Wednesday, September 28, 2011

Kisah di Balik Karpet Merah


Aku tinggal di sebuah gubuk reyot, persis di sudut negeri ini. Entah kenapa di negeri yang terkenal kaya sejagad, hanya aku beserta Ibu yang miskin. Pernah kudengar hikayat, kami dikutuk oleh penyihir jahat untuk terus melarat sampai akhir hayat. Entahlah! Tapi, aku percaya bahwa nanti nasib baik akan mendekati kami. Aku hanya bermimpi? Ah, lihat saja! Nasib kadang tak bisa ditebak. Nasib berubah dengan cara sesukanya, dengan cara karpet merah.

Suatu ketika, Ibu menghampar karpet merah panjang di depan pintu gubuk kami.
“Ini karpet merah darimana, Bu?” tanyaku, heran melihat Ibu sibuk membenahi karpet merah.
“Karpet merah bekas istana yang telah dibuang ke pelimbahan. Ibu ambil, dan Ibu cuci bersih di tepi danau,” jawab Ibu yang tampak riang.
“Tapi, untuk apa diletakkan di sini?” tanyaku lagi. “Lebih baik, kita jual lagi saja. Atau kita potong sebagian untuk alas tempat tidur kita,” usulku.
“Kita tak perlu alas tidur setipis ini, nak!” sergah Ibu. “Kau tahu?” ujarnya sambil merapikan lipatan karpet merah. “Seorang tamu agung akan datang untuk menjemput kita ke istananya. Karpet merah ini tempat ia berjalan nanti di depan gubuk kita,” lanjut Ibu, lalu ia mulai menerawang. Entah apa yang terjadi pada Ibu. Aku terpana dengan ketidakmengertianku.

Tak lama setelah itu, ada hiruk pikuk terdengar di kejauhan, kemudian mendekat. Rombongan raja yang datang bersama kereta kuda yang sangat mewah. Aku melongo, terheran-heran. Karpet merah terhampar megah di depan gubuk reyot. Ibu mengajakku berdiri berdampingan di ambang pintu. Tak kusangka, raja turun menjejakkan langkahnya di depan gubuk kami. Di atas karpet merah di ujung seberang, raja mulai berjalan dengan gagah. Tepat di depan Ibu, raja berlutut dan mengulurkan tangannya. Ibu sumringah, menyambut tangan raja.

Seketika, aku menjadi pangeran di istana yang biasa kupandang dari gubuk reyot di sudut negeri. Ibu menjadi ratu. Raja tetaplah menjadi raja. Banyak rakyat tak menyangka aku dan Ibu menjadi terkaya di negeri kaya sejagad. Lalu, bermunculan rumor, penyihir jahat telah mati. Mati bersama kutukannya pada aku dan Ibu. Entahlah! Tapi, kudengar lagi, ada peri yang kasihan pada kami lalu memberi keajaiban lewat karpet merah istana yang ditemukan Ibu. Nasib akhirnya berubah dengan cara yang tak aku mengerti.


No comments:

Post a Comment