuk anaknya.(1) Barangkali, cerita ini mudah bagi Sitok Srengenge untuk menuliskannya. Ia mengangkat tema sederhana yang mudah dimengerti oleh pembaca semua umur. Kesederhanaan yang istimewa, bukan?!