Sunday, June 19, 2011

Film Mini: Cemburu Itu Peluru

Keping DVD pelengkap buku Cemburu Itu Peluru kini di tangan saya. Buku itu saya "beli" dari salah seorang penulisnya, Oddie Frente, dengan menukarkan sebuah buku Lajang Jalang. Barter yang tak adil memang. Tapi, terima kasih yang tulus dari saya semoga bisa mencukupi. 
Suatu malam, setelah "proses barter", saya pulang. Menjelang waktu tidur, saya mainkan keping DVD itu. Saya saksikan seksama, satu per satu film mini, berdurasi tak lebih lima menit. Kira-kira setengah jam cukup untuk menonton semuanya. Ada sembilan film mini yang diadaptasi dari fiksimini, ditulis oleh kelima penulis Cemburu Itu Peluru. Berikut sedikit review, walau saya sama sekali tak mengerti tentang sinematologi. 

Wednesday, June 15, 2011

Saya dan Jejakubikel

Jejak? Ya, tahu.

Kubikel? Ya, tahu juga.

Jejakubikel? Hm, saya harus mencari tahu. Karena tempe sudah pasti nggak bisa kasih tahu. Hahaha.. Maaf, garing! Ya, namanya juga gorengan tempe dan tahu. Jadi, ini mau nulis tentang apa??? Hihihi..

Ok, serius nih ya! Entah saya pernah membaca kata ‘jejakubikel’ sebelum saya bertemu kata ini di lini masa mikroblog twitter. Coba saya ingat-ingat siapa yang berkicau tentang Jejakubikel! Oh, diaaa... lelaki dewasa tanggung! Tanggung? Saya tak mengira dia begitu narsis memajang foto-foto close-up dirinya dalam berbagai pose sebagai background profil twitternya. Jadi saya pikir saat itu, dia lelaki dewasa tanggung. Hehehe... Namanya Rendra, di twitter dengan akun @therendra, yang saya kenal lewat komunitas menulis cerita estafet online di twitter.  Lewat dialah saya sering bertemu dengan kata ‘jejakubikel’.

Awalnya, saya nggak terlalu tertarik menulis di sana. Saya masih dalam fase “spying” saja. Bulan November itu, saya mulai tahu siapa-siapa saja pencetus komunitas menulis ini. Ada tiga pria yang ternyata mereka belum bertemu satu sama lain; Rendra, Daniel, dan Mumu. Widih, keren juga nih orang-orang! Tanpa harus tatap muka, kerja sama bisa dilaksanakan dalam mengonsep blog jejakubikel. Nama lain Jejakubikel adalah Cubiculum Notatum, yang menjadi nama besar blog ini. Sempat baca alasan mereka memakai nama ini, catatan dari kubikel. Tiap orang punya kubikel sendiri ketika menghasilkan karyanya. Namanya keren ya, saudara-saudari?! Ditambah lagi dengan tagline “Surga Kecil Menulis”, benar-benar surga bagi yang doyan nulis dan baca! Dengan fasilitas blog gratis dari wordpress, Rendra, Daniel, dan Mumu memberi peluang untuk siapa saja yang ingin menulis di blog keroyokan ini. Mungkin karena itu mereka mempopulerkan November Menulis. Tiap hari ada tema yang berbeda yang dibagi ke dalam 5 kelompok besar. Sempat mikir, mereka gila apa??? Tiap hari nulis cerita yang beda??? Penulis terkenal bahkan tak sebegininya. Ya, mereka gila! Dan kegilaan mereka yang mengundang kegilaan manusia lainnya untuk mau menulis setiap hari? It sounds good actually! Kita yang hobi menulis, berniat mau jadi penulis, memang butuh penyaluran seperti itu. Ada yang memecut, mencambuk untuk terus berlatih. If you can do everyday, so why don’t you do?!

November pun berlalu, saya belum juga menulis di sana. Padahal, lumayan banyak teman-teman yang saya kenal dari hobi menulis sudah ‘setor’ tulisan ke jejakubikel.wordpress.com. Tulisan bisa dikomentari, jadi bisa sebagai wadah belajar menulis. Atau, nggak usah serius-serius amatlah, buat ajang pertemanan pun bisa. Nah, kalau kenal sama orang-orang baru, boleh juga nih, siapa tahu ketemu jodoh?! Hahaha... Oops, mudah-mudahan si pacar nggak baca blog ini! Hihihi...

