Tuesday, February 15, 2011

Novel Tentang Perempuan

Ada beberapa novel tentang perempuan yang saya suka. Ketika saya berada di toko buku, saya memang mudah tertarik pada novel-novel yang bercerita tentang perempuan ataupun yang bersudut pandang dari perempuan. Mungkin karena saya sendiri adalah perempuan, sosok perempuan yang masih mencari tahu tentang perempuan yang katanya sulit dimengerti padahal perempuan maunya dimengerti. Semenjak saya menyukai sastra (kurang lebih 2 tahun yang lalu), saya baru membaca sedikit novel tentang perempuan. Saya mencoba mengulasnya, siapa tahu, walaupun cuma novel, kita bisa belajar tentang perempuan.

Perempuan di Titik Nol

Novel lawas dari Nawal El-Saadawi ini sudah terkenal mendunia. Penulisnya dikenal sebagai tokoh feminis dari negeri gurun, Mesir. Perempuan di Titik Nol diterjemahkan dari Women at Point Zero yag terbit pada tahun 1983, yaitu 10 tahun kemudian setelah Nawal berprofesi sebagai psikolog bagi perempuan di penjara wanita. Dari risetnya di panjara itu, Nawal menuliskan novel ini. Di sana ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Firdaus yang divonis hukuman gantung karena telah membunuh seorang pria yang menjadi germonya. Ya, Firdaus adalah pelacur perempuan yang menolak dijajah pria. Perempuan yang lebih memilih menjadi pelacur daripada istri yang diperbudak suami. Berikut ini kutipannya:
“Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Sang perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak.”
Bukankah kutipan itu sangat menohok para perempuan? Saya sendiri tak sepakat dengan Firdaus yang mengatakan perempuan adalah pelacur, walau dalam bentuk apapun. Bukankah perempuan berasal dari kata ‘empu’ yang berarti penuh kehormatan dan kesaktian? Tapi, demikianlah pemikiran Firdaus, seorang perempuan timur tengah yang hidup dalam lingkungan yang merendahkan derajat perempuan. Tak salah ia menyerang dengan kata-katanya yang tajam itu. Latar belakang ketidakadilan yang ia terima semasa hidupnya telah menjadikan ia pelacur yang anggun dan cerdas. Dengan membaca kisahnya, setidaknya membuka mata kita bagaimana sebenarnya kedudukan kita sebagai perempuan. Perempuan tidaklah berada di bawah pria. Ia juga tidak berada di atas pria. Tapi perempuan dan pria tentu hidup berdampingan.


Pavilion of Women

Novel tentang perempuan Cina abad 20 awal. Novel klasik karangan seorang Amerika yang sejak kecil tinggal di Cina, Pearl S Buck. Pavilion of Women berkisah tentang perkawinan Madame Wu, perempuan kaya terpandang yang menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Madame Wu menjadi sosok istri yang sempurna. Ia cantik dan cerdas, tapi kecerdasannya tak pernah ditunjukkan melebihi suaminya. Di saat perempuan masih banyak yang buta huruf, Madame Wu tertarik pada buku-buku di perpustakaan ayah mertuanya. Walaupun ia cerdas, ia tetap mengikuti aturan adat bagaimana menjadi perempuan semestinya. Sampai kemudian hari ketika ia merayakan ulangtahunnya ke-40 tahun, ia menyatakan melepaskan diri dari pengabdiannya pada suaminya. Ia memutuskan untuk mencarikan istri muda bagi suaminya. Madame Wu telah memberikan sepenuh jiwa raga untuk merawat keluarganya dengan baik. Semua anggota keluarga telah merasakan bagaimana pelayanan Madame Wu sebagai istri dan ibu. Karena itulah ia memutuskan untuk mencari kepuasaan jiwanya sendiri. Dengan mencarikan istri muda bagi suaminya, Madame Wu ingin melepaskan diri dari segala kepenatan dan tanggung jawabnya. Salah satu alasannya, seorang perempuan mempunyai daya yang terbatas untuk melayani suami. Perempuan tak seperti laki-laki yang sampai tua renta pun tetap membutuhkan kepuasan seksual. Dan, sekelumit alasan lainnya yang membuatnya menyatakan keputusan yang sulit diterima keluarganya itu. Namun, akhirnya, Madame Wu menyadari keegoisannya setelah bertemu dengan cinta sejatinya seorang pastor dari Eropa yang mengasingkan diri dari negerinya. Berkat pengertian yang ditanamkan oleh Andre sang Pastor, ia menyadari keangkuhannya yang merasa telah menjadi perempuan sempurna bagi keluarganya. Dengan cinta kasih yang tuluslah jiwanya bisa menjadi bebas juga abadi. Ada kutipan Madame Wu yang saya suka:
“Aku ini sebenarnya perempuan jahat, hidupku hanya untuk diriku sendiri saja.”
Setelah membaca novel ini, saya menyadari bahwa mau tak mau seorang istri dan ibu harus terlibat penuh dalam keluarganya. Tanpa adanya sosok istri atau sosok ibu, maka sebuah keluarga tidaklah sempurna. Istri atau ibu yang menjadi fondasi kebahagiaan keluarga. Kalau ibu atau istri tidak bahagia, dijamin keluarga itu pun tidak akan bahagia. Hm, mungkin! Ini kesimpulan saya saja.

