Thursday, June 9, 2011

Requiem Dante

Kanker prostat stadium empat! Bangsat! Hinakah aku? Ya Tuhan, kenapa Kau pikir aku butuh penyakit itu?! Memang aku bukan penggila seks. Kau hilangkan sekalian organ vitalku itu, aku bahkan tak akan tersiksa bila memang hanya itu yang hilang. Tapi, lihatlah! Dengan penyakit yang Kau dera padaku ini telah membuatku mati rasa. Bukan karena aku tak bisa bersenggama lagi! Semua kesempatan emas telah lewat, Tuhan! Satu-satunya yang Kau sisakan untukku hanya kesempatan surga di mana Kau janjikan aku bisa selamanya berbahagia.

Hahaha… Bagaimana mungkin aku bisa tinggal di surga-Mu? Selama hidup sehatku tak sekalipun aku menyembah-Mu, Tuhan. Tuhan? Kau baru kukenal dari pendeta yang sering bertandang ke bangsal tempat pesakitanku. Katanya, aku butuh pendampingan menuju kematian yang kian dekat. Kasarnya demikian aku menangkap maksud kedatangannya. Kupikir aku tak butuh apa-apa, selain kesembuhan. Jika orang yang akan diberi hukuman mati diberi kesempatan untuk pesan terakhir, maka aku juga ingin satu. Asal Kau tahu, diagnosa dokter yang kudengar bagai putusan hukuman mati! Jadi, bisakah Kau dengar pesanku untuk terakhir kalinya? Bisa? Pasti bisa! Maukah Kau, Tuhan? Maukah Kau dengar aku? Pesanku hanya satu, Tuhan!


Aku tak mau mati!!!

Dadaku sesak! Kepalaku seakan ingin pecah! Ada sesuatu dalam tubuhku yang siap meledak. Tanpa kukatakan pada-Mu, Kau pasti sudah tahu pesanku itu. Aku hanya tak mau mati! Aku tak mau titik!

***

Dante hilang arah. Aku tahu ia sangat tersiksa. Penyakit ganas telah membuat fisiknya sangat lemah. Ia terlihat begitu ringkih. Tapi, bisa kulihat di matanya ada gejolak yang masih membara. Ia ingin melawan! Dante tak akan menyerah seperti biasanya. Ia menolak diputuskan hidup tiga bulan lagi. Dante marah! Ia terus mengamuk tiap bertemu dokter dan para perawatnya. Dari rumah sakit kanker, Dante dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Dante telah tersesat di dunianya sendiri.

“Life is begun at forty,” kata-kata yang Dante percaya. Baginya, laki-laki di usia 4o adalah laki-laki yang demikian matang, baik secara fisik dan psikis. Laki-laki yang mengenal dirinya dan tahu apa yang terbaik untuknya dan orang-orang yang disayangi. Di usia 30, Dante memulai usaha membuka bar. Sebelumnya ia adalah bartender di bar ternama di sebuah kota besar. Selama 10 tahun tiap malam, ia sibuk mencampur-aduk berbagai jenis liquor. Waktu yang cukup lama baginya untuk mengumpulkan modal membangun bar di kota kecil kelahirannya. Bar tempat orang melepas jenuh, menurut Dante. Bar tempat orang bisa bersenang-senang. Bar tempat ia bisa menghidupkan kemampuan musiknya.

Dante tak peduli anggapan orang-orang yang melecehkannya sebagai manusia bejat. ‘Balik dari rantau, bukannya membangun kampung malah mendirikan tempat maksiat!’ Dante sungguh tak peduli dengan cibiran orang-orang. Ia terus bertahan dengan usahanya. Setidaknya belasan pengangguran telah ia rekrut sebagai karyawan barnya. Puluhan perut setidaknya telah kenyang dari gaji yang ia berikan untuk semua karyawannya itu. Ratusan orang setidaknya mendapat kesenangan setiap malam, silih berganti datang dan pergi. Namun, pada tahun kesembilan duka itu datang. Dante kehilangan ratusan orang itu. Dante melepaskan para karyawannya. Bar ditutup. Dante terpenjara di bangsal rumah sakit jiwa.

“Mana gitarku?” teriak Dante dengan suara parau. Entah ia sadar, entah ia mengigau. Teriakan itu makin sering kudengar. Dari balik jendela aku mengintipnya. “Aku ingin ciptakan lagu!” Dante berujar. “Untuk perempuanku… ia menunggu…”

Perempuan itu… Aku. Dante memang telah berjanji akan menciptakan lagu cinta untukku, calon istrinya. Lima tahun aku bekerja pada Dante. Selama itulah aku mengenalnya, dari berstatus karyawan bar sebagai waitress sampai kemudian aku bisa bernyanyi di bar bersamanya. Tahun depan, kami berencana menikah. Rencana yang tak akan menjelma nyata. Selamat tinggal, Dante.

***

Tidak ada lagi teriakan dari penghuni bangsal 11. Dante telah dipindahkan ke sel khusus. Sendiri ia di sana. Menanti kematian. Hening. Bagai tempat khusus untuk menunggu malaikat pencabut nyawa datang menjemput.  Tak ada gitar yang bisa ia mainkan seperti dulu. Tak ada lagu yang ia senandungkan kala suka maupun duka. Tak ada perempuan itu, pikir Dante. Aku ditemani sunyi.

Tuhaaan!!! Jangan tinggalkan aku di sini sendiri! Bukan suara Dante yang berteriak kencang, tapi hatinya yang menjerit lirih. Ia merasakannya. Ada yang menghampirinya. Sesuatu yang ia rasa bukan Tuhan. Sesuatu yang gelap menaunginya. Dante ketakutan.

Sialan! Kenapa aku lupakan doa kematian yang pernah diajarkan pendeta itu? Hatinya mengumpat lagi. Boleh kuciptakan doaku sendiri, Tuhan? Bukankah kau senang mendengar senandung doa umatmu? Aku akan bernyanyi, Tuhan?

Lagu kematian, terpikir oleh Dante untuk menciptakan melodinya dalam hati. Barangkali ia tak akan seperti Mozart yang bisa menciptakan Requiem yang akhirnya mendunia sepanjang sejarah. Ia hanya menginginkan sunyi pergi dari dirinya. Ia ingin menjemput kematiannya dalam harmoni lagu. Tapi tak satupun kata yang terangkai, tak satu not nada yang mampu ia senandungkan. Tuhan benar-benar telah meninggalkanku. Dante memasrahkan dirinya.

Dalam ketakutan. Dalam kegelapan. Detak-detak telah melemah. Aliran darah telah melambat. Dante merasa tubuhnya terangkat dengan pelan. Sayup-sayup ia dengarkan orkestra yang mengalun syahdu. Ketenangan akhirnya menyelimuti Dante. Ia tak sendiri.

Requiem æternam dona Dante, Domine, et lux perpetua luceat Dante.*

Ribuan malaikat bernyanyi untuknya. Tuhan tak pernah meninggalkan Dante.

(end)


*Requiem (lagu kematian) Katolik: Limpahkanlah keheningan pada Dante, Tuhan, dan biarkan sinar abadi menerangi Dante.

No comments:

Post a Comment