Saya lupa kapan persisnya saya follow akun twitter @jejakubikel. Entah saat pertama dipromosiin sama @therendra, entah kapan. Sorry for this short term memory syndrome. Di bulan November itu, sesekali saya blog-walking ke Jejakubikel. Banyak banget yang nulis, nggak semuanya saya baca. Tapi, saya ingat saat memasuki tema ‘Lagu Inspirasi’, saya sudah mau mulai menulis sesuai lagu yang disodorkan moderator. Eh, pas baca-baca tulisan yang masuk, kok saya jadi bingung sendiri mau nulis cerita apa. Saking banyak yang bagus-bagus kali yaa?! Ya, gitu deh, jadinya urung nulis.
Tapi, pas ada tantangan menulis cerita berjumlah 111 kata di bulan berikutnya, yang diberi judul Desember Dongeng, hmm...saya merasa tertantang sekali. Jadilah, cerita pertama saya bertema rokok, resmi tayang di jejakubikel.wordpress.com. Saat itu, saya musti kirim naskahnya lewat email jejakubikel@gmail.com. Tanggal cantik 12 bulan 12 jadi hari bersejarah saya di Jejakubikel, Officially Cubinoters! Hehehe...

Sejak saat itulah, saya mulai kirim tulisan. Nggak setiap hari. Toh, kita nggak diwajibkan setor tiap hari. Kita juga nggak diwajibkan baca tulisan teman-teman lainnya, nggak wajib memberi komentar, mau asyik sendiri juga boleh. Well, namanya aja surga kecil menulis, mana ada lagi kewajiban-kewajiban kalau di surga, silakan sesuka hati, asal tahu diri, tahu etika. Nah, makanya saya mulai menyenangi menulis sesuai tema dari Jejakubikel. Walau agak sulit bagi saya untuk bisa mengatur waktu menulis setiap hari, tapi sebisa mungkin saya akan menulis sesuai tema saat itu. Nggak perlu panjang-panjang. Semacam flash fiction pun boleh. Semacam cerpen sangat pendek pun masih boleh. Semacam curahan hati pun... Oh, nggak dilarang, saudara-saudari! Yang penting menulis sesuai tema. Tema-tema yang sudah lewat tapi baru ditulis sekarang juga tetap diterima, kok! Jadi Cubinoters seperti saya pun nggak musti bayar, gratis bo’! Apalagi jadi Cubilovers, kamu-kamu yang suka blog-walking di Jejakubikel. Sejak beberapa bulan yang lalu, nama webnya nggak pake wordpress lagi. Tapi, resmi ‘berdikari’ jadi www.jejakubikel.com! Tambah cihuy, gak tuh?! Hehehe...

If you read this note, if you like writing, if you like short stories, if you are just curious, then you should visit us! “Spying” aja dulu kayak saya pertama kenal Jejakubikel. Ketertarikan bisa menyusul kemudian! Mengenal Jejakubikel tak pernah saya sesali. Mencintainya? That’s my goal!

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.



Thursday, June 9, 2011

Requiem Dante

Kanker prostat stadium empat! Bangsat! Hinakah aku? Ya Tuhan, kenapa Kau pikir aku butuh penyakit itu?! Memang aku bukan penggila seks. Kau hilangkan sekalian organ vitalku itu, aku bahkan tak akan tersiksa bila memang hanya itu yang hilang. Tapi, lihatlah! Dengan penyakit yang Kau dera padaku ini telah membuatku mati rasa. Bukan karena aku tak bisa bersenggama lagi! Semua kesempatan emas telah lewat, Tuhan! Satu-satunya yang Kau sisakan untukku hanya kesempatan surga di mana Kau janjikan aku bisa selamanya berbahagia.

Hahaha… Bagaimana mungkin aku bisa tinggal di surga-Mu? Selama hidup sehatku tak sekalipun aku menyembah-Mu, Tuhan. Tuhan? Kau baru kukenal dari pendeta yang sering bertandang ke bangsal tempat pesakitanku. Katanya, aku butuh pendampingan menuju kematian yang kian dekat. Kasarnya demikian aku menangkap maksud kedatangannya. Kupikir aku tak butuh apa-apa, selain kesembuhan. Jika orang yang akan diberi hukuman mati diberi kesempatan untuk pesan terakhir, maka aku juga ingin satu. Asal Kau tahu, diagnosa dokter yang kudengar bagai putusan hukuman mati! Jadi, bisakah Kau dengar pesanku untuk terakhir kalinya? Bisa? Pasti bisa! Maukah Kau, Tuhan? Maukah Kau dengar aku? Pesanku hanya satu, Tuhan!