Breakfast at Tiffany’s

Novel ini karangan Truman Capote yang terbit tahun 1958. Tiga tahun kemudian, novel ini difilmkan dengan bintang utama Audrey Hepburn yang terkenal itu. Seperti bukunya yang popular, film ini pun meraih sukses besar. Breakfast at Tiffany’s berkisah tentang perempuan muda Amerika bernama Holly Golightly yang berjiwa bebas. Masa kecilnya tak bahagia, pada usia 14 tahun ia pernah menikah dengan seorang dokter hewan di sebuah peternakan, namun tak lama kemudian ia lari ke New York. Di kota Big Apple, Holly menjadikan dirinya perempuan yang digila-gilai banyak pria. Ia menjadi simpanan jutawan, ya bisa dibilang pelacur kelas atas. Tapi, sebenarnya ia mencari kebahagiaan seutuhnya, entah dari harta atau cinta.  Dengan kebebasan yang ia miliki ia mencari kebahagiannya, yaitu suatu tempat yang ia pikir di mana seharusnya ia berada. Pada akhirnya, ia meninggalkan gemerlap Manhattan.

Kutipan yang saya suka dari novella ini:
“Jika kau membiarkan dirimu jatuh cinta pada makhluk liar, kau akan berakhir dengan mendongak menatap langit.”
Perempuan mempunyai kebebasannya sendiri. Ia tak bisa dikekang, bahkan ia bisa tak tergapai. Dengan cara apapun, laki-laki akan sulit menaklukkan perempuan yang bisa mengenal dirinya sendiri dan tahu apa yang sesungguhnya ia cari. Well, setidaknya, itu pesan yang saya ambil dari novel ini.


Lolita

Ah, sepertinya saya menggandrungi karya-karya klasik. Novel Lolita karangan Vladimir Nabokov juga sebuah karya klasik, terbit pertama kali pada tahun 1955. Novelis asal Rusia ini menyajikan cerita yang memilukan tentang perempuan. Kali ini bukan perempuan dewasa, tapi seorang perempuan belia Dolores Haze sang Lolita. Lolita yang polos menggemaskan menjadi incaran seorang pria dewasa yang menjadi tokoh utama pria dalam novel ini. Demi mendekati Lolita, pria yang dikenal dengan nama Humbert Humbert menikahi ibu gadis itu. Lalu, ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Dolores pun dibawa oleh Humbert berkelana mengelilingi Amerika Serikat. Dalam perjalanan itulah, di tiap kesempatan Humbert menggauli anak tirinya. Dolores, sosok perempuan dalam novel ini, tampak tenang dengan kejadian yang menimpanya. Ia seperti menikmati juga hubungan terlarang itu. Walau pada akhirnya, Dolores kabur meninggalkan Humbert. Humbert pun akhirnya ditangkap dan disidang.

Buku ini sudah cukup lama saya baca, saya tak bisa menuliskan kutipan menariknya di sini. Terlalu banyak hal menarik yang bisa dinikmati dari kisah Lolita. Cerita yang mengalir bagaikan catatan memoar. Detail persetubuhan mereka yang bikin deg-deg serrr. Hehehe.. Tokoh Dolores yang tenang menggambarkan pada saya bagaimana seorang perempuan muda bisa menyimpan begitu banyak misteri. Bagi orang lain yang melihatnya, ia mungkin tak bermasalah apa-apa, tapi siapa yang tahu isi hati seorang Dolores, perempuan belia. Bahkan dari muda pun, perempuan demikian rumit, namun karena itulah perempuan menjadi sosok yang kuat.

