Thursday, September 22, 2011

Review: Rise of The Planet of The Apes


Barangkali, banyak yang pikir film Rise of The Planet of The Apes tidak termasuk ke dalam Must Be Watched List. Saya salah satu di antaranya. Pertama, karena saya tak tertarik untuk melihat kera-kera beraksi di layar lebar. Kedua, karena saya pikir ceritanya biasa saja, apa yang menarik dari kera?! Tapi, ternyata film science fiction ini langsung mendapat tempat di hati saya setelah menyaksikannya. Kenapa? Karena kegantengan salah satu kera di film ini yang bernama Caesar? Hahaha..
Jadi, ceritanya bermula dari sebuah laboratorium uji coba farmasi di San Fransisco. Di sana, kera tetiba jadi kelinci! Lho? Iya, jadi kelinci percobaan tim ilmuwan di sana. Ceritanya cukup panjang diceritakan di sini. Saya sarankan cari saja sinopsisnya sendiri. Hehehe…

Intinya, Caesar seekor kera simpanse yang masih bayi, diselundupkan oleh si ilmuwan Will Rodman (James Franco) dan dipelihara dengan baik di rumahnya. Bayi ini akhirnya tumbuh besar dan pintar, karena ia hasil tak langsung uji coba obat untuk saraf (rencananya jadi obat Alzhaimer). Tak langsung, karena yang diberi obat itu adalah ibunya yang saat itu sedang mengandung si Caesar. Sebagai simpanse yang pintar, Caesar mempertanyakan statusnya terhadap Will serta asal usulnya. Sejak itu, muncul masalah yang akhirnya memenjarakan Caesar di kamp konsentrasi primata. Tempat ini ternyata dikelola secara tidak berperikebinatangan, yang semakin membuat Caesar marah dan murka. Kemarahan ini yang memicu Caesar beraksi dengan caranya, yaitu menggerakan kawan-kawannya di tahanan dan semua primata di San Fransisco untuk melawan manusia dan kembali ke asalnya. Alam!
Bagi saya pribadi, film ini menggugah, menyuguhkan gambaran nyata pada kita betapa kita seringkali semena-mena pada binatang. Menjadikan mereka kelinci percobaan tak berkesudahan, memenjara mereka di dalam kandang, kalau peliharaan dirawat seenaknya, atau memaksa mereka berlatih untuk sirkus, bahkan memaksanya ditambah dengan perlakuan kasar. Binatang itu juga punya perasaan, lho! I assure you that! Apa kita tidak kasihan melihat binatang diperlakukan dengan kejam? Bagaimana kalau kita di posisi itu? Untung saja, binatang itu bodoh, tidak diberi intelegensia seperti manusia. Coba saja kalau mereka pintar? Ya seperti di film ini, mereka akan melawan. Mereka akan memperjuangkan hak-hak hidup mereka. Manusia bisa dibikin kalang-kabut.
Pada akhirnya, saya sarankan untuk menonton film ini bersama teman-teman, pacar atau keluarga. Nonton sendiri tidak akan seseru nonton ramai-ramai, karena tidak ada yang bisa diledek! Hehehe.. Nonton sendiri juga tidak akan buat sesal, setidaknya film sci-fi ini menyuguhkan drama, action dan thrill yang akan mengguncang hati nurani *edisi lebay*. Semoga!

No comments:

Post a Comment