Sunday, June 19, 2011

Film Mini: Cemburu Itu Peluru

Keping DVD pelengkap buku Cemburu Itu Peluru kini di tangan saya. Buku itu saya "beli" dari salah seorang penulisnya, Oddie Frente, dengan menukarkan sebuah buku Lajang Jalang. Barter yang tak adil memang. Tapi, terima kasih yang tulus dari saya semoga bisa mencukupi. 
Suatu malam, setelah "proses barter", saya pulang. Menjelang waktu tidur, saya mainkan keping DVD itu. Saya saksikan seksama, satu per satu film mini, berdurasi tak lebih lima menit. Kira-kira setengah jam cukup untuk menonton semuanya. Ada sembilan film mini yang diadaptasi dari fiksimini, ditulis oleh kelima penulis Cemburu Itu Peluru. Berikut sedikit review, walau saya sama sekali tak mengerti tentang sinematologi. 


1. Tangan Keduanya: Walau tak menginterpretasikan fiksimini-nya, tapi adegan yang digambarkan sangat bagus, yang ternyata menginterpretasikan judul filmnya sendiri. Tak ada dialog, hanya backsound yang cukup menggambarkan ketegangan cerita.
Boleh kupinjam lelakimu. Hanya hangat lidahnya. Tak lebih... FM by @LVCBV

2. Foto di Atas Perapian: Pusing nonton film mini yang satu ini. Gambar goyang-goyang, berasa di atas kapal. Dari segi interpretasi fiksi mini, film mini ini lumayan. Ada dialog seperlunya, ada backsound secukupnya.

3. April Mop: Saya pernah nonton film ini di YouTube. Bagus, sangat menginterpretasikan fiksimini-nya. Flashback motion dalam film ini juga menarik. Well done!
Kemarin dia melamarku. Sehari setelahnya, ia ditemukan terbunuh. Aku gemetar dengan belati di tangan. FM by @erdiANaJI

4. Taman: Filmnya terkesan jadul, tapi jadi lebih artistik. Adegan demi adegan adalah penggambaran yang gamblang dari monolognya. Well done juga untuk film ini!
TAMAN. Banyak cerita telah tertinggal. Belum tentu semua dijadikan kenangan. FM by @Oddie__

5. Sehari Saja: Saya suka dengan cerita ini. Tragis! Backsound film mendukung ketragisannya. Hanya saja, ada kejanggalan, rencana berlibur sehari kok bawa tas koper? Walaupun memang tak kunjung pulang, koper itu sungguh mengganggu kesempurnaan film ini. Di akhir film, dimunculkan fiksimini-nya. Ternyata kejanggalan cerita sudah berawal dari fiksimini-nya. Kalau menurut saya, berlibur sehari nggak bawa koper. 
SEHARI SAJA. Kami mengepak koper lalu berpisah di ujung jalan. Ternyata selamanya. FM by @LVCBV

6. Detik. Tik. Dor: It's very classy! Penokohan yang elegan dalam hitam putih. Saya suka dengan "remang-remang" visualisasinya. Fiksimininya kurang greget, tapi film mini ini luar biasa twisted! My top favorite! 
Sebuah subuh. Hari eksekusi. Detik. Tik. DOR! FM by @theonlykika

7. Aku Rindu Dada Montokmu: Ceritanya lumayan. Tapi, judulnya terlalu dipaksakan untuk film ini. Kenapa tak 'Aku Rindu Ibu' saja? Toh, anak jalanan itu sebatang kara sejak ibunya meninggal. Nilai tambahnya, ada lagu pengiring, ya semacam original soundtrack of this movie. 

8. It's Susi: Entahlah, saya tak ngerti sama yang satu ini. Namanya boleh film mini, tapi saya nggak melihatnya sebagai film, cenderung terlihat seperti iklan! Yeah, it's Susi! Begitulah..

9. Baby Blues: Ini juga, saya nggak ngerti! Saya melihatnya seperti powerpoint slideshow. Saya tak melihat akting tokoh apa pun dalam film mini ini. Mana ekspresinyaaa?


Sekian. Saya hanya me-review sebagai penonton film, bukan kritikus. Ada yang sangat bagus, bagus, hingga tak bagus. Dan, saya memilih "Detik. Tik. Dor." sebagai the best mini movie of Cemburu Itu Peluru!

Teruslah berkarya!


1 comment:

  1. review Vira kritis...
    Menjadikan fikminnya sebagai dasar mempertanyakan filmin-nya..
    ayo.. ditunggu filmin 111 kata a la jejakubibel (membayangkan apa jadinya 'Handuk' dalam bentuk film " :)

    ReplyDelete