Va’ Dove Ti Porta Il Cuore

Pergilah Ke Mana Hati Membawamu, demikian arti dari judul novel yang berasal dari Italia ini. Pengarangnya Susanna Tamaro, dan beruntunglah novel ini belum jadul amat. Hehehe.. Terbit awal tahun 90-an. Novel ini merupakan catatan seorang nenek berbentuk surat yang ditujukan pada cucunya yang memilih meninggalkannya ke Amerika. Saya kutip saja penggalan kata pengantar di sampul belakang novel ini:
“Ada yang tidak berubah dalam kehidupan seorang perempuan sejak dulu: Penghayatan atas kehidupan dan cinta, pengetahuan masa lalu, dan pemahaman diri sendiri. Semua ini akan membuat kehidupan perempuan sarat makna. Olga, sang nenek, telah melewati semua itu dan menemukan dirinya sendiri. Kini dapatkah ia menjembatani jurang generasi yang demikian dalam dan meraih hati cucunya, membuatnya mengerti bahwa untuk membuat hidupnya berarti, ia harus pergi ke mana hatinya membawanya?”
Olga, di dalam suratnya, menceritakan kisahnya semasa muda dengan begitu jujur. Perselingkuhannya dengan laki-laki lain pun diceritakan, hingga ia punya anak dari laki-laki itu, anak yang tak lain adalah ibu kandung cucunya. Cucunya yang tak bernama itu (sampai selesai membaca saya tak menemukan nama cucunya), dirawat oleh sang nenek semenjak ibunya tewas. Hubungan mereka baik dan mesra sampai akhirnya cucunya beranjak dewasa dan mulai terjadi perselisihan di antara mereka. Semenjak ditinggal itulah, sang nenek menuliskan surat yang berisi pengalaman-pengalaman hidupnya yang penuh luka dan liku. Kutipan yang saya suka dari novel ini:
“Siapapun yang meninggalkan usia remaja tanpa terluka tak pernah bisa menjadi orang dewasa yang sempurna.”
Sang nenek berusaha menjembatani jurang antara ia dan cucunya lewat tulisannya. Di akhir suratnya, ia banyak menitip petuah pada cucunya jikalau merasa tersesat dan bingung. Pada intinya, sang nenek ingin cucunya mendengarkan hatinya. “Ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.”

Novel ini memang tentang perempuan, dituturkan oleh perempuan, ditujukan untuk perempuan. Menceritakan tentang perempuan yang sarat dengan kekuatan hati. Sungguh, perempuan itu memang kuat.


Demikian lima novel dunia tentang perempuan yang saya ulas sedikit. Saya belum menemukan novel tentang perempuan yang ditulis oleh perempuan Indonesia. Hm, apakah Saman karya Ayu Utami bisa dibilang novel tentang perempuan? Ya bisa jadi, tapi penokohan Saman yang menjadi sentral cerita menjadikan novel ini kurang perempuan. Dalam novel Saman memang tergambar karakter 4 perempuan Indonesia dengan orientasi seksual yang tabu dipraktekkan di negeri ini. Tapi, saya rasa novel ini tetap tak menunjukkan jati diri sebagai novel tentang perempuan. Hm, mungkin hanya disebut sebagai novel feminis.

Ada satu novel tentang perempuan yang belum selesai saya baca, karya Paul I Wellman yang berjudul  The Female (Wanita). Bercerita tentang perempuan bernama Theodora yang menjadi pelacur di Konstantinopel pada jaman dahulu kala.  Pelacur yang menjelma maharani. Ah, tak bisa bicara banyak, harus selesai dulu baca novel ini.

Tapi, kenapa ya, tiap novel perempuan ini dikisahkan perempuan itu dari segi sensualitasnya. Jadi pelacur, jadi simpanan jutawan, jadi pelampiasan seksual ayah tiri, ahhh.. kenapa sih? Mungkin saya salah memilih novel! Hahaha… Ada rekomendasi novel-novel tentang perempuan lainnya? Ayo bagi-bagi!


repost from: my kompasiana

No comments:

Post a Comment